Perawan Tua Istri Sang Duda

Perawan Tua Istri Sang Duda
59. Jangan tinggalkan aku, Syarah


__ADS_3

Pagi itu Danar bangun dari tidurnya yang terasa begitu lelap. Mengerjapkan mata, mulai mengumpulkan nyawa untuk bisa segera bangkit dari tidurnya. Cahaya matahari yang menembus tirai jendela memaksa matanya untuk terbuka.


Dengan mnegucek mata, dia bangun untuk bersandar di kepala ranjang. Saat menengok ke samping, dia tidak menemukan siapa pun di sebelahnya. Seketika otaknya bekerja dengan cepat dan menyadari ketiadaan istrinya. Berpikir bahwa sang istri sudah bangun terlebih dahulu dan sedang menyiapkan makanan untuk sarapan.


Dia memilih untuk membersihkan diri sebelum sarapan. Tapi langkahnya terhenti ketika dia mendengar suara isakan dari arah penyimpanan pakaian. Suara itu seolah bagai magnet yang membuatnya mendekat untuk mencari tahu.


Siluet seseorang sedang memasukkan barang ke dalam koper membuat Danar bisa menebak dengan mudah bahwa orang itu adalah istrinya walau hanya dari punggung saja.


“Syarah!” panggil Danar pada orang itu.


Dengan langkah cepat Danar mendekati seseorang yang sedang memasukkan pakaian ke koper dengan suara isakan tertahan. “Syarah apa yang kamu lakukan?” tanya Danar berusaha menahan emosi.


Tapi istrinya mengacuhkan dan tetap melakukan kesibukannya untuk memasukkan barang pribadinya ke dalam koper. Dari samping Danar bisa melihat air mata yang mengalir dari mata sipit istrinya mengalir di pipi lembut istrinya.


“Jawab aku Syarah? Apa yang kamu lakukan dengan pakaianmu? Memang kamu mau pergi kemana?” tanya Danar sambil menarik tangan Syarah agar berhenti dari aktivitasnya.


“Lepaskan aku Kak,” ucap Syarah sambil berusaha melepaskan tangan Danar.


“Tidak sebelum kamu menjawab pertanyaanku,” ucap Danar menolak.


“Kak, aku mohon lepaskan aku. Biarkan aku pergi, jangan menghalangiku. Sudah Kak, sudah cukup aku merasakan lelah pada pernikahan kita yang tidak sehat.”


Syarah mengatakannya dengan derai air mata yang tak bisa dia cegah. Sudah cukup perjuangannya sebagai seorang istri, sudah cukup dia menahan perasaannya demi menjaga nama baik keluarga suaminya.


“Apa yang kamu katakan? Kau tidak bisa pergi begitu saja, Syarah!” bentak Danar menahan Syarah agar tidak pergi.


“Untuk apa Kak? Untuk apa aku bertahan, selama ini aku berjuang sendiri untuk pernikahan kita. Tapi Kakak tidak pernah terlihat ada usaha untuk pernikahan kita, aku sudah tidak sanggup Kak.”


“Apa kamu tidak memikirkan keluargamu hah? Apa kata orang kalau kamu menjadi janda di usiamu yang masih muda. Mereka pasti akan mengatakan jika kamu memiliki kekasih gelap, atau kamu menikah denganku hanya untuk mengambil hartaku saja.”


“Aku tidak peduli Kak, biarkan orang mengatakan apa tentang diriku. Tuhan tahu mana yang benar dan salah. Karena ini bukan tentang mereka, tapi tentang aku dan kamu. Aku lelah Kak, aku sangat lelah. Hatiku berkali-kali kau hancurkan seenaknya.”

__ADS_1


“Jadi sekarang kamu menyalahkan aku?” tanya Danar yang sudah berapi-api.


“Silahkan Kakak pikir sendiri saja.” Syarah memanfaatkan Danar yang lengah untuk menutup kopernya dan hendak beranjak pergi.


“Kau tidak bisa pergi begitu saja Syarah!” ucap Danar geram.


“Kak, hatiku begitu sakit dengan Kakak. Hanya dengan melihat wajah Kakak saja, itu sudah membuat hatiku berdenyut sakit. Satu tahun, Kak! Satu tahun aku menjadi istrimu, kamu tidak bisa menjadikanku sebagai istri yang seutuhnya. Apa kamu bisa menjelaskan alasanmu padaku hm?” tanya Syarah dengan mata merahnya menatap tepat di manik mata sang suami.


Kalimat pelan yang Syarah ucapkan tepat mengenai sasarannya. Danar bungkam, bibirnya membisu tak mampu mengeluarkan suara. Dia tak mampu mengatakan lubang hitam yang ada di pikirannya, yang membuatnya tak mampu menjadi suami yang memberikan hak nafkah batin pada istrinya.


“Cihh. Lihatkan sekarang, Kakak tidak bisa menjawab pertanyaan dariku. Apa semenjijikkan itu diriku di matamu sampai kau bahkan tak sudi menyentuhku? Sudahlah Kak, aku akan pergi. Aku sudah memenuhi keinginan pak Pandhu untuk menjadi istrimu. Sekarang, kewajibanku sudah tuntas dan aku akan pergi.”


Syarah melangkah pergi dari hadapan Danar dengan membawa sejuta luka di hatinya. Sementara Danar masih diam terpaku tanpa bisa mengeluarkan suara, lidahnya begitu kelu untuk mengatakan alasan dan sakit yang dideritanya.


Baru beberapa langkah, Syarah menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. “Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak membawa sepeser pun harta yang kamu berikan padaku. Aku sudah meninggalkan semuanya, jadi tidak perlu cemas mengiraku membawa lari hartamu.” Usai mengatakannya, Syarah benar-benar pergi meninggalkan Danar yang mengalihkan pandangan pada bayangan Syarah yang perlahan mulai menghilang.


