Pengorbanan Cinta 1

Pengorbanan Cinta 1
Bab 22


__ADS_3

Setelah dinner romantis dan lamaran secara pribadi dilaksanakan beberapa waktu lalu, dua pasangan itu mengadakan makan bersama keluarga Wijaya dan Praditya untuk membicarakan hubungan keduanya.


Mereka makan di restoran milik Angga.


"Nah berhubung Arya dan Dion sudah melamar pacarnya masing-masing. Kita sebagai orang tua saatnya membicarakan pertunangannya"ujar Kusuma.


"Benar Pak Kusuma. Mungkin agar lebih yakin kita tanyakan pada anak gadis kita tentang kesiapan mereka"sambung Angga.


"Syan...kamu siap bertunangan dengan Arya?"tanya Ratih.


"Eemm..gimana ya? Kalo papah sama mamah udah kasih restu dan Arya juga siap maka Isyan juha siap"tegas Isyan.


"Lalu kamu bagimana dengan kamu Ra? Kamu siap tunangan dengan Dion?"tanya Laras.


"Ra..Dion ganas loh"ujar Arya dengan gaya berbisik padahal dia berbicara dengan suara keras.


"Arya..jangan meledek"ujar Laras menepuk lengan putranya.


"Kalau keluarga Dion menerima keluarga kita sebagai keluarga mereka, Rara siap koh mah"ujar Rara.


"Yeayy..."lirih Dion dengan gaya kemenangannya.


"Wah kalo sudah begini pasti minta cepet nikah nih"ledek Rama menyenggol lengan Dion.


"Uh bukan cepet lagi tapi kalo bisa besok"serobot Dion semangat 45.


Isyan menoyor pelan kepala Dion karena gemas dengan tingkah sepupunya.


"Bisa nggak sih..nggak usah agresif. Kaya uler aja"gerutu Isyan sebal.


"Itu semua terserah Pak Kusuma dan Pak Rama saja"ujar Angga.


"Anak kita sudah cukup umur untuk menikah bagaimana dua minggu yang akan datang kita adakan pertunangan untuk keduanya"ujar Kusuma.


"Bentar...tunangan Isyan bareng Dion gitu?"tanya Isyan dengan wajah terkejut.

__ADS_1


Semua orang takut jika Isyan marah karena pestanya digabung dengan Dion.


Kemudian isyan melirik Dion dan mereka melakukan tos masa kecil mereka yang masih sering dilakukan sampai sekarang sambil tertawa.


"Kamu nggak marah Syan?"tanya Sinta.


"Ngapain isyan marah Te...Isyan malah seneng kali"jawab Isyan.


"Hiung-hitung irit biaya. Nah baru nanti pas honeymoon sewa kapal pesiar tuh"celetuk Dion.


Rama memukul lengan Dion pelan, tidak sakit tapi cukup keras suaranya. Dion meringis sambil mengelus lengannya.


"Kamu ini, nikah aja belum udah mikirin honeymoon"serobot Rama.


Semua orang pun tertawa melihat ulah Dion yang selalu mengundang tawa.


Setelah tanggal pertunangan ditetapkan, lalu membuat daftar nama tamu, dan vendor yang akan menangani acara mereka.


-----


Keesokan paginya, Arya mengumpulkan seluruh jiwa dan raganya untuk mempersiapkan mental.


Tok..tok


"Masuk"sahut Isyan.


Setelah mendengar jawaban dari Isyan, dia pun masuk ke dalam.


"Arya..."ujar Isyan memilih berdiri lalu di sofa dan Arya menghampiri Isyan.


Arya nampak gugup, wajahnya agak pucat, dan keringat dingin.


"Kamu sakit?"tanya Isyan menempelkan punggung tangannya di kening Arya.


"Aku sehat kok!"seru Arya.

__ADS_1


"Terus? Kenapa pucat?"tanya Isyan.


Arya menarik napas panjang lalu menghembuskannya pelan-pelan.


"Syan..aku mau resign dari perusahaan"ujar Arya pelan.


"APAA????"teriak Isyan bangun dari sofa


"Hei...jangan teriak nanti orang nyangka aku ngapa-ngapain kamu lagi"ujar Arya menarik tangan Isyan agara dia duduk kembali.


"Kenapa kamu resign? Ada masalah? Ada yang menyinggung kamu? Atau menyinggung hubungan kita?"tanya Isyan yang merasa cemas.


Arya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Lalu dia menarik Isyan ke pelukannya dan membenamkan kepala Isyan pada dada bidangnya.


"Isyana sayang tenang. Aku resign tidak ada masalah baik pekerjaan dan hubungan kita. Aku hanya berpikir sudah saatnya aku ambil alih bisnis keluargaku. Bisnis keluargaku sudah berkembang sampai negara lain. Aku tidak tega papah bolak-balik luar negeri. Dia sudah tua Syan"ujar Arya dengan sangat lembut penuh perhatian tak lupa mengelus rambut Isyan.


"Apa hanya itu saja?"tanya Isyan yang masih merasa ada yang disembunyikan arya darinya.


"Aku tidak enak mengatakannya. Aku tidak mungkin jadi bawahan calon tunanganku. Sebagai laki-laki aku harus bisa jadi pemimpin dan berdiri diatas kakiku sendiri"batin Arya.


"Tidak ada..."ujar Arya menggelengkan kepala.


Isyan melepas pelukan Arya.


"Baiklah jika itu mau kamu. Aku tidak bisa memaksa. Aku akan menandatangani surat resignmu tapi dengan satu syarat"ujar Isyan menatap Arya negitu dalam.


"Syarat apa?"tanya Arya.


"Kamu harus mengantarku ke kantor setiap hari"ujar Isyan menunjuk dada arya dengan telunjuk lentiknya.


"Hanya itu?"tanya Arya meyakinkan.


"Ya apa lagi? Kita tidak bisa bertemu setelah kamu resign. Terus bagaimana lagi?"tambah Isyan.


"Baiklah..calon tunanganku"ujar Arya mencium kening Isyan.

__ADS_1


"Sebaiknya kamu selesaikan pekerjaanmu hari ini sebelum meninggalkan kantor ini esok hari. Aku akan suruh HRD mengurus gaji dan tunjanganmu"ujar Isyan.


Jujur Isyan merasa sangat sedih dengan keptusan Arya, tapi mau bagaimana lagi itu keinginannya. Isyan yakin selain alasan karena papahnya pasti Arya memiliki alasan lain yang tidak dia katakan. Tapi Isyan hanya bisa menerka-nerka saja.


__ADS_2