Perawan Tua Istri Sang Duda

Perawan Tua Istri Sang Duda
42. Pemulihan


__ADS_3

Terima kasih sudah membaca, jangan lupa komen dan like sebagai bentuk dukungan pada karya saya


Keadaan rumah setelah kepergian pak Pandhu masih diselimuti kesedihan. Walaupun aktivitas rumah sudah berjalan normal oleh pegawai rumah namun mereka masih belum sepenuhnya terbiasa setelah kepergian tuan rumah. Danar dan Syarah juga masih belum pulih sempurna dari kesedihannya, terutama Danar.


Setelah kepergiaan kakeknya, dua hari Danar tidak pergi ke kantor dan hanya mengurung diri di dalam ruang kerjanya. Hanya Syarah yang dia perbolehkan untuk masuk bertemu dengannya. Semua urusan pekerjaan untuk sementara waktu dia alihkan ke tangan kanan pak Pandhu yang sudah bekerja semenjak perintisan perusahaan awal. Danar masih enggan untuk melakukan aktivitas apa pun, dia sangat sedih hingga membuatnya tak ingin melakukan apa-apa selain berdiam diri menerima kesedihan.


Pada hari ketiga setelah kepergian kakeknya, Danar dipaksa untuk pergi ke kantor karena sudah waktunya untuk rapat saham dan investasi di perusahaan. Jika dia tidak pergi maka rapat tidak bisa terlaksana. Pertemuan itu dihadiri oleh pemegang saham dan investor yang tidak bisa dijadwalkan ulang karena sebagian besar peserta rapat itu bukan orang biasa. Sebagai pemimpin perusahaan dia diwajibkan untuk hadir walaupun pemilik perusahaan baru saja meninggal.


“Sya, kamu ikutlah bersamaku.”


Syarah yang sedang memasangkan dasi pada Danar terkejut dengan ucapan Danar yang tiba-tiba. Dia hanya mendongak menatap Danar yang lebih tinggi darinya.


“Ikut? Untuk apa?” tanya Syarah penasaran.


Danar mengedikkan bahu tak ingin menjawab. Syarah merasa kurang nyaman bila harus pergi untuk bertemu dengan orang-orang pembisnis. Dia merasa dunia bisnis seperti itu bukanlah dunianya tentu saat diminta untuk menemani Danar, ia ingin menolak ajakan suaminya.


“Kak, bukannya pertemuan ini sangatlah penting dan hanya dihadiri oleh orang-orang penting saja? Jika aku ikut, aku tidak akan paham apa-apa pada pembahasan kalian. Mmm … sebenarnya aku merasa sedikit tidak nyaman bila harus menghadiri peretemuan seperti itu,” ucap Syarah sedikit takut jika suaminya akan marah.


“Ya sudah, tidak usah,” kata Danar datar.


“Tidak apa-apa kah?” tanya Syarah memastikan.


Danar hanya mengangguk sebagai jawaban. Danar bisa melihat jika istrinya mengatakan kejujuran jika dia memang merasa tidak nyaman bila harus berada dalam pertemuan penting seperti itu. Dia tak mempermasalahkannya, walau awalnya dia meminta Syarah untuk ikut untuk menemaninya. Setidaknya keberadaan Syarah di sekitarnya sedikit membuat energinya naik.


“Kak, sepertinya siang ini aku tidak bisa mengirim makanan untuk kamu. Aku akan pergi ke rumah sakit kanker untuk berbagi bunga yang sudah pernah aku ceritakan waktu itu. Apakah aku boleh pergi?” tanya Syarah berhati-hati.

__ADS_1


“Pergilah, jika butuh pakai kartu yang aku berikan padamu,” pesan Danar pada Syarah.


“Iya Kak, terima kasih banyak. Aku janji akan sampai di rumah sebelum sore hari untuk menyiapkan pengajian rutin,” kata Syarah.


