Pengorbanan Cinta 1

Pengorbanan Cinta 1
Bab 51


__ADS_3

Setelah makan malam, Dion dan Rara mengadakan rapat paripurna versi mereka. Pembahasan kali ini masih sama yaitu Gavin. Mereka membahas bagaimana cerita Gavin setelah dari dokter. Dan keanehan saat Gavin meminta mengelus perut Rara.


"Berarti secara nggak langsung kita udah tahu dong kalau Gavin pernah kecelakaan. Tapi dia nggak inget kecelakaan apa, kesimpulannya dia amnesia kan?"ujar Dion.


"Kamu bener Mas. Soalnya tadi waktu dia ngelus perut aku itu rasanya kaya dielus Kak Arya banget"sambung Rara.


"Aku udah suruh anak buahku untuk cari tahu tentang keluarga Pak Surya. Cukup sulit mendapatkan informasinya karena dia sangat tertutup dengan urusan pribadi. Dan parahnya dia memperkenalkan penerusnya yang bernama Gavin itu baru satu tahun ini tapi berwajah Arya. Artinya tidak ada yang tahu wajah Gavin yang asli"ujar Dion.


"Terus gimana dong? Masa kita diam aja. Kalau pun dia amnesia setidaknya kita bisa membuktikan kecurigaan kita. Apa kamu nggak ada kenalan klien bisnis yang pernah kerja sama dengan perusahaan Pak Surya"ujar Rara.


Dion langsung diam dan berpikir sejenak. Lalu mengambil HPnya untuk mencari sesuatu.


"Ada...perusahaan Pak Surya pernah membangun proyek di Singapura. Dan proyek itu dikerjakan oleh Gavin"ujar Dion sambil menatap HPnya.


"Jadi?"tanya Rara yang belum mengerti.


"Jadi aku akan pergi ke Singapura, bertanya pada perusahaan itu tentang Gavin. Tidak mungkin kan selama pembangunan proyek tidak ada foto atau bukti lain antara kedua klien itu"ujar Dion.


"Iya bener Mas. Tapi itu kan privasi perusahaan"kata Rara sedikit cemas.


"Hei..kamu belum tahu seberapa besar pengaruh perusahaan Wijaya Group. Wijaya Group terlalu berpengaruh di negara itu. Tenang sayang, aku akan atasi ini. Aku akan pergi ke Singapura besok"ujar Dion menarik Rara ke dalam pelukannya.


"Semangat suamiku sayang...aku selalu mendoakan keluarga kita"ujar Rara.


*****


Keesokan paginya Dion langsung terbang ke Singapura. Dia pergi dengan alasan ada urusan bisnis tentunya. Dia dan rara merahasiakan rencana mereka berdua dari keluarga mereka. Mereka ingin membantu Isyan secara diam-diam.


Dion sudah mendapatkan informasi perusahaan mana yang setahun lalu bekerja sama dengan perusahaan Pak Surya. Sesampainya di Singapura Dion langsung ke perusahaan tersebut. Tidak sulit bagi Dion untuk mendapatkan izim bertemu dengan pemilik perusahaan itu. Karena ternyata Wijaya Group menanamkan modal di perusahaan itu.


"Selama datang Tuan Dion Wijjaya"kata Zhang Juan direktur perusaahaan tekstil di singapura yang bernama CapitaLand.


Dion disambut dan di bawa ke ruang jamuan khusus tamu yang cukup mewah.


"Terima kasih Tuan Zhang"jawab Dion sambil duduk di sofa.


"Saya tidak menyangka petinggi Wijaya Group mau mampir ke perusahaan kecil seperti ini"ujar Zhang Juan.


"Anda ini terlalu merendah. Perusahaan anda sudah perkembang sangat pesat Tuan Zhang"balas Dion tersenyum.


"Ini berkat perusahaan anda karena telah menanamkan modal sekaligus membeli saham di perusahaan ini"tambah Zhang.


"Karena bisnis adalah bagian dari hidup kami"ujar Dion tertawa.


"Baiklah Tuan Dion, ada perlu apa anda jauh-jauh datang ke Singapura?"tanya Zhang.


"Begini, saya mendapatkan informasi bahwa setahun yang lalu anda membangun gedung baru bagi perusahaan ini"ujar Dion sebagai pembukaan.


"Oh maaf Tuan Dion saya tidak memberitahu anda, kalau perusahaan ini membangun gedung baru. Seharusnya saya memberitahu anda. Maafkan saya sudah lancang"ujar Zhang tak enak hati.


"Oh tidak. Ini perusahaan anda dan terserah anda mau membangun apa. Membangun laut buatan juga boleh"ujar Dion tertawa.

__ADS_1


Zhang pun ikut tertawa. Dia memang mengenal bahwa pentinggi Wijaya Group tidak pernah sombong dengan kekuasaan.


"Apa saya boleh membangun akhirat juga?"tanya Zhang terkekeh.


"Perbaiki dulu akhlakmu Tuan Zhang"seru Dion tak kalah konyol.


"Lalu apa yang ingin anda ketahui?"tanya Zhang.


"Saya ingin tahu informasi tentang perusahaan kontraktor yang membangunkan gedung itu. Entah berupa dokumen, foto atau apapun"ujar Dion tegas


"Dengan senang hati Tuan Dion. Saya akan mengambilkan dokumen itu. Silahkan anda menikmati makanan yang dihidangkan. Saya akan segera kembali"ujar Zhang lalu pergi.


