
š¹ Happy Reading š¹
Jangan lupa tinggalin jejak dengan like dan komentarnya yah, ooh iya tekan bentuk hati agar tidak ketinggalan ceritanya yah. Salam sayang dari Author š¤.
Sebenarnya kejadian itu saat Justin tidak ingin makan sarapan buatan pelayan karena rasanya sangat tidak enak, dia ingin membuangnya ke tempat sampah tapi melihat kakek yang terkapar lesu di atas kardus Justin inisiatif memberi rantang sarapannya untuk sang kakek dan itu sangat membantu kakek.
" Saya tidak berniat membantu anda saat itu." ucap Justin berdiri.
" Tunggu." kakek itu menahan tangan Justin.
" Lepaskan."
" Aku tahu kamu sekarang dalam masa sulit." ucap Kakek.
" Aku kesusahan kek atau nggak itu bukan urusanmu." ucap Justin mendorong Kakek itu.
Membuat semua orang yang melihatnya marah dan 5 orang anak muda menghampiri Justin.
" Woy pak, bapak punya sopan santun nggak sih. " ucap salah satu anak muda.
" Kakeknya bicara baik-baik dan nawarin kebaikan tapi kamu malah dorong kakeknya." ucap pemuda menunjuk Kakek yang dibantu berdiri.
" Pergi sana nggak usah ikut campur, ini salah dia sendiri gila urusan banget." ucap ketus Justin.
" Gila nih orang nggak punya sopan santun, nggak pernah di ajarin sopan santun sama orang tua yah."
" Ini masalah sepele kenapa bawa orang tua." Justin marah dan melayangkan tinjunya membuat pemuda itu geram dan mengeroyok Justin.
Justin berusaha melawan tapi dia kalah jumlah dan pada akhirnya dia kalah dia hanya bisa melindungi kepalanya oleh serangan injakan dari 5 pemuda.
" Ampun...ampun.." teriak Justin merintih kesakitan.
" Berhenti.. berhenti.." teriak Kakek yang lepas dari genggaman seorang wanita dan lari ke arah Justin.
Kakek melerai mereka dan menarik Justin ke pelukannya.
" Kakek kenapa masih membela orang ini." bentak kesal salah satu pemuda.
" Dia orang baik." ucap Kakek masih memeluk Justin yang babak belur.
" Hahah, orang baik kaya gini, sepertinya Kakek salah orang."
" Sudah-sudah kalian pergi saja." ucap sang Kakek.
__ADS_1
5 pemuda hanya mendengus kesal dan meninggalkan mereka.
" Kenapa kau menolong ku ?" tanya Justin yang susah bicara karena sudah sangat lemah.
" Karena berkatmu aku masih bisa hidup hari ini."
" Itu hanya makanan sisa." ucap Justin.
" Tapi sangat berharga untukku." ucap Kakek tersenyum.
" Terserah."
" Dimana rumah mu ?, biar Kakek antar."
" Aku sudah tidak punya rumah." Justin sangat sedih mengatakannya.
" Astaga, kalau begitu kamu mau tinggal di rumah Kakek ?"
" Tidak, aku tidak perlu di kasihani olehmu." ucap Justin berusaha berdiri.
" Tidak usah membantah ikut denganku saja." ucap sang Kakek menarik Justin.
Justin yang sudah tidak memiliki tenaga hanya pasrah oleh tarikan Kakek. Mereka berjalan ke arah gubuk kecil di bawah pohon yang besar. Justin menatap sekeliling dan melihat tempat ini seperti hutan dan di samping gubuk juga ada sungai.
" Rumahku sangat sederhana tapi masih bisa ditempati berteduh." ucap sang Kakek menarik Justin masuk ke gubuknya yang terbuat dari bambu dan atap jerami kering, Kakek mendudukkan Justin ke kursi bambu.
" Ini dimana ?"
" Kita berada di kaki gunung."
" Kenapa Kakek bisa membuat rumah disini ?" tanya Justin heran karena baru 1 bulan kemarin Justin melihat sang Kakek tertidur di depan ruko orang.
