Perawan Tua Istri Sang Duda

Perawan Tua Istri Sang Duda
Kontrak Kerjasama


__ADS_3

Syarah yang sudah memastikan suaminya berangkat kerja sampai hilang dari pandangannya segera melangkah kembali ke dalam rumah dan melanjutkan sarapannya yang sempat tertunda. Dia menikmati sarapan sambil menonton kartun di tv yang ada di ruang tengah dengan sesekali tertawa saat melihat adegan tikus dan kucing yang sedang bertengkar. Karena dia tadi sudah menyiapkan bekal sarapan untuk suaminya di kantor karena tadi belum sempat sarapan dengan menyuruh sopir untuk mengantarkan ke kantor jadi sekarang dia bisa tenang tidak mengkhawatirkan suaminya yang pergi bekerja tanpa menikmati makan terlebih dahulu.


“Permisi,” ucap seseorang dari luar rumah yang terdengar oleh Syarah yang berada tak jauh dari ruang depan.


Dia pun berinisiatif menemui orang yang bertamu sebelum pelayan yang menerimanya.


“Eh Ratih, ada apa kok kemari gak nelpon aja,” ujar Syarah.


“Eh iya Mbak, tadi Ratih sudah mencoba menelpon Mbak tapi gak diangkat,” jawab Ratih.


“Oh iya? Aduh maaf ya tadi aku sedang nonton mungkin hpnya masih di silent. Ayo masuk dulu,” ajak Syarah namun ditolak oleh Ratih.


“Gak usah Mbak, Ratih kesini mau mengabari kalau tadi ada pelanggan yang datang dan meminta untuk dibuatkan


bunga special oleh Mbak Syarah sendiri. Mbak Syarah setuju tidak?” jelas Ratih.


“Memangnya untuk acara apa Tih?” tanya Syarah.


“Orangnya bilang katanya untuk pacarnya, katanya pacarnya suka banget pesen bucket bunga di toko kita Mbak jadi dia ingin kasih surprise sekaligus untuk melamar pacarnya.”


“Wah manis sekali, ya sudah bilang sama dia kalo aku setuju membuatkan bunga spesial untuk mereka. Tolong kamu tanyakan sama dia bunga apa yang dia request nanti kamu chat aku. Aku mau sarapan dulu,” ujar Syarah.


“Siap beres Mbak, ya sudah Ratih balik ke toko dulu ya,” pamit Ratih.


“Tunggu dulu, kamu sama temen kamu sudah


sarapan belum? Kalau belum ayo sarapan dulu,” ujar Syarah.


“Sudah Mbak, terima kasih banyak. Saya permisi dulu soalnya mau ngecek stok untuk wedding dua hari lagi,” ujar Ratih dan segera pamit pergi.


Setelah kepergian Ratih, Syarah kembali ke ruang tengah dan menghabiskan sarapannya dengan cepat dan segera pergi ke rumah kaca miliknya yang di dalamnya tersimpan keindahan berbagai jenis bunga.


Dengan mengenakan sepatu boot dan memakai dress floral berwarna dusty yang melambai indah ketika tertiup angin. Berbagai jenis bunga seperti mawar, daisy, baby’s breath, lily, anyelir, krisan, tulip, ranunculus, hydrangea, peony, carnation. Tak lama Ratih muncul dari luar.


“Mbak, tadi orangnya nelpon katanya pacarnya suka bunga tulip,” ujar Ratih.


“Okay aku akan buatkan,” jawab Syarah sambil beranjak mengambil bunga tulip.


Dia memetik bunga yang menurutnya paling cantik dan dia petik beberapa untuk bisa dijadikan bucket bunga. Setelah merasa cukup dia membawa bunga dan peralatan lain yang sudah disiapkan oleh Ratih ke ujung ruangan yang ada tempat duduknya. Syarah pun mulai merangkai bunga tulip dengan sepenuh hati sambil bersenandung kecil.


**


Sementara itu, Danar yang sedang ada meeting sangat fokus dan berharap agar bisa memenangkan tander. Perusahaan yang dia incar adalah perusahaan besar yang berpusat di Amerika jadi dia sangat berharap agar bisa menang dan mendapat keuntungan besar.


