
š¹ Happy Reading š¹
Jangan lupa tinggalin jejak dengan like dan komentarnya yah, ooh iya tekan bentuk hati agar tidak ketinggalan ceritanya yah. Salam sayang dari Author š¤.
Justin ingin menuruni tangga tapi di cegah oleh seorang wanita yang muncul dari kamar Justin dengan hanya menggunakan kemeja Justin, wanita itu adalah Melin dia merangkul tangan Justin dengan manja. Hati Angel sangat sakit melihat itu di tambah Justin tersenyum dan mengelus lembut kepala Melin.
Hal kecil ini yang selalu di doakan Angel tapi dia tidak pernah mendapatkannya, tapi hanya sebuah siksaan dan kata kasar yang terus terlontar dari mulutnya untuk Angel.
" Sayang jangan marah dengan wanita seperti itu, wanita itu harus di lemah lembut bukan bersikap kasar seperti ini." Melin menatap manja pada Justin dan mengusap rahang keras Justin seketika Justin tersenyum ikut mengelus kepala Melin.
" Kamu selalu saja bersikap baik seperti ini, itu lah alasannya aku mencintaimu." tutur Justin dengan penuh cinta pada Melin.
" Hihi." Melin terlihat salting.
" Woy, gadis licik kali ini aku memaafkan mu, berterimakasih lah pada istriku." teriak Justin membuat Angel melototkan matanya karena kaget sekaligus sakit hati mendengar ucapan akhir Justin. Justin dan Melin meninggalkan Angel masuk ke kamarnya.
" Istri ? " gumam Angel merasa sangat sakit hati karena pasalnya ucapan dari mulut itu adalah ucapan yang Angel nantikan selama 3 bulan pernikahan mereka.
Angel yang tidak mau melihat suaminya marah memilih membersihkan pecahan piring dan lauk yang berserakan, Angel membersihkan dengan air mata yang terus bercucuran membasahi pipinya. Angel berjalan ke dapur untuk membersihkan dapur dan menyiapkan makan siang di meja makan, dia tidak ingin mencari masalah lagi dengan suaminya karena dia sudah lelah dan lebih memilih diam dan mengurung diri di kamar.
Semua makanan sudah tertata rapih dan dapur juga sudah bersih, Angel membawa secangkir kopi ke kamarnya untuk dia minum untuk menghilangkan setres tapi tiba-tiba Melin datang menghampiri Angel dengan senyum jahat yang terukir di bibirnya.
" Hay, gadis bodoh." sapa Melin mendorong bahu kanan Angel.
" Mbak mau apa ?" tanya Angel heran karena Melin tadi bersifat baik di hadapan Justin.
" Kamu ngapain masih disini ha ?, nggak puas kamu udah hancurin hubungan aku sama Justin ?"
" Apa maksud Mbak, bukannya Mbak orang ketiga dalam pernikahan kami." jawab Angel membela diri.
" Hahah, pede juga yah kamu, kamu selama ini nggak nyadar yah ?, Justin itu dari dulu cintanya sama aku bukan kamu." Melin menepuk-nepuk pipi Angel yang menahan tangis dan amarahnya.
" Aku akui kalian emeng menikah tapi hanya di atas kertas kan, dari awal pernikahan kalian itu hanya sandiwara semata buat ngelabuhin keluarga Justin." Melin mengelus rambut Angel.
" Jangan pede deh, kalian nikah hanya karena tragedi menjijikan yang kamu buat itu kan ?, dan sedangkan kami menikah karena saling mencintai." Melin menyeringai.
" Tahu diri lah kalau kamu nggak di suka sama suami aku, karena kamu itu menjijikan lebih baik angkat kaki dari rumah ini sebelum aku yang buat kamu menyesal tidak angkat kaki sendiri dari rumahku." ucap Melin lagi membuat Angel meremas kuat pegangan cangkir.
Melin yang melihat Angel mulai kesal dan mendengar suara langkah Justin seperti akan menuruni tangga, Melin tersenyum licik dan melirik kopi di tangan Angel yang terlihat masih sangat panas.
__ADS_1
" Sekarang kami pilih angkat kaki sendiri atau aku bantu ?" tanya Melin pada Angel.
" Aku tidak akan angkat kaki dari rumah ku sendiri, kamu yang seharusnya pergi." teriak Angel membuat Melin menyeringai jahat.
" Ahhh." Melin sengaja menarik kopi di tangan Angel sehingga kopi itu mengenai tangan dan kakinya.
" Prang.." suara cangkir jatuh mengenai kaki Angel dan Melin. Justin yang mencari Melin sedari tadi tiba-tiba berlari menuju asal suara itu.
