
🌹 Happy Reading 🌹
Jangan lupa tinggalin jejak dengan like dan komentarnya yah, ooh iya tekan bentuk hati agar tidak ketinggalan ceritanya yah. Salam sayang dari Author 🤗.
Di bawah sinar matahari dari celah daun mengenai Angel, terlihat Angel sedang berjalan menyusuri jalan yang di setiap sisi jalan banyak pepohonan sehingga Angel tidak terlalu panas. Angel terus menengok ke depan dan kebelakang mencari ojek tapi tak kunjung datang karena komplek itu hanya orang kaya yang menempatinya otomatis semua warga disana memiliki kendaraan dan tentu saja tidak ada yang membutuhkan ojek.

" Astaga sudah jam 10.00, 50 menit lagi kelasnya mulai, ya tuhan datang kan lah ojeknya." gumam Angel karena sudah 1 jam dia berjalan tapi belum sampai juga di depan lorong.
" Sepertinya tuan Justin sengaja memilih komplek ini buat mengerjai ku, dia tau kalau tidak ada ojek disini." gumam kesal Angel.
" Ting..ting.." bunyi klakson mobil dari belakang.
" Eeh monyet." teriak Angel karena kaget. Angel berbalik dan melihat mobil pink yang Angel tau siapa milik mobil itu.
" Angel lu kenapa ada disini ?" teriak Nanda dari mobilnya sahabat Angel yang kaya.
" Gue nyasar." ucap Angel berbohong.
" Gila lu, udah gede kaya gaban masih aja nyasar, lu mau ke rumah gue apa gimana sih." ucap heran pada Angel.
" Gue kerja di salah satu rumah ini." ucap Angel yang sebenarnya emeng betul karena dia tidak di anggap sebagai istri tapi sebagai pelayan.
" Ya udah naik cepat, udah mau terlambat nih." ajak Nanda.
" Iya." Angel tersenyum dan berlari ke arah mobil Angel. Angel memasuki mobil Nanda dan memasang sabut pengaman atau safety belt.
" Pipi lu kenapa ?" tanya Nanda pada Angel karena menggunakan plester gambar bunga.
" Ooh ini, tadi habis di cakar kucing." jawab Angel berbohong.
" Astaga, lain kali kalau main kucing jangan terlalu deketin wajah lu." omel Nanda karena Angel suka mencium kucing dan emeng sering di cakar sama kucing.
" *Untung aja, Nanda nggak curiga." batin Angel merasa lega*.
" Let's go." teriak Angel memajukan kepalan kirinya ke depan.
" Let's go." teriak Nanda juga dan menjalankan mobilnya.
" Lu kerja di rumah yang mana ?" tanya Nanda.
" Rumah warna putih yang ada patung Lumba-lumba di tamannya." ucap Angel.
" Ooh, katanya rumah itu baru di tempati kemarin, kamu cepat juga bisa kerja disana."
" Eeh iya, karena yang punya rumah anaknya bos yang gue tempati kerja dulu, dan gue di kirim ke rumah anaknya buat kerja." ucap Angel berbohong.
" Oalah."
" Hemm."
" Lu lupa yah kalau gue tinggal di komplek ini ?" tanya Nanda.
" Haha, iya gue lupa." Angel menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena dia benar-benar lupa Nanda tinggal di daerah sini.
" Seru banget sih, nanti kalau pekerjaan kamu selesai pergi aja ke rumah yah, kita main bareng." Nanda tersenyum.
" Iya." jawab Angel yang khawatir Nanda akan
tahu pernikahan dia dengan Justin.
" Nanda gue boleh nggak ikut lu pergi kampus tiap hari soalnya jarang banget ada ojek disini." Angel bertanya pada Angel untuk menawarinya tumpangan.
" Nanti bensinnya gue bayar 10k perhari dehh." ucap Angel memasang wajah imut pada Nanda.
" Apaan sih lu nggak usah sok manis deh." Nanda melempar tasnya pada Angel.
