Perawan Tua Istri Sang Duda

Perawan Tua Istri Sang Duda
32. Pengalihan


__ADS_3

Setelah selesai membagikan gaji kepada karyawan yang bekerja di toko bunga miliknya, Syarah kembali memasuki rumah. Dilihatnya jam yang sudah menunjukkan hampir berganti malam. Dia yang sedang tidak mood tidak ingin melakukan aktivitas apapun termasuk memasak, tapi dia ingat bahwa menyiapkan makan adalah bagian dari tugasnya.


Dengan langkah berat Syarah berjalan ke dapur berniat untuk menemui bi Jum.


“Bi, Syarah minta tolong untuk menyiapkan makan malam kali ini. Sebelumnya, maaf ya Bi Syarah sedang tak enak badan jadi tidak bisa membantu Bi Jum.”


“Nona sedang tidak enak badan? Nona mau saya buatkan bubur?”


“Tidak Bi, terima kasih. Bibi siapkan saja makan malam untuk kakek dan kak Danar. Syarah mau ke kamar saja.”


“Baik Non. Tapi jika Nona menginginkan sesuatu langsung saja hubungi kami kapan pun kami akan siap.”


“Iya Bi, terima kasih banyak. Syarah pamit ke kamar dulu.”


Setelah menyerahkan urusan memasak pada bi Jum, Syarah berjalan ke kamarnya. Yang ada di kepalanya kini adalah menonton film. Walaupun menonton film bukan menjadi kegiatan favorit Syarah tapi sepertinya dia butuh pengalihan kali ini. Mengingat fasilitas yang ada di rumah ini, dia bisa memanfaatkan seperti menonton film.


Lama Syarah mencari film yang ingin dia tonton kali ini, dan pilihannya jatuh ke film Indonesia yang berisi tentang perjanjian pernikahan. Dia memang lebih memilih menonton film Indonesia daripada drama Korea yang bisa membuatnya terbawa perasaan. Walaupun banyak orang yang suka drama dari negara penghasil gingseng itu namun Syarah kurang suka, tapi dia tidak menampik jika dia juga menonton drama Korea namun jika keadaan hatinya sedang biasa saja.


Mengambil minuman dingin yang ada di lemari pendingin yang ada di kamar juga beberapa cemilan yang Syarah simpan di buffet. Dia memilih menonton film sambil tiduran di kasur ditemani dengan cemilan dan minuman itu. Syarah sepertinya sangat menikmati waktu untuk dirinya sendiri. Dia tidak ingin turun untuk sekedar menemani pak Pandhu makan malam, dia tidak ingin jika pak Pandhu menangkap kegelisahannya.


Dia benar-benar butuh waktu untuk sendiri saat ini. Dia tak ingin siapa pun terlibat dalam permasalahan rumah tangga yang harus dihadapinya itu. Memikirkan langkah ke depannya saja, Syarah belum mampu. Biarlah nanti waktu yang akan memberi jawaban atas langkah yang harus Syarah ambil ke depannya. Akan lebih baik dia seorang diri daripada harus melibatkan orang lain yang belum tentu mengerti permasalahan yang dihadapinya.


Saat menonton film, kadang Syarah tertawa bila adegan yang ditayangkan lucu. Tapi di akhir-akhir film dia menitikkan air mata saat adegan di film menayangkan sepasang suami istri di pertemukan kembal di kereta yang mereka tumpangi. Dengan sang suami yang berdoa meminta dipertemukan kembali dengan istrinya dan benar saja dia langsung bisa bertemu kembali dengan sang istri.


Seakan tak puas dengan satu film, Syarah kembali memutar film yang lainnya. Namun saat sedang asik memilih film, Syarah dialihkan fokus ke hpnya yang sedari tadi berdering nyaring seakan meminta untuk segera diangkat. Mau tak mau, Syarah meraih hp yang diletakkannya di nakas yang berada di samping kasur, tapi dia hanya memanjangkan tangannya saja tak ingin beranjak dari posisi yang sudah terlanjur nyaman.


“Halo.”

__ADS_1


“Halo. Mbak Syarah, sebelumnya maaf mengganggu Mbak malam-malam. Jadi saya mau mengabari kalau tadi ada pelanggan yang datang ke toko, dia bilang pesan bunga untuk pesta pertunangannya lusa. Dia meminta toko kita sebagai untuk mendekor dekorasi bunga di pertunangannya. Tapi kita belum pernah melakukan dekor bunga dalam acara besar seperti itu, jadi karena saya tidak bisa memutuskan sendiri, saya jawab kalau saya menunggu jawaban dari Mbak sebagai pemilik toko bunga ini. tadi saya dan Rahma lupa mengabari Mbak karena saking senangnya dapat gajian. Ini orangnya menghubungi saya untuk menanyakan jawaban dari kita. Dia sangat berharap bahwa Mbaklah yang mendekorasi bunga di acaranya. Jadi apakah disetujui atau ditolak?”


Syarah diam sejenak memikirkan keputusan yang akan diambilnya. Dia tahu bahwa mendekor bunga diacara pertunangan tidaklah semudah membuat buket bunga yang biasa dia buat. Syarah khawatir tidak bisa memberikan yang terbaik untuk kliennya atau malah dapat merusak acara pertunangan mereka. Lagipula ini terlalu mendadak, mengapa tidak dari hari-hari lalu dan malah sekarang di saat susasana hatinya sedang buruk.


