
š¹ Happy Reading š¹
Jangan lupa tinggalin jejak dengan like dan komentarnya yah, ooh iya tekan bentuk hati agar tidak ketinggalan ceritanya yah. Salam sayang dari Author š¤.
" Kamu bisa Justin semangat." batin Justin memberi semangat untuk dirinya.
Justin mendorong gerobak sekuat tenaga dengan tubuh gemetar.
Jam istirahat sudah tiba terlihat Justin duduk di pojokan menikmati nasi bungkus dengan lauk tempe terlihat Justin berusaha menikmati makanan yang tidak pernah dia makan. Jam makan siang sudah selesai, Justin kembali bekerja dia mengaduk semen sekuat tenaga pekerjaan Justin tidak becus sehingga sering dimarahi oleh bosnya untung saja ada seorang paman yang membantunya belajar cara kuli bekerja.
Justin dalam perjalanan pulang ke gubuk Kakek, di perjalanan dia Melin bersama selingkuhannya memasuki mal, seketika Justin marah dan menghampiri mereka.
Justin menarik pundak pria tersebut seketika kepalan tangannya mendarat di tulang pipinya sehingga pria tersebut jatuh ke lantai.
" Apa-apaan kamu !" teriak pria itu.
" Dasar tidak tahu diri, bisa-bisanya foya-foya menggunakan uangku." teriak Justin kembali menyerang pria itu.
Semua orang di sana sangat kaget dan menghindari Justin, mereka semua mengeluarkan ponselnya dan merekam Justin yang memukul pria itu.
" Justin berhenti jika tidak aku akan melapor polisi." ancam Melin yang khawatir melihat selingkuhannya terus dipukul oleh Justin. Justin sangat marah membuatnya berkali-kali lipat kuat sehingga pria itu tidak bisa melawan.
" Cepat kemari bren\*\*\*k." teriak Melin yang sedang menelepon seseorang.
" Hahah." tawa pria dibawah Justin yang melindungi kepalanya.
" Bajingan kenapa kau tertawa, haaa ?." ucap Justin ngos-ngosan menghajar pria itu.
" Hahaha, aku menertawai kebodohanmu, hahah." ucap pria itu membuat Justin mengepalkan tangannya yang sudah memerah.
" Kau adalah pebisnis muda di dunia tapi karena 1 wanita bisa membuatmu seperti ini, hahah dasar bodoh."
" Dia hanya berbohong kecil tapi kamu percaya dan demi dia kamu rela di buang oleh keluarga mu, hahaha dasar bodoh." ejeknya membuat Justin mengeraskan rahang dan genggaman tangannya, pria itu tertawa terbahak-bahak dan memegang perutnya yang mulai keram karena ketawa.
Justin yang melihatnya tidak melindungi wajahnya seketika dia melayangkan tinju kerasnya di hidungnya.
" Argggh." teriaknya memegang hidungnya bengkok, dia menyentuh benda cair berwarna merah di hidungnya yang membuatnya histeris, sepertinya pukulan Justin membuat hidung pria itu patah.
" Arggg, kau membuat hidungku patah baj\*\*\*\*n." teriak kesakitan pria itu.
" Rasain." ucap Justin tertawa dan kembali memukul pria itu.
" Berhenti Justin." Melin berusaha melerai mereka tapi tidak bisa, dia sangat khawatir dan terus melihat kanan dan kiri mencari seseorang.
" Kenapa lama sekali, cepat hajar pria itu." teriak Melin pada 5 pria yang berlari ke arahnya.
" Cepat pisahkan mereka." perintahnya.
Salah satu dari 5 pria tersebut menendang Justin dan satunya lagi menarik kera baju kos Justin.
__ADS_1
" Lepaskan, berani-beraninya kalian menyentuhku." bentak Justin melayangkan pukulannya namun di tahan dan suruhan Melin melayangkan pukulannya ke tulang pipi Justin.
Pria itu berusaha berdiri dengan bantuan kedua suruhan Melin.
" Hajar dia." perintah pria itu.
" Baik tuan."
Mereka berempat mengeroyok Justin, Justin yang tidak bisa melawan hanya bisa melindungi kepalanya di bawah tendangan 4 orang bertubuh kekar ini.
" Berhenti.." teriak Melin yang kasihan melihat Justin yang sudah tidak bertenaga.
" Sayang hentikan, dia sudah sangat lemah."
" Kau ini kenapa membelahnya jangan-jangan kau masih menyukainya." bentaknya marah.
" Tidak sayang tapi kita harus membawa mu ke rumah sakit." ucap Melin.
Pria itu sakin senangnya melihat Justin di pukul membuatnya lupa dengan rasa sakitnya.
"Ahh benar, hidungku patah." ucapnya.
" Berhenti. " teriaknya mendekati Justin.
" Hari ini aku memaafkan mu bodoh." ucap pria itu menendang Justin dan meludahinya tepat di bajunya.
Beberapa orang dan petugas mal mendekati Justin untuk menolongnya tapi Justin malah menolak dengan bentakan kasar membuat semua orang menatap sinis dan meninggalkan Justin.