“Baik, terima kasih atas penjelasannya. Perusahaan kami menerima kerja sama dengan perusahaan Anda. Penandatanganan kontrak bisa dilakukan saat ini juga berhubung besok saya sudah harus kembali


ke Amerika,” ujar laki-laki yang berpakaian serba hitam.


“Terima kasih banyak atas kerjasamanya. Semoga perusahan kita bisa menjalin kerja sama dalam waktu panjang Mr. Jack,” kata Danar.


“Excuse me Sir, silahkan tanda tangan di sini,” ujar asisten Danar memberikan dokumen yang akan mereka tanda tangani sebagai bentuk kerja sama.


Setelah menandatangani kontrak kerja sama, laki-laki yang bernama Mr. Jack tadi pamit.

__ADS_1


“Sekali lagi terima kasih atas kerjasamanya, kami akan melakukan yang terbaik. Oh iya mengapa pemimpin


perusahaannya tidak datang?” tanya Danar.


“Maaf CEO kami sedang melakukan business trip jadi saya yang mewakili,” jawab Mr. Jack.


“Baiklah jika seperti itu, sampaikan salam untuk CEO Anda,” kata Danar dengan senyum tidak pernah luntur.


Mr. Jack bersama asistennya pamit pergi dan meninggalkan kantor Danar tepat saat jam makan siang. Awalnya Danar hendak mengajak mereka makan siang bersama namun mereka menolak dengan alasan masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan. Dia pun memahami bahwa perusahaan tersebut sangat besar pastinya pekerjaan mereka sangat sibuk.


Jadilah Danar menghubungi Syarah untuk datang ke kantornya segera.


**


Sementara itu di sebuah mobil mewah berwarna hitam metalik seorang laki-laki sedang dalam panggilan.


“Halo Jack, bagaimana?” tanya laki-laki yang menghubungi Jack.


“Halo Sir, saya ingin mengabarkan bahwa kerja sama sudah saya terima. Kita sudah berhasil membeli 40% saham mereka,” jawab Jack dengan senyum menang.


“Sudah kuduga, good job Jack,” ujar laki-laki itu lantas mematikan panggilannya.


**


Syarah yang sedang berkutat di toko bunganya ketika mendengar perintah dari suaminya untuk datang ke kantor segera bersiap. Dia merasa heran saat mendengar perintah suaminya untuk datang ke kantor. Padahal biasanya suaminya itu jarang mengizinkannya untuk berpergian.


“Aku tidak yakin jika dia menyuruhku ke kantor tanpa alasan,” ujar Syarah yang sedang memoleskan lip cream berwarna nude ke bibir tipisnya.


Tak ingin mendengar omelan dari sang suami, Syarah segera mengenakan flat shoes dan beranjak keluar sambil menyampirkan tas kecil ke pundaknya.


“Terima kasih Pak,” jawab Syarah dengan senyum ramahnya.


Syarah memandang jalanan melalui kaca jendela. Rasanya sudah lama dia tidak pernah melihat kehidupan luar. Mungkin karena suaminya yang melarangnya pergi tanpa alasan penting atau pun dia yang memang lebih


senang tinggal di rumah.


Beep beep


“Ya ampun tidak sabar sekali sudah menelpon lagi,” gumam Syarah mendelik kesal melihat nama orang yang menelponnya.


“Halo ada apa?” tanya Syarah datar.


“Sya kamu sudah berangkat belum? Dari tadi tidak sampai-sampai? Jangan-jangan kamu masih bermalas-malasan,” ujar Danar menggebu.


Syarah mendengus kesal, “Apa sih Mas, aku sudah di jalan sekarang. Tidak sabar sekali,” bantah Syarah kesal.


“Aku kira masih di rumah ya sudah hati-hati di jalan. Jangan bersikap berlebihan mengerti?” tanya Danar yang


terdengar seperti peringatan.


“Hmm iya,” jawab Syarah tak bersemangat dan memutuskan panggilan.


Kembali dia memandang ke luar jendela, hatinya terasa hampa padahal hidupnya baik-baik saja. Hanya bisa memandang ke depan dengan tatapan kosong tanpa energi.