“Sial!” maki Danar pada dirinya sendiri.


Prang prak brukk.


“Kau bodoh Danar! Kau bodoh!” maki Danar sambil menjambak rambutnya kuat-kuat.


Danar bahkan meninju tembok tebal untuk meluapkan emosinya, darah mengucur deras dari buku tangannya.


“Danar, bangun Danar!” ucap seseorang sambil menepuk pundak Danar.


Danar langsung terkesiap dan terengah-engah dengan keringat mengucur deras di dahinya.


“Tuan, minumlah dulu,” ucap orang tadi yang tak lain adalah bibi Rumi.


Danar langsung mengalihkan pandangan ke depan melihat istrinya masih enggan untuk sadar. Dia merasa lega melihat keberadaan Syarah di sisinya baru menerima gelas berisi air itu untuk menenangkannya dari mimpi buruk yang sangat menyeramkan.

__ADS_1


“Tuan lebih baik pulang dulu untuk istirahat, biar saya yang menemani nona Syarah di sini. Jika ada informasi nanti pasti akan langsung saya sampaikan pada Tuan,” ucap bibi Rumi pada Danar yang sedang menatap istri cantiknya itu.


Tapi Danar sepertinya enggan untuk meninggalkan istrinya barang sejengkal pun. Dia masih betah duduk di samping istrinya untuk menunggu istrinya bangun. Bibi Rumi yang melihat majikannya tidak mau menuruti perkataannya kembali membujuk melihat keadaan Danar sangat kacau.


Pakaian kantor yang dipakai sejak kemarin terlihat sudah lecek di sana sini tanpa ada keinginan untuk berganti. Rambut hitam lebatnya bahkan sudah acak-acakan. Kantung mata makin tebal dengan lingkaran hitam menunjukkan Danar sedang kurang istirahat.


“Tuan, Anda juga harus menjaga diri sendiri. Kalau Tuan sakit dan nona sakit lalu siapa yang akan mengurus nona yang sedang sakit. Setidaknya lakukan ini demi nona, dia pasti tak ingin melihat kondisi Tuan yang seperti sekarang,” bujuk bibi Rumi.


“Aku tidak akan pergi kemana-mana.” Danar mengatakannya dan mengeluarkan hp untuk menghubungi seseorang.


Danar menghubungi orang kepercayaannya di perusahaan. “Brian, hari ini aku tidak pergi ke kantor. Semua urusan pekerjaan aku serahkan padamu, jangan ada kesalahan sedikit pun.” Brian adalah tangan kanan Danar di kantor, jadi jika terjadi sesuatu maka Brian yang akan mengerjakan pekerjaan Danar.


Setelah mengatakannya, Danar meletakkan hp di nakas dan kembali menggenggam tangan halus istrinya. Danar meletakkan punggung tangan Syarah di pipinya, dia sedikit tenang karena suhu tubuh Syarah sudah mulai normal.


Dia sama sekali tidak ada keinginan untuk memperbaiki penampilannya yang sangat kacau dan kusut. Padahal Danar adalah tipe orang yang sangat peduli pada kebersihan dan penampilan. Namun saat ini, dia sama sekali tidak peduli akan hal ini karena prioritasnya kini ada istrinya.


Pintu kamar terbuka dan memunculkan seorang perawat dengan dorongan yang berisi handuk dan wadah. “Permisi Tuan, saya kemari hendak membersihkan nona.” Perawat itu akan membersihkan tubuh Syarah karena belum sadar sejak kemarin.


“Biar saya yang mengurus istri saya sendiri,” ucap Danar tanpa ingin dibantah.


“M-maaf Tuan, tapi ini pekerjaan saya. Saya takut terkena sanksi karena tidak melakukan pekerjaan saya dengan baik,” ucap perawat itu menolak.


“Jangan khawatir. Pergilah, biar aku yang mengurus istriku.” Akhirnya perawat itu pergi dan menunggu di luar.


Danar mulai mengisi air di wadah dan mulai menyiapkan handuk untuk membersihkan istrinya. Dia melakukan semuanya sendiri tanpa ada bantuan dari siapa pun, karena memang bibi Rumi sudah pergi sejak tadi entah kemana. Mata Danar fokus pada Syarah, hanya satu kata dalam pikirannya kini ‘cantik’.


Sebelum mengakhiri kegiatannya, dia mengecup dalam kening istrinya lama. Dielusnya surai panjang dan lembut milik istrinya. Meskipun tidak pernah mendapat perawatan salon, tapi istrinya begitu cantik luar dan dalam juga bersih tanpa noda apa pun. Ketika pintu diketuk barulah dia melepas pandangan dari wajah istrinya.


“Permisi Tuan, saya izin mengambil peralatannya. Sebentar lagi dokter Panca akan datang untuk mengontrol kondisi nona.”


Danar menyatukan wajahnya dengan wajah Syarah. Dia tidak ingin lepas dari istri kecilnya itu. Kembali teringat akan mimpi buruk yang hinggap dalam tidurnya, dia sama sekali tidak ingin mimpi itu menjadi kenyataan. Dia bertekad akan menjelaskan semuanya agar tidak terjadi kesalahpahaman antara dirinya dengan istrinya setelah istrinya sadar. Jika mimpi itu menjadi kenyataan, dia tidak bisa membayangkan akan jadi seperti apa hidupnya.

__ADS_1


Lalu apakah Syarah akan menerima begitu saja penjelasan dari suaminya? Kemudian mereka hidup bahagia dan menjadi keluarga yang seperti pada umumnya? Jangan lupa komen dan like sebagai bentuk dukungan.


Terima kasih sudah membaca


__ADS_2