
6 bulan kemudian
Sudah hampir setengah tahun, Syarah bekerja di perusahaan ini. Syarah bersyukur selama bekerja disini tidak ada satu rintangan atau pun kesalahan besar yang ia perbuat. Tentang Danar, dia masih dengan sikapnya yang dingin dan kaku. Serta tanpa ada bantahan, sehingga selama Syarah bekerja dengannya, Syarah mulai memahami bahwa Danar tak bisa dibantah jadilah Syarah menuruti semua perkataannya saja.
Hari ini, Syarah sudah tanda tangan kontrak sebagai pegawai tetap. Dia senang karena perjuangannya merantau tidak sia-sia.
Kedua orang tuanya pun juga bahagia, walaupun mereka mengkhawatirkan Syarah.
Hingga kini Syarah bisa memiliki banyak teman kantor. Namun hanya beberapa saja yang dekat khususnya Risa dan Rizal. Mereka sering keluar bersama, terkadang saat malam minggu mereka menghabiskan waktu bersama.
*****
“Sya, keruangan saya sekarang!” perintah Danar via suara.
“Baik, Pak,” jawab Syarah.
Tok tok tok
“Permisi Pak, ada yang bisa saya bantu?” tanya Syarah sopan.
“Tekankan punggungku!” perintah Danar.
Perkataan Danar itu membuat Syarah merasa bahwa Danar menyuruhnya untuk memijat Danar. Tapi Syarah rasa Danar masih enggan untuk sekedar meminta tolong padanya untuk memijat Danar.
“Kalau kau tidak mau pergilah!” sergah Danar terdengar lebih tinggi.
“Tidak, Pak, saya akan memijat sebisa saya kalau terlalu keras katakan saja,” ucap Syarah.
Syarah mulai menekan mulai dari pundak, Syarah dapat merasakan otot yang cukup kaku sehingga dipijat santai namun dengan tekanan. Cukup lama Syarah berkutat di pundak beralih ke bagian punggung hingga tiba-tiba.
Ehm ehm
Terdengar suara berdeham cukup keras untuk mengagetkan Syarah. Mungkin karena Syarah terlalu fokus memijat hingga tak sadar akan kehadiran seseorang. Syarah rasa Danar pun tidak menyadari karena dia juga kaget, tadi dia menikmati pijatan Syarah di punggungnya hingga terdengar desisan keenakan.
“Kakek ada apa kemari tanpa mengabariku dulu? Sya, kembalilah ke ruanganmu!” perintah Danar.
“Baik, Pak, saya permisi dulu,” ucap Syarah pamit sambil beralalu pergi.
Sebelumnya Syarah menunduk memberikan salam hormat untuk tamu yang tiba-tiba hadir. Beliau adalah Pandhu Wijaksana, pemilik perusahaan sekaligus kakek dari Danar Wijaksana. Fakta tentang hubungan mereka Syarah ketahui dari informannya, siapa lagi kalau bukan Risa.
*****
“Beb, makan bareng yuk,” ajak Risa yang tiba-tiba sudah ada di depan meja Syarah.
“Tapi di dalam ada pak Pandhu, aku khawatir kalau aku tinggalkan makan siang pak Danar mencariku membutuhkan sesuatu. Rasanya aku lelah kalau dia terus menyalahkanku karena hal kecil,” tolak Syarah dengan nada lesu.
“Duh sabar ya, yasudah aku tinggal dulu. Pesanlah makanan dari kantin, biar diantar kemari. Aku pergi makan sendiri saja ya. Bye,” ucap Risa.
*****
“Ada apa, Kek? Kalau bukan hal penting tidak mungkin Kakek datang kemari,” ucap Danar menebak.
“Kau sudah paham tentangku. Kakek sudah tua, aku ingin menikmati masa tuaku tanpa memikirkan pekerjaan. Aku yakin kau sudah tahu itu,” kata Pak Pandhu.
“Lalu apa yang Kakek inginkan? Kalau Kakek ingin memberikan perusahaan ini padaku tinggal berikan saja. Apa susahnya, Kakek saja yang membuat ini rumit,” ucap Danar tersimpan nada kesal.
“Kalau kamu mau perusahaan ini atas namamu, kau harus mengikuti perintah kakek!” perintah pak Pandhu.
