
Hai terima kasih sudah membaca, jangan lupa like dan komen sebagai bentuk dukungan🥰🥰
Syarah merasa lemas setelah mendengar perkataan Danar. Dia benar-benar bingung di satu sisi dia harus bertanggung jawab pada pekerjaan, namun di satu sisi dia tidak bisa membantah atau pun melawan perkataan suaminya. Padahal dia sudah menghubungi pemilik kebun juga karyawan-karyawan yang bekerja di toko. Memutar otak, Syarah berpikir bagaimana cara dia harus menyelesaikan permasalahan ini.
Dia harus memanfaatkan otaknya untuk memecah jalan keluar yang akan dia ambil. Pekerjaan baginya adalah sebuah tanggung jawab, namun sebagai istri tentu dia akan berdosa bila melawan suami. Melihat jam yang berada di nakas sudah menunjukkan setengah 6 pagi, dia harus memutuskan langkah yang dia ambil dengan cepat.
“Kak. Kak Danar.”
Syarah yang keluar dari kamar langsung mencari keberadaan suaminya. Sudah ada beberapa pilihan jalan keluar yang ada di kepalanya saat ini. Dia harus dengan bisa meyakinkan Danar pada pilihan yang akan diberikannya.
“Huft … Kak, aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”
“Hm apa yang ingin kau katakana? Apa kau akan menipu aku agar kau bisa pergi? Kalau itu yang ada di otakmu, maka jangan berharap berhasil. Kau tidak akan bisa melakukannya.”
“Aku tidak akan menipu daya kamu, Kak. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu dan bertanya sama kamu.”
Syarah mengambil posisi duduk di pinggir kolam dimana suaminya itu tengah beristirahat setelah berenang.
“Aku mengakui jika aku memang salah untuk belum memberitahu kamu tentang rencana kepergianku hari ini. Aku ingin menekankan, jika aku memang benar-benar lupa sama sekali tidak ada maksud untuk tidak memberitahu atau pun berbohong sama kamu.”
Syarah menjeda penjelasannya menunggu respon dari Danar. Namun nampaknya Danar mendengarkan perkataanya walaupun laki-laki itu tidak memandang pada Syarah yang berada di sebelahnya. Syarah anggap itu sebagai bentuk suaminya mendengarkan penjelasannya.
“Orang yang meminta jasaku itu baru menghubungi kemarin malam, sedangkan acara akan dilaksanakan besok sore. Aku sangat terkejut awalnya karena dia memberitahu mendadak. Tapi saat aku menghubungi secara langsung dan dia menceritakan kisahnya dengan pasangannya, aku jadi tertarik untuk membantu dalam acara pertunangan keduanya. Mungkin ini terdengar klise, tapi dia mengatakan bahwa calon mempelai laki-lakinya adalah pemuda desa yang tidak memiliki apa-apa. Mereka saling jatuh hati dengan perbedaan yang sangat ketara diantara mereka. Perjuangan mereka untuk bersatu tidak mudah, hingga mereka mendapat restu dari orang tua si perempuan. Perempuan itu menghubungiku karena dia ingn agar aku bisa memberi keindahan di acara ikatan mereka. Mungkin itu sangat sederhana, tapi tersimpan doa dan keinginan agar kehidupan mereka kelak bisa seindah bunga-bunga yang menghiasi acara pertunangan mereka.”
__ADS_1
Panjang lebar Syarah menjelaskan pada Danar, dia hanya ingin suaminya mengetahui yang sebenarnya tanpa ada kebohongan di balik cerita yang dia sampaikan. Alasan Syarah menerima pesanan itu bukan semata-mata hanya untuk menunjukkan kehebatannya dalam merangkai bunga. Namun ada alasan kuat di balik setujunya dia untuk menerima pesanan itu. Dia hanya berharap jika suaminya itu bisa menerima penjelasannya.
“Kenapa harus kamu yang dia pilih untuk menghias pertunangannya? Bukannya kamu belum pernah mendapat pesanan seperti itu? jadi kenapa harus kau terima, bukannya itu hanya akan merusak acaranya saja nanti?”
“Kak, jika aku boleh jujur. Awalnya aku hanya ingin menantang diriku sendiri, apakah aku akan bisa menjalankan pesanan mendekor bunga untuk acara pertunangan mereka atau aku hanya mampu merangkai bunga untuk pesanan per orang saja. Aku memutuskan untuk menerima pesanannya, tapi saat aku menghubungi dia dan dia menceritakan kisahnya. Kau tahu, aku sangat tersentuh dengan perjuangan cinta mereka. Walau hanya sekedar menghias bunga disana, aku ingin turut berbahagia atas kebahagiaan mereka. Apakah aku salah?”
Syarah bertanya sambil memandang Danar yang masih berada di dalam air. Dia tak mampu menahan gejolak kesedihan yang terpancar dari tatapan matanya yang sayu. Akhir-akhir ini perasaannya sedang tak menentu membuatnya mudah rapuh untuk mengeluarkan kesedihan yang jarang sekali dia tampakkan ke orang lain.