" Haha." tawa Angel.
" Tanpa lu minta gue rela antar jemput lu kali, kaya sama siapa saja, pake bayar lagi nggak usah gue ikhlas kok bayar pake catatan lu aja." Nanda menolak uang Angel dengan balasan catatan kuliah Angel karena Nanda sering tertidur di kelas jadi catatannya nggak ada sama sekali.
__ADS_1
" Oke dehh." Angel mengangkat tangannya tanda oke.
Nanda mengangguk dan memutar lagu Tiara Nandini. ***Reader bacanya sambil dengar lagunya yah biar makin menghayati🤗***.
"Merasa Indah"
...Kemarin engkau, nyatakan hati...
...Tapi terlambat...
...Katamu tak bisa......
...Cinta ini takkan berbalas...
...Sayang ku pastikan melayang...
...Pedih ku saat merasa indah...
...Semua hilang dan usai...
...Bila cinta ini tak nyata...
...Jangan engkau beri harapan...
...Sudah, cukup kini kusadari...
...Terlalu cepat jatuhkan hati...
...Kini ku mengerti kau lebih...
...Memilih dia......
...Cinta ini takkan berbalas...
...Sayang ku pastikan melayang...
...Pedih ku saat merasa indah...
...Semua hilang dan usai...
...Bila cinta ini tak nyata...
...Jangan engkau beri harapan...
...Sudah, cukup kini kusadari...
...Terlalu cepat jatuhkan hati...
...Sempat kau bersikap seolah sandaran jiwaku...
...Pedih ku saat merasa indah...
...Semua hilang dan usai...
...Bila cinta ini tak nyata...
...Jangan engkau beri harapan...
...Sudah, cukup kini kusadari...
...Terlalu cepat jatuhkan hati...
...Pedih ku saat merasa indah...
...Semua hilang dan usai...
...Bila cinta ini tak nyata...
...Jangan engkau beri harapan...
...Sudah , cukup kini kusadari...
...Terlalu cepat jatuhkan hati...
...Terlalu cepat jatuhkan hati...
Nanda dan Angel terus bernyanyi di sepanjang jalan menuju kampus, mereka seperti konser saja. 30 menit kemudian mobil Nanda sudah terparkir di parkiran mobil fakultas manajemen.
" Makasih tumpangannya sayang." Angel mengandeng manja pada tangan Nanda.
" Iya, jangan lupa catatannya yah." Nanda menjauhkan kepala Angel dari pundaknya dengan telunjuknya.
" Oke." jawab Angel dengan semangat.
Mereka dengan semangat memasuki fakultas dan menuju kelasnya. Sesampainya di kelas terlihat Gisel duduk di bangku barisan ke dua dari bawah dan bagian tengah.
" Woyy." teriak Nanda pada Gisel. Gisel berbalik dan mengangkat alisnya.
" Lama banget sih datang nya, semua orang pada mau duduk di dekat gue an\*\*r hampir aja kalian nggak kebagian kursi." omel Gisel dan mengambil tas dan bukunya di atas kedua kursi, Gisel sengaja meletakkan untuk menandai punya sahabatnya.
" Haha, biasa macet." jawab Nanda dan duduk di samping Angel jadi posisi Angel duduk di tengah-tengah mereka.
" Kenapa pipi lu Angel ?" tanya Gisel.
__ADS_1
" Habis di cakar kucing katanya." jawab Nanda.
" Dasar pecinta kucing, udah berapa kali di cakar masih aja ngga kapok, heran gue." ucap Gisel heran pada Angel.
" Heheh." Angel tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Btw kok kalian tumben bareng ?" tanya Gisel yang masih fokus merapikan make up nya.
" Angel bermalam di rumah gue." jawab Nanda berbohong.
" What, gila si kalian bisa-bisanya nggak ajak gue." Gisel berbalik menghadap mereka sambil mata melotot dan gigi yang mengeras.
