
Pagi yang cerah untuk memulai hari dengan semangat. Kantor PT Surya sudah ramai didatangi para wanita para pelamar calon sekertaris. Penampilan mereka sangat luar biasa, cantik, seksi, mulus, dan tinggi semampai. Tak ketinggalan, Isyan sudah sampai di kantor PT Surya menggunakan taksi. Ya mulai hari ini dia menjadi Ratna Sari Dewi.
Bagaimana penampilan Isyan? Tentu saja, seperti wanita desa dengan rambut di kepang dua, make up seadanya, memakai kacamata bulat, dan tahi lalat di atas bibir. Isyan pun masuk ke dalam gedung kantor. Saat Isyan akan gabung dengan para pelamar yang lain, semua menatap Isyan dengan pandangan jijik. Tentu saja, mana ada sekertaris berpenampilan culun dan kampungan.
Mereka berbisik mengenai penampilan Isyan yang norak dan mengatakan bahwa Isyan terlalu percaya diri akan di terima di perusahaan ini. Tak berapa lama pihak HRD memanggil seluruh pelamar untuk masuk ke dalam ruangan test. Mereka mengerjakan soal tes logika penalaran, tes pencocokan gambar, tes logika gambar, aritmatika psikotes, dan wawancara.
Setelah 6 jam berlalu test pun selesai. Kini HRD meminta setiap pelamar berpresentasi mengenai suatu proyek yang sudah disediakan dengan bahasa Inggris.
"Ratna Sari Dewi.."panggil HRD
Isyan terperanjat ketika nama samarannya disebut. Isyan bangkit dari kursi, sesekali dia membenarkan posisi kacamatanya. Isyan pun maju ke depan dan berdiri di depan layar LCD.
"Emangnya gadis desa kaya dia bisa bahasa Inggris"ejek pelamar yang memakai dress cukup seksi.
"Iya..lihat aja penampilannya kayak penjaga toko"timpal pelamar yang make upnya menor.
"Paling juga gagap ngomongnya"tambah pelamar yang memakai banyak perhiasan.
Mayoritas pun menertawakan Isyan yang sedang berdiri tertunduk menggenggam ke dua tangannya.
"Sudah diam! Kalian kalau ribut keluar dari sini"bentak HRD.
Seketika mereka pun diam dan tak berani mengeluarkan suara. HRD pun memilih sebuah file dilaptop yang berisi proyek pembangunan Arya Hotel milik Wijaya Group.
"Ini kan proyek perusahaanku sendiri? Kalau aku presentasiin ini sih saking gampangnya "batin Isyan nampak santai.
"Silahkan dimulai!"perintah HRD.
Isyan diam sejenak lalu menarik napas panjang dan menghembuskan. Lalu Isyan mulai berbicara menjelaskan proyek Arya Hotel menggunakan bahasa Inggris dengan lancar, fasih, aksen internasioal,btanpa celah sedikit pun. Para pelamar yang menghina Isyan pun dibuat bengong melihat kemampuan berbicara Isyan yang diatas rata-rata.
"Thank you.."ujar Isyan diakhir presentasi disambut tepuk tangan seluruh pelamar.
Lalu isyan berjalan kembali menuju kursi tempat duduknya. Setelah test presentasi selesai, HRD menyebutkan sepuluh nama pelamar yang lolos. Salah satunya Ratna Sari Dewi tentunya.
"Setelah ini kalian akan di wawancarai langsung oleh direktur utama perusahaan ini yaitu Pak Gavin Saputra"ujar HRD.
Lalu Sarah mengajak sepuluh pelamar menuju ruangan Gavin. Satu per satu masuk ke ruangan Gavin. Giliran Isyan yang masuk ke ruangan Gavin.
Saat berjalan masuk tak sengaja Isyan tersandung keset yang ada di depan pintu. Isyan jatuh tersungkur tepat setelah pintu ruangan Gavin ditutup oleh Sarah. Gavin langsung bangkit dan menghampiri Isyan
"Kamu tidak apa-apa?"tanya Gavin mengulurkan tangan.
Jantung Isyan berdegup kencang lalu dia menerima uluran tangan Gavin yang membantunya berdiri dan beberapa saat mereka saling bertatapan.