Mereka berjalan bersama menuju keluar, Syarah mengantar suaminya sampai depan rumah dan menyalami Danar sebelum pergi. Setelah mobil yang dikendarai Danar meninggalkan pekarangan luas rumah, Syarah berjalan ke kebun bunga miliknya untuk mengecek kembali bunga yang akan dia bagi ke pasien kanker yang dirawat.


“Ratih, tolong kamu cek dan pastikan jika bunga yang akan kita dibagi nanti dalam keadaan segar. Juga bunga mawar putih untuk makam kakek,” perintah Syarah pada Ratih.


“Baik Mbak. Maaf Mbak saya ingin bertanya, kira-kira kapan kita bisa buka toko lagi?” tanya Ratih takut-takut.


“Aku belum tahu pasti, tapi kamu jangan khawatir. Gaji kalian akan tetap saya bayarkan tanpa ada pengurangan. Saya masih butuh waktu untuk bisa kembali bekerja, kalian tidak masalah, bukan?” tanya Syarah pada karyawannya.


“Tidak masalah Mbak, kami mengikuti kata Mbak Syarah saja. Tapi kalau boleh, selama toko ditutup izinkan kami untuk mengurus bunga di kebun. Jujur saya akan merasa tidak nyaman jika digaji tanpa melakukan apapun,” kata Ratih.


“Aku tidak memaksa kalian untuk melakukan itu. Tapi jika kalian mau dan bersedia aku tidak akan menolak. Terima kasih kalian sudah mau bekerja bersamaku,” ucap Syarah tulus.


“Baiklah, aku kembali ke rumah dulu. Kalau kalian butuh sesuatu pergilah ke rumah untuk makan,” ucap Syarah.


Kemudian Syarah kembali ke rumah, pagi ini dia sudah ada janji dengan seseorang yang akan membuat barang untuk mengenang kepergian pak Pandhu yang akan dibagikan pada hari ketujuh nanti. Selama ini hanya Syarah yang mengurus segala urusan rumah dan mengurus keperluan setelah meninggalnya pak Pandhu. Dia tak bisa memaksa Danar untuk ikut turun tangan mengurus itu semua, dia mengerti jika Danar sedang dalam kondisi terpuruk. Baginya yang paling penting untuk saat ini adalah membangkitkan semangat dan jiwa Danar terlebih dahulu, biarlah rasa lelah dan letih dia rasakan demi mengurus keluarganya tanpa memamerkan pada siapa pun.


*****


Sementara ruangan pertemuan yang dihadiri oleh orang-orang penting dan berpengaruh ini terasa sangat mencekam. Aura para pembisnis yang penuh ambisi, keinginan yang tinggi dan kemauan yang keras membuat rapat yang berlangsung terasa menyeramkan. Sekali pun dalam kondisi sedih, Danar bisa menyembunyikan perasaanya itu dengan sangat rapat agar tak terbaca oleh siapa pun. Dunia bisnis yang dijalankan sangat keras, kelengahan sedikit saja menjadi bahan bagi lawan untuk menghancurkan.


“Tuan Wijaksana, saya turut berduka atas kepergian kakek Anda, semoga diberikan ketabahan,” ucap salah satu kolega bisnis yang datang menghampiri Danar yang baru saja memasuki ruangan elit itu.

__ADS_1


“Terima kasih Tuan,” ucap Danar dingin.


Dia kemudian berjalan ke tempat yang seharusnya ditempati oleh kakeknya. Sejujurnya dia sedikit gugup untuk memimpin pertemuan pada pagi hari itu. Walaupun pendingin ruangan sudah dinyalakan namun masih terasa panas bagi Danar yang harus menghadapi orang-orang itu.