“Kek, kau tau aku sudah mengorbankan keinginanku demi kau, dan sekarang Kakek mau apa lagi dariku? Apa yang kulakukan selama ini masih kurang untukmu?” tanya Danar dengan amarah menggebu.
__ADS_1
Kali ini Danar benar-benar sudah tidak bisa menahan amarahnya. Selama Danar hidup selalu menuruti perkataan kakeknya, lalu apa yang masih diinginkan kakeknya darinya ini.
“Kau tahu, aku melakukan semua ini hanya untuk kebahagiaanmu. Kau masih buta dengan itu!" murka Pak Pandhu.
Danar hanya terdiam mendengarnya, jika Danar membuka suara dia tak yakin bisa menahan amarah yang selama ini dia pendam.
“Jika kau mau mengambil alih perusahaan ini, kau harus menuruti perkataanku. Kau harus menikah dengan wanita yang kakek pilih untukmu!" perintah Pak Pandhu tegas.
“Bahkan untuk urusan jodoh kau juga masih ingin mengaturku?” tanya Danar.
“Demi kebaikanmu!” tegas Pak Pandhu, “Tidak ada bantahan!” sambung Pak Pandhu.
Brakkk
Suara pecahan berbagai barang diatas meja terdengar di ruangan Danar. Setelah kepergian pak Pandhu, ia melampiaskan kekesalannya pada kakeknya. Kakek yang merawatnya sejak berusia 3 bulan karena kedua orang tuanya meninggal setelah mengalami kecelakaan.
Danar hidup selalu dengan mematuhi segala aturan hidup yang pak Pandhu terapkan. Ia juga selalu menuruti apa pun yang dikatakan oleh kakeknya itu.
*****
“Permisi Pak, Pak apakah masih ada yang masih harus saya kerjakan?” tanya Syarah yang terkejut dengan kondisi ruangan Danar yang sangat kacau.
Posisi Danar membelakangi Syarah dengan menghadap jendela besar, setelah beberapa detik tak ada jawaban, Syarah memutuskan untuk bertanya lagi.
“Maaf, Pak, apakah masih ada yang harus saya kerjakan?” tanya Syarah dengan suara lebih dikeraskan.
Danar membalikkan badan, “Menikahlah dengan saya,” ucap Danar.
“Ha??” teriak Syarah terkejut sambil menutup mulut.
Mata Syarah tak sengaja melihat botol di atas meja yang ia yakini adalah minuman.
Saat Syarah hendak membuka suara, Syarah melihat kepala Danar diletakkan di meja sepertinya dia teler.
'Apakah Danar teler, haduh harus bagaimana aku? Apa aku tinggalkan saja dia disini? Atau aku tunggu saja? Tapi aku takut jangan-jangan disini ada hantu.' Batin Syarah bingung harus bagaimana.
Syarah menghampiri Danar memastikan apakah Danar benar-benar tidur atau terjadi sesuatu padanya.
“Pak, bangun, Pak,” ucap Syarah sambil menggoyang-goyangkan badan Danar yang dua kali lebih besar dari Syarah.
Tapi tak ada respon apa pun dari Danar. Syarah bingung harus bagaimana, mau mengantarkannya pulang tidak mungkin karena Syarah tidak tahu tempat tinggal Danar. Kalau Syarah menunggunya disini, bagaimana jika ada yang berpikir macam-macam. Terlintas dipikiran Syarah untuk bertanya pada Ayesha, asisten pak Pandhu, dimana Danar tinggal.
“Halo, Mbak, maaf mengganggu malam-malam. Saya mau nanya, apakah pak Danar tinggal bersama pak Pandhu?” tanya Syarah langsung ke topik karena bingung.
“Iya Sya, mereka tinggal serumah. Memang ada apa?” tanya Ayesha.
“Em ... tidak apa-apa Mbak. Baiklah, terima kasih. Maaf mengganggu malam-malam,” ucap Syarah.
Jujur Syarah bimbang, apakah dia harus mengantarkan Danar ke rumah atau membiarkannya saja. Lama Syarah menimbang-nimbang tak sengaja mata Syarah menangkap sebuah pintu di sisi ruangan. Syarah yang penasaran memutuskan untuk menghampiri.
Saat dia buka ternyata berisi tempat tidur yang dia yakini adalah kamar istirahat Danar. Langsung saja Syarah putuskan untuk memindahkan Danar ke dalam kamar.
