
š¹ Happy Reading š¹
Jangan lupa tinggalin jejak dengan like dan komentarnya yah, ooh iya tekan bentuk hati agar tidak ketinggalan ceritanya yah. Salam sayang dari Author š¤.
Justin terus mengembangkan senyumnya tapi tiba-tiba senyum itu pudar saat melihat banyak orang mengerumuni seseorang di bawah pohon. Justin melihat situasi dan sepertinya terjadi kecelakaan, Justin mengabaikannya tapi saat dia melihat karung yang sering kakek gunakan saat memulung terletak di atas aspal membuat hatinya bergetar karena takut apa yang dia pikirkan menjadi kenyataan.
Justin melerai semua orang dan melewati mereka, betapa kagetnya Justin saat melihat seseorang yang telah menolongnya bersimbah darah.
Seorang wanita yang tidak lain adalah mantan sekretarisnya yaitu Amel sedang memeluk kakek sambil menahan sapu tangan di kepala kakek.
" Kakek..." teriak Justin memeluk kakek.
" Justin." ucap kakek dengan intonasi lemah.
" Siapa yang melakukan ini ?" teriak Justin namun tidak ada yang menyahut.
Justin melihat seseorang pria yang terlihat panik dan sedang menelfon seseorang, Justin seketika berdiri dan ingin menghajarnya tapi.
" Justin..." panggil kakek dengan suara yang sungguh sudah sangat lemah karena darah yang terus keluar dari kepalanya.
" Aku disini kek." ucap Justin menggenggam tangan kakek.
" Maafkan saya, saya sudah menelfon Ambulanc dan dia akan menuju kemari."
" Maafkan saya...maafkan saya.." lelaki itu sujud di depan mereka karena mengaku salah.
" Justin." ucap kakek memberi kode pada Justin untuk mendekat padanya.
Justin mengerti dan berusaha mendengar apa yang kakek katakan.
" Justin terimakasih sudah menemani kakek, pergilah meminta maaf pada gadis itu. Kakek harap kamu bisa bahagia." ucap Kakek terbata-bata.
" Ini bukan salah orang itu tapi ini adalah takdir kakek untuk pergi." ucap kakek dan perlahan menutup matanya dengan senyum yang terukir di wajahnya penuh darah.
Tidak lama kemudian Ambulanc pun datang dan membawa kakek ke rumah sakit terdekat, Justin ikut masuk ke Ambulanc menemani kakek, mereka memasangkan banyak peralatan di tubuh kakek, Justin hanya bisa melihat mereka dengan perasaan khawatir dan takut. Di pertengahan jalan tiba-tiba bunyi suara di alat pendeteksi jantung yang menandakan bahwa kakek sedang masa kritis mobil Ambulans segera menancapkan gas, Justin hanya bisa berdoa.
" Pip........" Justin sangat kaget dan segera menggenggam tanga kakek.
" Kakek...kakek...sadar lah.." ucap Justin.
__ADS_1
" Maafkan, kami sudah berusaha sempu kami namun beliau meninggal pada hari jumat tanggal 10-3-2022 pada pukul 18.05." ucapnya dan menutup kakek dengan selimut putih.
" Aargg tidak, jangan tinggalkan aku kakek..." teriak Justin menangis.
Sesampainya di rumah sakit, kakek segera dimasukkan ke kamar mayat, Justin terus berada di samping kakek bersama Amel yang mendampinginya. Lelaki penabrak kakek mengurus biaya rumah sakit dan pemakaman nanti.
" Sabar yah pak." ucap Amel menepuk pelan punggung Justin.
" Terimakasih sudah membantu saya."
" Iya pak."
" Kamu kenapa bisa ada disana tadi ?" tanya Justin.
" Ahh, itu kebetulan tadi saya mau ke gubuk buat ngecek kakek tapi di perjalanan saya melihat kakek menyebrangi jalanan tiba-tiba ada mobil dari selatan yang sangat cepat, saya sempat berteriak pada kakek agar minggir tapi kakek tidak bisa menghindar dari mobil itu." jelas Amel.
" Maafkan saya pak, seharusnya saya berlari dan menarik kakek." Amel menunduk sedih.
" Ini bukan salah mu, tidak usah meminta maaf."
" Assalamualaikum, saya sudah mengurus biaya rumah sakit dan biaya pemakaman, saya sudah menyewa pengali kubur." ucap penabrak itu yang baru masuk ke kamar mayat dengan wajah yang penuh salah.