Setelah kepergian Zhang, Dion tentu tidak bisa menolak mencicipi makanan yang berjejer di depan matanya. Sambil makan dion mengirim pesan pada istrinya.


Setelah 30 menit Zhang kembali membawa ordener yang berisikan dokumen lengkap tentang pembangunan gedung perusahaannya.


Zhang menyerahkannya pada Dion. Dion pun membaca cukup serius, dari laporan pajak, keuangan, perijinan pembangunan, dan banyak foto keperluan dokumentasi. Dan benar PT. Surya Kontraktor yang membangun gedung baru perusahaan ini. Dion melepas selembar foto yang menempel di kertas. Lalu meletakkan ordener di meja.


"Ini siapa?"tanya Dion membalikkan foto dan menunjuk seorang pria tinggi, kulit kuning langsat, berbadan cukup atletis dan wajahnya paling beda diantara yang lain. Karena yang lain berwajah Chines sementara dia berwajah Indonesia.


"Oh itu...sebentar saya lupa namanya. Tapi dia yang menjadi penanggung jawab dari perusahaan kontraktor itu. Tapi saya lupa namanya"ujar Zhang sambil menggaruk kepalanya.


"Gavin Saputra?"kata Dion.


"Ahh iya..benar sekali. Namanya Gavin. Dia adalah anak dari Tuan Surya kalau tidak salah. Pemilik perusahaan kontraktor itu"imbuh Zhang.


Dion terkejut setelah tahu wajah asli Gavin yang sebenarnya. Rasanya tubuhnya melemas hingga dia menyandarkan punggungnya pada sofa.


"Saya baik Tuan Zhang. Bolehkan saya meminta salinan beberapa dokumen dan foto ini?"tanya Dion dengan suara cukup pelan.


"Tentu Tuan Dion. Saya akan menyuruh sekertaris saya"ujar Zhang lalu membawa ordener itu untuk dibuatkan salinannya.


Setelah menunggu hampir satu jam, Zhang kembali membawa amplop coklat berisi beberapa dokumen dan foto yang diminta oleh Dion.


"Tuan Zhang bagaimana sosok Gavin selama bekerja sama dengan perusahaan anda?"tanya Dion.


"Cukup baik. Dia beberapa kali ke Singapura. Terakhir kali dia kesini satu tahun yang lalu"jelas Zhang.


"Lalu?"tanya Dion


"Kami meresmikan gedung perusahaan yang baru hari itu, lusanya dia kembali ke Indonesia. Tapi yang saya dengar pesawatnya jatuh"ujar Zhang.


"Apa kamu tahu kabar dia?"tanya Dion.


"Sama sekali tidak. Tapi setelah kecelakaan pesawat itu, Tuan Surya sempat kemari. Tapi setelah itu dia pulang dan saya tidak tahu lagi seterusnya"ujar Zhang.


"Apa anda mengenal Tuan Gavin, Tuan Dion?"sambung Zhang.


"Aku ingin mengenalnya. Karena perusahaan Tuam Surya membangunkan hotel baru milik Wijaya Group"ujar Dion sedikit tersenyum.


"Kalau begitu, terima kasih atas informasinya Tuan Zhang. Saya permisi"ujar Dion menjabat tangan Zhang

__ADS_1


"Tentu Tuan Dion. Semoga hari anda menyenangkan"balas Zhang.


Dion pun pergi meninggalkan perusahaan Zhang dan pergi untuk menuju hotel yang sudah dia pesan.


Sesampainya di hotel, Dion memilih mandi untuk menenangkan pikirannya. Pikirannya kacau, rasanya campur aduk. Dion tidak menyangka akan sejauh ini masalahnya. Setelah selesai mandi, Dion menelpon Rara untuk menghilangkan rasa lelahnya.


"Halo Mas Dion. Kamu udah pulang dari perusahaan itu?"


"Iya sudah."


"Mas sudah makan?"


"Belum sayang."


"Mas Dion makan dulu ya. Aku tahu Mas Dion pasti capek"


"Nggak cuma capek tapi shock. Rasanya nyawaku dibawa terbang sama jinnya aladin."


Mendengar perkataan konyol suaminya, Rara tertawa terbahak-bahak.


"Nggak usah ngelawak deh. Emangnya apa yang kamu dapat?"


"Banyak sayang. Aku bakal kasih tahu kamu setelah aku pulang."


"Tapi ini kabar baik apa kabar buruk? Jangan bikin penasaran."


"Ini kabar baik sayang."


"Ya udah kalau gitu, Mas Dion jangan lupa makan ya."


"Kamu mau aku bawain apa dari Singapura?"


"Apa ya? Sebentar aku mikir."


"Jangan yang aneh-aneh ya. Jangan suruh aku bawa Patung Merlion ya."


"Buat apa coba? Memang aku seaneh itu. Ya udah beliin aku skincare La Mer Crème de la Mer Moisturizing Cream."


"Oke siap istriku."


"Mas pulang kapan?"


"Besok sayang. Udah kangen ya?"


"Ya kangen lah. Masa kangen sama suami tetangga."


"Oke udah dulu ya. Bye istriku."


"Bye suamiku."


Dion pun mengakhiri sesi telponan dengan istrinya. Dion merasa lapar karena tenaganya habis untuk merasakan guncangan keterkejutan yang luar biasa. Dion pun turun ke restoran yang ada di hotel untuk makan siang.

__ADS_1


__ADS_2