Pengorbanan Cinta 1

Pengorbanan Cinta 1
Bab 45


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Gavin langsung di tangani oleh dokter. Dan beberapa menit kemudian dokter pun keluar.


"Dok bagaimana keadaannya"tanya Isyan cemas.


"Lukanya tidak parah, hanya saja pukulan benda keras di kepalanya mengakibatkan shock berat bagi otaknya"jelas dokter.


"Hah? Shock berat?"tanya Isyan penuh kebingungan.


"Iya, sepertinya pasien pernah mengalami kecelakaan serius. Hingga membuat dia mengalami gegar otak"ujar dokter.


Penjelasan dokter membuat Isyan terdiam dan berpikir sejenak.


"Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan. Saya permisi"ujar dokter lalu pergi.


Tak berapa lama Gavin dipindahkan ke ruang perawatan. Isyan pun sudah menghubungi Surya bahwa Gavin berada di rumah sakit. Isyan menghampiri Gavin yang belum sadarkan diri. Isyan menatap lekat wajah Gavin yang mirip Arya atau memang dia adalah Arya. Isyan duduk dikursi sebelah kasur kemudian menggenggam tangan Gavin. Tak terasa air mata Isyan menetes.


Saat isyan memegang tangan Gavin, selirik Isyan melihat jam tangan yang dipakai Gavin. Isyan meneliti jam tangan yang dipakai Gavin. Isyan pun kembali mengingat jam tangan yang dia berikan pada Arya setahun yang lalu. Isyan ternganga penuh ketidak percayaan. Fakta selanjutnya yang dia ketahui. Ini adalah bukti yang kesekian dan menguatkan dugaan bahwa bisa Gavin adalah Arya, tunangan Isyan.


Hal itu membuat Isyan memeluk Gavin sambil menangis. Seper sekian detik Isyan memeluk Gavin hingga tak sadar bahwa Gavin mulai sadar. Dan memandangi Isyan yang sedang memeluknya dalam tangis.


"Aaauuuww!"rintih Gavin memegangi kepalanya yang membuat Isyan terperanjat dan melepas pelukannya.


"Kamu sudah bangun? Apa yang sakit?"tanya Isyan khawatir.


Gavin hanya menggelengkan kepala tapi masih memegangi kepalanya. Gavin tersenyum pada Isyan.


"Apa kamu mengingat sesuatu?"tanya Isyan penuh harap. Isyan berharap setelah kepala Gavin dipukul oleh pembegal tadi bisa muncul keajaiban dengan kembalinya ingatan dia.


"Ingat apa? Aku cuma ingat kejadian tadi"ujar Gavin dengan wajah datar.


Isyan menghela napas kasar, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi sambil mengelus lengannya yang mungkin sudah lebam akibat tendangan tadi.


"Aku pikir ingatannya sudah kembali. Malah masih sama saja. Lama-lama aku pukul kepalanya pakai kursi biar ingat sekalian"gerutu Isyan dalam hati.


"Kamu hebat! Bisa melawan pembegal brengsek itu"puji Gavin.


"Iya memang aku hebat. Memangnya kamu, melawan mereka saja tidak bisa"ejek Isyan.


"Hei sombong banget kamu. Gitu juga kamu dibantuin sama bodyguard kamu kan"ujar Gavin tak mau kalah.


Isyan dan Gavin saling memberi tatapan kesal satu sama lain.


"Gavin!!"teriak Surya masuk ke ruang perawatan Gavin.


Isyan terkejut dan cepat berdiri dari kursi yang didudukinya agar Surya bisa duduk di kursi itu.


"Kamu nggak apa-apa kan, Vin?"tanya Surya cemas.


"Aku baik Pah. Harusnya papah tanya juga sama Isyan, apa dia baik?"ucap Gavin melirik Isyan yang ketahuan sedang meringis kesakitan.


"Apa? Aku? Tentu saja aku baik"elak isyan merubah datar ekspresi wajahnya.


"Periksakan lenganmu Syan. Aku melihat lenganmu ditendang pembegal tadi"ujar Gavin.


"Hhmm...kalau begitu saya permisi Pak Surya, Gavin"ujar Isyan lalu keluar ruang perawatan Gavin.


Dan ternyata lima meter dari ruangan Gavin sudah berdiri Dion dan Kusuma. Berdiri dengan tatapan tajam dan melipat kedua tangannya persis seperti detektif. Isyan menghampiri mereka dengan wajah yang malas untuk mendengar ocehan papahnya.


