Penyesalan Suami Arogan

Penyesalan Suami Arogan
Penyiksaan Awal


__ADS_3

🌹 Happy Reading 🌹



Angel selesai menata makanan dan membawa makanan itu ke kamar Justin, seperti itu aturannya dalam kontrak pernikahan mereka. Angel memasuki kamar Justin dan melihat Justin masih fokus pada laptopnya.



" Tuan ini makanannya." Angel meletakkan nampan makanan itu di depan Justin.



" Aku tidak ingin makan." Justin menjawab ketus tanpa mengalihkan pandangannya pada laptopnya.



Angel sempat mendengar dari kepala pelayan jika Justin kerja pasti tidak mau makan tapi jika di sodorkan maka dia akan memakannya. Angel mengambil piring isi nasi dan meletakkan beberapa laut di piring itu, Angel menyendok makanan itu dan mengarahkan pada mulut Justin, Justin langsung membuka mulut dan memakannya.



" *Ternyata benar." Angel tersenyum*. Angel terus menyuapi Justin dan sesekali Justin menyuruh Angel menambah lauknya. Makanan sudah habis Angel pun merapikan kasur dan keluar dari kamar Justin. Justin yang melihatnya hanya diam.



" Hari ini aku membiarkan mu, tapi besok dan seterusnya kamu akan menderita dan menyesal telah memberiku obat perangsang." gumam Justin tersenyum licik.



Waktu menunjukkan pukul 05.00, Angel terbangun dan keluar dari kamarnya. Angel mengambil alat penyedot debu dan kemoceng, Angel membersihkan dari lantai 2 ke lantai 1. Waktu menunjukkan jam 07.00 Angel selesai membersihkan dan waktunya dia mandi, selesai mandi Angel berlari ke kamar Justin dan menyiapkan air hangat, pakaian rumah, sepatu, dan semua perlengkapan Justin. Saat semua sudah selesai Angel membangunkan Justin.


" Tuan, sekarang waktunya anda bangun." Angel membuka tirai membuat cahaya matahari masuk dan menyinari wajah Justin, membuat Justin marah.


" Kamu itu kerjanya nggak becus yah, nggak sopan banget bangunin orang." teriak Justin.


" Ma...maaf tuan." Justin berdiri dari kasurnya dan mendorong Angel membuat Angel jatuh sehingga lututnya terbentur di lantai dan memerah.


" Lemah banget sih, baru di dorong udah jatuh, cihh." Justin menendang Angel.


Justin memasuki kamar mandi sedangkan Angel diam membatu menahan tangisnya. "A..aku bisa." gumam menyemangati dirinya.


Angel berdiri dan berjalan menyiapkan sepatu Justin, Angel keluar dari kamar Justin menuju dapur untuk mempersiapkan sarapan. Angel membuat nasi goreng spesial dengan telus omelet, Angel tersenyum menata makanan di meja makan. Angel berlari menuju kamar untuk memanggil Justin tapi saat sampai di kamar Justin tidak ada. Angel mencari Justin, saat melewati salah satu ruangan Angel mendengar suara Justin, Angel yakini bahwa ruangan itu adalah ruangan kerja Justin.

__ADS_1


" Tuk...tuk.., tuan apa saya boleh masuk ?" Angel mendekatkan telinganya di pintu dan terdengar Justin mengizinkan. Angel membuka pintu dan mendekati Justin.


" Tuan, sarapan sudah siap." Angel tersenyum pada Justin, Justin hanya diam menatap datar pada Angel.


Angel yang mengerti langsung keluar dari ruangan kerja, Angel menuruni tangga dan mulai merapikan makanan di nampan kecil. Angel menaiki tangga dengan senyum yang terus terukir di wajahnya.


" Tuk..tuk.." Angel mengetuk pintu dan masuk di ruangan Justin.


Terlihat Justin masih fokus dengan komputernya, Angel meletakkan nampan di meja kerja Justin dan mengambil sesendok nasi dan telur. Saat Angel ingin menyuapi Justin tiba-tiba Justin mendorong nampan dan membuat Angel mundur selangkah ke belakang. Sarapan yang di siapkan Angel berhamburan di lantai. Justin mendongak melihat Angel dengan mata yang melotot membuat Angel ketakutan dan meremas ujung bajunya.


" Kau itu nggak baca kontrak dengan baik bukan ?" tunjuk Justin pada Angel.


" A..aku sudah membacanya kok." Angel menunduk ke bawah dengan tubuh yang gemetaran.


" Jika sudah baca pasti tau dong kalau saat aku kerja nggak mau di ganggu, tapi kamu malah menganggu ku bekerja membuat mood ku rusak saja."


" Kau sudah membaca kontrak itu tapi masih melakukan kesalahan dasar gadis bodoh, nggak becus." Justin terus memberikan umpatan pada Angel, Angel hanya bisa diam menunduk menahan tangisnya.