Danar bisa melihat orang-orang yang menghadiri rapat itu adalah orang yang berbahaya, dia harus sangat berhati-hati dengan para macan yang siap menerkam siapa pun disana. Dia bersyukur karena menguasai kemampuan mengendalikan diri dan keadaan yang diwariskan oleh kakeknya. Dia bisa melangsungkan rapat penting itu dengan baik dan berjalan lancar. Orang-orang disana bisa menangkap jika Danar berkali-kali lipat lebih berbahaya dari kakeknya membuat mereka tak banyak berkutik.


“Saya rasa cukup untuk rapat kali ini, penandatanganan hasil rapat bisa dilakukan dalam waktu secepatnya. Terima kasih atas kehadiran Anda, selamat siang,” ucap Danar mengakhiri rapat siang itu.


Jauh dari perkiraan, rapat yang Danar pimpin hanya memerlukan waktu dua jam saja. Biasanya rapat seperti ini membutuhkan waktu lebih dari itu, namun kemampuan otaknya yang tak bisa diragukan membuatnya bisa mengatasi masalah dan memberi penyelesaian dalam waktu singkat. Disana ada yang tampak bahagia atas hasil rapat namun ada juga yang menampakkan kekecewaan dan kekesalan.


Danar yang masih belum ingin keluar lama memutuskan untuk kembali ke rumah tak ingin mengerjakan pekerjaan lain setelah rapat. Tadi dia juga menolak berbagai tawaran ajakan makan siang bersama oleh beberapa investor dan pemegang saham. Namun dia menolak karena tak ingin berinteraksi dengan orang dulu.


Dalam perjalanan, dia melewati rumah sakit kanker yang ada di kotanya. Dia jadi teringat akan istrinya yang tadi mengatakan akan pergi ke tempat itu untuk kegiatan sosial. Dia merasa kagum dengan istrinya yang masih bisa berbagi dengan orang lain meski dirinya juga sedang dalam keadaan bersedih. Istrinya malah sempat-sempatnya memikirkan kebahagiaan orang lain di tengah kesedihan yang masih menyelimuti.


“Pak, kita mampir ke rumah sakit kanker dulu. Saya ada perlu,” perintah Danar pada sopirnya.


“Baik Tuan. Sepertinya Nona juga juga masih,” kata sopirnya.


“Tahu dari mana kamu?” tanya Danar.


“Tadi saya dihubungi oleh sopir nona, dia bilang katanya tadi di jalan bannya bocor. Jadi saya langsung kesana untuk membawa nona ke tempat tujuan sedang sopirnya memperbaiki mobil,” jelas sopir Danar.


Danar tak menanggapi ucapan sopirnya walaupun dia mendengarkan penjelasan sopirnya itu. mobil yang dikendari Danar memasuki halaman rumah sakit dan berhenti di parkiran karena tidak diizinkan menghentikan mobil di pintu utama berjaga-jaga jika ada hal yang darurat. Entah mengapa dia ingin melihat suasana rumah sakit tempat orang-orang yang sedang memperjuangkan nyawanya dari sakit yang diderita.


Tanpa arah dan tujuan, kaki Danar bergerak melangkah menyusuri rumah sakit itu dengan rasa penasaran. Sepanjang lorong dia bisa melihat ada berbagai pernak-pernik dan nuanasa hijau yang begitu pekat. Walaupun dia tidak suka jika berada di rumah sakit namun entah mengapa dia ingin melihat rumah sakit ini.

__ADS_1


Melewati ruang-ruang perawatan, dia bisa menjumpai pasien yang berbeda-beda. Ada yang sedang bermain dengan riang di tempat mainaan karena masih kecil jadi masih suka bermain. Dia melihat seorang anak perempuan yang sedang berusaha bersembunyi dari suster yang membawa benda yang dia yakini adalah obat si anak kecil.


Anak itu bersembunyi di balik perosotan tak ingin ditemukan oleh suster yang akan memberinya obat. Danar jadi tertarik untuk menghampiri gadis kecil itu. Dia ikut berjongkok di samping gadis kecil itu seolah seperti sedang bersembunyi juga.


__ADS_2