
“Kakek!”
Melihat pak Pandhu terbujur lemah seperti itu, Syarah segera memencet tombol untuk memanggil dokter dan perawat untuk segera datang ke ruangan. Saking paniknya dia segera keluar untuk meminta pengawal yang berjaga di depan ppintu untuk memanggil dokter agar segera sampai. Walau memang ruangan dokter dan ruang perawatan pak Pandhu tidak jauh namun Syarah terlalu khawatir melihat kondisi pak Pandhu.
“Dokter tolong kakek. Tiba-tiba beliau pingsan seperti itu. Tolong selamatkan beliau, Dok,” pinta Syarah pada dokter Panca.
“Iya Syarah, tolong kamu tunggu di luar agar kami bisa menjalankan pekerjaan dengan baik,” ucap dokter Panca.
“Tolong selamatkan kakek, Dok,” ucap Syarah sebelum akhirnya keluar kamar untuk menunggu dokter beserta para perawat bekerja untuk menyelamatkan pak Pandhu.
Syarah hanya bisa melihat bagaimana dokter dan perawat disana berusaha membantu pak Pandhu untuk bisa selamat dari mautnya. Dengan perasaan khawatir dia meminta hp salah satu pengawal untuk menghubungi Danar. Berkali-kali Syarah mencoba menghubungi hp suaminya namun sangat sulit berhasil diangkat. Dia tak ingin menyerah dan kembali menelpon Danar, hingga di panggilan ke tujuh panggilannya berhasil diangkat.
“Halo, Kak,” ucap Syarah dengan tangisan.
“Syarah? ada apa? Apa yang terjadi? Kamu menggunakan hp siapa ini?” tanya Danar beruntun.
“Kak, tolong segera kembali Kak. Kakek kritis, sekarang sedang ditangani oleh dokter. Tolong segeralah kemari,” kata Syarah sambil menangis sesegukan.
“Aku kesana sekarang. Jangan matikan hpnya. Aku juga harus tahu keadaan disana,” perintah Danar pada istrinya.
Karena fokus berbicara dengan suaminya, Syarah sampai tak menyadari jika pintu kamar rawat pak Pandhu sudah dibuka dan dokter Panca keluar dari ruangan dengan wajah menyiratkan kesedihan.
“Syarah,” panggil dokter Panca.
“Dokter, Dokter apakah semua berjalan baik? Aoakah kakek bisa diselamatkan? Kakek baik-baik saja, bukan?” tanya Syarah beruntun.
“Syarah, kami dari pihak medis sudah berusaha maksimal untuk menyelamatkan beliau. Namun Tuhan jauh lebih menyayanginya. Danar ampak harus ikhlas menerima dan bersabar, pak Pandhu sudah dinyatakan telah tiada. Saya mohon maaf, saya sudah berusaha dengan keras untuk bisa menyelamatkan beliau,” jelas dokter Panca dengan tenang sambil memegang pundak kecil Syarah.
Sementara panggilan masih terhubung, Danar bisa mendengarkan penjelasan dari dokter Panca kepada Syarah tadi. Dia yang baru masuk mobil dan akan berangkat ke rumah sakit sangat terkejut dengan penjelasan dokter Panca pada Syarah.
__ADS_1
“Apa? Kau bercanda bukan? Jangan bicara macam-macam dokter!” bentak Danar keras.
“Aku minta maaf Danar, tapi itulah kenyataan yang harus aku katakana pada kalian. Aku mengucapkan turut berduka cita sedalam-dalamnya untuk kalian,” ucap dokter Panca lemah.
“Dokter! Aku sudah membayarmu mahal-mahal dan ini balasan yang kau berikan! Lakukan yang terbaik pada kakek! Jika perlu aku akan berikan apa pun yang kau mau demi menyelamatkan kakek!” ucap Danar berapi-api.
“Danar, semua adalah takdir dari Yang Maha Kuasa,” ucap dokter Panca.
“Tidak, jika terjadi sesuatu pada kakekku. Aku tidak akan segan-segan untuk menghancurkan rumah sakit itu!” peringat Danar.
Namun panggilan itu terputus karena hp tiba-tiba mati. Syarah yang terlalu kager dengan penjelasan dokter masih tidak percaya dan termangu. Tatapan matanya kosong ke kamar yang bisa dilihatnya melalui kaca di pintu. Para perawat di ruangan mulai melepas satu per satu alat bantu pernapasan yang melekat di tubuh kakeknya. Mereka menarik selimut sebatas kepala untuk menutupi badan pak Pandhu.
“Kakek ….”
Syarah luruh ke lantai mendengar pernyataan yang disampaikan oleh dokter Panca dan melihat pak Pandhu yang sudah terbujur kaku membuatnya merasa sedih menghadapi kenyataan jika seseroang yang sudah belum lama ini menjadi kakeknya sudah pergi meninggalkan dunia. Waktu yang dia jalani selama dua bulan ini terasa berjalan cepat, seolah baru kemarin dia diminta untuk menemui pak Pandhu yang berstatus sebagai pemilik perusahaan tempat dia bekerja. Pertemuan yang menjadi gerbang kehidupan Syarah menjadi berubah total seperti sekarang ini.