" Emeng teman nggak ada akhlak tau nggak." kesal Gisel dan menghembuskan nafas dengan kasar.
" Anda kena tipu." ucap Nanda tertawa membuat Gisel memutar matanya.
" Cihh." Gisel kembali merapikan make up nya.
" Jawab an\*\*r kenapa bareng geblek." tanya Gisel lagi.
" Gue kerja di salah satu rumah satu kompleks dengan Nanda terus nggak sengaja ketemu di jalan makanya kita bareng." jelas Angel.
" Wow, pasti seru banget itu, apa gue belu rumah juga di salah satu kompleks itu." pikir Gisel sambil mengambil lipstik warna peach dan menggunakannya di bibir Angel.
" Astaga, sultan emeng beda yah." ucap Gebril sahabat laki-laki mereka yang menyebalkan.
" Datang lagi ini monyet sana lu pergi dari sini, duduk disana aja." usir Gisel pada Gebril, Gisel tidak menyukai Gisel karena setiap ketemu pasti ngomel soal cara pakainya yang mini.
" Terserah gue dong." ucap Gebril dan membuka jaketnya dan memasangnya di tubuh Gisel.
" Pake, gue udah capek ngomelin lu." ucap Gebril mendorong kepala Gisel. Gisel terlihat sangat kesal karena Gebril merusak gaya rambutnya yang sejak dari subuh dia menatanya dengan rapi.
" Bang\*\*t lu yah." Gisel membuka jaket Gebril di tubuhnya dan memasangnya di kepala Gebril sambil memukulnya.
" Auhh..tolong..Angel tolong aku." teriak Gebril.
Tiba-tiba pintu terbuka dan seorang dosen berteriak kepada Gisel dan Gebril yangs sedang berkelahi.
" Gisel..Gebril.. kalian nggak capek berkelahi terus, bapak yang capek melihat kalian berkelahi setiap bapak masuk ke kelas ini." teriak Dosen membuat Gisel mendorong kepala Gebril.
" Dia yang mulai pak." Gebril menunjuk Gisel dengan tangannya yang mendorong pipi Gisel.
" Issh, dia yang mulai pak." Gisel menghempas tangan Gebril dan mencubit paha Gebril.
" Aauhh." teriak Gebril.
" Lihat pak." Gebril mengangkat tangan kiri Gisel yang mencubitnya.
" Sudah-sudah kalian mau dosennya keluar lagi." tegur Angel dengan suara kecil.
" Nanti aja di lanjut." bisik Nanda ikut menegur.
" Tapi lihat." Gebril menunjuk tangan kanan Gisel yang mencubit pahanya lagi.
" Astaga, Gisel duduk disini." perintah Angel.
" Nggak mau." teriak Gisel, membuat Dosennya menggeleng melihat mereka.
" Gisel ku cantik, manis, dan seksi mau yah tukar duduk dengan ku." puji Angel dan mencubit pelan pipi Gisel.
" Baiklah." Gisel tersipu malu dan melepas cubitannya pada paha Gebril.
" Lepas nggak bang\*\*t." teriak Gisel pada Gebril, Gebril melepas tangan Gisel sambil tersenyum.
Angel dan Gisel ganti tempat duduk, dan posisi Angel berada di tengah-tengah mereka yang sesekali masih mengumpat dengan bahasa gerakan mulut tanpa suara. Kelas pun dimulai tapi semua tingkah mahasiswa berbeda seperti Gisel masih terus bercermin, Nanda yang tertidur, Angel fokus pada pembelajaran dan Gebril yang terus menatap pada Angel sambil tersenyum. Gebril menatap heran pada plester bunga yang menempel di pipi Angel.
Angel adalah anak yang kurang mampu tapi ke tiga sahabatnya adalah orang kaya, mereka sangat baik pada Angel tanpa memandang status Angel. Malahan mereka sangat sayang pada Angel.
Thanks you for reading 🌹
__ADS_1