Perawan Tua Istri Sang Duda

Perawan Tua Istri Sang Duda
Kritik pedas


__ADS_3

Selamat membaca


Ketika jam menunjukkan pukul setengah tujuh malam, Danar akhirnya meregangkan otot tangan dan lehernya yang terasa kaku setelah seharian bekerja. Namun lelahnya terbayarkan dengan berbagai pekerjaan yang mampu dia tangani dan selesai.


“Akhirnya selesai juga. Besok tinggal periksa data dan meeting saja. Huft apakah seberat ini pekerjaan kakek dulu?” tanya Danar teringat akan sosok kakeknya yang seakan tak pernah lelah.


Dengan semangat dia membereskan peralatannya dan beranjak keluar. Ketika membuka pintu sudah tidak terlihat lagi asistennya yang memang sejak sore izin pulang karena merasa tidak fit.


Danar pun melangkah menuju lift, namun entah mengapa dia melihat tangga di samping lift. Teringat seharian belum melakukan work out, Danar yang tidak ingin rugi memutuskan untuk turun dari lantai 7 dengan menggunakan tangga. Dia pikir lumayan juga untuk mengganti jam work out yang harus dia relakan demi menyelesaikan pekerjaan yang menggunung.


Sambil turun dia bisa mengamati kondisi kantor yang sudah mulai sepi karena memang sudah jam pulang kerja. Hanya mereka yang lembur saja yang masih di kantor. Keringat yang mengucur cukup membasahi kemeja yang sudah seharian dia pakai.


Rambutnya yang basah karena keringat justru membuat karyawan wanita yang tak sengaja melihatnya terpaku akan sosok bosnya yang justru terlihat semakin menawan.


Sedangkan Danar acuh dan memilih menggulung lengan kemeja hingga kesiku. Ketika sampai di parkiran, sopir sudah siap menunggunya dan membukakan pintu. Barulah Danar melepas kemejanya yang basah di dalam mobil.


**


Mobil hitam bernilai milyaran yang dikendarai oleh Danar sudah memasuki kompleks perumahan elit. Semakin mendekati rumah, Danar semakin teringat akan istrinya yang sudah membuatnya jengkel siang tadi. Tapi dia juga tidak bisa menahan rasa rindu ingin segera berdekatan dengan Syarah yang seolah memiliki magnet tersendiri untuknya.


“Silahkan Tuan,” ujar sopir yang sudah membuka pintu mobil.


Danar pun keluar dan diikuti oleh penjaga yang sigap membawakan tas kerja dan kemeja yang Danar lepas sebelumnya. Memasuki rumah, Danar semakin ingin segera bertemu dengan istrinya yang tadi karena dia marah sehingga tidak bisa berlama-lama dengan istri manisnya itu.


Entah karena sangat fokus atau tidak sadar, Syarah tidak menyadari kehadiran Danar yang ada beberapa meter di belakangnya. Sedangkan Danar yang melihat istrinya berdiri membelakangi dengan menata makanan di atas meja makan menjadi terpaku.


Meski hanya dengan memakai dress berwarna coklat susu dengan rambut setengah kering itu, bagi Danar istrinya begitu cantik dan sempurna. Kulitnya yang semakin cerah dan terang, tentu tidak didapatkan dengan mudah. Beberapa bulan ini, dialah yang memaksa Syarah untuk merawat dirinya secara rutin agar semakin cantik.


Tak peduli berapa uang yang harus dia keluarkan, namun bagi Danar itu tak seberapa agar dia bisa melihat


Syarahnya semakin cantik dari hari ke hari. Mengingat itu Danar jadi gemas dan ingin merengkuh Syarah.


“Ehem,” deham Danar keras.


Syarah yang sedang menata makanan reflek menoleh ke belakang dan mendapati Danar yang sudah berdiri tak jauh darinya.


“Kak, kakak udah pulang. Eh loh kok cuma pakai kaos saja, kemana kemejanya?” tanya Syarah bingung melihat suaminya pulang hanya dengan memakai kaos bagian dalam saja.


“Gerah jadi dilepas,” jawab Danar singkat.


Padahal sedari tadi dia sudah menjaga agar bibirnya berkata irit supaya Syarah merasa bersalah.


Syarah hanya mengangguk dan mengambil alih barang suaminya yang dibawa penjaga.

__ADS_1


“Ya sudah Kakak mandi dulu, aku akan siapkan. Sini Pak biar saya saja yang bawa, terima kasih,” ujar Syarah dan


langsung melangkah ke tangga.


Danar pun hanya mengikuti dari belakang dan dari dekat dia sudah bisa mencium aroma vanilla lembut milik Syarah. Ingin rasanya Danar merengkuh istrinya tapi, ‘Ingat kamu masih dalam mode marah pada istrimu,’ batin Danar menolak.


Sedangkan Syarah tetap berjalan dan saat memasuki kamar dia langsung menuju kamar mandi dan menyiapkan semua yang diperlukan suaminya. Setelahnya dia menuju meja rias dan memoles wajahnya agar lebih cantik dari sebelumnya. Setelah paksaan dari Danar beberapa bulan lalu seolah mengubah Syarah menjadi peduli pada penampilan.


Dengan riasan segar tak berlebihan, Syarah turun setelah memastikan pakaian suaminya sudah tersedia.


“Nyonya, kuenya sudah matang,” kata bibi senang.