"Ih bapak pegang-pegang saya"celoteh Isyan dengan logat ndeso.
"Hei..kamu ditolongin bukannya makasih malah sewot. Baru pelamar sudah berani ya"balas Gavin tak mau kalah.
"M-A-K-A-S-I-H. Puas?"ujar Isyan mendongakkan kepalanya.
Isyan sengaja bersikap nyleneh, ceplas ceplos, dan menyebalkan agar bisa mengontrol perasaannya saat berada di dekat Gavin. Sekaligus agar sifat Ratna berbeda 180 derajat dari Isyana. Gavin kembali duduk di kursinya begitu juga Isyan duduk dihadapan Gavin.
"Nama.."ketus Gavin.
"Isya...emm Ratna Sari Dewi.."ujar Isyan hampir keceplosan.
"Saya hanya ingin kamu mengerjakan satu laporan perusahaan dalam waktu 15 menit"ujar Gavin.
Isyan melotot dan ternganga mendengar perintah Gavin.
"15 menit Pak? Bapak sehat? Laporan macam apa yang dibuat dalam waktu 15 menit"ujar Isyan.
"Ya kalau tidak sanggup kamu bisa mundur"ujar Gavin santai.
"Astaga..bos kampret. Kalo bukan lagi menyamar udah aku cakar-cakar mukanya"gerutu Isyan dalam hati.
"Baik Pak. Mana laporannya"ujar Isyan jutek.
Gavin memberikan beberapa lembar berkas dan meminjamkan laptopnya. Isyan langsung membuat laporan sesuai perintah Havin dengan cepat dan santai. Gavin terus mengamati Isyan dalam penampilan Ratna.
"Udah selesai pak. Nggak usah ngeliatin saya terus kali"ujar Isyan datar lalu menyerahkan laptop dan berkas.
Gavin pun memalingkan pandangannya lalu menerimanya dan mengecek laporan yang dibuat Isyan. Gavin menatap tajam laporan hasil karya Isyan.
"Kenapa Pak ada yang salah?"tanya Isyan santai.
"Nggak ada. Kamu bisa keluar!"ujar Gavin yang masih memandangi laptop.
"Idih..dasar manusia aneh!"gumam Isyan dalam hati lalu keluar dari ruangan Gavin.
Setelah selesai wawancara dengan Gavin, HRD, dan Sarah berdiskusi siapa yang akan diterima sebagai sekertaris menggantikan Sarah.
__ADS_1
"Yang ini cantik Pak, uma ya nggak begitu pinter bahasa asing"ujar Sarah menunjuk salah satu foto.
"Kalau yang ini, dia cupu tapi fasih bahasa Inggris, nilai testnya juga tinggi, skillnya oke Pak"ujar HRD menunjuk foto Isyan.
"Tapi penampilan cupu Pak"timpal Sarah.
"Tapi dia bisa membuat laporan perusahaan selama 15 menit. Apa tidak aneh? Seperti dia sudah sangat berpengalaman di perusahaan besar"ujar Gavin.
"Bener Pak. Waktu tadi presentasi proyek Arya Hotel dia bisa lancar sekali, seperti dia tahu seluk beluknya"seru HRD.
Gavin pun manggut-manggut mendengarkan pendapat dua bawahannya. Setelah diskusi panjang HRD mengumpulkan sepuluh orang itu untuk diumumkan siapa yang diterima.
"Yang di terima adalah..."
"Ratna Sari Dewi. Selamat!"ujar HRD diikuti tepuk tangan yang lain.
Setelah Isyan mendapat ucapan selamat, Isyan diajak HRD untuk bertemu Gavin lagi.
"Selamat"ujar Gavin sambil melipat kedua tangannya dan bersandar pada meja kerjanya.
"Ya.."jawan Isyan singkat.
Gavin mengernyitkan dahinya mendengar jawaban Isyan. Gavin heran baru kali ini ada karyawannya yang kurang ramah padanya. Munculah ide untuk mengerjai Isyan.
"Kamu ini baru diterima kerja sudah menyebalkan ya"ujar Gavin dengan nada tinggi.
Isyan memasang wajah yang datar dan santai karena situasi seperti ini biasa dia hadapi.
