Pengorbanan Cinta 1

Pengorbanan Cinta 1
Bab 37


__ADS_3

Keesokan paginya, semua calon kontraktor sudah berada di ruang meeting kantor Wijaya Group. Mereka berusaha agar berpresentasi sebaik mungkin agar memenangkan tender. Giliran terakhir adalah Gavin, yang berpresentasi dengan sangat apik, berwibawa, dan tegas. Sejenak Isyan terpesona dengan sosok Gavin. Karena wajahnya seperti Arya cara bicaranya pun sama hanya penampilan yang berbeda.


"Baiklah, kalian semua sudah presentasi dengan baik tidak seperti kemarin"sindir Dion melirik mereka semua.


"Aku dan Dion akan bicara perusahaan mana yang akan menang tender"ujar Isyan lalu beranjak dari kursi dan keluar ruang meeting bersama Dion.


Mereka pergi ke ruangan isyan dan berdiskusi untuk mengambil keputusan.


"Menurut kamu bagaimana Gavin itu? Dia seperti Arya hanya penampilannya yang berbeda"jelas Isya.n


"Selama aku mengenal Arya, aku sangat tahu kemampuan berbisnisnya, dan aku merasa seperti melihat Arya saat presentasi tadi"imbuh Dion.


"Lalu?"tanya Isyan.


"Begini...setelah aku cek PT Surya Kontraktor mereka perusahaan yang bagus dan sudah banyak proyek yang mereka kerjakan, apa salahnya kita memberikan proyek ini pada mereka. Sekaligus kita selidiki dia itu Arya atau bukan"jelas Dion.


Isyan mengangguk mengerti dengan perkataan Dion. Lalu mereka kembali ke ruang meeting.


"Setelah diskusi panjang akhirnya kami memutuskan yang memenangkan tender proyek pembangunan hotel ini adalah perusahaan...."


Isyan menggantungkan perkataannya sambil melihat sekelilingnya.


"PT Surya Kontraktor"ujar Isyan disambut tepuk tangan peserta meeting.


Semua orang berdiri dan memberi selamat pada Gavin. Setelah itu mereka undur diri dari ruang meeting tersisa Gavin, Dion,dan Isyan.


"Selamat Pak Gavin"ucap Dion mengulurkan tangan.


"Terima kasih. Panggil saja Gavin. Kita seumuran kan"balas Gavin tersenyum.


"Ya Allah...senyum itu. Senyum yang aku rindukan selama setahun ini. Arya apakah ini kamu atau orang lain? Kenapa tidak mengenaliku?"batin Isyan menahan tangis.


Gavin mengulurkan tangan pada Isyan. Perlahan Isyan membalas uluran tangan gavin. Gavin dan Isyan saling bertatapan dan tersenyum. Ada desiran aneh yang Gavin rasakan saat bersalaman dengan Isyan.


"Ekhem..." Dion berdeham hingga membuat Osyan melepaskan tangan Gavin.


"Baik Gavin, besok malam adalah acara peresmian pembangunan hotel Wijaya Group yang baru. Ingat kamu sekarang bekerja dengan Isyana Wijaya. Bekerjalah dengan baik"ujar Isyan dengan tatapan dingin. Kemudian dia meninggalkan ruang meeting dengan diikuti Dion.


Gavin mengernyitkan dahinya dan mendengus kesal, karena lagi-lagi sikap dingin Isyan membuatnya merasa kesal, ternyata ada wanita seangkuh Isyan.


"Gila..dia itu cewek apa es batu sih? Sikapnya nggak ada ramah-ramahnya sama sekali"gerutu Havin lalu pergi dari kantor Wijaya Group.


Malam pun tiba, keluarga Wijaya sedang makan malam bersama.


"Bagaimana rencana pembangunan hotel yang baru Syan?"tanya Kusuma.


"Aku udah dapet kontraktornya Pah. Besok malam acara peresmian pembangunan hotelnya. Kalian semua datang ya"jawab Isyan.


"Tentu kami akan datang. Acaranya di Wijaya Hotel kan?"tanya Rama.


"Iya Pah seperti biasa"sambung Dion.


"Rara..undang Papah Angga dan Mamah Laras untuk datang ke acara kita besok malam"pinta Isyan.


"Iya Kak, nanti aku telpon mereka"balas Rara.


"Istriku sayang...makan yang banyak dong. Kamu kan lagi hamil"sela dion menambahkan lauk di piring Rara.


