Perawan Tua Istri Sang Duda

Perawan Tua Istri Sang Duda
62. Sebuah Misteri


__ADS_3

Kedatangan Akira tanpa mengatakan sebelumnya membawa perubahan pada hubungan Danar dan Syarah. Seperti malam ini, mereka tidur di ranjang rumah sakit dengan saling memeluk seolah lupa akan kejadian yang terjadi sebelumnya. Untungnya ranjang itu berukuran cukup luas sehingga bisa menampung tubuh mereka berdua terlebih ukuran tubuh Danar yang besar.


Malam itu, hanya Syarah yang tidur karena Danar masih setia memandang wajah Syarah yang membawa kedamaian. Perempuan yang seharusnya dia jaga namun berkali-kali dia sakiti perasaannya, tak hanya itu dia juga melakukan tindakan yang membuat istrinya terluka. Terbukti istrinya sampai masuk rumah sakit karena tindakan bodohnya dan gegabahnya dia dalam melakukan sesuatu.


Dia tak bosan menatap wajah yang menemaninya selama tiga bulan ke belakang ini dengan penuh kesabaran dan rasa cinta. Namun sepertinya sudah hampir sebulan dia mengenal wanita itu sejak dia bekerja di kantornya sebagai asisten. Pikirannya melayang pada ingatan-ingatan di awal perkenalan mereka.


Syarah, gadis muda yang dipekerjakan menjadi asistennya. Seorang gadis cantik natural tanpa ada perawatan berlebih untuk bisa terlihat cantik seperti perempuan zaman sekarang. Gadis yang memiliki pendirian dan berkeinginan tinggi. Selama ini dia bisa dengan mudah mendapatkan semuanya, tapi perempuan itu dengan usaha besarnya untuk meraih keinginannya.


Kecupan tak bisa dia hentikan di setiap wajah Syarah. Ketika perempuan itu menggeliat Danar akan mengelus punggung Syarah untuk membawa perempuan itu kembali tidur. Hanya dengan memandang wajah istrinya saja, Danar mendapat ketenangan dan tak ingin melewatkan barang sedetik.


**


Sementara itu, seorang wanita tengah menggeliat dari tidurnya dan merasakan deru nafas di sampingnya. Merasakan cahaya matahari melesat masuk mengganggu tidurnya akhirnya dia membuka mata dari tidurnya yang terasa begitu nyenyak. Namun dia merasakan ada beban yang menimpa hampir seluruh badannya.


Saat matanya terbuka dia merasa aneh di bagian bawah tubuhnya, terlebih ada sepasang tangan yang melingkar dan menumpukkan badannya pada perempuan itu.


Seketika kesadaran penuh kembali pada perempuan itu membuatnya memutarkan kepala melihat ruangan tempat tidurnya yang terasa asing. “Hah tidak, dia bagaimana bisa? Oh Tuhan jangan-jangan semalam … itu tidak mungkin.” Perempuan itu melihat dirinya dalam keadaan tanpa mengenakan apa pun dalam dekapan seorang pria yang masih mengarungi mimpi.


Dia sangat terkejut dan menutup mulutnya berusaha menepis dugaannya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Tanpa memerdulikan orang disampingnya akan terganggu karena pergerakannya, dia bangkit dari tidurnya dan mendorong pria di atasnya menjauh dari tubuhnya. Perempuan itu menepis segala pemikirannya dan memunguti pakaiannya yang berserakan di berbagai titik di ruang tidur.


Dia mengenakannya asal, dalam pikirannya kini hanya bagaimana cara agar dia bisa segera pergi dari tempat itu. Tapi ketika menyadari bahwa pakaiannya robek dan tidak mungkin bisa dipakai, perempuan itu memungut kemeja laki-laki itu dan pakaian dalamnya. Untungnya dia bisa menemukan tas selempangnya dengan mudah, jadi dia bisa pergi dari ruangan itu tanpa kesulitan.

__ADS_1


Perempuan itu segera keluar dari apartemen dan melangkah keluar secepat mungkin dengan keadaan acak-acakan khas orang bangun tidur. Tak memperdulikan penampilannya, dia keluar bangunan dan masuk taksi yang sedang mangkal di depan apartemen. Dia menyebutkan alamat tempat tinggalnya pada sopir taksi dan mobil menuju alamat yang dimaksud.


Sopir taksi mencuri-curi pandang pada penumpang wanita yang duduk di kursi penumpang. Penampilan yang acak-acakan dengan kancing tak beraturan, terlebih wajah yang terlihat bangun tidur seperti belum mencuci muka. Dia sama sekali tidak ada pikiran buruk tentang wanita itu dengan menganggap wanita itu adalah wanita panggilan atau sewaan.