Sejak didiagnosis penyakit tersebut, dokter Panca sudah jauh-jauh hari meminta pak Pandhu untuk berobat di luar negeri yang memiliki fasilitas yang jauh lebih lengkap dan pengobatan disana akan lebih terjamin. Namun beliau tetap bersikeras untuk tetap berada di negara sendiri, dia mempercayakan secara penuh pada dokter Panca untuk mnegobatinya dan sebagai dokter pribadi. Padahal jika pak Pandhu mau, biaya pengobatan bukanlah menjadi masalah, namun dia merasa masih memiliki tanggungjawab penuh pada perusahaan yang dirintisnya dari nol. Jika kabar sakitnya tersebar maka akan menjadi kesempatan lawan bisnisnya untuk menyerang, itulah risiko berbisnis.
Dokter Panca yang memang mengurus dan menangani pak Pandhu dalam waktu yang tidak singkat dapat memahami dan mengerti karakter asli dari pak Pandhu. Dia sangat kagum pada sosok pak Pandhu sebagai seorang laki-laki yang kuat, bertanggung jawab namun dibalik kegarangan yang selalu ditampilkan pada semua orang, jauh di dalam hatinya terdapat kasih sayang yang teramat besar. Kekayaan yang dimiliki oleh pasiennya itu tak lantas membuatnya menjadi kikir dan suka berfoya-foya.
******
Sementara itu Danar yang berada di perjalanan bersama dengan sopirnya diselimuti oleh perasaan bersedih, khawatir, cemas dan berpikir jika semua ini adalah kebohongan. Sumpah serapah, cacian dan makian tak berhenti terucap dari bibir Danar. Perasaannya yang campur aduk membuat emosinya tak terkendali di dalam mobil. Sedangkan sopir Danar terlihat menahan kecemasan saat mendengar jika tuan besar tempat dia bekerja sudah tak bernyawa lagi. Namun sekarang dia sedang mengendarai jadi dia harus tetap fokus agar bisa membawa mereka sampai ke tujuan dengan selamat, jangan sampai yang tak bernyawa akan bertambah jumlahnya.
“Hei! Lambat sekali kamu bawa mobilnya! Cepat!” bentak Danar pada sopirnya.
“Baik Tuan,” ucap sopir Danar gugup.
Selama bekerja sebagai sopir Danar, tak pernah sekali pun dia mendapat bentakan atau amukan dari majikannya. Danar yang selalu dingin dan kaku namun tidak pernah berbicara dengan nada tinggi seperti itu. Apabila berbicara dia selalu dengan nada rendah namun tersimpan kekuatan yang besar, tuannya itu selalu mengontrol emosi yang dirasakannya agar lawan bicara atau orang di sekitarnya tak bisa membaca emosinya. Saat itu, Danar berubah terbalik dari Danar yang biasanya tapi sopirnya menerima itu mengingat Danar sedang terluka dengan kabar duka yang pada kakeknya.
__ADS_1
Sopir Danar berhasil membawa mobil dalam waktu memangkas hampir setengah dari waktu normal yang dibutuhkan untuk bisa sampai di rumah sakit tempat pak Pandhu dirawat. Danar keluar dari mobil dengan kasar dan segera memasuki rumah sakit dengan berlari secepat kilat. Tujuannya hanya satu, menemui kakeknya, hingga tak memperdulikan kondisi di sekitarnya yang banyak lalu lalang manusia yang tak Danar hiraukan bila tak sengaja menabrak orang yang menghalangi jalannya.
Dalam hati Danar terucap, “Tuhan jangan ambil kakek dariku, kumohon ….”
Saat menuju lift, di pencet tombolnya dengan kasar namun lift tidak segera terbuka dan menunjukkan sedang naik ke lantai paling atas. Tak ingin membuang waktu lebih lama, Danar menggunakan tangga darurat untuk bisa sampai di ruang rawat. Dia yang memang memiliki badan yang rajin berolahraga tak membuatnya kelelahan dengan mudah saat menaiki tangga.
Sampai di lantai tempat kakeknya dirawat, tak jauh dari tempatnya berdiri dia bisa melihat Syarah terduduk di lantai sampai menangis tersedu-sedu. Dia berlari menghampiri orang-orang yang ada di depan kamar kakeknya.
“Dokter! Aku ingin bertemu kakekku!” ucap Danar pada dokter Panca sambil ingin mendorong dokter itu agar menjauh dari pintu.
“Danar tunggu, tenangkan dirimu,” ucap dokter Panca.
“Tenang kau bilang? Minggir! Kau memang tak layak menjadi dokter untuk kakekku! Aku sudah melarang dari awal. Minggir!” bentak Danar.
“Danar, aku paham jika ini sangat berat untukmu. Kau pasti terpukul, tapi tuan Pandhu memang sudah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa,” kata dokter Panca.
“Omong kosong! Aku akan bawa kakekku ke rumah sakit yang jauh lebih berkualitas, ampak ! Jika terjadi sesuatu pada kakekku, bersiaplah aku akan menyeretmu ke pengadilan!” ancam Danar dengan kilatan mata berapi-api.
“Aku tahu kamu terpukul, tapi inilah takdir yang harus kau terima, Danar,” ucap dokter Panca masih berusaha menenangkan Danar.
“Banyak bicara!” ucap Danar.
Danar memasuki kamar rawat kakeknya dengan paksa, baru memasuki kamar dia melihat kakeknya yang terbujur kaku dengan selimut yang menutupi sampai leher. Dengan langkah takut dan lunglai Danar menghampiri kakeknya. Melihat dari dekat laki-laki yang sudah nampak damai terlelap bahkan sambil tersenyum.
“Kakek,” ucap Danar.
Menggoncang tubuh kakeknya dengan kekuatannya yang besar berharap bisa membangunkan. Tapi kakeknya masih setia menutup mata.
“Kakek! Kau tidak boleh pergi!”
__ADS_1