
š¹ Happy Reading š¹
Jangan lupa tinggalin jejak dengan like dan komentarnya yah, ooh iya tekan bentuk hati agar tidak ketinggalan ceritanya yah. Salam sayang dari Author š¤.
" *Emeng benar apa yang mereka katakan, aku harus mundur dan balas dendam padamu dengan cara memperlihatkan kesuksesanku." batin Angel memantapkan hati. Angel mengelap air matanya*.
" A..aku akan cerai." ucap Angel dengan terbata membuat 3 orang didepannya senang sekaligus sedih melepas menantu sebaik Angel.
" Serius ?" tanya serentak mereka dan dibalas anggukan oleh Angel walaupun terlihat dia masih belum bisa melepas Justin.
" Keputusan yang bagus nak." Momy Sri memeluk Angel. Brian yang sedari tadi menguping dari luar ikut senang.
" Kamu tenang saja biar Papi yang mengurus perceraiannya sebelum Justin yang mengurusnya." ucap Papi mengutak-atik ponselnya.
" Iya benar cepat lakukan, aku tidak mau dia semakin merendahkan Angel." ucap Kakek David menatap Angel dengan tatapan penuh bahagia.
" Kamu memilih keputusan yang bagus, setelah cerai kamu jangan khawatir kami yang akan membiayai mu." ucap Papi.
" Tidak perlu Pa." tolak Angel.
" Apa yang kamu katakan, kamu itu sudah kami anggap keluarga." ucap Momy.
" Tapi."
" Shuut..Momy nggak mau dengar penolakan Angel." Momy Sri meletakkan jari telunjuknya di mulut Angel.
" Mulai hari ini kamu anak Momy juga, jadi jangan sungkan pada Momy." ucapnya tersenyum bahagia.
\*\*\*\*\*
Pukul 08.00 di rumah Justin terlihat Justin perlahan membuka matanya, dia melihat ke meja nakas seketika dia mengerutkan alisnya saat melihat jarum jam menunjuk angka 8 yang artinya dia sudah terlambat.
" An.." ucap Justin yang akan teriak tapi berhenti saat melihat Melin yang tidur membelakangi, seketika Justin tersenyum.
" Hahaha, gue lupa kalau kampungan itu sudah pergi, ahhh akhirnya aku tidak melihat wajah kampungannya." ucap Justin mengangkat kedua tangannya ke atas.
" Good morning baby." bisik Justin di telinga Melin.
" Emmm, morning." ucap Melin dan kembali tertidur.
" Eeh kok tidur lagi, ayo bangun bantuin aku siap-siap."
" Aku masih ngantuk sayang, ini semua juga gara-gara kamu tahu." ucap Melin.
" Hahaha, kalau begitu kamu lanjut tidur yah." ucap Justin mencium dahi Melin dan pergi ke kamar mandi.
Saat memasuki kamar mandi, Justin membuka pakaiannya sembarang arah dia berjalan ke bathroom, Justin memasukan kakinya ke bathroom tapi ternyata tidak ada air disana, dia sudah terbiasa dilayani oleh Angel makanya bersikap seperti itu.
" Bang\*\*t." gumam Justin dan menyalakan keran air.
Sehabis mandi Justin segera ke walk in closet, dia kebingungan mencari baju yang biasanya selalu tersedia di atas meja tapi hari ini tidak ada.
" Dimana dia menaruh kemejaku." gumam Justin masih mencari.
" Ahh, kebiasaanku ini sangat kurang ajar." maki Justin pada dirinya.
__ADS_1
Justin mengambil kemeja putih, celana dan Jas hitam. Sebenarnya Justin memilih warna ini karena tidak tahu harus menggunakan apa jadi dia memilih warna netral saja. Saat dia menggunakan sepatunya dan membuat dia marah karena sepatunya tampak kotor.