"Oke karena Sarah mau resign, dan kamu adalah pengganti dia, maka kamu saya beri tugas mengerjakan laporan dari saya, dan harus diserahkan kepada saya besok siang"seru Gavin sambil memutari Isyan.
"APA??"teriak Isyan hingga membuat Gavin menutup telinganya.
"Kecilkan suara kamu? Budeg kuping saya ini"ujar Gavin menepuk-nepuk telinganya.
"Ya bapak enak aja, saya kerja aja belum sudah diberi tugas. Nggak kasian?"lawan Isyan seperti preman pasar.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau...saya gantikan kamu dengan sekertaris yang lain"ujar Gavin menatap tajam Isyan
"Wah kacau nih...harus ngalah nih"batin Isyan.
"Baik Pak..mana tugasnya?"ujar Isyan mengalah.
"Ya sudah ngapain kamu masih di sini!"ujar Gavin.
"Bapak kan belum nyuruh saya pergi atau bapak sengaja biar saya lama di sini?"ledek Isyan dengan wajah ndesonya.
"Ya sudah sana pulang, besok ke kantor, jangan sampai terlambat. Saya tidak suka orang yang tidak disiplin"ujar Gavin.
Isyan mendengus kesal mendengar perkataan Gavin yang seenaknya saja, lalu dia pergi dari ruangan Gavin. Gavin pun tertawa melihat tingkah Isyan yang kesal. Lalu masuklah Sarah ke dalam ruangan Gavin.
"Pak Gavin yakin menerima dia?"tanya Sarah.
"Kita lihat saja. Kalau dia bisa menyelesaikan tugas dari saya dalam semalam berarti dia punya skill yang bagus. Kalau dia gagal kamu tunjuk satu pelamar yang ada di posisi ke dua setelah dia"jelas Gavin.
"Baik Pak"ujar Sarah.
Isyan memiliki segunung rasa kesal terhadap Gavin. Bagaimana bisa dia belum kerja malah dikasih tugas sebanyak itu? Isyan pun kembali kerumah keluarga Wijaya saat petang tiba.
"Syan udah pulang?"sapa Ratih.
"Hmm.."jawab Isyan singkat meletakkan kasar berkas yang dia bawa.
Lalu munculah anggota keluarga yang lain saat tahu Isyan sudah pulang.
"Bawa apaan Syan?"tanya Dion.
"Kepo deh"gerutu Isyan.
"Kenapa sih Syan? Kelihatannya badmood banget?"tanya Kusuma.
Isyan pun menceritakan semua kejadian dari awal dia masuk sampai keluar dari kantor gavin. Tentu saja ceritanya disambut tawa keras dari keluarganya.
"Ketawain aja terus sampe nangis. Kalian nggak kasian apa sama aku?"ujar Isyan.
"Ya Kak Isyan lucu sih"ujar Rara tertawa.
"Ya bagus dong Syan. Artinya kamu mendalami peran kamu sebagai Ratna. Nggak mungkin dong Ratna itu sosok yang anggun, elegan, dan glamor"ujar Rama.
"Bener Syan..pertahankan sikap kamu. Kan seru kalau sampai baku hantam"celoteh Sinta.
"Sudah-sudah, jangan ada yang mengejek putriku lagi. Dia pasti capek. Isyan kamu mandi dulu, habis itu kita makan malam"ujar Kusuma.
__ADS_1
"Dion nanti kamu bantuin Isyan ngerjain tugasnya ya"ujar Ratih.
"Siap Tante Ratih"ujar Dion sambil hormat.
Setelah Isyan membersihkan badannya dan makan malam bersama keluarga, Isyan langsung mengerjakan tugas dari Gavin dibantu Dion.
"Terus perusahaan selama nggak ada aku gimana?"tanya Isyan.
"Tenang aja Syan..aku bisa handle. Kan masih ada Om Kusuma sama papah"ujar Dion.
"Tapi kalo ada apa-apa kasih tahu aku. Aku nggak mau karena rencana ini aku jadi melalaikan tugasku"ujar Isyan.
"Iya sepupuku yang cantik sekomplek. Kamu selalu jadi bos yang perhatian. Udah sih cepet diselesein tugas dari bosmu yang baru"ledek Dion sambil menaikkan alis.
