Perawan Tua Istri Sang Duda

Perawan Tua Istri Sang Duda
11. Pemaksaan


__ADS_3

Hari ini seperti biasa, Syarah berangkat menuju kantor tempat dia bekerja. Baru beberapa jam bekerja dia dikejutkan dengan Danar yang keluar dari ruangannya dengan tergesa-gesa hingga menimbulkan suara yang keras.


“Pak, ada apa?” tanya Syarah melihat Danar keluar ruangannya dengan ekspresi kalut.


Syarah yang pertama kali melihat kepanikan Danar setelah hampir setengah tahun bekerja segera menghampiri.


“Kosongkan jadwal saya hari ini!” ucap danar memerintah.


“Baik, Pak,” jawab Syarah yang belum sempat dijawab pertanyaannya oleh Danar.


Setelah mengatakan itu Danar berlalu terburu-buru. Syarah merasa mungkin ada sesuatu hal penting yang sedang terjadi. Tak terasa hingga sampai akhir waktu bekerja Danar tidak kembali ke kantor. Sadar akan hal itu Syarah merasa sedikit khawatir pada Danar.


Tapi dia menyadarkan diri bahwa disini dia hanya pegawai jadi bukan haknya untuk ikut campur pada urusan pribadi bosnya. Deringan telepon milik Syarah menyadarkannya dan dilihatnya segera siapa yang menghubunginya.


“Halo, Sya. Dimana kamu sekarang?” tanya seseorang diseberang sana.


“Halo, Pak Danar, saya sekarang masih di kantor,” jawab Syarah.


“Segera ke lobi, sebentar lagi saya kesana,” ucap Danar.


Syarah yang mendengar ini kebingungan tetapi dia segera membereskan meja kerja dan memastikan tidak ada yang tertinggal dia segera menuju lobi.


*****


Sebelumnya di kediaman keluarga Wijaksana.


“Kakek, Kakek sudah sadar. Syukurlah,” ucap Danar lega.


“Danar, aku ingin bertemu dengan Syarah,” pinta pak Pandhu.


“Untuk apa Kakek mau bertemu dengannya? Kakek sedang sakit katakan saja padaku, nanti akan aku sampaikan padanya,” ucap Danar menawarkan.


“Tidak, bawalah dia kemari. Aku hanya ingin bertemu dengannya ... ” pinta pak Pandhu sekali lagi.


“Baiklah,” jawab Danar.


Danar yang mendengar keinginan kakeknya segera menghubungi Syarah menanyakan keberadaan perempuan itu. Setelah mengetahui keberadaannya dia segera menemui Syarah dengan melupakan egonya yang tinggi.


*****


“Ada apa, Pak? Apakah ada pekerjaan mendadak?” tanya Syarah yang duduk di samping Danar sambil memasang sabuk pengaman.


Danar tidak menjawab pertanyaan Syarah dan hanya fokus menyetir. Dalam pikirannya saat ini, ia harus segera menuju rumah.


“Turunlah!” perintah Danar.


Mendengar perintah Danar, Syarah segera turun di pelataran rumah yang baginya sangatlah besar bagai istana. Syarah mengamati dan mengangumi rumah bernuansa putih hitam itu sampai tangannya digenggam dan ditarik Danar. Syarah yang langkah kakinya kecil harus mengimbangi langkah kaki Danar yang lebar.


Dia sudah seperti diseret ke lantai 2 rumah ini. Danar membawa Syarah ke sebuah pintu yang dijaga dua orang berbaju hitam berbadan kekar. Setelah dibuka, Syarah dapat melihat ruangan kamar itu sangat luas dengan kasur seperti kasur raja dengan dokter dan suster yang ada di samping kamar.


“Kek, lihatlah sudah ada Syarah disini,” ucap Danar sambil mengusap tangan pak Pandhu membangunkan.


“Syarah, kau sudah datang. Kemarilah!” pinta pak Pandhu.


Setelah Syarah berada di samping pak Pandhu. Dia tak kuasa menitikkan air mata melihat Sang Penguasa perusahaan dalam keadaan terbaring lemah. Ditangkupkannya kedua tangan pak Pandhu seakan memohon pada Syarah.


“Syarah, seperti perkataanku kemarin. Seumur hidupku tidak pernah aku memohon pada manusia, hanya padamu aku meminta. Menikahlah dengan Danar, hanya itu keinginanku sebelum Yang Kuasa memanggilku. Kumohon ... ” mohon pak Pandhu dengan nada lemah.


Syarah menundukkan kepalanya dalam tidak berani melihat ke arah pak Pandhu.


“Kakek kumohon jangan seperti itu,” ucap Danar.


Danar segera melepas tangkupan tangan kakeknya. Tidak pernah Danar melihat kakek yang merawatnya sejak bayi dalam keadaan lemah dan memohon pada orang lain. Kakek yang dimilikinya selalu kuat dan berwibawa.