" Ahhh, dasar gadis kampung membuatku terbiasa dengan pekerjaannya, diakan sangat butuh uang apa lebih baik aku memperkerjakannya sebagai pelayan yah lagi pula aku takut Melin kecapean." gumam Justin.
" Ide bagus, hahah." ucap Justin merapikan pakaiannya dan mendekati Melin untuk mencium dahinya.
" Aku pergi dulu." Justin keluar kamar, menuruni tangga duduk di depan meja makan kosong.
" Sial." ucap Justin berdiri menendang kursi makan.
" Aku benar-benar gila dengan kebiasaan ku ini, jika aku tahu seperti ini seharusnya aku melarangnya sejak awal untuk melayaniku." gumam Justin membuka pintu rumahnya.
Justin heran dengan kedatangan mobil hitam yang berjalan ke arahnya, mobil itu terparkir di depan rumah Justin. Justin mendekati mobil itu saat melihat plat mobilnya yang hanya dimiliki oleh bodyguard Leonal Batvin, dan benar saya ada 5 pria bertubuh besar memakai serba hitam turun dari mobil berjalan mendekati Justin.
" Selamat pagi tuan." sapa salah satu pria yang Justin yakini bahwa dia pemimpinnya.
" Pagi, ada apa kalian kemari ?" tanya Justin.
" Kami datang atas perintah Master." ucapnya.
" Kakek, kenapa kakek menyuruhmu kemari ?" Justin memiliki firasat buruk tapi dia sampingkan.
" Alangkah baiknya kita masuk dulu tuan." ucapnya.
" Ahh iya." Justin membuka pintu dan masuk ke rumah diikuti oleh 5 pria tersebut, mereka duduk di sofa dengan wajah serius.
" Cepat jelaskan aku harus ke perusahaan." ucapnya.
Justin menatap kertas itu dengan wajah yang sulit diartikan, dia mengambil surat itu dan benar saja Angel sudah bertanda tangan disini, dia membacanya dan Angel tidak menulis kompensasi apapun di surat cerai ini. Justin masih tidak percaya Angel menadatangani surat cerai ini, dia kira Angel akan menolak bercerai dengannya.
" Ini serius tanda tangan asli dia ?" tanya Justin memastikan.
" Iya tuan."
" Aku tidak percaya, karena dia itu gila uang masa dia tidak menulis kompensasi disini." Justin melempar kertas ke meja.
" Saya juga kurang tahu tuan, tapi nona Angel sendiri yang menadatangani suratnya." jelas bodyguard itu, Justin hanya diam menatap kertas penentu pernikahan Angel dan Justin.
" Tuan, bisakah anda menandatangani suratnya dengan cepat, agar saya bisa melanjutkan pesan dari Master." ucap bodyguard membuat Justin kembali sadar dari lamunannya.
" Ooh, pulpen." Justin menjulurkan tangannya.
" Silahkan tuan."
" Yah." ucap Justin, dia tampak ragu menandatangi suratnya tapi saat Melin terlintas dipikiran seketika Justin menandatangani suratnya dengan cepat.
" Nih, cepat jelaskan." Justin meletakkan pulpen dan mendorong suratnya, bodyguard memasukkan surat ke dalam amplop dan memberikan bodyguard di belakangnya.
" Saya akan menjelaskan 3 poin dari Master."
" Tiga ?"
" Yang pertama mulai hari ini anda dipindahkan ke salah satu Perusahaan di Bandung."
__ADS_1
" What, kenapa aku harus ke Bandung."
" Itu karena tuan muda sudah bukan pewaris Perusahaan Leonal Batvin, sebenarnya tuan muda sudah tidak memiliki sedikitpun warisan tapi karena belas kasihan nyonya anda diberikan Perusahaan di Bandung."
" Arrg, Kakek benar-benar mencoret ku dari ahli waris hanya karena gadis kampungan itu."