Kusuma langsung meraih tubuh Isyan dan mencari luka di tubuh Isyan. Dan melihat lebam yang cukup besar di lengan Isyan.


"Papah udah pernah bilang, bawa bodyguard Syan"tegur Kusuma.


"Lah papah pikir yang bantuin Isyan ngelawan begal siapa? Jinnya aladin? Ya bodyguard lah"bela Isyan dengan wajah cemberut.


"Kamu itu ngeyel kalau dibilangin. Kalau Gavin nggak pingsan dulu mana mau kamu kirim sinyal bahaya ke bodyguard"tambah Kusuma.


Sebenarnya sadar atau tidak Isyan selalu dikelilingi pasukan untuk menjaganya. Tapi mereka tahu Isyan tidak akan memanggil mereka jika tidak dalam keadaan yang sangat terdesak. Jadi mereka akan muncul jika Isyan yang meminta.


"Masih jago sama ilmu bela diri? Sampai para begal semua masuk rumah sakit"sambung Dion.


"Apaan sih?"ujar Isyan tak mengerti.


Dion memperlihatkan ponselnya di mana terputar vidio Isyan sedang menghajar para pembegal dengan berbagai jurus.


"Papah baru tau loh kamu bisa bela diri. Sejak kapan kamu belajar?"tanya Kusuma.


Dion menaikkan satu alis sebagai isyarat mau dia atau Isyan sendiri yang bercerita.


"Dari SD. Isyan belajar diam-diam karena aku tahu papah pasti nggak bakal kasih izin. Papah pernah bilang 'jangan sampai Isyan terluka sedikit pun walaupun seujung kuku'. Ya ampun padahal latihan bela diri luka di sana sini"gerutu Isyan.


Sebenarnya Isyan sadar diri sebagai anak Kusuma Wijaya nyawanya selalu jadi incaran. Makanya dia dan Dion diam-diam belajar ilmu bela diri. Hanua saja Isyan memang lebih ketimbang Dion. Kusuma yang tadinya memasang wajah masam langsung tersenyum dan memeluk Isyan begitu erat.


"Papah bangga sama kamu sayang, kamu emang The Real Princess of Wijaya Family"puji Kusuma.


"Tapi lain kali nggak usah sok jagoan. Kamu bukan kucing yang nyawanya sembilan"bentak Kusuma gregetan sambil mencubit pipi Isyan dengan gemas.


"Iya Pah, Isyan tahu, sekarang kita pulang ya. Pegel nih badan Isyan"rengek Isyan.

__ADS_1


Mereka bertiga pun meninggalkan rumah sakit. Isyan tidak menceritakan masalah jam tangan Gavin. Isyan menyimpan itu sendiri agar dia bisa mencari tahu lebih dalam lagi.


Sementara di ruang perawatan, Gavin menceritakan semua kejadian pada papahnya.


"Papah baru tahu loh Isyan itu jagoan"ujar Surya.


"Sama Pah. Gavin pikir dia anak manja, angkuh, dan sombong. Ternyata dia beda"ujar Gavin.


"Puji aja terus nanti jatuh cinta loh"goda Surya.


"Apaan sih Pah. Nggak sampai situ juga kali"elak Gavin.


***


Hari Senin, hari yang paling ditakuti hampir 90% manusia di dunia. Hari tersibuk setelah merasakan weekend. Isyan sudah berada di kantor Gavin bekerja sebagai sekertaris dan tentunya sebagai Ratna. Gavin sudah datang ke kantor. Masuk ke ruangan tanpa menyapa Isyan, oh maksudnya Ratna.


"Apa dia masih sakit? Kalau masih sakit kenapa masuk kantor coba"gerutu Isyan.


Isyan masuk ke ruangan Gavin dan memastikan keadaannya baik.


"Bapak mau dibuatkan kopi atau dibelikan sarapan?"tanya Isyan


"Loh bapak kok babak belur?"sambung Isyan pura-pura terkejut.


"Kok kamu tahu saya babak belur?"tanya Gavin.


"Pak, orang tuli aja bisa lihat muka bapak bonyok kaya wortel busuk"ujar Isyan.


"Orang tuli kan nggak buta, Ratna"balas Gavin.


"Ya iya deh, Pak"ujar Isyan.


"Jadwal saya hari ini apa?"tanya Gavin.


"Meeting jam sembilan pagi, bertemu klien dari China jam satu siang, jam tiga sore kunjungan ke proyek Arya Hotel"ujar Isyan.


