
š¹ Happy Reading š¹
Jangan lupa tinggalin jejak dengan like dan komentarnya yah, ooh iya tekan bentuk hati agar tidak ketinggalan ceritanya yah. Salam sayang dari Author š¤.
Tidak terasa usia pernikahan Justin dan Melin memasuki 5 bulan, dan usia kandungan Melin juga memasuki 5 bulan. Justin sangat bahagia menyambut kehadiran bayinya dia rela menghabiskan banyak uang hanya untuk istrinya yang sedang ngidam.
Justin terbangun duluan dan pemandangan yang dia lihat pertama kali adalah wajah istrinya, Justin tersenyum bahagia dia mencium kening Melin dan mengelus perutnya.
" Bayiku hari ini jangan nakal yah, jangan membuat Momy capek, Papi janji pulang cepat hari ini." gumam Justin yang mengobrol dengan bayi di perut Melin.
Justin mencium perut Melin yang buncit dan berjalan ke kamar mandi melakukan rutinitas paginya, selesai mandi Justin ke arah walk in closet memilih kemejanya.
" Kenapa saat aku memilih bajuku sendiri terlihat jelek sangat berbeda saat Angel yang memilihnya." gumam Justin menatap dirinya di depan cermin.
" Entah apa yang dia lakukan, pasti sekarang dia lagi ngemis sama orang kaya lagi, hahah dasar pel\*\*\*r." gumam Justin menyeringai.
Justin keluar dari walk in closet dengan stelan hitam putih, dia menggeleng kepala melihat istrinya masih tertidur di atas kasurnya.
" Sayang sekarang sudah pagi, ayo bangun dan sarapan bersamaku." Justin mengguncang pelan pundak Melin.
" Emm, arrgg jangan ganggu, aku masih mau tidur." ucap Melin mulai kesal dan menarik selimut yang menutup seluruh tubuhnya.
" Baiklah aku tidak akan mengganggumu tapi jangan menutupi wajahmu, itu bisa membuatmu kekurangan oksigen dan bayi kita marah." bujuk Justin menarik pelan selimut Melin.
" Emm baiklah."
" Pintar, kamu tidur yang nyenyak yah, aku izin ke kantor dulu." ucap Justin mencium kening Melin.
" Emm iya, btw kamu udah transfer belum ?" tanya Melin.
" Sudah aku transfer 100 juta."
" Ahh, makasih sayang."
" Sama-sama, tapi kamu ngidamnya aneh juga yah, bisa-bisanya ngidam ditransfer." ucap Justin tertawa.
" Iih, ini kan juga maunya anak kamu yang mau shopping mulu." ucap Melin cemberut.
__ADS_1
" Haha, iya..iya, kalau gitu aku ke perusahaan dulu buat cari uang yang banyak agar anak kota nggak ileran karena nggak di tf." ucap Justin mengelus kepala Melin.
" Hati-hati yah sayang."
" Kamu jaga diri yah di rumah, kalau mau keluar rumah sama Pak yanto saja yah."
" Oke."
" *Dasar bodoh, disuruh transfer malah transfer tanpa curiga." batin Melin karena sebenarnya tanpa sepengetahuan Justin uang yang di transfer Justin itu bukan ke rekening Melin tapi rekening pacar Melin*.
Justin menuruni tangga dengan wajah yang sangat ceria, walaupun dia sebenarnya kesepian karena 5 bulan pernikahan mereka namun Justin terus menjalani kesehariannya seorang diri, Melin sama sekali tidak pernah melayaninya dengan alasan bayinya.
Sesekali Justin mengingat kesehariannya bersama Angel, semua keperluan dari alat mandi, baju kantor, makanan, dan semua kebutuhan Justin selalu disediakan oleh Angel, dan sekarang sudah tidak ada dia sendiri yang melakukan itu semua. Justin juga sudah tergantung dengan masakan Angel sehingga semua makanan yang pelayan siapkan hanya di makan sedikit saja karena menurutnya masakan itu tidak enak, walaupun masakan pelayan sebenernya enak tapi lidah Justin sudah terlanjur menyukai masakan Angel.
