
Malam itu, Danar jatuh tertidur di pangkuan Syarah karena rasa nyaman yang diberikan Syarah membuatnya menutup mata setelah seharian pikirannya terkuras untuk kakeknya. Syarah tak menjadikan masalah jika malam ini Danar tidur dalam pangkuannya. Walaupun jika boleh mengakui bobot Danar membuat kakinya terasa pegal.
Sepanjang malam Syarah menghabiskan waktu dengan mengelus kepala Danar berharap suaminya lebih nyenyak tidurnya. Syarah yang tadi sudah tidur, sekarang tidak bisa kembali tidur karena matanya sudah terbuka sempurna. Dalam hati Syarah berharap agar suaminya bisa terbuka akan perasaannya seperti ini padanya sebagai seorang istri. Dia paham betul jika dia tidak bisa berharap banyak agar suaminya bisa memberikan hati untuknya karena pernikahan mereka yang didasari oleh permintaan sang kakek semata. Namun siapa tahu jika suatu saat nanti, suaminya akan menyayanginya sebagai seorang istri, jika Tuhan sudah berkehendak.
*****
Malam itu, Syarah terjaga sepanjang malam untuk menjaga pak Pandhu dan juga suaminya. Berharap pak Pandu akan sadar sesegera mungkin. Pagi harinya, Syarah melihat suaminya masih duduk di samping ranjang berniat menghampiri dan menanyakan apa yang sedang dipikirkan suaminya.
"Kak, ini sudah hampir jam 8 pagi kamu tidak mau bersiap untuk berangkat ke kantor?" tanya Syarah pada suaminya.
Pagi tadi saat Danar bangun langsung beranjak menuju ke kursi yang dia tempati semenjak kemarin di samping kakeknya. Dia masih berharap bahwa kakeknya akan segera sadar dari tidurnya yang panjang.
"Aku tak bisa meninggalkan kakek dalam keadaan yang kritis seperti ini, urusan kantor biarlah orang kepercayaanku nanti yang akan mengurusnya. Jadi kamu tidak perlu khawatir," jawab Danar.
"Baiklah jika memang Kakak belum tidak ingin pergi ke kantor," ucap Syarah.
Lalu Syarah meraih hpnya yang tergeletak di atas meja.
"Halo Ratih, tolong kamu kirimkan satu bucket bunga ke alamat rumah sakit yang sudah saya kirim melalui pesan. Pastikan bunga yang kamu kirim adalah bunga-bunga yang masih segar dan berkualitas," ucap Syarah pada pegawainya, Ratih.
"Halo Mbak, iya nanti akan aku siapkan bucket bunga terbaik yang ada di toko dan akan aku kirimkan ke alamat yang dituju," jawab Ratih.
"Terima kasih banyak sudah merepotkanmu di pagi hari," kata Syarah.
"Sama-sama Mbak, ini memang tugas saya," ucap Ratih.
"Oh iya tolong nanti kamu kamu cek kondisi bunga yang ada di kebun, tolong kamu siram dan kalian nanti bekerja tidak perlu sampai selesai, cukup setengah hari saja untuk hari ini karena saya tidak bisa pergi ke toko," ucap Syarah.
__ADS_1
"Baik Mbak, nanti saya akan ke rumah bersama dengan Rahma. Jika ada ada satu hal yang penting nanti akan saya sampaikan kepada Mbak Syarah," kata Ratih.
"Terima kasih Ratih, sudah mau saya repotkan. Semoga harimu menyenangkan," kata Syarah.
Kemudian dia mematikan panggilan teleponnya pada Ratih, tak lama setelah itu hp Danar berdering. Syarah yang berdiri di dekat nakas tempat hp Danar berada segera meraih hp tersebut dan berjalan menghampiri suaminya hendak memberikan hp yang ada panggilan masuk. Danar menerimanya dan melihat nama yang tertera di layar telepon tersebut yang merupakan asistennya.
"Halo, selamat pagi Tuan Danar. Sebelumnya saya mohon maaf, saya menghubungi Tuan karena ada satu hal penting yang harus saya saya katakan kepada Tuan. Hari ini Tuan harus tetap berangkat ke kantor karena pimpinan perusahaan dari Taiwan telah sampai sejak tadi malam dan saya baru mendapat kabar bahwa beliau ingin bertemu langsung dengan Tuan yang merupakan pemilik perusahaan. Beliau berpesan kalau tidak ingin jika Tuan sebagai pemilik digantikan atau diwakilkan oleh siapa pun. Beliau hanya menghendaki bertemu dengan Tuan," jelas asisten Danar.
"Apa kau tidak bisa membatalkannya? Aku sudah katakan aku tidak akan pergi ke kantor dengan alasan apa pun!" jawab Danar.
"TapiTuan, kita tidak bisa membatalkannya investasi perusahaan itu sangat besar di perusahaan. Pimpinan perusahaan tersebut bisa berbuat nekat jika kemauannya tidak terpenuhi," kata asisten Danar tetap berusaha membujuk bos besarnya.
"Apa kau bodoh? Gunakan otakmu untuk menyelesaikan masalah ini!" bentak Danar pada asistennya.
"Aku tidak mau tahu kau harus menyelesaikan ini semua," kata Danar.
Tit Tit Tit
"Kak, apa yang terjadi? Kenapa Kakak terlihat seperti sedang marah?" tanya Syarah pelan-pelan.