“Sebelumnya maaf, maaf sekali apabila saya terlihat ingin ikut campur dengan Mbak. Tapi jika Mbak membutuhkan aparat yang berwenang, saya bisa antarkan ke sana. Mereka pasti dapat membantu Mbak,” ucap bapak sopir dengan nada sopan.


“Tidak, antarkan saja saya ke alamat yang saya sebutkan tadi Pak,” ucap perempuan itu menolak. Sopir taksi hanya mengangguk tak ingin memaksa.


Bapak sopir taksi merupakan seorang ayah yang memiliki anak perempuan. Sedikit banyak dia bisa menangkap dan merasakan apa yang dirasakan oleh penumpang perempuan itu. Dia khawatir jika perempuan itu sedang mengalami sesuatu hal buruk ynag menimpanya.


Perempuan yang menjadi penumpangnya itu, terlihat seperti korban pelecehan. Dia terlihat menyedihkan hanya dari penampilannya saja. Terlebih rasa takut bercampur terkejut dan sedih bercampur menjadi satu terpancar dari matanya. Tapi sopir taksi tidak mau banyak bertanya, di sini tugasnya hanyalah sebagai sopir.


Perempuan itu mengambil selembar uang kertas berwarna merah pada bapak sopir taksi. “Tidak perlu Mbak, gunakan saja uang Mbak untuk keperluan lain. Saya hanya mendoakan supaya Mbak diberi kekuatan dan dalam lindungan Tuhan.” Penolakan sopir taksi membuat perempuan itu bingung, apalagi sopir itu seolah mengerti dengan kejadian yang menimpa dirinya.


“Ini adalah hak Bapak, tolong diterima. Terima kasih,” ucap perempuan itu segera berlalu keluar dari mobil dan berlari memasuki bangunan rumah.


**


Begitu memasuki kamarnya, dia menjatuhkan diri di atas kasur empuk yang menjadi tempat tidurnya selama tinggal di indekosnya. Dengan posisi tengkurap, dia meluapkan tangisannya kuat-kuat di atas bantal untuk meredam suara tangisnya. Tangannya mencengkeram bantal itu kuat-kuat menyalurkan perasaannya kini.


Dia menangis dan menangis meluapkan ketakutannya, kekhawatirannya dan kegundahan yang dia rasakan. Begitu memilukan membayangkan kejadian buruk yang mungkin saja terjadi di malam hari tadi. Hal yang seharusnya tidak terjadi pada dua insan tanpa ada ikatan, kejadian yang sangat tidak diperbolehkan dalam keyakinannya sangat besar kemungkinannya terjadi di malam tadi.

__ADS_1


Bangun dari posisinya dan melangkah ke kamar mandi. Dia menyalakan shower membiarkan air pagi yang dingin mengguyur tubuh kurusnya membasahi pakaian yang dikenakan. Dia menangis sejadi-jadinya di bawah guyuran shower deras itu membiaskan air mata yang terus mengalir dari matanya.


Dia meraung sedih, kadang berteriak dan menggosok tubuhnya dengan kasar. Hingga tubuhnya meluruh ke lantai kamar mandi tak kuat menahan kesedihannya. Dia menjambak rambut pendeknya sendiri seolah ingin menghukum dirinya atas kejadian yang terjadi semalam.


Rasa sakit yang dia rasakan di bagian pribadinya membuat dugaannya begitu kuat. Perempuan itu menangis dan memukul-mukul dinding kamar mandi sampai tangannya lemas kehabisan tenaga. Tubuhnya menggigil kedinginan di bawah air dingin yang tak berhenti membasahinya hingga mulai putih dan berkerut.


“Aaa!” teriak perempuan itu meluapkan perasaannya yang campur aduk. Dia memeluk tubuhnya sendiri merasakan kedinginan yang melingkupi.


Hancur, itulah yang dia rasakan saat ini. Setelah hampir 2 jam di bawah guyuran air, dia berdiri dengan sempoyongan dan mematikan keran. Perempuan itu berjalan keluar meraih bathrobe untuk membalut tubuhnya yang terasa sangat dingin dan memucat. Dia berjalan tertatih ke ranjang dan menjatuhkan diri berbaring miring dengan menutupi diri dengan selimut.


Dalam kondisi gelap tanpa penerangan lampu dan cahaya matahari yang sulit tembus dibalik gorden yang tertutup rapat perempuan itu mengeluarkan air matanya.


“Mama, jika kau melihatku. Aku mohon maafkan aku, maaf, maaf ….”


Dia terus mengulang kata maaf hingga dia jatuh tertidur karena tubuhnya yang sudah tidak sanggup menahan kesadarannya dan mengantarkannya pada alam sadarnya.


Siapakah perempuan ini? Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Apakah dia hanya berhalusinasi saja?


Jangan lupa komentar dan like sebagai bentuk dukungan. Terima kasih sudah membaca.


Silahkan mengunjungi laman instagram saya di @dewi.nur.kh untuk informasi update seputar novel ini. Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2