Syarah mengangguk dan tersenyum lega, “Syukurlah tepat waktu. Semoga berhasil dan enak,” ujar Syarah.


Dia pun membawa kue coklat yang dicampur dengan krim matcha di atasnya ke meja makan. Ketika melihat suaminya turun dari tangga, dia pun segera menyambut.


“Kak, ayo makan dulu,” ajak Syarah dengan senyum manis seperti biasa.


Tanpa menjawab, Danar duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh pelayan.


“Kak, malam ini aku buat makanan Indonesia semua. Semoga kamu cocok dan suka ya,” ujar Syarah mencoba mencairkan suasana.


Mengingat Danar yang suka pilih-pilih makanan membuat perasaannya cukup was-was.


“E-“ ucap Danar terpotong dengan kehadiran seseorang.


“Wah wah lagi makan besar gini kok gak undang-undang sih,” ujar orang itu yang sudah menatap makanan dengan penuh minat.


“Dimas."


"Mas Dimas,” ucap Syarah dan Danar bersamaan.


“Hehe tidak masalah kan kalau aku ikut makan bersama kalian malam ini,” kata Dimas enteng.


“Ck, apa kau tidak punya uang untuk membeli makan?” tanya Danar tajam.


Sementara Syarah yang sudah bisa memahami suaminya pun berusaha mencairkan suasana.


“Malam Mas Dimas, tumben ke rumah. Memang baru darimana?” tanya Syarah ramah.


“Tuh, istrimu saja lembut begitu masak punya suami garang macam singa. Kasihan,” sindir Dimas yang dibalas pelototan oleh Danar.


“Apa kamu bilang?” bentak Danar yang mudah marah ketika berhubungan dengan Dimas.

__ADS_1


Dimas pun tertawa ringan, “Tidak tidak. Hmm … makanan sebanyak ini pasti tidak habis kalau dimakan hanya berdua, lebih baik aku bergabung dengan kalian bukan,” ujar Dimas tanpa merasa sungkan.


Syarah yang bingung mengalihkan pandangan ke suaminya meminta jawaban.


“Lagipula sudah lama aku tidak main ke rumah ini kan, sekali-lagi makan malam bersama pasti menyenangkan, daripada aku makan di luar, tidak jelas kebersihannya,” ujar Dimas yang langsung menarik kursi dan meminta pelayan menyiapkan peralatn makannya.


“Wah makanan Indo semua, sudah lama aku gak makan makanan daerah,” kata Dimas berantusias.


Danar yang sudah tahu kalau berdebat dengan Dimas akan percuma jadi dia memilih diam dan acuh. Energinya sudah terkuras seharian tadi. sementara Syarah segera menyiapkan makanan suaminya merasa Danar tak masalah.


“Mas ini sup sama ayam bumbu kuningnya,” ujar Syarah mempersilahkan.


Sedangkan Dimas dilayani oleh pelayan yang siap sedia kapan pun dibutuhkan.


Syarah yang baru saja hendak duduk terkaget dengan suarah suaminya. “Cuih, asin banget. Kamu mau bikin aku darah tinggi ya?” bentak Danar.


Syarah yang hendak duduk kembali berdiri dan terbelalak. Bagaimana dia bisa kecolongan begitu. Dia pun mengambil sendok dan mencicip kuah sup dan ternyata sedikit asin. Setidaknya lebih asin dari buatan koki yang dipekerjakan di rumah.


“Aduh maaf Kak, beneran Syarah tidak sengaja,” ujar Syarah takut dan menarik mangkuk sup dari area makan Danar.


“Makanya lain kali gak usah sok-sok masak segala. Aku pekerjakan koki buat masakin, jadi gak usah ngide masak-masak yang akhirnya gagal begini,” cecar Danar yang mengelap bibirnya dengan tisu.


Hati Syarah terasa dicubit. Dia merasa sedih saat hasil jerih payahnya gagal dan mendapat amarah dari suaminya.


dengan menahan pedih, Syarah mengambil mangkuk sup dan hendak membawanya kembali ke dalam dapur dengan hari teriris.


“Nyonya sudah, biar saya saja,” ujar bibi yang langsung merebat mangkuk dari Syarah.


Danar pun mencoba memotong ayam goreng dan memasukkan ke dalam mulut. Syarah yang baru dari belakang menengok suaminya yang sudah mencicipi hasil makananya yang lain.


Danar pun menggigit daging ayam itu kasar seolah ingin menunjukkannya pada Syarah.


“Ck, ayam masih keras begini kamu berikan sama aku?” bentak Danar yang langsung membanting garpu ke piring hingga menimbulkan suara gaduh.


Syarah pun tersentak kaget mendengar bentakan suaminya, baru saja dia hendak memasukkan suapan pertama ke mulut sudah mendengar bentakan suaminya.


“M-maaf Kak,” cicit Syarah tak berani menatap suaminya.


“Ini nih yang gak aku suka. Kalau sudah dibilangin sama suami itu nurut. Biar koki aja yang masak kenapa sih kamu masak begini. Ck bikin mood makan aku hilang. Sekarang kamu hubungi koki dan suruh dia segera nyiapin makan malam, aku tunggu 1 jam lagi harus udah siap!”


Setelah mengatakan itu, Danar langsung beranjak dari tempat meninggalkan Syarah.


Hai terima kasih sudah membaca

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar, juga like dan vote sebagai bentuk dukungan


__ADS_2