" Kedua, semua harta yang diberikan oleh Master akan diambil termasuk kartu rekening, mobil, rumah, dan apartemen. Tuan muda hanya bisa menggunakan rumah yang master berikan di Bandung." jelasnya membuat Justin semakin membulatkan matanya marah.
" Apa harus sampai segitunya." Justin mendobrak meja dan berdiri dari sofa.
" Ketiga, tuan muda dilarang mengubungi keluarga dan dilarang ke Jakarta apalagi mengunjungi Keluarga Leonal Batvin." ucap Bodyguard dan ikut berdiri.
" Hahah, sangat tidak masuk akal, Kakek sangat berlebihan memperlakukan ku seperti ini hanya karena wanita itu." Justin mendengus kesal.
" Tuan tolong berikan saya semua kartu dan kunci mobil."
" Apa-apaan kau ini, aku tidak akan memberikannya." tolak Justin.
" Ambil." ucap bodyguard pada bawahannya.
" Baik tuan." jawab serentak.
" Apa-apaan ini jangan sentuh aku, aku akan menelfon keluargaku." ucap Justin tapi bodyguard masih mengeledah Justin dan mengambil dompet dan kunci mobilnya.
" Woy, jangan menyentuh dompetku." teriak Brian ingin mengambil dompetnya tapi dihalangi oleh bodyguard. Bodyguard itu mengambil semua kartu atm dan hanya menyisakan 1 kartu atm di dompet Justin.
" Ahh bang\*\*t." maki Justin memukul bodyguard.
" Maaf tuan, sebaiknya anda merapikan barang anda dan keluar dari rumah ini, kami akan mengantar anda ke bandara." ucap bodyguard.
" Ahhh sial, tunggu saja aku akan pulang ke mansion dan membuatmu di pecat." ucap Justin menunjuk-nunjuk semua bodyguard.
" ***Brian ini Kakek, aku tahu kamu tidak akan menerima semua perlakuan ini tapi kamu harus menerimanya, ini bukan apa-apa dibanding kamu yang sudah menyakiti Angel, dengarkan baik-baik mulai hari ini kamu bukan keluarga Leonal Batvin lagi tapi orang asing dan jangan pernah kembali jika aku melihatmu di Jakarta maka aku akan membuat perusahaanmu di Bandung bangkrut, keluarga kami tidak memiliki orang brengsek seperti kamu, aku harap kamu menyesal telah menyakiti Angel, selamat menikmati kehidupan kebahagiaanmu dengan batu kerikil bajingan." ucap Kakek David lewat rekaman suara***.
" Tidak mungkin, itu pasti bukan Kakek." Justin membantah.
" Lakukan." Bodyguard mengangguk dan segera naik ke lantai 2.
" Woy jangan naik." teriak Justin ikut naik, Melin yang tertidur seketika terbangun.
" Sayang ada apa ini ?" Melin heran melihat 4 bodyguard masuk ke kamar mengambil pakaian Justin dan melin menyusunnya ke dalam koper.
" Kita akan pindah ke Bandung untuk membangun keluarga kecil kita disana." ucap Justin menenangkannya Melin.
" Benarkah, terus perusahaanmu disini bagaimana ?" tanya Melin.
" Papi yang mengurusnya, maka dari itu Kakek memberikan Perusahaan di Bandung sebagai hadia untuk pernikahan kita."
" Benarkah, wahh syukurlah." ucap Melin memeluk Justin.
" Ayo siap2." ucap Justin.
Melin berjalan menuju ke kamar mandi, saat Melin sudah masuk Justin mengambil dres putih dan Mantel Melin. Justin meletakkan baju Melin ke atas kasur dan menatap 4 bodyguard yang menata bajunya ke dalam koper. Mereka sudah selesai siap-siap dan berangkat ke bandara, mereka ke Bandung naik helikopter 30 menit perjalanan mereka sudah sampai di rumah yang cukup besar dengan 2 tingkat.
Thanks you for reading š¹š¹
__ADS_1