" Tuan anda tidak sarapan, saya sudah menyiapkan sop ubi kesukaan anda." ucap pelayan pada Justin.
" Saya tidak sarapan hari ini." ucap cuek Justin.
" Tapi tuan.."
Justin meninggalkan rumah dan menuju ke perusahaan dengan perut kosong. Sesampainya di perusahaan Justin di sambit hangat oleh semua pegawainya.
" Selamat pagi tuan." sapa sekertaris wanita.
" Apa jadwalku hari ini ?"
" Anda memiliki pertemuan dengan perusahaan S, makan siang dengan..." ucap sekertaris membacakan jadwal.
" Oke."
Justin sibuk dengan pekerjaan kantornya, dia kembali ke mode gila kerja. Jam 13.00 Justin menerima telfon dari dari Melin.
" Halo sayang kenapa ?"
š : " Sayang aku mau shopping." ucap Melin manja.
__ADS_1
" Ahh benar kah, kalau begitu aku akan mengirim sekertaris Amel untuk menemanimu."
š : " Tidak..aku maunya sama kamu." ucap Melin ngambek.
" Aku lagi sibuk sayang, lain kali saja yah aku pergi bareng."
š : " Nggak, aku maunya sama kamu aja, ini bukan kemauan aku tapi dedek bayinya." ucap Melin mulai menangis.
" Jangan menangis sayang, baiklah aku akan pergi kerumah menjemputmu yah." Justin sangat khawatir, dia segera mengambil jasnya dan pergi meninggalkan perusahaan.
15 menit kemudian, mobil Justin sudah sampai di rumah dan terlihat Melin sudah menunggu di depan pintu dengan sangat semangat.
" Sayang." Melin menghampiri istrinya dengan girang.
" Kamu kenapa menunggu di luar ?" tegur Justin.
" Aku tidak sabar pergi shopping bareng kamu." ucapnya menggelayut manja di lengan Justin.
"Astaga, baiklah karena ini kemauan kedua kesayangan aku, maka aku akan mengabulkannya dengan senang hati." Justin mencium kening Melin sakin senangnya.
" Silahkan masuk bidadariku." Justin membukakan pintu mobil untuk Melin.
" Terimakasih." ucap Melin masuk dengan anggun.
Justin menjalankan mobilnya dan beberapa menit kemudian merek sampai di salah satu mal terkenal di Bandung, mereka memasuki mal dengan anggun di tambah semua orang menatap iri kepada mereka.
Justin terus menemani Melin memilih baju merek Chanel, Justin hanya duduk di sofa bersama para suami. Justin terus memerhatikan Melin dan dia lihat kaki Melin sudah mulai pegal.
" Sayang aku sudah memilih." ucap Melin.
" Oke." mereka menuju ke kasir dan Jistin membayar belanjaan Melin yang totalnya sangat wow, sebenarnya Justin sangat berhemat karena dia masih pengusaha yang mulai dari awal dan pasti penghasilan belum banyak, belum lagi dia harus memiliki tabungan untuk lahiran anaknya nanti.
Tapi sampai sekarang tabungan Justin masih 10 juta karena Melin yang selalu minta transfer dan shopping sepuasnya dengan alasan bayinya, mau tidak mau Justin harus menuruti kemauan istrinya.
" *Ahh, enaknya jadi istri kaya semuanya di turutin sama dia, apalagi kalau bareng shopping semua di belikan dengan rekeningnya dan uang transfer kemarin bisa aku kirim ke pacar aku." batin Melin*.
Sebenarnya Melin masih berhubungan dengan pacar atau selingkuhannya, Melin dan pacarnya sengana memanfaatkan Justin untuk memeras semua hartanya, dan tentu saja rencananya itu berhasil karena semua harta Justin atas nama Melin. Melin hanya menunggu bayinya lahir dan meninggalkan bayinya bersama Justin yang tidak memiliki harta sedikit pun.
__ADS_1
Thanks you for reading š¹š¹