"Asistenku menghubungiku dan mengatakan bahwa ada pemimpin perusahaan yang ingin bertemu langsung denganku. Padahal semalam aku sudah mengatakan jika aku tidak akan pergi ke kantor hari ini," kata Danar dengan wajah garangnya.
"Kalau aku boleh tahu, memang ada keperluan apa asisten Kakak menghubungi dan memintamu untuk pergi ke kantor?" tanya Sarah lagi.
"Pemimpin perusahaan dari Taiwan ingin bertemu langsung denganku yang memang belum lama ini kami menjalin kerjasama dan sudah merencanakan untuk bertemu bulan ini. Tapi aku tidak bisa meninggalkan kakek dalam kondisinya seperti ini," ucap Danar kesal.
Syjarah yang mengerti kemarahan Danar pagi ini mengelus pundak dengan pelan memberikan ketenangan.
__ADS_1
"Kak, perusahaan juga adalah tanggung jawab Kakak. Kakek sudah memberikan kepercayaan Kakak untuk menjalankan perusahaan. Kakak harus bisa menjalankannya dengan baik pekerjaan Kakak. Perusahaan itu adalah salah satu amanah dari beliau, jadi apa pun yang terjadi tetap dijalankan," kata Syarah.
Mendengar penjelasan dari istrinya, hati Danar menjadi tergerak. Sedikit banyak di paham dan mengerti kalau yang dijelaskan Syarah memang benar adanya.
"Baiklah aku akan pergi, tapi setelah urusanku selesai, aku akan segera kembali lagi ke sini. Kamu tetaplah disini menjaga kakek jangan pergi kemana pun. Jangan khawatir aku sudah memberikan dua penjaga yang akan siap sedia di depan pintu jika kamu membutuhkan sesuatu. Segera hubungi aku jika sesuatu terjadi dan Ingat jangan sembunyikan apapun dariku!" peringat Danar pada istrinya.
Hari itu akhirnya Danar pergi ke kantor untuk memenuhi kewajibannya menjalankan pekerjaan, sedangkan Syarah tetap tinggal di dalam kamar perawatan pak Pandu untuk menjaga beliau.
Syarah menjaga pak Pandu sambil membacakan Alquran berharap Sang Kuasa memberikan kesehatan dan pak Pandhu segera pulih dari sakitnya. Dia juga mengajak pak Pandu berbicara walaupun tidak ada tanggapan dari pak Pandu namun dia tidak lelah untuk tetap mengajak berkomunikasi. Pagi berganti menjadi siang, namun sepertinya urusan Danar tidak bisa diselesaikan dengan cepat sehingga dia belum kembali ke rumah sakit.
Saat Syarah hendak beranjak untuk menunaikan sholat dhuhur, tak sengaja matanya menangkap gerakan jari pak Pandhu.
"Kakek, Kakek sudah sadar," ucap Syarah senang melihat kakeknya sudah siuman.
Dia segera memanggil dokter dan juga perawat yang menangani pak Pandu. Tak lama, dokter dan perawat yang mendampingi memasuki ruangan dengan tergppoh-gopoh. Dokter mulai mengecek kondisi pak Pandu setelah hampir satu hari tidak sadarkan diri. Syarah yang melihat kesadaran pak Pandu segera menghubungi suaminya. Namun dilihat baterai hpnya dalam kondisi limit sehingga tidak bisa melakukan panggilan suara.
Saat dokter sudah pergi dari ruangan, pak Pandu menggerakkan tangannya seolah memberikan isyarat pada Syarah untuk mendekat. Syarah yang mengerti isyarat yang diberikan oleh kakeknya segera mendekat menuju ke arah pak Pandhu.
"Kakek, Alhamdulillah Kakek sudah sadar. Kak Danar dan aku sangat mengharapkan kesadaran Kakek, syukurnya Kakek sudah bisa sadar seperti sekarang," ucap Syarah sambil menggenggam tangan pak Pandhu.
"Syarah aku sangat ingin mengucapkan banyak terima kasih kepadamu. Kamu sudah mau menerima Danar, cucuku, sebagai suamimu. Kamu dengan ikhlas menerimanya. Bahkan kamu belajar dengan keras untuk bisa menjadi seorang istri yang bisa mendampingi Danar. Aku tahu persis bagaimana watak Danar. Bagaimana pun sikapnya, apa pun tindakannya, aku mohon kepadamu terimalah. Tetaplah menjadi istri yang baik untuknya dan aku mohon jangan pernah berpikir untuk meninggalkan cucuku. Aku tahu semua perjuanganmu itu bukanlah hal yang ringan, tapi kau selalu berjuang. Bersabarlah mungkin semuanya membutuhkan waktu. Tapi percayalah bahwa kebahagiaan akan datang pada orang-orang yang telah berjuang. Cintai Danar sekerasnya. Jangan pernah berhenti. Dia seperti ini karena dia tidak pernah merasakan kasih sayang yang tulus dari seseorang," kata pak Pandu.
"Kakek, Kakek jangan banyak berbicara dulu. Kakek baru saja sadar, lebih baik Kakek beristirahat," ucap Sayrah pada pak Pandhu.
"Aku harus mengatakan semuanya sekarang karena aku tidak tahu apakah aku masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengatakan semuanya padamu. Jagalah Danar, tempatkan selalu dia di hatimu. Aku harus pergi, seseorang sudah menungguku di sana. Terima kasih, Syarah," kata pak Pandhu.
"La illaha illallah muhammadurrasulullah."
__ADS_1
Setelah mengatakannya kepalanya tertoleh ke samping dengan senyum dan mata yang tertutup.
"Kakek!"