" Sayang.." teriak Justin khawatir saat melihat pecahan cangkir tepat di samping kaki Melin dan Angel.
" Justin." ucap Melin dengan akting sedihnya.
" Astaga, tangan mu memerah kaki mu juga terluka." Justin memeriksa Melin dan mengangkatnya duduk di meja dapur.
" A..aku tidak apa-apa tapi Angel juga." Melin dengan suara lembutnya menunjuk kaki Angel yang terluka mengeluarkan darah.
" Biarkan saja dia." Justin melirik sebentar dan kembali khawatir pada Melin. Membuat Angel menunduk sedih meremas ujung bajunya.
" Jelaskan pada ku kenapa bisa seperti ini ?" tanya Justin.
" Ini salahku, tadi aku mau mencoba kopi buatan Angel tapi sepertinya Angel tidak suka berbagi dengan ku." Melin menunduk membuat Justin mengerutkan keningnya. Angel yang tidak terima mendongak menatap tajam pada Melin.
" Aku memaksanya untuk memberikannya untuk ku tapi Angel marah dan kopinya jatuh mengenai tangan ku." Melin menunjukkan tangannya yang memerah.
" Dia bohong tuan, dia sendiri yang menjatuhkan kopinya bukan saya." bela Angel.
" Berani-beraninya kamu yah, sudah melukai istriku dan sekarang menuduhnya, dasar tidak tau diri." Justin mendekati Angel dan menampar pipi Angel.
" Plakk..plakk.." suara tamparan di pipi kanan dan kiri Angel yang di pukul berulang kali.
" Ma.. maafkan saya tuan, tapi saya bersumpah bukan saya yang melakukannya tapi dia sendiri." teriak Angel dengan kedua pipi yang memerah dan air mata membasahi wajahnya.
" Masih berani fitnah yah kamu." teriak Justin menarik Angel ke dispenser dan meletakkan tangan Angel di bawah guyuran air panas.
" Ahhhh...ampun tuan aku mohon lepaskan tangan saya, ahhh...panassss." teriak Angel meronta-ronta karena sakin panasnya tapi Justin dengan kuat menahan tangan Angel tetap terguyur air panas, Justin menarik rambut Angel ke belakang.
" Rasain...apa yang kamu lakukan dengan istri ku maka kamu juga harus membayarnya dengan setimpal." ucap Justin menyeringai.
__ADS_1
" Ahhh...panas, kumohon lepaskan aku." teriak Angel dengan lemah.
" Hahahaha." tawa Justin dan Melin yang menyaksikan penderitaan Angel berusaha menahan tawanya karena takut Justin menyadari kalau dia pura-pura baik.
Brian yang kembali ke rumah Justin karena Angel melupakan telfonnya segera memutar stir, Brian langsung masuk ke rumah Angel dan dia mendengar rintihan Angel. Brian seketika berlari dan melihat Justin menyiksa Angel di depan dispenser.
" Justin.." teriak Brian berlari menarik Angel dan mendudukkannya.
" Angel.. Angel.." teriak Brian pada Angel yang pingsan dan berwajah pucat.
" Syukurlah kau ada disini, sana bawa cewek murahan itu dan jangan pernah membawanya kemari lagi aku sudah capek menyiksanya buang-buang waktu dan tenaga ku saja." ucap Justin merilekskan tangannya dan berjalan meninggalkan Brian.
" Kau.." teriak Brian menarik Justin dan memukulnya.
" Brukk..." suara pukulan di rahan Justin.
" Argghh, kau gila." teriak Justin melihat darah keluar dari hidungnya.
" Kau yang gilaa.." teriak Brian menarik Justin dan memukulnya bertubi-tubi, Justin tidak bisa melawan Brian karena Brian adalah seorang petinju internasional.
" Kemari kau.." teriak Brian menarik Justin menuju ke dispenser.
" Arrghh.." teriak Justin saat tangannya terkena air panas.
" Panas bukan..rasain sendiri panasnya..kau sudah gila bisa-bisanya kamu melakukan hal ini pada gadis lemah itu."
" Argggh, lepaskan tanganku bajingan." teriak Justin.
" Hentikan..." teriak Momy Sri dengan mata berair.
" Mom." gumam Brian dan melepaskan tangan Justin.
" Arggh." Justin mendorong Brian dan memukulnya.
" Aku bilang berhenti.." teriak Momy Sri lagi membuat Justin menahan pukulannya.
Justin dan Brian menatap Momy Sri yang menangis tersedu-sedu, di lubuk hati mereka ada rasa penyesalan karena telah membuat seorang wanita yang mereka cintai menitihkan air matanya.
__ADS_1
Thanks you for reading š¹š¹