Perawan Tua Istri Sang Duda

Perawan Tua Istri Sang Duda
16. Malam Pertama


__ADS_3

Setelah acara resepsi, semua anggota keluarga menginap di hotel tempat resepsi.


Dalam kamar, Syarah merasa benar-benar kesulitan dengan gaun yang dikenakannya mala mini. Gaun yang sangat berat dan sepatu tinggi membuat tubuhnya yang tidak seberapa besar kewalahan mengenakannya. Tapi karena persetujuan dari Danar membuatnya tak bisa menolak.


Dia berdiri di depan cermin di walk in closet masih berusaha membebaskan diri dari gaunnya.


ceklek


“Sya, apa kamu sedang membersihkan kamar mandi lama sekali!” ucap Danar menggerutu.


“Maaf hanya saja aku kesulitan membuka gaun ini,” ucap Syarah.


Danar yang baru saja selesai membuang air kecil menghampiri Syarah yang masih berdiri di depan cermin dengan pakaian lengkap.


“Kau menghabiskan waktu satu jam hanya untuk berdiri tanpa hasil. Ckk,” decak Danar kesal.


Kemudian Danar berdiri di belakang Syarah untuk membantu melepaskan gaun di badan Syarah. Resleting gaun yang sedikit demi sedikit mulai turun ke bawah memperlihatkan punggung mulus Syarah tanpa noda. Berada di dekat Danar bisa mencium aroma tubuh Syarah merasuki indera penciumannya.


“Terima kasih, Kak sudah membantu, sekarang keluarlah aku mau bersih-bersih dulu,” ucap Syarah menahan malunya.


“Kenapa harus keluar, aku adalah suamimu, tubuhmu adalah milikku. Jadi tidak salah bila aku melihatmu tanpa penghalang,” ucap Danar dengan tatapan dalam.


“Kak, kumohon keluarlah, kumohon,” mohon Syarah.


Danar tak bergeming, dia masih berdiri ditempatnya tanpa bergeser sejengkal pun. Syarah kebingungan, di satu sisi dia ingin segera mandi membersihkan diri tapi tidak mungkin dia mandi di depan Danar walaupun kini statusnya adalah suaminya.


“Karena tadi kau sangat lama aku jadi belum mandi, jadi lebih baik kita bersama,” ucap Danar membuat Syarah bergidik ngeri.

__ADS_1


Tak ada seorang pun yang melihat badannya kecuali dirinya sendiri dan orang tuanya ketika masih bayi. Dia benar-benar malu dan ketakutan setengah mati.


“Sudahlah ayo cepat!” ucap Danar sambil menarik Syarah menuju bathup untuk berendam melepas kepenatan.


Karena disiapkan untuk malam pengantin, kamar termasuk kamar mandi didesain dengan romantis. Misalnya seperti bathup ini yang berisi kelompak bunga mawar dan lilin. Dalam hati Syarah begitu bahagia mendapat perlakuan romantis ini, selama ini dia hanya melihatnya di film-film tapi sekarang dia merasakannya secara langsung.


Danar dan Syarah berendam di bathup dengan pemandangan mengarah ke gemerlap kota. Mereka menikmati setiap momen bersama sambil mengobrol ringan, obrolan yang tidak pernah mereka lakukan sebelum pernikahan.


Kini posisi Syarah duduk bersandar di dada Danar dengan memainkan busa dan bunga yang bertebaran di bathup. Setelah merasa kulit sudah mengkerut kedinginan, Syarah meminta untuk keluar khawatir akan masuk angin jika terlalu lama.


“Kak, berendamnya udahan. Nanti kalau terlalu lama bisa masuk angin,” ajak Syarah.


Danar menyetujui ucapan Syarah dengan beranjak keluar dari bathup untuk membilas diri.


“Yasudah kita membilas dulu,” ucap Danar.


Mematikan keran, Syarah beranjak mengambil bathrobe untuk membungkus dirinya yang kini sudah menggigil kedinginan. Sedang Danar hanya mengambil celana panjang untuk tidur nanti.


Danar dengan jahilnya membawa Syarah berada dalam gendongan lengannya.


"Kak, kenapa aku digendong begini. Turunkan aku, nanti kamu keberatan bawa aku," pinta Syarah yang terkaget dengan ulah Danar.


"Kalau kau banyak gerak, kau akan benar-benar jatuh. Pegangan saja yang kuat!" perintah Danar.