__ADS_1


**


Sesampainya di kantor Danar, Syarah langsung menuju ke lift yang akan membawanya ke ruangan suaminya berada. Ketika sedang berjalan, banyak pasang mata yang melihat ke arahnya dan menunduk hormat. Sementara dirinya yang merasa tak enak membalas dengan senyum ramah dan anggukan.


Ingin rasanya dia segera sampai di ruangan suaminya, diperhatikan banyak orang dan dihormati seperti itu membuat Syarah risih. Begitu lift sampai di lantai tempat suaminya berada baru Syarah merasa


lega dan merapikan rambutnya yang dia biarkan tergerai indah menyentuh punggung.


“Selamat siang Nyonya Syarah, tuan Danar sudah ada di dalam langsung masuk saja,” ujar asisten Danar yang langsung berdiri menyambut kedatangan istri dari bosnya.


“Selamat siang, baiklah aku masuk dulu,” jawab Syarah dan melanjutkan langkah ke ruangan suaminya.


Melihat pintu ruangan dibuka, Danar langsung mendongakkan kepala dan tersenyum melihat kedatangan istrinya.


“Mas, tumben kamu nyuruh aku ke kantor. Ada apa?” tanya Syarah yang sudah berdiri di sebrang meja suaminya.


“Kemarilah,” perintah Danar sambil melambaikan tangan menyuruh istrinya mendekat.


Syarah patuh saja dan berjalan mendekat. Saat sudah berada di dekat suaminya, tiba-tiba Danar menarik Syarah jatuh ke pangkuannya. Dia tersenyum sangat tampan lalu dia mendekatkan wajahnya pada istrinya.


Dia menyalurkan kebahagiaan dengan mengecap rasa dalam bibir istrinya dengan semangat seolah ingin melampiaskan kebahagiannya.


“Mm Kak lepaskan,” ucap Syarah yang sudah hampir kehabisan napas.


“Maafkan aku tak tahan,” ujar Danar sambil terkekeh dan mengecup sekitar wajah istrinya. Reflek Syarah menjauhkan wajah Danar yang tiada habisnya mengecup.


“Kak kita sedang di kantor jangan begitu,” kata Syarah mengingatkan.


“Sya ini adalah ruanganku, tidak ada yang bisa masuk dan melihat apa yang kita lakukan,” kekeh Danar dengan bangga.


“Iya terserahmu, aku hanya merasa sangat senang. Kau tahu aku berhasil mendapat kerja sama, aku akan mendapat keuntungan besar Sya!” jelas Danar dengan semangat.


“Oh iya? Selamat ya Kak, aku senang sekali,” ujar Syarah dengan wajah berbinar.


“Iya bahkan perusahaan itu menjamin sebagian besar proyek perusahaan mas, kita bisa untung besar Sya,” kata Danar sangat senang.


Namun perasaan Syarah malah tidak enak, harusnya dia bahagia mendengar kabar keberhasilan suaminya tapi dia merasa ada sesuatu hal.


“Kamu tidak mau memberi selamat untuk suamimu yang hebat ini?” tanya Danar dengan menaikkan sebelah alis.


Syarah geleng-geleng kepala, “Selamat atas kesuksesannya suamiku, semoga rezekimu semakin berlimpah,” ujar Syarah berharap bahwa tidak akan ada hal buruk nantinya.


“Hanya begitu saja?” tanya Danar dengan ekspresi tidak senang.


“Kau mau apa? Aku traktir? Uangmu lebih banyak Kak harusnya kamu yang menraktir aku,” kata Syarah geleng-geleng kepala.


“Bukan itu, ini,” ujar Danar sambil menunjuk bibirnya.


Syarah melotot kesal, “Dasar mesum! Lebih baik aku pulang saja,” ujar Syarah kesal ingin meninggalkan suaminya.


Tentu saja Danar tidak tinggal diam, “Hehe tidak ayo aku akan membawamu makan siang. Tapi apa ini? kenapa kamu menggerai rambutmu? Kamu memang sengaja ingin tebar pesona dengan rambutmu?” tanya Danar.


Kali ini Syarah benar-benar jengah dengan suaminya.

__ADS_1


Jangan lupa dukung dengan like, vote dan komen


Terima kasih sudah membaca


__ADS_2