
š¹ Happy Reading š¹
Jangan lupa tinggalin jejak dengan like dan komentarnya yah, ooh iya tekan bentuk hati agar tidak ketinggalan ceritanya yah. Salam sayang dari Author š¤.
Justin dan Brian menatap Momy Sri yang menangis tersedu-sedu, di lubuk hati mereka ada rasa penyesalan karena telah membuat seorang wanita yang mereka cintai menitihkan air matanya.
Momy Sri berlari menghampiri Angel yang terduduk pingsan dengan wajah pucat nya. Momy Sri memangku tubuh Angel dan terus mengusap lembut pipi Angel sambil menangis.
" Maafkan aku Angel, maafkan aku, ini semua salahku." Momy Sri terus menyalakan dirinya.
" Mom." ucap Justin menyentuh pundak Momy Sri.
" Jangan menyentuh ku." Momy Sri mengibaskan tangannya yang di sentuh Justin.
" Mom." ucap Justin terlihat sedih karena menerima penolakan dari wanita yang di cintai.
" Tega kamu sama istrimu, kami sudah memberikan wanita baik-baik untuk mu tapi kamu memperlakukannya seperti ini."
" Aku tidak menyukainya Mom dan dia itu bukan gadis baik-baik dia itu pelacur." ucap Justin.
" Plakk..." suara tamparan Momy Sri di pipi Justin.
" Mom." Justin sangat terkejut karena ini pertama kalinya Momy Sri memukulnya.
" Apa-apaan ini, Mom memukulku hanya karena pelacur ini, Hahah aku tidak menyangka kalian lebih memilih pelacur ini dari pada aku." teriak Justin sangat kecewa.
" Jaga ucapan mu." teriak Papi Steven menarik kera baju Justin dan ingin memukulnya.
" Berhenti, aku bilang berhenti." teriak Momy Sri membuat Papi Steven melepas kasar tangannya dari kera baju Justin.
" Lihat Papi juga membela wanita pelacur itu." Justin sangat marah dan menunjuk-nunjuk Angel yang pingsan.
" Diam kamu Justin, dia itu bukan wanita yang seperti kau bayangkan." teriak Papi Steven.
" Hahah Papi dengarkan aku, aku tidak akan membenci seseorang tanpa alasan." teriak Justin.
" Lantas apa yang membuatmu membenci Angel ?" tanya Kakek David dari belakang.
" Ayah." ucap Momy Sri dan Papi Steven bersamaan, mereka heran karena mereka pergi ke rumah Justin tanpa sepengetahuan Kakek David.
" Alasannya karena dia yang mencampur obat perangsang di minumanku dan membuat ku tidur dengannya." teriak Justin semakin menjadi-jadi menunjuk Angel serta matanya yang terus melotot marah disertai urat lehernya terlihat sakin marahnya.
" Itu semua salah Justin." gumam Papi Steven.
__ADS_1
" Apa maksud Papi ?, Papi nggak percaya kalau itu ulah dia, Hahah kalian sungguh tertipu dengan wajah polosnya." Justin menyeringai.
" Tidak kejadian malam itu sebenarnya itu ulah.." ucap Papi Steven tapi di potong oleh Justin.
" Sudahlah Papi nggak usah bela dia terus, aku udah muak tahu nggak." Justin mengibaskan tangannya.
" Mom maafkan Justin, dari awal aku sudah mengatakannya bahwa aku tidak menyukainya, maaf Mom aku sudah mengecewakan mu." Justin menunduk pada Momy Sri dan berbalik berjalan ke arah Melin yang diam terheran di atas meja dapur.
" Mom, Papi, Kakek, aku meminta izin kalian untuk menikah dengan Melin pilihan hatiku." Justin memeluk Melin.
" Kalian setuju atau tidak aku tetap akan menikahinya, dan mulai hari ini hubungan pernikahanku dengan Angel sudah berakhir, tenang saja aku yang akan mengurus surat perceraian." ucap Justin dan mengendong Melin.
Kakek David terlihat marah saat Justin melewatinya, Kakek David berbalik meneriaki Justin.
" Justin, kalau kau melangkah 1 langkah saja maka Kakek akan mencoret mu dari kartu keluarga dan pewaris Leonal Batvin." teriak Kakek David terlihat murka, membuat Melin seketika melototkan matanya.
" *Apa..bukan pewaris lagi kalau begitu Justin pasti jatuh miskin dong, ahhh aku tidak mau jatuh miskin dengannya." batin Melin*, karena rencana Melin kembali pada Justin karena hartanya bukan karena cinta.
" Kakek maafkan aku tapi kali ini aku lebih memilih kekasihku dari pada jadi pewaris." gumam Justin menatap Melin dan seketika Melin membalas dengan senyum.
" *Mampus rencana aku gagal total, aku harus merencanakan kabur nanti malam." batin Melin*. Justin menaiki tangga menuju kamarnya dengan Melin di gendongannya.
" Dia benar-benar ingin keluar dari keluarga ini." gumam Kakek David yang berusaha menahan kesedihannya.
