Pengorbanan Cinta 1

Pengorbanan Cinta 1
Bab 49


__ADS_3

Sesampainya di apartemen, Gavin langsung meminta Isyan untuk membuatkan makan malam. Ya tentu saja dengan embel-embel menyogoknya agar tidak mengganti gaji Isyan dengan cilok. Terdengar konyol dan tidak masuk akal. Tapi Isyan santai saja, selama itu membuat dia dekat dengan pria yang dia cintai. Dan Gavin merasa senang berada di dekat Ratna.


Isyan memilih memasak ayam saus tiram dengan tumis brokoli dan wortel. Isyan begitu lihai memasak walaupun masih memakai baju kerja. Gavin hanya duduk di kursi memandangi Isyan dalam wujud Ratna.


"Aduh..kamu mengaduk saja tidak bisa. Tanganmu itu tidak kuat"gerutu Gavin menghampiri Isyan lalu mengambil alih untuk mengaduk sayur yang sedang dimasak.


Isyan terkejut melihat Gavin menghampirinya. Ada seulas senyum terukuri di wajah Isyan sembari memandangi Gavin yang tak canggung dalam memasak.


"Kenapa menatapku? Suka? Ya iyalah siapa yang tidak terpesona dengan aku"seru Gavin agak sombong.


"Idih bapak kepedean. Awas nanti ayamnua gosong. Saya nggak mau masak ulang lagi"ujar Isyan menunjuk wajan.


Gavin pun kembali mengaduk sayur hingga matang. Hingga akhirnya semua makanan sudah siap. Mereka menghidangkan di meja makan. Lalu segera mereka makan malam sebelum makanannya dingin.


"Ratna..kenapa saya tidak pernah melihat foto keluargamu disini?"tanya Gavin


Isyang yang hendak memasukkan sendok ke mulutnya pun berhenti dan meletakkan sendok ke piring. Dia bingung harus jawab apa. Sepertinya Gavin mulai penasaran dengan kehidupannya.


"Buat apa Pak? Bapak mau neror keluarga saya ya?"ujar Isyan dengan nada bicara dibuat-buat.


"Untuk apa? Kurang kerjaan"balas Gavin.


Setelah makan malam selesai, Gavin membantu Isyan mencuci piring dan peralatan masak. Mereka sudah seperti pasangan suami istri. Dan sesekali mereka saling mengerjai dengan menyipratkan air atau busa sabun ke baju. Isyan pun tak mai kalah bersemangat hingga busa sabun mengenai mata Gavin.


"Aduh perih Ratna!"teriak Gavin ingin mengusap matanya tapi tangannya penuh dengan busa.


"Aduh Pak, maaf saya nggak sengaja"ujar Isyan cemas.


Isyan langsung mengusap busa di mata Gavin dengan tangannya yang sudah dibasahi oleh air. Lalu menyuruh Gavin membasuh tangan dan wajahnya. Setelah busanya hilang sesekali Gavin mengucek matanya hingga merah.


"Masih perih Pak?"tanya Isyan.


Gavin memberi anggukan dan tidak berhenti mengucek matanya hingga matanya berair. Isyan menepis tangan Gavin agar berhenti mengucek mata. Lalu Isyan mendekatkan wajahnya pada gavin sambil menangkul wajah Gavin dan tiba-tiba Isyan meniup mata Gavin dengan sangat lembut.


Gavin diam terpaku, tubuhnya membeku seketika. Dengan jantung yang berdegup lebih kencang. Rasanya dia ingin menjauhkan tubuh wanita di hadapannya. Tapi rasanya tangannya melemas entah apa sebabnya. Isyan sesekali mengusap lembut mata Gavin dengan jarinya. Gavin merasa bahwa tangan Ratna sangatlah lembut seperti kulit bayi. Sepertinya wanita ini tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah.


"Kamu tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah ya?"tanya Gavin membuat Isyan menghentikan tindakannya lalu menjauhkan wajahnya dari wajah Gavin.


"Hah? Kenapa Pak?"tanya Isyan balik.


"Tangan kamu lembut sekali seperti kulit bayi. Pasti nggak pernah mencuci baju ya?"tanya Gavin dengan wajah menunduk pura-pura mengelap wajahnya untuk menyembunyikan perasaan berdebar.

__ADS_1


Ya memang benar, isyan tidak akan pernah dibiarkan menyentuh pekerjaan rumah. Jelas saja, keluarganya terlalu sanggup menyewa sampai 20 orang pembantu untuk mengurus rumah mewahnya.


Isyan menelan salivanya susah payah karena mendengar perkataan Gavin. Yang sepertinya mulai merasa aneh dengan dirinya.


"Si Bapak ada-ada saja. Kalau saya nggak pernah beres beres rumah, mana bisa saya masak, nyuci piring. Harusnya ada pembantu dong di rumah ini"ujar Isyan dengan tenang.


Setelah drama cuci piring berakhir, Gavin pun berpamitan pulang. Isyan merasa lega Gavin tidak menanyakan apapun lagi. Sebenarnya Isyan ingin mencari tahu lebih banyak lagi tentang Pak Surya dan Gavin.


Apa dia benar Arya atau hanya mirip atau orang yang operasi plastik agar mirip dengan Arya untuk mendekatinya. Isyan sudah terlanjur larut dalam kedekatan dirinya sebagai Ratna dengan Gavin. Kadang Isyan merasa bahagia kadang merasa sedih saat mengingat dia harus memakai identitas palsu untuk dekat dengan pria itu. Menyedihkan sekali nasib Isyan.