__ADS_1


Melihat ini Danar tak kuat hati dan membawa Syarah keluar dari kamar kakeknya. Danar membawa Syarah ke kamarnya yang ada tak jauh dari kamar pak Pandhu. Setelah masuk ke kamar, Danar menutup pintu agar tidak ada yang mendengar dan mengganggu mereka.


“Kau dengar sendirikan keinginan kakekku? Sekarang aku minta padamu untuk menuruti keinginan kakekku! Kau harus menikah denganku!” ucap Danar dengan nada tinggi dan terdengar seperti perintah.


Mendengar ini Syarah cukup kecewa, disaat Pak Pandhu memohon padanya namun justru seseorang yang akan dinikahkan dengannya malah memerintahnya layaknya perintah bos yang harus dituruti.


“Kita akan menikah secara agama dan hukum hanya dalam status, namun bukan untuk kenyataannya. Kau tidak perlu khawatir karena aku akan memberikan imbalan padamu. Sebutkan berapapun yang kau minta pasti akan kuberikan. Katakan saja tidak perlu jual mahal! Wanita sepertimu pasti gila harta,” cibir Danar.


Syarah melayangkan tatapan sendu yang tersirat kekecewaan yang dalam atas ucapan Danar. Wanita mana yang ikhlas dan menerima ketika direndahkan seperti itu, tapi apalah daya. Dia tak mampu meluapkan emosinya. Syarah hanya mampu menghela napas dan membuangnya. Seolah dia ingin emosi di tubuhnya bisa keluar.


“Aku bukan wanita yang bisa dibeli. Pernikahan adalah ibadah, aku tidak ingin menghancurkan ibadahku dengan orang yang tidak bisa menghormatiku sebagai perempuan. Carilah perempuan lain yang bisa kau beli dengan hartamu itu,” ucap Syarah pelan namun dalam.


Syarah segera keluar dari kamar itu, ia tak sanggup melihat orang yang tidak bisa menghormati perempuan. Syarah berjalan keluar rumah dengan menangis tersedu mengingat perkataan Danar yang begitu merendahkannya dan melukai perasaannya. Saat akan sampai di pintu rumah, tangan Syarah dicekal hingga terpental ke belakang menabrak dada keras Danar.


“Setujui saja. Apapun yang kau inginkan akan aku turuti,” ucap Danar menatap Syarah tajam.


“Lepaskan aku! Aku bukan wanita murahan yang bisa ditukar dengan uang!” bentak Syarah.


Syarah balas menatap balik Danar tanpa ada rasa takut.


“Apa yang kau inginkan apapun itu akan aku turuti asal kau menyetujui pernikahan ini,” ucap Danar tegas tidak mengizinkan penolakan.


“Aku harus membicarakannya dengan orang tuaku. Hanya mereka yang dapat memberi restu,” ucap Syarah.


“Baiklah aku akan menemui orang tuamu. Bila mereka menerimaku, saat itu juga kau harus menerima menikah denganku,” ucap Danar.


“Dengan kau yang seperti ini, aku yakin orang tuaku tidak akan menerimamu,” ucap Syarah berlalu keluar rumah.


‘Jika bukan demi kakek, aku tidak sudi menikahi wanita sepertinya,’ ucap Danar dalam hati.


Baru beberapa langkah tangan Syarah kembali dicekal Danar.


“Tinggallah disini sementara kakek masih lemah. Lakukan ini demi kakek, aku tidak ingin kehilangannya,” ucap Danar dengan nada lebih rendah tersirat keputusasaan.


“Aku lapar, aku ingin makan nasi padang,” ucap Syarah dengan datar.


“Baik, akan aku suruh pelayan,” ucap Danar.


Belum sempat Danar memanggil pegawainya suara Syarah menginterupsinya.


“Tidak, harus Bapak yang membelikan. Anda sudah membawa saya kemari dan meminta saya tinggal jadi Bapak sendiri yang harus membelikan,” kata Syarah


“Baiklah, jaga kakek jangan sampai terjadi sesuatu,” ucap Danar kemudian berlalu.


Syarah tersenyum tipis, ‘ternyata memerintah itu seperti ini rasanya’ batin Syarah.


*****


Tok tok tok


“Nona Syarah ya? Silahkan masuk tuan masih belum dapat tidur,” ucap pelayan wanita tua yang dapat Syarah perkiraan seumuran dengan pak Pandhu.


“Terima kasih, Bibi,” ucap Syarah.


“Syarah, kau masih disini,” ucap pak Pandhu senang.


“Iya Pak, pak Danar meminta saya untuk disini sementara,” kata Syarah.


“Syukurlah kau mau tinggal. Duduklah," ucap pak Pandhu sambil menepuk kasur di sisinya.


"Rumi bawakan album foto Danar saat masih kecil kemari,” ucap pak Pandhu memerintahkan.


Perintah pak Pandhu pada pelayan tua itu.

__ADS_1


“Baik, Tuan, tunggu sebentar. Nona anda ingin minum apa akan saya buatkan sekalian," tanya pelayan bernama Rumi dengan nada lembut.


“Tidak perlu repot-repot, Bi. Terima kasih,” jawab Syarah merasa tidak enak.