"Oke. Kamu tahu nggak..."


"Nggak tahu Pak"ujar isyan memotong perkataan Gavin yang belum selesai.


"Saya belum selesai ngomong Ratna"gerutu Gavin.


"Ya maaf Pak. Oke lanjut Pak"ujar Isyan.


"Kamu tahu nggak minuman yang bisa ngilangin pegel-pegel di badan?"ujar Gavin.


Sepuluh menit kemudian Isyan kembali ke ruangan Gavin membawa cangkir lalu meletakkannya di meja.


"Itu apa?"tanya Gavin.


"Air wudhu Pak"jawab Isyan cengengesan


"Kok air wudhu butek kaya gitu sih"ujar glGavin memandangi warna air di dalam cangkir.


"Ih Pak Gavin kudet ya. Ini namanya wedang jahe. Katanya bisa menghilangkan pegal linu wes ewes ewes bablas angine"ujar Isyan sambil mengibaskan tangannya dengan ekspresi lucu.


"Ya sudah sana balik ke meja kamu"ujar Havin lalu Isyan keluar dari ruangan Gavin.


Sesuai jadwal jam sembilan pagi ada meeting di kantor. Isyan sudah menyiapkan segala keperluan untuk presentasi. Kemudian bertemu klien dari China jam satu siang. Mereka bertemu klien dari China di salah satu hotel berbintang. Pertemuannya dilaksanakan private di restoran di hotel tersebut. Saat berhadapan dengan kliennya Gavin nampak mengeluarkan keringat dingin. Dia tidak tenang hingga tubuhnya bergerak terus.


"Bapak bisa tenang nggak sih. Ini klien luar negeri loh"bisik Isyan.


"Ratna..gimana saya bisa tenang. Setelah saya tahu mereka nggak bisa ngomong bahasa Inggris. Saya juga nggak bisa bahasa Mandarin"bisik Gavin.


Isyan pun cekikikan mendengar pengakuan Gavin yang menurutnya super lucu.


"Bagaimana ini?"tanya Gavin.


"Bapak tenang aja. Saya urus klien bermata sipit ini. Kalau saya berhasil bapak kasih saya bonus ya"ujar Isyan memainkan alisnya.


"Hmm.."jawab Gavin singkat.


Isyan menarik napas dalam lalu menghembuskan pelan-pelam. Kemudian duduk tegak penuh keanggunan. Lalu Isyan mengobrol dengan klien Gavin dari China menggunakan bahasa Mandarin dengan lancar tanpa hambatan seperti jalan tol.


Hingga akhirnya klien dari China sepakat berinvestasi di perusahaan Gavin. Dengan senyum sumringah Isyan menutup pertemuan dengan klien dari China.


"Saya nggak nyangka kamu bisa sekeren tado. Walaupun kamu culun tapi otak kamu waras juga"ujar Gavin melangkah meninggalkan hotel.


"Yah Pak blBos. Makanya DONT JUDGE PEOPLE FROM THE COVER. Jangan nilai dari luarnya saja. Tapi lihat dalamnya"ujar Isyan.


Mereka pun meninggalkan hotel dan menuju tempat pembangunan proyek Arya Hotel. Sesampainya di sana, Gavin langsung memeriksa sudah sejauh mana proses pembangunan.


Tiba-tiba ponsel Isyan berbunyi dan ternyata dia mendapat telpon dari Dion. Dengan cepat Isyan menjauh dari Gavin.


"Halo Yon."


"Syan...masalah perusahaan kita di Malaysia nggak bisa diselesein sama Om Kusuma dan papahku. Harus kamu yang nyelesein."

__ADS_1


"Hah? Terus gimana dong? Aku harus bilang apa ke Gavin buat izin nggak masuk kerja"ujar Isyan bingung.


"Ya gimana dong..."


"Ya udah biar aku pikir nanti. Berapa hari aku harus ke Malaysia?"tanya Isyan sesekali melirik Gavin yang jauh disana.


"Dua hari."


"What?? Masa aku harus membelah diri. Emangnya aku amoeba"ujar Isyan kesal.


"Ya masa aku harus gantiin posisinya Ratna sih. Jadi banci dong."


"Ya udah nanti aku kabari lagi"ujar Isyan menutup telpon.


Isyan kembali menghampiri Gavin, berdiri di sebelah gavin dan sesekali mencatat perkembangan pembangunan proyek. Setelah dua jam lamanya Isyan dan Gavin meninggalkan lokasi proyek. Dan tak kembali ke kantor melainkan pulang. Gavin mengantar Isyan terlebih dahulu ke apartemennya.