Lama menunggu Danar berpikir, Syarah masih tetap berada di posisinya. Berharap Danar mengerti dan paham padanya. Sedikit menurunkan egonya dan menerima keinginan istrinya, itulah yang diharapkan oleh Syarah. Hanya rintik gerimis kecil yang memecah kesunyian diantara mereka.
“Permisi Non, maaf mengganggu. Itu di depan ada tamu, namanya Ratih dan Rahma yang katanya pegawai toko bunga. Katanya mereka ada janji dengan Nona,” ucap bibi Rumi.
“Iya Bi. Terima kasih, nanti saya kesana.”
“Mbak, Mbak Syarah kenapa masih pakai baju rumah? Apa kita datang terlalu cepat?” tanya Ratih.
Rahma melihat jam yang berada di tangannya, melihat bahwa 5 menit lagi adalah jam 6 itu artinya mereka tidak datang terlambat.
“Ratih, Rahma, sebelumnya aku ingin minta maaf kepada kalian. Aku memberitahu rencana kepergian kita sangat mendadak, karena memang kepeluan itu sangat mendesak dan harus diselesaikan dalam waktu cepat.”
Syarah menjeda kalimatnya, dia tak cukup kuat untuk memberikan kekecewaan pada dua orang di hadapannya atas kalimat yang akan dia katakan nanti.
“Tidak masalah Mbak. Kita sangat tahu kalau permintaan itu datang sangat mendadak dan dalam waktu dekat. Itu bukan salah Mbak, jadi tidak perlu minta maaf seperti itu,” ucap Ratih.
__ADS_1
“Ada hal yang harus saya sampaikan pada kalian. Kita tidak akan pergi pagi ini, dan kita juga tidak bisa menerima permintaan untuk menghias di acara pertunangan itu.”
Syarah yang tak sanggup mengatakannya menunduk tak berani melihat karyawan yang ada di hadapannya. Tersimpan rasa kesedihan dan kekecewaan karena dirinya sendiri. Dia sangat kecewa pada dirinya yang tak bisa memegang ucapan yang keluar dari mulutnya sendiri.
“Sebelumnya maaf Mbak, apabila saya kurang sopan dan terlalu ingin tahu. Kalau boleh saya tahu, kenapa kita tidak jadi menerima pesanan itu setelah tadi malam mengatakan jika meyetujui pesanan tersebut?” tanya Ratih penasaran.
Syarah yang memang tak sanggup mengatakannya tadi, memandang ke arah lain saat mengatakannya. Namun hal ini bisa ditangkap oleh Ratih. Walaupun belum lama bekerja dengan Syarah, sedikit banyak Ratih bisa memahami karakter Syarah. Melihat gelagat Syarah, dia bisa menarik kesimpulan bahwa bosnya itu sedang menyembunyikan sesuatu.
“Mm aku hanya merasa kalau aku tak memiliki kemampuan sebaik itu untuk bisa mengerjakan dekorasi bunga di acara pertunangan besar seperti itu. kalian tahu sendiri jika selama ini kita hanya mengerjakan pesanan buket bunga sederhana saja, itu pun hanya per orangan saja. Jadi akan lebih baik untuk acara pertunangan sebesar itu diserahkan pada yang sudah professional saja. Bukan sepertiku yang masih asal-asalan dan sesuka hati dalam membuat rangkaian bunga.”
Syarah menjelaskan berusaha alasan yang jelas-jelas karangannya semata. Tak mungkin baginya untuk menceritakan alasan yang sebenarnya. Dia harus memberikan alasan lain dan itu logis diterima oleh karyawannya. Tapi Ratih tak semudah itu menerima alasan yang Syarah ucapkan. Dia merasa ada sesuatu yang ditutupi oleh bosnya itu, namun sebagai karyawan dia tidak berhak menuntut kebenaran pada bosnya.
“Mbak jangan berkecil hati seperti itu, tidak masalah jika kita tidak jadi mengambil pekerjaan ini. Dalam bekerja kita membutuhkan kenyamanan, jadi bila memang Mbak kurang nyaman dengan pekerjaan tersebut akan lebih baik kita batalkan. Nanti biar saya segera kabari mereka agar bisa segera mencari tempat lain. Mbak tidak perlu khawatir.”
Ratih berusaha menguatkan Syarah bahwa keputusan itu bukan suatu masalah yang harus menjadi beban. Walau merasa sedikit mengganjal tapi tidak masalah akan hal itu.
“Sekali lagi saya minta maaf. Kalian bisa kembali ke rumah terlebih dahulu, atau bisa ke toko. Senyaman kalian saja.”
“Kami ke toko saja sambil menunggu jam buka, agar tidak perlu bolak-balik.”
“Ya sudah, kalian hati-hati di jalan ya. Nanti saya kirim sarapan untuk kalian.”
“Baik Mbak.”
__ADS_1
Setelah Ratih dan Rahma pergi dari rumah, Syarah masih duduk di kursi tempatnya tadi belum ingin beranjak. Dia bingung memikirkan bagaimana caranya memberitahu ini pada wanita itu. jika dia di posisi wanita itu tentu akan sangat kecewa, tapi mau bagaimana lagi jika memang ini yang harus terjadi. Tanpa dia sadari ternyata Danar mendengar dan mengetahui semua yang terjadi.