Memindahkan Danar ke dalam kamar membutuhkan usaha yang cukup besar, dengan segenap tenaga Syarah memindahkan.
“huhh akhirnya, punya badan sebesar kingkong,” rutuk Syarah pada Danar.
Setelah itu Syarah melepaskan ikatan dasi, melepas jas dan sepatunya. Baru kali ini Syarah mencium bau minuman itu, rasanya Syarah ingin muntah saja. Selesai mengerjakannya Syarah bergegas pulang karena badannya terasa remuk.
Di lobi, Syarah berpapasan dengan pak Pandhu. Syarah mengucapkan salam sopan padanya, sebenarnya Syarah sedikit takut jika berhadapan dengan pak Pandhu. Aura yang memancar dari pak Pandhu begitu mengerikan, yang pastinya menurun ke cucunya.
__ADS_1
“Selamat malam, Pak,” sapa Syarah sambil tersenyum sopan menunduk.
Ia menghentikan langkahnya dan memandang Syarah sebentar. Walaupun Syarah tak mendongak tapi dia dapat menangkap bahwa pak Pandhu seperti sedang memindainya.
Kemudian pak Pandhu hanya mengangguk dan berjalan begitu saja yang diikuti oleh pengawal pribadinya.
*****
Pagi harinya
“shh kepalaku berat sekali,” ucap Danar sambil memegang kepala
Danar merutuki menyadari kebodohannya, "Bagaimana aku bisa meminum minuman itu lagi apalagi posisiku kini di kantor?" ucap Danar sambil mengacak-acak rambutnya.
Danar putuskan untuk mandi untuk mendinginkan kepalanya yang berdenyut.
Saat mandi, baru Danar sadari, bagaimana dia bisa berada di kamar seingatnya dia minum di mejanya semalam. Danar memaksa untuk mengingat yang terjadi semalam, tapi dia tidak mengingat apapun.
Di tempat lain.
“Pak, pesan buburnya dua tanpa kacang," ucap Syarah.
Syarah membeli sarapan untuk dia makan di kantor karena sekarang ia kesiangan.
Karena semalam ia harus mengurus bosnya dulu, ia harus pulang terlambat. Syarah membeli dua bungkus bubur untuknya dan Danar. Syarah mengira bahwa pasti bosnya masih di kantor dengan kondisi efek teler semalam.
*****
“Pak, saya ada bubur, kalau Bapak belum sarapan silahkan dimakan. Tapi buburnya saya pesan tanpa kacang,” ucap Syarah menawarkan.
“Iya,” jawab Danar.
Kemudian Syarah kembali ke tempatnya, tidak ada kata terima kasih karena memang Syarah tahu Danar akan sangat sulit untuk mengucapkan terima kasih. Saat akan membuka pintu Syarah terkejut karena pak Pandhu ada di hadapannya. Tapi segera dia kembalikan kesadarannya.
“Selamat pagi, Pak Pandhu,” sapa Syarah.
“Pagi,” jawab pak Pandhu.
*****
“Ada apa, Kek?” tanya Danar.
“Aku hanya ingin memastikan saja kau sudah berada di kantor atau belum. Semalam kau tak pulang, tapi sepagi ini kau sudah rapi di kantor,” jelas pak Pandhu.
“Sudahlah aku bukan anak kecil yang harus kau khawatirkan,” ucap Danar.
Pak Pandhu tidak sengaja menangkap kotak makanan. Ia teringat bahwa tadi di meja sekretaris Danar, ia melihat kotak yang sama. Mengingat itu ia tersenyum tipis, hanya dia dan Tuhan yang tahu yang dipikirkannya.
“Malam ini kita makan malam bersama di restoran biasa, kakek tunggu,” ajak pak Pandhu.
Setelah mengatakan itu, pak Pandhu pergi meninggalkan ruangan cucunya.
'Pasti ada sesuatu. ', ucap Danar dalam hati yang sudah hafal tabiat kakeknya.
*****
“Kakek sudah memutuskan, bahwa yang akan menjadi istrimu adalah Syarah. Tidak ada yang bisa menolak dan membantah!”
Terima kasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak di komen dan berikan like sebagai bentuk dukungan pada karya pertama saya
__ADS_1