
š¹ Happy Reading š¹
Jangan lupa tinggalin jejak dengan like dan komentarnya yah, ooh iya tekan bentuk hati agar tidak ketinggalan ceritanya yah. Salam sayang dari Author š¤.
Papi Steven melihat Angel menunduk seperti menahan tangisnya, Papi memberi kode pada Momy dan Momy segerah membawa Angel ke kamarnya.
Malam ini Angel tidur ditemani oleh Momy Sri, Angel tidak bisa tidur karena terus mengingat berita Justin yang hidup bahagia bersama Melin sedangkan dia masih terkurung di masa lalunya. Angel berusaha menahan tangisnya dengan cara menutup mulutnya dan membelakangi Momy Sri.
" *Dasar lelaki bajingan, bisa-bisanya dia hidup bahagia saat aku masih terkurung dalam masa lalu kelam yang dia buat untukku*." batin Angel kesal meremas selimutnya.
" *Mulai malam ini aku akan balas dendam padamu dan membuatmu menyesal sudah membuatku seperti ini, hahaha lihat saja nanti." batin Angel membulatkan tekadnya*.
Angel terus tersenyum sampai-sampai dia membawanya ke alam mimpinya, malam ini Angel tertidur nyenyak sekali ditemani oleh Momy dan Hujan, yang membuat tidurnya semakin nyenyak.
Angel bangun jam 5 dan dia menyambut pagi dengan senyum ceria dari biasanya.
" Good Morning Angel." gumam Angel pada dirinya dan turun dari kasur menuju ke kamar mandi.
Angel berendam di bathtub dengan sabun wangi vanila, dia melakukan ritual mandinya dari scrub, sabun, handbody, dan jenis-jenis skincare nya. Selesai ritual mandi, Angel keluar dari kamar mandi dan melihat Momy yang terus mondar-mandir di depan pintu membuat Angel heran.
" Kenapa Mom, mondar-mandir ?"
" Ahh." Momy Sri menghirup bau wangi yang sangat manis dan melihat Angel dari atas sampai bawah membuat Momy bernafas lega.
" Hahah, nggak apa-apa kok, kalau gitu Momy ke kamar dulu yah, sampai jumpa di dapur." Momy mengelus kepala Angel dan pergi.
" Syukurlah dia baik-baik saja." sebenarnya Momy mendengar suara isakan Angel semalam tapi dia hanya diam dan ikut menangis bersama Angel.
Angel keluar dari kamar dengan dres hijau toska polos, dia berjalan menuju ke dapur dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya. Kakek dan Papi yang habis olahraga menatap heran pada Angel yang sangat ceria dari biasanya.
" Selamat pagi." sapa Angel.
" Kamu baik-baik saja." ucap Brian dari belakang Angel.
" Aku baik-baik saja." ucap Angel tersenyum dan memakai celemek nya.
Angel memasak dengan lincah, Momy, Kakek, Papi, dan Brian menatap heran pada Angel.
" Sri, semalam apa kepala Angel terbentur ?" tanya Kakek.
" Sepertinya tidak Ayah."
" Lantas kenapa dia bersikap seperti itu."
" Semalam dia menangis membuatku khawatir dia melakukan sesuatu yang buruk seperti dulu." gumam Momy.
" Mungkin dia gila karena melihat berita kemarin." ucap Papi.
" Atau mungkin dia sudah lelah menangis dan lebih memilih bertindak pura-pura bahagia didepan kita karena takut membuat kita khawatir." ucap Kakek membuat Brian seketika berjalan ke arah Angel dan menarik tangan Angel.
" Apa yang kau lakukan ?" Angel kaget sekaligus heran karena Brian tiba-tiba menariknya dan melepas celemek Angel.
" Nggak usah bacot, ikut saja." gumam Brian dengan ekspresi dinginnya.
Brian meletakkan celemek di atas meja dan menarik Angel melewati 3 orang terpenting keluarga Leonal Batvin.
" Kami permisi keluar dulu." ucap Brian.
" Kalian mau kemana." teriak Momy Sri saat Brian mengambil kunci mobil yang tergantung.
__ADS_1
" Cari angin." teriak balik Brian.
" Angin ?" tanya Angel kebingungan, Brian membukakan pintu mobil untuk Angel.
" Kita sebenarnya mau kemana sih ?" tanya Angel menahan pintu mobil.
" Kamu nggak dengar aku bilang cari angin ?"
" Hahaha, angin apa ?"
" Udah ikut aja." ucap Brian menjauhkan tangan Angel dari pintu dan menutup pintu mobil.
" Angin ? ingin apa sih." gumam Angel.
" Pake sabut pengamanmu." ucap Brian.
" Ooh iya." Angel terlihat kesusahan menarik sabut pengamanmu, membuat Brian yang memperhatikannya memutar matanya.
" Sini biar ku bantu." Brian mendekati Angel dan menarik sabut pengaman dengan jarak mereka terlalu dekat sehingga mereka bisa mendengar suara helaan nafas mereka.
Angel seketika mundur meletakkan kedua tangannya dengan mata yang terus berkedip karena gugup.
" *Omg, baunya enak banget di cium, omg aku lagi mikirin apa sih." batin Angel mengalihkan pandangannya*.