Danar membawa Syarah menuju ke kasur. Syarah dibaringkan pelan-pelan seakan Syarah benda pecah belah yang dapat hancur dengan mudah.


Danar mulai mengecup Syarah dengan penuh perasaan sayang. Baru beberapa detik mereka menikmati, suasana langsung berubah drastis.

__ADS_1


Tiba-tiba Danar beralih dari atas tubuh Syarah. Kepalanya berdenyut dengan kencang, dia sampai memukul-mukul kepalanya. Menampar pipinya sendiri untuk menghilangkan bayangan dan suara yang berputar di kepalanya.


Suara dan bayangan yang selama ini terkadang seakan menghantuinya. Membuat Danar harus terus mengingat memori kelam itu. Kenangan yang membuat hidupnya hancur berkeping dan merubah pribadinya.


Danar berteriak dan merintih kesakitan. Syarah yang melihat suaminya kesakitan seperti itu langsung menghampiri Danar. Belum sampai dia di depan Danar, Syarah didorong menjauhi Danar. Danar berusaha meraih tasnya, diobrak-abrik semua isi dalam tasnya.


Dia mengerang kesakitan saat menyadari obat yang selama ini selalu menjadi pereda saat kesakitannya tak ditemukan dalam tasnya. Syarah menangis melihat kondisi Danar saat ini, ia ingin menghampiri tapi kakinya terkilir akibat dorongan Danar padanya tadi.


Hingga Danar jatuh pingsan di lantai dengan keringat yang mengucur serta bekas tamparan pada wajahnya yang kini mulai terlihat membiru. Dengan sekuat tenaga Syarah memaksa langkah menuju Danar, dia sangat tak kuat hati melihat suaminya kesakitan seperti tadi.


“Kak, bangun, Kak,” ucap Syarah dengan menepuk-nepuk pipi Danar.


Tak kunjung bangun akhirnya Syarah membawa Danar menuju tempat tidur. Dia berpikir bahwa bila dia menelepon dokter dan menghubungi keluarganya dalam kondisi Danar yang seperti saat ini tentu akan membuat kepanikan pada semua orang. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada Syarah membopong Danar.


Dia ambil pakaian Danar dalam koper yang sudah disiapkan, kemudian dia mengambil air dalam wadah untuk mengompres wajah ada yang mulai membiru. Syarah memberikan aromaterapi di dekat hidung dan di bagian kepala Danar agar Danar lebih rileks dan segera sadarkan diri. Ditatapnya wajah laki-laki yang baru beberapa jam menjadi suaminya ini dengan lembut.


Diusapnya air mata yang ada di ujung mata suaminya. Syarah tidak tahu apa yang terjadi hingga membuat suaminya kesakitan seperti tadi.


“Kak, apa yang sebenarnya terjadi pada Kakak sampai Kakak seperti ini? Kenapa tiba-tiba Kakak kesakitan hm? Apa aku membuat Kakak ketakutan sampai seperti ini? Maafkan aku sebagai istrimu yang tidak tahu apa-apa tentang kamu sebagai suamiku. Aku benar-benar istri bodoh yang tidak tahu dan paham kondisi suami. Maafkan aku Kak, kumohon maafkan aku. Seharusnya sebelum menikah aku harus banyak mencari informasi tentang kamu. Tapi aku justru sibuk dengan mengurus pernikahan dan mengurus segala sesuatunya hingga aku lupa tugas utamaku untuk mengurus kamu,” ucap Syarah sambil menggenggam tangan Danar dengan sesekali mengecupnya sayang.


Sebagai istri dia merasa lalai karena tidak mengetahui kondisi suaminya. Disaat suaminya kesakitan ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya merapalkan doa memohon agar apa pun yang terjadi pada suaminya tidak parah. Syarah berjanji akan menjadi istri yang lebih peduli dan banyak mencari tahu tentang suaminya.


Air matanya sedari tadi tak mau berhenti menetes membayangkan betapa sakitnya suaminya tadi. Ia bahkan tak mau melepaskan genggaman tangannya pada Danar seakan takut kehilangan. Syarah menemani Danar sampai tak sadar tertidur sambil memeluk Danar.


TBC


Terima kasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak di komen dan berikan like sebagai bentuk dukungan pada karya pertama saya

__ADS_1


__ADS_2