Justin hanya diam, dia sangat marah tapi menahannya karena ucapan kakek. Justin mengabaikan orang itu dia hanya fokus pada kakek.
Mayat kakek dimakamkan pukul 10.00 pagi, di dekat makam istri dan anaknya, Justin menguburkan kakek sesuai permintaan kakek 1 minggu sebelum dia meninggal, bahwa dia minta pada Justin jika dia meninggal maka makamkan dia di samping istri dan anaknya. Kakek juga pernah mengajak Justin berziarah kubur ke makam istri dan anaknya.
Justin sangat berperan besar dalam proses pemakaman kakek, terlihat dia sangat sedih saat mengangkat kakek dengan berbalut kain kafan dan memasukkannya ke dalam tanah.
Selesai pemakaman semua orang sudah meninggal kuburan tapi Justin, Amel, dan pria penabrak masih tinggal disana menemani kakek.
Terlihat Justin berusaha menahan tangisnya, tapi dia tidak bisa menahan air matanya yang terus menetes. Amel yang melihatnya sangat merasa ibadah dan heran, karena ini pertama kali dia melihat Justin menangis. Saat dia di selingkuhi oleh istrinya dia tidak pernah meneteskan air mata setetes pun tapi sekarang dia menangis karena seorang kakek pemulung.
" *Sepertinya hati batu tuan sudah di luluhkan oleh kakek." batin Amel*.
" Tuan, ini waktunya kita pulang karena sudah jam 3 tuan." ucap Amel karena mereka sudah terlalu lama disini.
" Kalian pergi saja, tidak usah menggangguku." ucap Justin ketus.
__ADS_1
" Maaf tuan tapi saya di beri amanat dari kakek untuk membantu anda." ucap Amel berbohong.
" Aku, tidak memerlukan bantuanmu."
" Tuan, kakek bilang anda harus pulang ke Jakarta dan meminta maaf pada istri anda." ucap Amel membuat Justin diam dan berbalik menatap Amel.
" Dari mana kamu tahu masalah itu ?." tanya Justin.
" Saya diamanatkan oleh kakek untuk membantu anda pulang ke Jakarta, sepertinya dia sudah tahu jika dia pergi maka anda akan seperti ini" Jelas Amel membuat Justin menatap kuburan kakek dan mengelus batu nisannya.
" *Kakek aku akan pulang dan meminta maaf, aku janji akan pulang kesini mengunjungimu, maka dari itu doakan aku dari sana agar dia bisa memaafkan ku dan memberikan aku kesempatan ke dua." batin Justin*.
Justin berdiri dari samping kuburan kakek dan menatap Amel.
" Mohon bantuannya." ucap Justin dengan senyum Amel pun membalas senyum Justin.
" Maaf menyela, tapi izin kan saya mengantar anda." ucap pria penabrak.
" Hemm." ucap Justin melewati pria itu.
" Terimakasih sudah mau mengantar kami." ucap Amel menepuk pundak pria itu.
Mereka pun meninggalkan kuburan dan menuju gubuk untuk mengambil barang penting Justin. Justin memasuki gubuk itu dan terus menatap saksama isi gubuk itu, Justin merasa gubuk ini sangat sunyi tanpa kehadiran kakek.
" Selamat tinggal rumahku yang penuh kenangan." gumam Justin.
Justin menarik koper pakaiannya terlihat dia membawah 1 kantong merah yang isinya sayuran hasil panennya, Justin kembali ke Jakarta menggunakan mobil pria penabrak di temani oleh Amel. 2 Jam perjalanan akhirnya mereka sampai di depan gerbang mansion Leonal Batvin, pria penabrak bingung kenapa tempat ini ada gerbang tapi di dalamnya hanya jalan dan di pinggir jalan banyak pepohonan seperti hutan, pria itu terus melihat dan terlihat dari kejahuan terlihat ada gedung warna putih pria itu karena penasaran dia bertanya pada Justin.
" Tuan, apa benda putih disana, saya tidka bisa melihatnya karena itu sangat jauh."
" Itu mension." Jawab ketus Justin membuat pria itu kaget.
" Antar saya sampai sini saja, terimakasih sudah mengantar saja." ucap Justin pada Amel dan pria itu.
" Sama-sama pak, semoga berhasil ya pak." ucap Amel.
" Makasih." ucap Justin.
Mobil pria itupun meninggalkan Justin dan kembali ke Bandung.
__ADS_1
Thanks you for reading š¹š¹