"Saya mampir ya ke apartement kamu"ujar Gavin mengikuti Isyan yang keluar dari mobil.


"Eemm oke deh Pak"ujar Isyan.


Gavin pun mengikuti Isyan ke apartementnya. Sesampainya di apartemen, Isyan membuatkan Gavin es jeruk dan memberi beberapa cemilan.


"Pak saya mau ngomong sebentar boleh?"tanya Isyan ragu-ragu.


"Ngomong aja. Lama juga nggak papa"jawab Gavin.


"Gini ya Pak, kan bapak bilang kalo saya berhasil membuat klien dari China kerja sama dengan perusahaan kita, saya akan dikasih bonus kan"ujar Isyan.


Gavin hanya mengangguk menanggapi perkataan Isyan.


"Saya nggak minta bonus uang Pak. Soalnya gaji saya sebulan udah cukup kok"sambung Isyan


"Terus kamu minta apa? Hati saya?"ujar Gavin santai.


Isyan tersentak mendengar perkataan Gavin. Sekejap dia merasa jantungnya berdegup kencang.


"Idih pede banget sih Bapak. Saya cuma minta ijin cuti dua hari Pak. Saya tadi ditelpon saudara saya di Bandung. Kalau...."


"Kalau apa?"tanya Gavin.


"Bapak saya sakitnya kambuh"ujar Isyan.


"Haduh...papah maafin Isyan ya bukannya Isyan doain papah sakit. Tapi Isyan nggak ada alesan lain. Maafin Isyan ya Allah"runtuk Isyan dalam hati.


"Ooohhh..." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Gavin.


"Lah kok cuma oh sih Pak. Saya butuh kepastian nih"ujar Isyan gergeetan.


"Iya saya perbolehkan. Tapi dengan satu syarat"ujar Gavin.


"Apa Pak?"tanya Isyan.


"Saya makan malam di sini bareng kamu dan makan masakan kamu"ujar Gavin sambil merentangkan tangannya ke sofa.


Lalu mengangguk menyetujui syarat dari Gavin. Tanpa menunggu lama Isyan pergi ke kamar untuk berganti pakaian dengan kaos polos dan celana kulot. Selain itu Isyan tak lupa mencuci mukanya. Setelah selesai Isyan pun bergegas keluar kamar.


"Eeehhh..hampir lupa. Kan lagi jadi Ratna. Masa rambut nggak dikepang, kacamata kelupaan, terus tahi lalat yang comel ini. Ketahuan dong nanti"ujar Isyan saat sadar tak memakai atribut milik Ratna.


Dengan cepat Isyan mengepang rambutnya, memakai kacamata dan memasang tahi lalat.


"Lama banget gantinya. Saya laper nih!"gerutu Gavin saat Isyan keluar dari kamar


"Sabar Pak...Allah cinta orang-orang yang sabar"tandas Isyan.


Isyan pun mulai memasak untuk makan malam. Jelas ada rasa senang di hati Isyan. Karena sekarang pria itu yang Isyan yakini adalah Arya tapi dengan nama Gavin berada di apartemennya dan akan malam bersamanya.


"Pak, makan malam udah siap"panggil Isyan.


Gavin pun beranjak dari sofa dan pergi ke dapur. Mereka duduk bersama dimeja makan yang ukurannya minimalis.


"Bapak kenapa sih senang banget sama masakan saya?"tanya Isyan.


"Nggak tahu. Enak aja"ujar Gavin cuek tetap fokus dengan piringnya


"Jangan-jangan bapak suka ya sama saya"goda Isyan


Gavin langsung tersedak mendengar perkataan Isyan. Isyan pun langsung memberi gavin minum.


"Santai aja kali Pak, saya cuma bercanda. Tapi kalo bapak beneran suka sama saya juga nggak papa kok"ledek Isyan lagi.


"Sssttt...diam kamu. Ganggu saya makan aja"gerutu Gavin.


Isyan hanya terkekeh dan sesekali memandangi Gavin. Setelah makan malam selesai, Gavin berpamitan pulang.


Di dalam mobil, tiba-tiba Gavin memikirkan perkataan Ratna.


"Masa sih aku suka sama dia?"ujar Gavin.

__ADS_1


"Penampilan culun kaya gitu, menarik dari mananya"sambung Gavin sambil menyetir.


__ADS_2