
Gedubrakkk
“Aaa Mas Rizal!!"
“Mas, bangun, Mas, bangun!!”
Tadi saat Rizal akan menyebrang ke arah Syarah, tiba-tiba sebuah sepeda motor melaju kencang ke arahnya hingga Rizal terserempet.
Namun, Si Pengendara motor melarikan diri, jadilah banyak orang mengerubungi. Syarah yang sangat panik meminta tolong orang sekitarnya untuk membantu membawa Rizal ke puskesmas terdekat. Untungnya ada orang baik yang rela meminjamkan mobil untuk membawa Rizal ke puskesmas.
*****
“Dok, bagaimana keadaan mas Rizal. Apakah dia baik-baik saja? Tidak terjadi hal serius, kan, Dok?” tanya Syarah sangat khawatir.
“Keadaan pasien baik, beruntung tidak ada luka serius pada pasien. Beliau hanya butuh istirahat saja, jadi nanti apabila infus sudah habis dan keadaannya dipastikan baik-baik saja. Maka pasien sudah boleh pulang,” jelas dokter.
“Tapi dia pingsan, Dok, apakah benar tidak apa-apa? Apakah perlu untuk di rongen?” tanya Syarah.
“Untuk saat ini belum diperlukan. Nanti bila pasien sudah siuman segera kabari saya, biar segera saya periksa,” jelas dokter dengan sabar.
“Baiklah, Dok, terima kasih banyak,” jawab Syarah.
Saat sebelum Rizal ditangani, Syarah diminta mengisi administrasi dan membayarnya. Karena Rizal tidak akan ditangani sebelum biaya dipenuhi. Syarah teringat bahwa dia pergi hanya membawa uang saja tanpa dompet dan telepon.
Awalnya dia berpikir meminta tolong Risa untuk mengambilkan dompet tapi tidak mungkin mengingat kunci indekos dibawanya selain itu Syarah tidak hafal nomer Risa. Jadilah dia mengambil dompet Rizal, untungnya ada uang tunai yang cukup untuk membayar biaya perawatan Rizal. Beres dengan biaya administrasi, Rizal dapat segera ditangani oleh pihak puskesmas.
Setelah mendengar penjelasan dokter, Syarah duduk di samping Rizal yang terbaring masih memejamkan mata. Syarah mengambil tangan Rizal yang tidak diinfus dan menggenggamnya seakan memberi kekuatan.
“Mas, maafin Syarah, kalau bukan karena Syarah ini semua tidak akan terjadi sama Mas. Andai hari ini kamu tidak bertemu denganku pasti kamu akan baik-baik saja. Hiks hiks. Bangunlah, Mas, aku janji akan menuruti perkataanmu asal kamu segera bangun,” ucap Syarah.
Air mata Syarah mengalir deras menyesali kejadian yang menimpa Rizal saat bersamanya. Syarah merasa ada elusan di kepalanya dan dia sangat hapal dengan sentuhan ini.
__ADS_1
“hiks hiks aku sampai merasa kalau kamu mengusap kepalaku seperti biasa. Kamu yang selalu ada buat aku. Kenapa aku sampai ngerasain elusan kamu di kepalaku,” ucap Syarah.
“Sya, kamu kenapa nangis?” tanya Rizal.
“Tuh, kan, di saat kamu belum sadar saja aku bisa mendengar suara kamu. Aku benar-benar merasa bersalah sampai halusinasi begini, Mas,” kata Syarah.
Syarah yang sedari tadi menangis menumpukan kepalanya di tangan Rizal tak menyadari bahwa Rizal sudah siuman.
“Hei, Gadis Kecil, apa kau berniat membasahi tanganku?” tanya Rizal.
“Mas Rizal? Mas sudah sadar? Tunggu sebentar, aku panggil dokter dulu,” ucap Syarah langsung berlalu memanggil dokter.
Dokter segera ke ruangan Rizal untuk memeriksa. Syarah sedari tadi memperhatikan perkataan dokter dan bertanya berbagai hal sampai membuat dokter tertawa kecil.
“Mbak, kondisi mas Rizal baik-baik saja. Dia tidak mengalami cidera serius seperti yang saya katakan sebelumnya. Jadi, Mbak tidak perlu khawatir. Luka di kakinya akan sembuh dan kering dalam beberapa hari saja, asalkan rajin diobati. Setelah infus habis, mas Rizal sudah boleh pulang,” jelas dokter penuh kesabaran.
“Baik, Dokter, terima kasih banyak,” jawab Syarah.
“Mas, maafin aku ya, karena aku kamu harus mengalami seperti ini. Aku benar-benar minta maaf,” ucap Syarah.