"Nyebelin banget itu orang"ujar Isyan masih kesal.
-----
Di kediaman Surya tentu saja mereka juga sedang makan malam. Surya memerhatikan Gavin yang makan sambil senyum-senyum sendiri.bBahkan berkali kali dipanggil pun tidak menjawab.
"Gavin!"panggil Surya menjewer Gavin.
"Aduh Pah sakit tahu!"ujar Gavin memegang telinganya yang habis dijewer.
"Lah kamu senyum-senyum sendiri sampai papah manggil aja kamu nggak jawab. Kenapa sih?"tanya Surya.
"Aku baru aja nerima sekertaris yang aneh bin ajaib"ujar Gavin.
"Emang kenapa sama sekertaris baru kamu?"tanya Surya.
Gavin pun menceritakan kejadian dengan Ratna saat di kantor.
"Hus kamu itu ngawur, belum mulai kerja udah dikasih tugas kayakbgitu. Keterlaluan kamu Vin"ujar Surya.
"Keterlaluan apanya sih Pah. Aku itu lagi ngetes sikap tanggung jawabnya. Soalnya dia itu cupu, jutek, ceplas ceplos, seru kalau aku kerjain"seru Gavin dengan wajah sumringah.
"Kamu jangan ngejek kayak gitu. Awas aja kalau kamu naksir sama sekertaris kamu ya.."ujar Surya menunjuk Gavin.
"Aku? Suka sama gadis kampungan? Nggak mungkin ya Pah bukan seleraku"ujar Gavin remeh sambil mengibaskan kaosnya.
"Lihat saja nanti..."ujar Surya menantang
Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Tugas dari Gavin sudah Dion dan Isyan selesaikan dengan cepat.
"Yah tugas kayak gini sih kecil!"ujar Dion sambil menyentil jarinya.
"Sombong banget sepupu kampret satu ini"sergap Isyan sambil membereskan berkas dan laptopnya.
"Ya bukannya sombong ya Syan, coba kamu pikir de,h kita lulusan sekolah luar negeri dan perusahaan kita lebih besar dari Gavin, laporan perusahaan Wijaya Group juga lebih susah, nggak mungkin aku nggak bisa ngerjain laporan kayak gini"kata Dion.
"Iya iya deh percaya"ujar Isyan.
"Syan..."panggil Kusuma menghampiri Isyan dan Dion.
"Iya Pah kenapa?"tanya Isyan.
"Kapan kamu akan pindah ke apartemen?"tanya Kusuma.
"Papah ngusir nih..."timpal Isyan dengan ekspresi terkejut yang agak lebay.
"Ya nggak Syan, papah cuma mau tanya kamu butuh pembantu nggak, atau mobil terus nanti papah suruh pelayan buat bawain barang-barangmu ke apartemen, jadi kamu tinggal nempatin aja"ujar Kusuma.
"Kayaknya besok sore aja deh Pah, sekalian pulang kerja. Pah apartemennya jangan yang mewah ya, biar nggak dicurigain, nggak usah pakai pembantu, nggak usah dikasih mobil juga"ujar Isyan.
"Kenapa? Terus besok kamu ke kantor naik apa?"tanya Kusuma
"Buroq Om.."sambar Dion tertawa.
"Emang perjalanan ke langit ketujuh. Ada ada aja kamu"sergap Isyan.
"Maksudnya Isyan biar menjiwai peran loh Pah. Takut ada yang curiga. Intinya Isyan harus hidup sesederhana mungkin"terang Isyan.
"Tapi masa anak Kusuma Wijaya hidup sederhana sih"ujar Kusuma bergidik
Isyan dan Dion sama-sama menepuk jidat dan tertunduk. Ya bagaimana lagi sejak kecil mereka sudah hidup dengan segala fasilitas lengkap.
"Ya udah papah percaya kalaubkamu bisa mandiri. Tapi kalau ada apa-apa langsung telpon papah ya"ujar Kusuma.
"Iya papahku sayang..Isyan kan emang anak mandiri"ujar Isyan manja.
"Ya udah Syan..aku ke kamar dulu ya. Takut Rara nungguin"ujar Dion beranjak pergi.
__ADS_1