" Ooh itu karena sekertaris Amel memberikan gubuk ini padaku, awalnya gubuk ini adalah milik kakeknya dan gubuk ini biasa ditempati untuk kumpul keluarga saat lebaran. Tapi setelah Kakeknya meninggal tempat ini sudah jarang digunakan dan dia memberikanku gubuk ini karena aku mengingatkan dia pada Kakeknya." Jelas Kakek dengan senyum penuh syukur.
" *Sekertaris Amel." batin Justin*.
" Karena itulah saya sangat berhutang budi pada kalian." Kakek menepuk tangan Justin.
" Bukan pada saya tapi Sekertaris Amel." ucap Justin menarik tangannya dan berdiri.
" Tentu saja ini juga karena kamu." ucap Kakek menarik Justin duduk.
__ADS_1
Justin hanya pasrah dengan pemaksaan Kakek, tiba-tiba perutnya berbunyi sangat keras membuat malu. Kakek dengan inisiatif menarik Justin duduk di meja makannya.
" Makanannya tidak banyak tapi bisa membuat perutmu kenyang." Kakek membuka penutup makan dan terlihat ikan bakar, nasi, sambel, dan sayur wortel.
" Berapa penghasilan mu ?" tanya Justin heran karena melihat lauknya sangat lengkap.
" Makanlah dulu dan aku akan menceritakannya." ucap Kakek mengambil piring dan mengisinya nasi, Justin yang lapar seketika makan dengan lahap.
" Saat aku sampai di gubuk ini, isi gubuk ini sudah sangat lengkap dari kasur, meja, kamar mandi, alat masak, piring, dll. Aku sangat bersyukur aku sudah memiliki rumah dan lingkungan sangat tenang untuk seorang Kakek tua seperti ku."
" Makanan yang kamu makan itu semua dari hutan ini, aku bisa mendapatkan ikan di sungai dan aku juga bertani sehingga menghasilkan banyak sayuran." Kakek bercerita sambil tersenyum melihat Justin yang sangat lahap makan.
" Dari mana kau mendapatkan bibit sayur dan kenapa masih keluar memulung padahal kamu butuh istirahat ?" tanya Justin dan kembali makan.
" Bibitnya aku dapat dari gubuk ini Kakek Amel juga sangat suka bertani, dan aku masih pergi memulung karena aku harus beli beras." jelas Kakek memberikan air pada Justin.
" Terimakasih." ucap Justin meneguk kasar air di gelas.
Justin memikir keras dan membulatkan tekatnya.
" Mungkin ini sangat memalukan tapi apa saya boleh tinggal disini beberapa minggu, anda tenang saja saya akan membayar anda saat sudah mendapatkan uang." ucap Kakek.
" Tidak usah, kamu tinggal disini saja menemani saya." ucap Kakek tersenyum.
" Terimakasih." ucap Justin malu.
Justin tinggal di gubuk Kakek, Justin setiap hari mendaftar kerja di perusahaan-perusahaan tapi semuanya menolak Justin sehingga Justin dengan terpaksa mencari pekerjaan keras yang memerlukan otot yaitu sebagai kuli bangunan.
Justin yang tidak pernah melakukan pekerjaan keras seperti ini sering kena marah dan cacian dari bosnya karena sering melakukan kesalahan.
" Bruk.." suara benda jatuh cukup keras.
" Lagi...lagi..kau terus menjatuhkan barang, kau itu pria atau perempuan, dasar lemah." bentak bos Justin
" Maaf." ucap Justin yang bergetar dan berusaha menyusun batu bata ke dalam gerobak.
" Lakukan dengan cepat." bentak bosnya menendang batu bata dan meninggalkan Justin.
" Dasar tidak berguna."
" *Kamu bisa Justin semangat." batin Justin memberi semangat untuk dirinya*.
Justin mendorong gerobak sekuat tenaga dengan tubuh gemetar.
__ADS_1
Thanks you for reading š¹š¹