" Aku akan mengabulkan keinginannya." gumam Kakek David.
" Ayah, jangan lakukan itu." ucap Momy Sri memohon.
" Tidak Sri, anak mu sendiri yang menginginkannya keluar dari keluarga kita dan lebih memilih gadis hina itu." Kakek David menunjuk kesal ke arah lantai 2.
" Tapi Ayah." belah Momy Sri tapi dihalangi oleh Papi Steven.
" Sudah cukup sayang, anak kita sendiri yang memutuskan hal ini biarkan dia menjalani jalan yang dia anggap benar, lagi pula dia akan menyesal karena memilih keputusan ini." ucap Papi Steven sangat kecewa pada Justin.
" Biarkan dia sedikit menderita karena telah menyakiti wanita baik seperti Angel, aku ingin lihat sampai kapan dia akan bertahan dengan wanita matre itu." gumam Papi Steven.
" Tapi Papi setidaknya beri anak kita sedikit saja warisan." ucap Momy Sri memohon untuk kebaikan Justin walaupun dalam lubuk hatinya sangat kecewa dan marah pada Justin.
" Ayah akan memberinya perusahaan di Bandung." Kakek David memutuskan memberikan Justin perusahaan kecil di Bandung.
" Makasih ayah." gumam Momy Sri merasa bersyukur.
__ADS_1
" Ayo kita pergi, kita harus cepat membawa Angel ke mansion." ajak Kakek David.
" Steven cepat telfon Dokter Dita, Brian kamu gen.." belum selesai Kakek David berbicara tapi Brian sudah mengendong Angel dan melewati Kakek David dengan langkah yang cepat.
Sebenarnya di tengah pertengkaran Justin dan keluarganya, Brian sangat gelisah karena khawatir pada Angel dia sedari tadi ingin mengendong Angel dan melarikannya ke rumah sakit.
Angel berbaring di kursi belakang dengan paha Momy Sri sebagai bantal kepala Angel, Brian terus melirik Angel dari kaca spion terlihat Brian memasang wajah khawatir. Tanpa dia sadari Momy Sri sedari tadi melihat tingkah Brian.
" *Brian sepertinya sangat khawatir pada Angel, aneh biasanya dia selalu cuek dan tidak peduli dengan sekitarnya tapi kenapa reaksinya berbeda pada Angel ?" batin Momy Sri heran*.
Butuh waktu 10 menit mereka sudah sampai di mansion, Brian dengan sigap membuka pintu penumpang dan menarik Angel ke pelukannya. Semua orang heran melihat Brian yang dengan sigap mengendong Angel masuk ke mansion, saat Brian menginjakkan kakinya ke tangga tiba-tiba Momy Sri menegur.
" Brian kamu mau membawa Angel kemana ?" tanya Momy Sri.
" Ke kamar Brian." jawab Brian tidak menyadari apa yang dia bilang.
" Tidak usah, kamu bawa Angel ke kamar sini aja." Momy Sri membuka salah satu pintu kamar tamu.
" Haa ? oh iya." Brian segara berjalan cepat memasuki kamar tamu dan meletakkan Angel dengan pelan ke kasur. Momy Sri merapikan rambut Angel dengan sentuhan lembut, membuka sepatu Angel, dan menyelimuti tubuhnya.
" Permisi Nyonya maaf saya terlambat." sapa Dokter Dita dengan senyum, Brian berbalik ke arah suara dan seketika mengeram marah.
" Apa-apaan kamu ini, kamu niat kerja nggak sih ?, apa gaji yang kami kasi ke kamu nggak cukup ? jadi kamu sengaja datang terlambat karena masalah uang, kamu tau nggak sih kamu hampir mencelakai seseorang karena datang terlambat." bentak Brian yang sangat khawatir, Dokter Dita tidak tersinggung dengan bentakan Brian tapi lebih heran dengan sikap Brian saat ini.
" Kamu gila yah." Dokter Dita mengerutkan dahinya dan menunjuk Brian dengan heran.
" Kamu.." ucap Brian tapi sudah di tinggal oleh Dokter Dita dan memeriksa Angel.
" Apa Angel baik-baik saja nak ?" tanya Momy Sri.
" Dia baik-baik saja, dia saat ini tertidur mungkin dia akan bangun dalam waktu 10 jam atau paling lama 14 jam." jelas Dokter Dita.
" Haa ?, kenapa tertidur selama itu ?." ucap Brian heran.
" Itu semua karena fisik dan mentalnya sangat lelah makanya tubuhnya secara otomatis membuat tubuhnya istirahat sejenak, kalian jangan khawatir aku sudah menyuntikan vitamin pada botol infusnya." jelas Dokter Dita memperbaiki alatnya.
" Makasih nak."
" Sama-sama nyonya, ini sudah tugas saja tidak usah sungkan." ucap Dokter Dita.
" Ikut aku." ucap Brian pada Dokter Dita dan meninggalkan kamar tamu.
Thank you for reading š¹š¹
__ADS_1