Setelah pelayan itu pergi tersisalah pak Pandhu dan Syarah di kamar itu.


“Mulai sekarang anggaplah aku sebagai kakekmu sendiri. Panggil aku 'kakek' seperti Danar, sebentar lagi kau akan menjadi cucu menantu jadi biasakan mulai sekarang," ucap pak Pandhu.


“Baik, Kek,” ucap Syarah.


Pak Pandhu menceritakan banyak kisah ketika Danar masih kecil, mulai dari tragedi yang merenggut nyawa kedua orang tua Danar sampai Danar yang seperti sekarang ini.


“Wah wah ada yang membongkar kehidupanku,” ucap Danar menuju pak Pandhu dan Syarah.


Selama Danar pergi, mereka mengobrol banyak hal terutama tentang Danar, saking asiknya mengobrol sampai tidak menyadari kehadiran Danar.


“Syarah calon istrimu, tentu dia harus tahu kehidupanmu,” ucap pak Pandhu.


“Terserah Kakek saja. Ini sudah pukul 10 malam, Kakek harus istirahat agar segera pulih,” kata Danar mengingatkan.


“Baiklah, selamat malam, Syarah,” ucap pak Pandhu.


“Selamat malam, Kek,” jawab Syarah.


Mendengar kata terakhir Syarah cukup mengejutkan Danar, tapi dia lebih memilih acuh. Saat sudah di luar kamar, Danar mengajak Syarah ke meja makan.


“Makanlah, aku tidak ingin ada berita tentang kematian seseorang dirumahku hanya karena kelaparan,” kata Danar.


“Hm ya, terima kasih sudah membelikanku makanan, Pak,” ucap Syarah.


Malam ini mereka makan malam berdua karena memang sejak pagi Danar belum memasukkan apapun ke dalam tubuhnya setelah mendengar pak Pandhu yang jatuh pingsan. Mereka makan dalam diam. Danar memilih makan nasi padang dengan alat makan sedangkan Syarah makan dengan tangan.


Melihat itu sebenarnya Danar juga ingin makan dengan menggunakan tangan, tapi dia tidak bisa karena memang tidak pernah diajarkan. Syarah yang tidak menyadari diperhatikan makan dengan lahap bahkan hampir habis dan Danar sudah selesai tersisa karena memang porsi makannya sedikit. Danar hanya menggelengkan kepala melihat perempuan dengan badan kecil tapi mampu memakan porsi besar.


“Pak, berhubung pak Pandhu sudah tidur lebih baik saya pulang sekarang keburu kemalaman,” ucap Syarah mengambil tas disampingnya.


“Siapa yang menyuruhmu pulang. Kau tidur disini karena besok kita ada penerbangan pagi,” jelas Danar.


“Penerbangan pagi? Seingat saya, Bapak tidak ada jadwal kemana pun,” ucap Syarah.


“Sudah ikuti saja perintahku. Bibi akan mengantarmu ke kamar,” ucap Danar.


Bibi Rumi mengantarkan Syarah ke kamar tamu yang ada di lantai satu dekat ruang tamu. Karena tadi dia datang diseret jadi dia tidak sempat mengamati rumah ini dan saat dia diarahkan ke kamar tamu dia bisa melihat isi di lantai satu ini. Benar-benar mewah dan mahal.


“Nona silahkan ini kamarnya, bila membutuhkan sesuatu jangan ragu-ragu untuk memanggil saya,” ucap bibi Rumi sopan.


“Bibi apakah ada pakaian ganti untuk saya? Saya merasa gerah ingin mandi, pakaian ini sudah saya pakai seharian,” ucap Syarah.


“Nona tenang saja, pakaian Nona sudah bibi siapkan di kamar mandi. Tadi tuan muda yang membelikan untuk Nona,” ucap bibi Rumi.


Rasanya sangat mustahil pria dingin macam Danar bisa memikirkan tentang pakaian untuknya.


“Baik, Bi, terima kasih,” kata Syarah.


Setelah bibi berlalu, Syarah bergegas mandi karena merasa badannya sangat lengket.


Usai mandi dia meraih kotak yang dia yakini berisi pakaiannya. Saat dibuka betapa terkejutnya melihat isi kotak itu.


“Bagaimana bisa dia membelikanku pakaian seperti ini? Pakaian apaan ini sangat tipis dan menerawang seperti kekurangan bahan saja. Dasar laki-laki tidak paham fashion. Duh harus pakai bathrobe ini,” keluh Syarah.


Ternyata isi kotak itu adalah pakaian berbentuk daster berbahan tipis motif macan. Tentu Syarah menolak, lebih baik dia menggunakan handuk seharian daripada menggunakan pakaian seperti itu. Syarah tidak ingin memusingkan Danar yang sepertinya ingin mengerjainya, dia sudah terlalu lelah bekerja seharian jadi dia langsung berbaring hanya dengan bathrobe.


Terima kasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak di komen dan berikan like sebagai bentuk dukungan pada karya pertama saya

__ADS_1


__ADS_2