"Ya ampun Mas, kalau aku gendut gimana"gerutu Rara.


"Ya bagus dong Nak..itu artinya kamu dan calon anak kamu sehat"balas Sinta.


Malam semakin larut, Isyan belum bisa tertidur. Dia masih membayangkan tatapan gavin terhadapnya. Rasanya sama seperti saat Isyan ditatap oleh Arya. Tapi jika memang Gavin adalah Arya kenapa dia tidak mengenali Isyan. Tidak mungkin Arya mengubah identitasnya dengan sengaja.


GRUDAG

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara gaduh di lantai bawah yang mengagetkan Isyan.


"Suara apa sih? Berisik banget!"ujar Isyan lalu keluar dan mencari sumber suara.


"Lah Dion..kamu belum tidur?"tanya Isyan saat melihat Dion sedang di dapur.


"Gimana mau tidur, Rara tiba-tiba pengin dimasakin ayam goreng sama sambel kecap dikasih irisan timun sama tomat plus kedondong"ujar Dion dengan wajah kesal.


Isyan pun tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya.


"Lah itu kan istri kamu itu nyidam karena mengandung anak kamu, Dion Wijaya"ledek Isyan.


"Kamu mana tahu repotnya ngadepin istri hamil. Kan kamu belum nikah"seru Dion dengan kesalnya.


Mendengar perkataan Dion yang menyinggung soal pernikahan, membuat Isyan langsung tertunduk dan sedih.


"Syan...yah kok nangis. Maaf Syan aku nggak bermaksud bikin kamu sedih. Syan maaf ya"ujar Dion menghampiri Isyan dan mengatupkan tangannya memohon.


Isyan memukul dahi dion dengan tangannya karena merasa kesal, hingga membuat Dion meringis kesakitan.


"Udah sini aku bantuin. Masak aja nggak bisa huh"ledek Isyan.


"Ya biarin. Fungsinya punya sodara cewek kan emang untuk dimanfaatin haha"celoteh Dion yang dibalas sabetan sendok sayur dari Isyan.


-----


Keesokan paginya, Dion dan Isyan bersama Arum sedang berunding mengenai acara nanti malam.


"Pak Surya dan Pak Gavin dateng kan, Rum?"tanya Isyanm


"Dateng Bu. Nggak mungkin mereka nggak dateng. Ini kan proyek mereka"ujar Arum.


"Bagus. Keluarga kita juga hadir semua"tambah Dion.


"Kalau keluarga Bu Isyan dan Pak Dion datang, tentu mereka pasti lihat kembarannya Pak Arya"ujar Arum.


"Ya udah Rum, sana kamu siapin acara peresmiannya"perintah Dion lalu Arum permisi untuk undur diri.


"Yon, aku deg-degan"ujar Isyan.


"Sabar Syan, kita harus pelan-pelan. Aku tahu kamu bingung dan gelisah tapi kita nggak tahu kebenarannya apa"ujar Dion.


Tiba-tiba Arum kembali masuk ke ruangan Isyan dengan wajah terkejut.


"Pak Surya dan anaknya dateng Bu"ujar Arum.


"APA???"teriak Dion dan Isyan bersamaan.


"Terus gimana dong"ujar Isyan gugup ketar-ketir.


"Tenang Syan..santui aja. Bersikap seperti biasa. Angkuh, cuek, dan dingin kaya tukang es doger"ujar Dion.


"Kurang ajar!"gerutu Isyan memukul lengan Dion.


"Ya udah suruh mereka masuk ke ruanganku aja"perintah isyan disambut anggukan dari Arum, lalu dia pergi keluar dari ruangan Isyan.


Tak berapa lama kemudian, terdengarlah suara ketukan pintu dalam sekejap sikap Dion dan Isyan berubah 180 derajat. Masuklah Pak Surya dan putra, Gavin yang mirip dengan Arya.


"Selamat pagi!"sapa Pak Surya ramah.


Isyan hanya diam, sementara yang membalas sapaan mereka hanya Dion. Mereka pun duduk di sofa bersama Isyan dan Dion.


"Ada perlu apa kalian ke sini?"tanya Isyan dingin.


"Mengenai pesta peresmian proyek pembangunan hotel anda, mungkin ada yang bisa kami bantu?"tanya Surya.

__ADS_1


Sebenarnya Isyan tak tega bersikap angkuh di depan orang tua, tapi bagaimana lagi dia butuh banyak informasi, maka dari itu dia mulai merubah sikapnya.