Sementara di kediaman keluarga Wijaya, seusai makan malam, Dion langsung mengantar istri tercintanya istirahat di kamar. Usia kandungan Rara sudah memasuki usia tiga bulan. Mualnya sudah berkurang tapi permintaan nyidam absurdnya kadang masih ada. Dion selalu membuatkan susu untuk Rara, karena Rara menyukai susu buatan Dion.


"Sayang ayo diminum susunya"ujar Dion duduk di sofa bersebelahan dengan Rara sembari menyodorkan segelas susu.


Rara menerima lalu meminum dengan cepat sampai habis susu dari Dion dan meletakkan gelasnya di meja yang ada dihadapannya.


"Mas..."


"Iya sayang, kenapa?"tanya Dion lembut lalu mengusap rambut Rara.


"Aku kepikiran Kak Isyan deh."


"Emang Isyan kenapa?"tanya Dion.


Melihat istrinya yang bersedih, Dion langsung membawa Rara ke dalam pelukannya.


"Dia sedang berjuang mendapatkan cintanya"ujar Dion mengusap bahu istrinya.


"Sampai kapan? Kak isyan sudah cukup bersabar selama ini. Kamu tahu aku menyayangi dia seperti aku menyayangi Kak Arya. Bahkan setelah Kak Arya tiada, dia dengan tegar menguatkan aku dan keluargaku. Padahal dia yang paling rapuh. Dia membiarkan kita menikah dengan pernikahan yang begitu mewah. Dan sangat pintar menyembunyikan kesedihannya"ujar Rara mulai menangis saat mengingat pengorbanan Isyan selama ini.


"Aku juga memikirkan hal yang sama. Sejak dulu Isyan kurang beruntung dengan kisah cinta. Sulit baginya menemukan yang tulus, tapi saat dia sudah menemukan cintanya dia harus kehilangan itu"sambung Dion mencoba menahan kesedihannya.


"Apa Mas Dion sudah tahu mengenai Gavin? Kalo memang dia Kak Arya pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh papahnya Kak Gavin"ujar Rara melepas tubuhnya dari pelukan Dion.


"Pak Surya maksudmu?"tanya Dion yang disambut anggukan dari Rara.


"Kamu bener juga sayang. Aku mungkin harus cari tahu latar belakang keluarganya. Syukur-syukur kita bisa tahu semuanya"ujar Dion sumringah


"Iya Mas...kita harus bantu Kak Isyan. Jangan biarin dia berjuang sendiri. Berjuang sendiri kan sangat melelahkan apalagi di tengah ketidakpastian seperti ini"ujar Rara.


Dion tersenyum menatap lekat istri yang sangat dicintainya. Lalu menangkup wajah cantik Rara.

__ADS_1


"Aku sangat mencintaimu. Kamu adalah wanita terbaik yang Allah berikan padaku"ujar Dion penuh cinta.


"Aku juga cinta sama Mas Dion. Aku bersyukur bisa bahagia dengan Mas Dion"balas Rara.


Lalu kecupan manis, dirasakan Rara di keningnya lalu turun ke bibir. Dion pun melanjutkan dengan ******* lembut di bibir mungil istrinya.


*****


Keesokan paginya, Isyan sudah sibuk bekerja di kantor tentunya. Tidak mungkin di pasar kan? Banyak hal yang Isyan lakukan terutama laporan pembangunan Arya Hotel. Walaupun Isyan tidak pernah memantau pembangun hotel itu, tapi bekerja sebagai sekertaris Gavin membuat Isyan bisa tahu perkembangan proyek perusahaannya.


"Hai Ratna!"sapa Aldo sekertaris dari bagian keuangan yang berjalan menghampiri meja Isyan.


"Hai Aldo!"balas Isyan.


"Pagi-pagi sudah sibuk"ujar Aldo.


"Iya nih, banyak laporan proyek yang harus diperiksa"ujar Isyan.


Mereka berdua berbincang dan sesekali tertawa. Dari kejauhan Gavin yang baru keluar dari lift melihat kedekatan Ratna dan Aldo. Gavin berjalan menuju ruangannya dan melewati meja Isyan yang sedang berbicara begitu akrab dengan Aldo.


"Ekhemm..."


Suara Gavin membuat obrolan keduanya terhenti.


"Kalau mau ngobrol nggak usah di sini"ujar Gavin dengan suara meninggi dan raut wajah tak suka kemudian masuk ke ruangannya.


Gavin membanting pintunya yang membuat Aldo dan Isyan terperanjat.


"Kenapa itu Pak Bos?"tanya Aldo.


"PMS kali.."jawab Isyan cuek.


"Yee..mana ada cowok PMS"ujar Aldo tertawa geli.


"Tuh ada..."ujar Isyan memonyongkan bibir mengarah ke ruangan Gavin.


"Dia mungkin cemburu sama kamu"ujar Aldo.


Ucapan aldo membuat Isyan terdiam dan merasa wajahnya menghangat sepertinya mukanya memerah.


"Udah ah nggak usah ngaco. Udah sana balik kerja"usir Isyan mendorong Aldo agar pergi.

__ADS_1


"Masa sih dia cemburu?"batin Isyan


Isyan menyangga wajahnya dengan kedua tangannya di meja. Dan mulai memikirkan sikap Gavin tadi.


__ADS_2