“Ratih, kenapa mendadak seperti ini? kenapa dia tidak bertanya dari hari-hari lalu?”


“Tadi saya juga bertanya dan dia menjawab bahwa awalnya acara pertunangannya hanya akan sederhana saja namun ibunya tidak setuju dan meminta acara dilangsungkan meriah.”


“Apakah benar-benar lusa? stok bunga kita di kebun hanya beberapa jenis saja dengan jumlah terbatas. Aku tak yakin bisa mencukupi kebutuhan bunga yang akan dibutuhkan nantinya. Lagipula aku tak ada pengalaman untuk mendekor acara seperti itu.”


“Iya Mbak. Kalau memang belum bisa menerima, saya akan menghubunginya untuk menolak keinginannya.”


“Iya. Ya sudah.”


“Baik Mbak. Terima kasih. Selamat malam.”


“Halo, Ratih, kamu sudah menghubungi mereka belum?”


“Ini saya baru mengetik, mau saya kirim sudah keduluan Mbak telepon.”


“Baguslah. Begini, sepertinya saya berubah pikiran, sepertinya kita harus mencoba hal baru. Mencoba mendekor acara besar tidak ada salahnya bukan? Bagaimana kalau kita coba untuk menerima tawaran orang itu?”


“Apakah Mbak yakin akan mencoba menerima tawaran itu? kalau menurut saya pribadi, saya menurut saja apa keputusan Mbak. Karena memang ini toko milik Mbak, jika memang Mbak yakin, saya dan Rahma tentu siap sedia bekerja dengan baik.”


“Mantaplah yang baru gajian, baik kirim saja kontak perempuan itu nanti biar aku sendiri yang telepon.”


“Siap Mbak, saya kirim sekarang.”

__ADS_1


“Oke Ratih, terima kasih ya.”


Tak lama kontak orang itu sudah dikirim Ratih ke Syarah. Segera Syarah mengubungi wanita itu untuk berbicara secara langsung.


“Halo, selamat malam.”


“Halo, selamat malam, maaf ini siapa ya?”


“Ini saya Syarah, pemilik toko bunga yang tadi sore Anda kunjungi. Tujuan saya menghubungi Anda untuk menanyakan tentang rencana yang Anda sampaikan sore tadi pada karyawan toko.”


“Ahh ternyata Mbak Syarah. Iya Mbak, saya sudah beberapa kali pesan di toko bunga milik Mbak. Tadinya pengurus pertunangan saya yang mengurus hiasan bunga. Tapi saya ingin Mbak yang membuat hiasan bunga di acara saya. Saya juga memintanya mendadak karena memang acara ini baru kemarin diputuskan jadi saya baru menghubungi Mbak.”


Mereka lalu mengobrol untuk mendiskusikan tema apa yang akan kliennya ambil untuk acara pertunangannya nanti. Syarah yang tertarik dengan keinginan kliennya ini tak berpikir dua kali untuk menolak. Dia menerima tawaran ini dan akan bekerja menghias bunga di acara pertunangan perempuan itu lusa nanti.


Bahkan sambil mengobrol, Syarah memilih-milih bunga yang dibutuhkan untuk menghiasi acara nantinya dengan menyesuaikan tema dan tentunya sesuai permintaan kliennya. Dia mulai merancang rangkaian bunga untuk diletakkan di spot tempat tunangan sesuai penjelasan dari kliennya. Beruntung permintaan kliennya tidaklah ribet, dia menerima apa pun yang disampaikan Syarah tanpa ada keinginan yang menyulitkan.


Karena terlalu fokus dalam mengurus pekerjaannya, Syarah tak menyadari bahwa waktu yang dia habiskan untuk berdiskusi sudah hampir dua jam lamanya. Bahkan dia tak menyadari bahwa ruangan kamarnya sudah terang benderang karena lampu dinyalakan dari yang semula hanya lampu kecil saja yang dinyalakan. Seseorang yang baru datanglah yang menyalakan lampu kamar.


Syarah masih fokus pada desain yang dibuatnya di iPad miliknya. Danar yang melihat Syarah yang sangat berkonsentrasi pada kegiatannya membuat Danar penasaran. Dia mendekati Syarah untuk bisa melihat apa yang sedang dikerjakan oleh istrinya hingga sampai mengabaikan kondisi sekitar. Ini adalah hal langka bagi Danar yang mendapati istrinya sefokus itu. Sampai di dekat Syarah, Danar bisa melihat Syarah yang sedang membuat berbagai desain karangan bunga yang menurut Danar sangat indah. Dia sangat tak menyangka jika istrinya itu bisa membuat karya seindah itu.


“Indah sekali.”


“Kak Danar mengagetkan saja.”


Syarah yang terkaget dengan suara Danar yang berada sangat dekat dengannya membuatnya memukul Danar dengan bantal yang ada di kasurnya.


Namun saat teringat perasaanya yang kacau pada Danar, langsung memalingkan muka dari Danar. Dia tidak ingin jatuh pada pesona Danar yang hanya akan menyakitkan bagi dirinya sendiri. Tidak, sudah cukup dia menumpukan harapan pada seseorang yang tak pernah menganggapnya.

__ADS_1


__ADS_2