" Krek." suara sabut pengaman terpasang.
" Oke selesai, aku saranin kamu nurut sama ucapan aku." ucap Brian memasang sabut pengaman dan menjalankan mobilnya.
" Kenapa ?" tanya Angel tapi tidak dijawab oleh Brian yang fokus pada setirnya.
Brian masih mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang tapi saat 1 meter keluar dari gerbang mansion, Brian memasang wajah seriusnya membuat Angel heran.
" Haaa?"
" Brumm... brumm...."Brian tiba-tiba menginjak gas dengan kecepatan full membuat Angel yang masih penuh tanda tanya kaget karena tiba-tiba Brian balap.
" Ahhh, pelan-pelan." jerik Angel dan memukul tangan Brian yang ada di depannya karena menahan tubuh Angel.
" Kamu gila." teriak Angel.
" Aku kan sudah bilang pegangan yang erat." ucap Brian mengenggam stir dengan kedua tangannya dan belok ke kiri.
" Wahhh." teriak Angel.
" Jangan balap-balap, turunkan aku." teriak Angel tidak dihiraukan oleh Brian.
" Kalau mau balap jangan ajak aku, aku masih mau hidup." teriak Angel.
" Turunkan aku." teriak Angel.
" Kiiik." suara ban mobil yang rem mendadak di pinggir pantai.
" Arggh." teriak Angel yang mendadak maju ke depan karena rem mendadak, tapi untungnya Brian menahan Angel dengan tangannya agar tidak terbentuk ke depan.
" Kau gila, huwaaa aku hampir saja mati karena kamu." teriak Angel memukul lengan Brian
" Yahh menangis lah dan pukul aku sepuas mu, jangan memendam kesedihan mu itu bisa membuatmu gila." ucap Brian mendekatkan tubuhnya pada Angel yang menangis.
__ADS_1
" Hiks..hiks..."
Brian menatap Angel yang sudah mulai berhenti menangis, dia memberikan tisu pada Angel, dan keluar dari mobil. Angel mengelap air mata dan ingusnya setelah Brian keluar, Angel merapikan rambutnya dan keluar mobil menyusul Brian yang berdiri di depan pantai menatap air laut.
" Kenapa kau membawaku kemari ?"
" Hanya ingin membantumu rileks." jawab Brian masih menatap laut.
" Ini yang kamu maksud cari Angin, hemm lumayan, makasih yah." ucap Angel tersenyum.
Angel duduk di pinggir pantai ikut menikmati suara air laut dan hembusan angin yang sejuk.
" Brian, apa aku boleh minta bantuanmu ?" tanya Angel mendongak menatap Brian.
" Apa."
" Aku ragu mengatakannya karena ini bersangkut dengan saudaramu." ucap Angel mengaduk-aduk pasir dengan kayu.
" *Dasar gadis bodoh, udah disakitin berulang-ulang masih aja mau sama dia." batin Brian kesal*.
" Jangan sungkan, katakan saja." ucap Brian.
" Hemm, kalau begitu kamu jangan marah dan memberi tahu orang di mansion yah." Angel berdiri dari duduknya dan menatap Brian dengan tatapan memohon.
" Hemm." jawab cuek Brian.
" Sebenarnya aku mau minta bantuanmu untuk balas dendam pada Justin." ucap Angel sangat takut sehingga dia menundukkan kepalanya.
" Haaa." ucap Brian kaget dengan apa yang dikatakan Angel karena diluar ekspektasinya.
" Maafkan aku, sepertinya aku kesurupan, tolong dilupakan." ucap Angel menunduk pada Brian dan berbalik pergi.
" Kau mau kemana ?" Brian menahan tangan Angel.
" I..itu."
" Kamu tidak salah membuat keputusan, aku akan membantumu." ucap Brian.
" Tapi.."
" Seharusnya sejak awal kamu harus membuat keputusan ini." ucap Brian.
" Aku akan membantumu, lantas apa rencanamu ?"
" Sebenarnya aku tidak mempunya niat jahat apapun, aku hanya ingin sukses dan hidup bahagia sehingga dia menyesal telah membuang ku." ucap Angel, karena sejak awal Angel di ajarkan oleh orangtuanya untuk tidak memendam dendam pada siapapun, tapi dia sangat ingin membuat Justin menyesal karena telah menyakiti dirinya.
" Hemm, baiklah aku akan membantumu." ucap Brian mengangguk, Brian tahu bahwa Angel tidak akan melakukan hal jahat pada seseorang.
" *Aku akan membantumu dengan caraku sendiri Angel." batin Angel tersenyum licik*.
" Kamu hanya ingin balas dendam dengan sukses, lantas kenapa minta bantuan padaku ?" tanya Brian.
" Aku ingin kau mengajarkan cara berbisnis padaku, aku sangat ingin membuat perusahaan ku sendiri." ucap Angel tersipu malu.
" Haha, baiklah."
" Makasih." ucap Angel.
Jam 09.00 setelah mereka selesai ngobrol dan bersantai-santai, mereka memutuskan untuk melanjutkan obrolan mereka di restoran untuk makan pagi karena mereka belum makan pagi tadi.
__ADS_1
Thanks you for reading š¹š¹