" Ngapain kamu masih diam di situ, cepat bersihkan bodoh." teriak Justin membuat Angel dengan cepat berjongkok dan memungut pecahan piring.


" Aaah..." karena terburu-buru dan takut sehingga membuat tangan Angel tergores dengan pecahan kaca itu.


" Astaga, cepat kau bersihkan itu dan keluar dari sini ban***t." Justin menunjuk Angel dengan kedua tangannya di pinggangnya.


" Ma.. maafkan aku." Angel tidak memedulikan lukanya dia hanya fokus untuk membersihkan pecahan piring dan nasi yang berhamburan di lantai. Angel berlari membawa nampan berisi nasi dan pecahan piring keluar, Angel kembali masuk ke ruangan Justin membawa pel.


" Cepat keluar." perintah Justin saat Angel sudah selesai membersihkan nya.


Angel berlari keluar karena sudah tidak bisa menahan air matanya, Angel berlari menuruni tangga dan menuju ke kamarnya. Angel melempar dirinya di kasurnya dan menangis tersedu-sedu. Saat Angel sudah merasa tenang Angel bangun dan mulai merasakan sakit di pipinya.


" Auuh." Angel menyentuh luka di pipinya dan terasa lukanya cukup lebar.


Angel mengambil cermin dan mengambil kotak P3K, Angel terlihat kesusahan mengobatinya apalagi lukanya cukup lebar, Angel mengigit bibirnya saat membersihkan lukanya dan mengobatinya Angel memberikan plester pada lukanya agar tidak iritasi. Angel menatap pada pantulan di wajahnya dan kembali mengangkat ujung bibirnya.


" Aku pasti bisa, bersabarlah Angel dan jangan pantang menyerah." Angel tersenyum dan mengangkat tangannya yang terkepal untuk menyemangati dirinya.


" Gadis kampung... gadis kampung." teriak Justin dari luar membuat Angel lari terbirit menuju suara itu.


" Woyy, gadis kampung buatkan aku kopi, ingat buat sesuai resep yang ku tulis di kontrak." teriak Justin dari lantai 2, Angel mendongak dan tersenyum mengangguk.


" Ciih dasar gadis tidak berguna." gumam Justin dan berbalik masuk ke ruangannya. Angel berlari ke dapur dan membuat kopi, Angel membuat kopi sesuai instruksi Justin.

__ADS_1


" 1 sendok kopi 3 sendok gula makan, suhu air panas 60 derajat Celcius." Angel dengan hati-hati mengukur air hangat dengan alat pengukur panas.


" Oke sudah, selesai." Angel dengan tersenyum dan membawa kopi itu.


" Semoga dia menyukainya." Angel tersenyum dan terus berdoa dalam hati.


" Tuk..tuk.."


" Masuk."


Angel membuka pintu dan masuk ke ruangan Justin, Angel meletakkan kopi di meja kerja Justin. Justin meraih kopi itu dan meminumnya tiba-tiba Justin berdiri dan menatap Angel dengan tatapan marah.


" Kamu...mau membunuh ku haa ?" teriak Justin pada Angel.


" Ti..tidak tuan, saya tidak pernah punya niat seperti itu." Angel menggelengkan kepalanya.


" Terus ini apa haa ?, aku sudah menulis di kontrak suhu panasnya 50 derajat Celcius tapi ini bukan 50 tapi 70 bodoh." teriak Justin menunjuk kopinya.


" Ta..tapi saya sudah mengukurnya dan itu benar 50 tuan." bela Angel.


" Terus kalau kamu sudah mengukurnya kenapa sepanas ini." tanya Justin merapatkan giginya sakin marahnya.


" Sa..saya tidak tahu tuan, mungkin tuan terlalu cepat meminumnya." ucap Angel membuat Justin semakin marah dan menarik tangan Angel dan mencelupkannya di kopi panas itu.


" Gimana rasanya, panas kan." Justin menarik rambut Angel dan terus menahan tangan Angel yang terus memberontak karena panas kopi itu.


" A..ampun tuan, aku salah, aku mohon ampuni aku tuan." Angel terus memberontak dan menangis.


Justin melepas rambut Angel dan mendorong Angel sehingga membuat Angel jatuh terbentur di lantai. Angel terus meniup tangannya yang habis di celup di kopi.


" Dasar gadis nggak berguna, buat kopi aja nggak becus." Justin menatap jijik pada Angel dan menendang Angel.


" Keluar dan bawa kopi menjijikan mu ini." Justin mendorong kopi itu.


Angel yang tidak mau berlama-lama satu ruangan dengan Justin dengan cepat mengambil nampan kopi dan berlari keluar. Angel dengan cepat mengambil pasta gigi dan mengoleskannya pada tangannya. Angel duduk di lantai w.c dengan lutut di tekuk dan terus menangis.




Thanks you for reading 🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2