Syarah memang benar-benar ketakutan, seumur hidupnya dia tidak pernah melihat kecelakaan secara langsung. Ketika dia melihat Rizal yang diserempet tentu sedikit banyak membuat dia takut.
“Hei, lihatlah aku baik-baik saja. Ini hanya luka kecil. Lagipula dokter tadi kan sudah mengatakan kalau penyebab pingsanku karena aku syok. Bukan karena hal-hal berbahaya. Jadi stop menyalahkan diri kamu atas hal yang tidak kamu lakukan. Ini semua adalah takdir dan syukurlah aku baik-baik saja,” jelas Rizal mencoba menenangkan.
Rizal berkata lembut dan meminta Syarah untuk duduk di sampingnya. Ia dapat menangkap ketakutan dalam diri Syarah. Dibawalah Syarah dalam dekapan Rizal, dia mengusap punggung Syarah lembut menenangkan. Syarah menangis di dada Rizal sampai ia terlelap.
Rizal yang menyadari suara tangis yang sudah hilang menatap ke bawah dan yang ditemukannya adalah wajah merah dan hidung merah Syarah efek menangis terlalu lama. Diusapnya mata Syarah yang masih ada sisa air mata disana, kemudian diusapnya hidung yang basah dengan tisu. Dilihat dari dekat, dia dapat melihat kecantikan alami Syarah, cantik yang bukan sekedar cantik tapi cantik yang terpancar dari dalam diri Syarah.
Sejak awal bertemu Syarah, Rizal sudah menyimpan ketertarikan. Memang wajah Syarah biasa saja, tapi tatapan mata Syarah dalam dan memancarkan kasih sayang serta kelembutan. Mungkin Syarah tidak secantik mantan-mantan Rizal.
Tetapi berdekatan dengan Syarah membuat hatinya nyaman dan ingin selalu dekat. Sifat dan sikap Syarah yang apa adanya membuat Rizal semakin terpana, berbeda dengan perempuan zaman sekarang yang seakan dibuat-buat agar terlihat menarik. Dalam hati, Rizal berdoa semoga Syarah bahagia hingga nanti. Hingga suara seseorang memecah lamunan Rizal.
__ADS_1
“Permisi. Maaf saya langsung masuk karena pintu terbuka dan saya sudah salam tapi tidak ada balasan jadi saya langsung masuk saja. Saya kemari hanya ingin memberikan makan siang untuk Anda. Silahkan dimakan dan jangan melupakan obatnya, saya pamit undur diri,” jelas perawat.
Perawat berlalu setelah menyiapkan makanan Rizal. Sebenarnya Rizal lapar karena sejak pagi dia belum makan, saat akan mencari Syarah untuk sarapan bersama dia tidak menemukan dimana pun. Rizal sudah mencoba menelepon namun selalu tidak aktif.
Pagi tadi, Rizal berputar-putar mencari keberadaan Syarah khawatir terjadi hal buruk pada Syarah. Hingga kejadian tadi membuat Rizal belum memasukkan makanan apa pun dalam tubuhnya. Tapi kesempatan berdekatan dengan Syarah seperti ini sangat langka.
Rizal rela tidak makan demi bisa tetap berdekatan dengan Syarah karena kalau dia makan, Rizal harus melepas Syarah dari dekapannya. Karena cuaca di luar sedang hujan membawa hawa yang dingin sejuk mengantarkan Rizal ke alam mimpi menyusul Syarah.
*****
“Permisi, Pak,” ucap perawat sambil menggoyang lengan Rizal membangunkan.
Rizal tersadar dari tidurnya.
“Iya, Sus, ada apa?” tanya Rizal.
“Maaf, Pak, infus anda sudah habis. Tadi dokter Anna mengatakan kalau infus anda sudah habis artinya sudah boleh pulang,” jelas perawat sambil melepas infus.
“Baik, Sus, terima kasih,” ucap Rizal.
Setelah perawat pergi, Rizal membangunkan Syarah karena waktu hampir berganti sore.
*****
“Mas beneran pulang sendiri? Lebih baik motornya ditinggal disini dulu. Mas pulang naik ojol saja. Kamu belum sembuh total, Mas,” ucap Syarah melarang Rizal mengendarai sendiri motornya menuju kosnya.
“Tidak perlu khawatir aku baik-baik saja. Sudahlah masuk, kamu juga harus istirahat. Lihat matamu bengkak begitu,” jelas Rizal memperingati.
Sebelum Rizal meninggalkan Syarah, dia menatap perempuan yang sudah lama ada di dalam hatinya tanpa berani mengutarakan perasaannya. Sedang Syarah terpaksa membiarkan Rizal pergi, dia masih melihat motor Rizal melaju hingga hilang dari pandangan.
TBC
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak di komen dan berikan like sebagai bentuk dukungan pada karya pertama saya