"Dia putra anda?"tanya isyan melirik Gavin yang sejak tadi menatap tajam ke arahnya.


"Iya, dia putra saya dan satu satunya pewaris perusahaan yang saya miliki. Proyek ini adalah impiannya. Saya berterima kasih karena Bu Isyan mempercayakan pembangunan hotel ini kepada perusahaan kami"jelas Surya.


"Kalaubproyek ini impiannya kenapa dia tidak berterima kasih kepadaku"ujar Isyan dengan angkuh.


Gavin mengepalkan tangannya karena kesal tapi Surya memegang tangannya agar dia bisa tenang.


"Terima kasih Bu Isyan. Karena anda, saya punya kesempatan mewujudkan mimpi saya"ujar Gavin dengan senyum terpaksa.


"Jangan sampai kamu melakukan kesalahan!"tegas Isyan menatap Gavin.


"Ya Allah, matanya seperti Arya! Kenapa ini? Jantungku juga berdegup sangat kencang!"batin Isyan.


"Baiklah, jika tidak ada keperluan lagi sebaiknya kalian kembali. Nanti malam datang ke Wijaya Hote, kami sudah mengurus pestanya"jelas Dion.


"Baik Pak Dion"sahut Surya lalu pergi dengan Gavin.


"Huft...akhirnya pergi juga!"ujar Isyan membuang napas panjang.


"Nggak mirip Syan!"ujar dion dengan wajah datar dan kedua tangan dilipat di depan dada.


"Apanya?"tanya Isyan bingung.


"Muka Pak Surya sama Arya eh maksudnya Gavin"ujar Dion


"Yang bilang mirip emang siapa dodol! Udah ah sana balik ke ruangan kamu"ujar Isyan mendorong Dion pelan agar bangun dari sofa.


"Terus kalo keluarga kita shock lihat Gavin gimana?"tanya Dion


"Ya kamu bilang, apapun yang terjadi nanti malam tolong kendalikan emosi nanti baru kita jelasin apa yang terjadi. Problematika banget ini"ujar Isyan.


Tiba-tiba ponsel dion berbunyi dan ternyata Rara yang telpon.


"Halo istriku sayang ada apa?"


"Mas beliin sate kambing muda dong, Rara pengin makan sate kambing tapi penjualnya itu harus yang bakar satenya pake kipas tangan terus dagingnya harus dipotong dengan ukuran lima cm"


"Hah? Apa? Mana ada pagi-pagi gini yang jual sate kambing terus apa urusannya sama daging dipotong limabcm, Ra?"ujar Dion frustasi dan mengacak-acak rambutnya.


"Ya Rara nggak mau tahu pokoknya Mas Dion harus dapet. Kalo nggak dapet, Mas Duon tidur di luar"tegas Rara mematikan telpon.


"Lah Ra..kok tidur luar sih. Ra!!"teriak Dion saat Dara mematikan telponnya.


Dion ternganga sampe mulutnya bisa disumpel kaos kaki. Isyan yang melihat itu pun tertawa terbahak-bahak.


"Ketawa terus, seneng banget lihat aku tersiksa"gerutu Dion.


"Ya muka itu loh lucu"ujar Isyan tertawa.


Walaupun Dion kesal karena Isyan menertawakannya tapi dalam hati Dion, dia merasa bahagia saat melihat Isyan bisa tertawa lepas. Semoga kehamilan Rara bisa membawa kebahaguaan untuk keluarganya.


"Udah sana pergi. Nanti suruh tidur luar loh nggak dapat jatah, malang nasibmu"ejek Isyan.


"Ya ya..ngomong aja ngusir"sewot Dion lalu pergi dengan kesal.


Sementara di kediaman keluarga Wijaya, Angga dan Laras sudah datang. Mereka semua berkumpul karena diminta Kusuma untuk memilih baju untuk acara nanti malam. Karena ratih sudah memanggil beberapa butik untuk membawa koleksi pakaian mereka.


"Ya ampun Bu Ratih sampe repot-repot menyiapkan pakaian untuk kami"ujar Laras.


"Kami merasa tidak enak"tambah Angga.


"Kita kan keluarga. Lagi pula Isyan juga putri kalian, dan ini adalah acara penting bagi dia"ujar Ratih

__ADS_1


"Ya sudah pilihlah baju yang paling bagus untuk nanti malam. Nggak usah mikirin harga"ujar Kusuma.


__ADS_2