20 menit Justin berbaring di depan mal tidak ada yang berani mendekati Justin yang menatap melamun pada langit malam penuh bintang.
" *Aku hanya melihat bintang tapi kenapa bintang itu seperti wajahmu Angel ?" batin Justin*.
" Kruyuk..." suara perut Justin.
" *Aku merindukan masakanmu, walaupun kamu wanita licik tapi kamu terus muncul di pikiranku, sepertinya aku merindukan mu*." batin Justin.
" \*Jika saja kamu tidak melakukan hal itu mungkin saja aku tidak akan melukaimu."
Bintang yang bersinar terang\* namun hanya sebentar karena muncul awan gelap yang perlahan menutupi bintang dan itu pertanda bahwa akan hujan dan benar saja hujan pun turun membasahi tubuh Justin.
" Aku akui saat ini aku sangat merindukanmu Angell.. aku sangat rindu masakan dan semuanya tentang kamu." gumam Justin.
Justin berbaring di atas guyuran hujan, di setiap tetesan hujan itu Justin terus mengenang memori saat bersama keluarganya dan bersama Angel, dia juga sangat merasa menyesal telah memperlakukan Angel dengan kasar.
" Astaga Justin..." teriak seorang pria paruh baya sedang meneduh dengan daun pisang.
Justin yang mengenali suara itu seketika bangun dan melihat Kakek yang berlari ke arahnya dan tampak di wajahnya sangat khawatir pada Justin.
__ADS_1
" Kakek." gumam Justin dan berdiri.
" Apa yang kau lakukan ?" tanya Kakek khawatir pada Justin.
" Apa yang Kakek lakukan disini ?" tanya
" Tentu saja menyusul mu, apa kamu baik-baik saja, astaga kenapa kau hujan-hujanan disini, kamu bisa sakit kalau seperti ini, ayo pulang." omel Kakek menarik Justin berteduh di bawah daun pisang.
Mereka menyusuri jalan pulang di bawah guyuran hujan dan berteduh di bawah daun pisang, Kakek terus mengomel terus menerus pada Justin dan Justin hanya diam karena Kakek mengingatkannya pada Kakek David.
" *Aku sangat rindu pada kalian." batin Justin*.
Mereka sampai di gubuk yang gelap, Kakek segera menyalakan obor karena listrik tidak sampai di gubuk ini, Justin membantu Kakek menyalahkan obor.
" Astaga kamu sangat kacau, lihat luka di seluruh tubuhmu." ucap Kakek memeriksa Justin.
" Cepat mandi aku akan mengobati mu."
Justin tidak membantah dan lebih memilih mematuhi kakek, Justin mandi dan kembali meratapi air karena dia teringat lagi pada Angel, Justin sangat cepat mandi karena airnya sangat dingin. Justin keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arah Kakek.
" Duduk." Kakek menarik tangan Justin duduk di kursi depannya.
" Aku tidak apa-apa." ucap Justin karena merasa bersalah melihat kakek menatap memarnya penuh kasihan.
" Biar ku obati." ucap Kakek menarik tangan Justin.
Kakek mengobati Justin dengan minyak gosok agar tidak bengkak besok, Justin sangat tidak suka dengan minyak gosok tapi tidak berani membantah Kakek.
" Kenapa kakek bisa mengetahui aku di sana ?"
" Seseorang memberitahuku."
" Siapa ?"
" Aku juga tidak tahu." ucap Kakek.
Selesai di oleskan minyak gosok pada tubuh Justin, dia segera berbaring di atas tikar bambu yang selalu membuat punggungnya sakit karena tidak terbiasa tidur seperti ini. Justin dan kakek tidur di atas tikar yang sama karena hanya ini tempat tidur di gubuk ini.
Justin tidak bisa tertidur karena memikirkan amarahnya saat bertemu dengan Melin dan selingkuhannya yang membuat dia seperti ini, dan dia juga terus memikirkan Angel.
" *Jika waktu bisa di putar kembali maka aku tidak akan menyakitimu." batin Justin*.
1 bulan semenjak dia bangkrut dan 1 bulan dia sudah tinggal bersama kakek di gubuk kecil ini. Selama 1 bulan ini Justin di beri cobaan yang begitu berat karena dia terus mencari kerja namun tidak ada yang perusahaan yang mau menerimanya dan terpaksa dia bekerja sebagai sebagai kuli bangunan, sudah 2 minggu dia bekerja di sana namun dia masih belum bisa melakukan aktifitas berat dengan baik.
Justin yang tidak bisa tertidur lebih memilih mengutak-atik hpnya yang sudah 3 minggu tidak memiliki data maupun pulsa, dia sangat bosan dan membuka tumpukan email yang sangat banyak. Justin terus menggeser ke atas hpnya dan berhenti ke pesan email Papi Steven yang sepertinya email di 1 bulan kemarin.
" *Papi email aku ?" batin Justin penasaran* dan membuka email itu dan membaca isinya pesan itu yang membuat Justin syok sampai-sampai air matanya jatuh.
Thank you for reading š¹š¹
__ADS_1