
Pagi hari, Syarah terbangun ketika mendengar suara azan subuh yang menggema. Dia mengerjapkan mata dan menggeliat kecil, tapi dia merasakan elusan di punggungnya. Hembusan nafas hangat yang terasa begitu dekat membuatnya penasaran dan membuka mata.
“Kak, Kakak sudah bangun?” tanya Syarah sambil menggeliat meregangkan otot.
Danar tersenyum lebar sangat jarang terjadi, “Selamat pagi,” ucap Danar singkat dan pelan. Dia mengecup kening istrinya dalam dan mendekap Syarah kembali.
“Selamat pagi Kak,” jawab Syarah dengan menyembunyikan wajahnya yang malu ke dada bidang suaminya.
“Dokter bilang kamu sudah boleh pulang siang ini,” ujar Danar pada Syarah.
Syarah mengangguk dengan merasa masih ingin tidur tapi dia tidak mengizinkannya karena tak baik bila tidur di pagi hari. Dia masih tidak menyangka jika suaminya bisa melakukan hal semanis ini. Selama pernikahan tidak pernah suaminya mengucapkan setelah bangun tidur.
Dia juga merasa lebih lega setelah mengatakan kejujuran pada suaminya semalam. Seharusnya dia tidak cemburu buta dan mudah menyerah. Selama ini dia juga tidak pernah menanyakan hati Danar padanya, dan memilih larut dalam kehidupannya.
Danar yang suka berada di lekukan leher jenjang istrinya mencoba mencari tempat favoritnya membuat Syarah menghentikan karena kegelian.
“Kak, jangan begitu ini sudah pagi.” Syarah berusaha menjauhkan kepala suaminya dari dirinya. “Kepalaku pusing, semalaman aku tidak bisa tidur untuk menjagamu,” keluh Danar pada istrinya.
“Hmm … maafkan aku jika merepotkan kamu,” ucap Syarah. Dia yang mencoba menyingkir dari dekapan Danar kesulitan karena lilitan lengan kekar milik suaminya.
“Jangan kemana-mana, disini saja. Setidaknya biarkan aku tidur sebelum kita kembali ke rumah karena pekerjaaanku semakin menumpuk setelah sehari tidak masuk bekerja.”
Penjelasan Danar membuat Syarah merasa bahagia karena suaminya yang gila kerja lebih mengutamakannya dibanding pekerjaan. Syarah mengarahkan tangannya ke kepala Danar untuk mengusap sambil memijit pelan agar sakit kepalanya mereda. Tanpa diarahkan, Syarah sudah menjalankan tangannya di titik-titik yang kiranya mengganggu suaminya.
Mendapat pijatan dan elusan dari istrinya, Danar bisa terlelap dan tidur dengan nyaman. Dia yang tidak pernah merasakan hangatnya dekapan seorang ibu, merasa nyaman ada di dekat Syarah. Istrinya yang berjiwa keibuan walaupun masih berusia muda.
Seperti baru sebentar tertidur, Syarah memencet hidung Danar agar suaminya itu mau bangun dari tidurnya. Tadi suaminya mengatakan akan pergi ke kantor, tapi Syarah yang sudah membangunkannya sejak satu jam lalu kesulitan membuat suaminya mau beranjak. Akhirnya dia memencet hidung tinggi suaminya agar mau bangun setelah semua usaha membangunkan halus tidak diindahkan suaminya.
“Apa-apaan sih? Ganggu orang tidur saja,” ucap Danar pada istrinya dengan mata masih terpejam.
__ADS_1
“Kak, kamu bilang tadi mau berangkat kerja. Sekarang sudah jam 8, kamu harus bangun jika kamu tidak ingin terlambat.”
“Aku adalah pemimpin perusahaan jika kau lupa. Jadi jam berapa pun aku masuk kantor, tidak ada yang bisa menegurku,” tolak Danar dengan semakin mengeratkan pelukannya pada istri.
Syarah mendengus mendengar jawaban Danar barusan, sepertinya sifat seenaknya itu begitu melekat pada suaminya. “Kak, bangun! Karyawanmu akan menggunjing bosnya yang selalu marah jika ada yang terlambat tapi dia sendiri tidak bisa mentoleransi keterlambatan. Sangat tidak adil.”
Mendengar omelan istrinya, Danar segera mencuri banyak kecupan di bibir istrinya yang sudah mengomel pagi-pagi. Setelah dia puas, baru dia jauhkan wajahnya dan turun dari ranjang menghindari istrinya yang terlihat akan marah. Syarah yang kecolongan memberengut kesal, bisa-bisanya sang suami mencuri kesempatan dalam kesempitan.
“Sudah, ayo kita pulang. Apa kau masih mau terus-terusan tinggal di rumah sakit ini?” tanya Danar yang sudah membersihkan wajahnya dari toilet.
“Apa aku pulang dengan pakaian rumah sakit seperti ini?” tanya Syarah sambil memandang pakaian yang masih melekat di badannya.
“Bisa-bisanya masih memikirkan tentang penampilan, sudah ayo kita tidak ada waktu lagi. Kau bisa berganti pakaian di rumah,” ucap Danar berjalan ke ranjang.
Danar membawa Syarah dalam gendongannya melangkah ke keluar. “Kak, untuk apa aku digendong, aku bisa jalan sendiri. Lepaskan nanti ada yang lihat!” ucap Syarah meronta dalam gendongan.
“Diam jika kau tidak ingin kita menjadi pusat perhatian orang lain,” ucap Danar.
Mobil yang mereka tumpangi melaju menuju rumah yang ada di pusat kota pada kawasan elit. Sedangkan dalam perjalanan, Danar tidak bosan-bosannya memandang wajah Syarah seperti seseorang yang sedang dimabuk cinta. Tangannya juga tidak pandai diam dengan bermain-main pada rambut panjang Syarah.
Syarah yang sudah jengah pada tindakan suaminya akhirnya membuka suara. “Kak berhenti menatapku. Aku risih dari tadi kamu lihatin terus,” ucap Syarah geram. Danar mengacuhkan ucapan istrinya dengan merangkul pinggang istrinya sambil membuka hp untuk mengecek email yang masuk untuknya.
Tak lama mobil memasuki halaman rumah, Danar membukakan pintu mobil untuk Syarah dan menuntunnya masuk. Syarah merasa suaminya sangat berlebihan sudah seperti orang yang sakit parah saja. Tapi tak ingin protes karena ujungnya akan sama saja, suaminya akan memenangkan perdebatan dan menganggap benar apa pun yang dia pikirkan.
Setelah memastikan Syarah ada di kamar pribadi mereka, Danar bersiap dengan kilat dan segera pergi ke kantor meninggalkan Syarah di rumah dengan penjagaan para pelayan.
...*****...
Sementara di tempat lain, hp yang terus berdering membuat pemiliknya tersadar dari tidurnya. Kepalanya sangat pening setelah terguyur air dalam waktu lama. Badannya terasa panas dingin seakan tak bisa digunakan untuk bangun tapi karena panggilan terus-terusan berdering akhirnya dia menyerah untuk mengangkat.
__ADS_1
“Halo ada apa?” tanya perempuan itu begitu teleponnya terhubung.
“Kau tanya ada apa, Risa? Kau tidak lihat sekarang sudah jam berapa dan kau belum juga menginjakkan kaki kantor? Saya beri waktu 15 menit kalau tidak surat peringatan akan sampai besok!” ucap seseorang dengan nada tinggi.
Panggilan teleponnya diputus begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Risa. Risa, dialah yang kini sedang berusaha bangun dari tidurnya dengan memegang kepalanya yang terasa pening dan menggigil. Enggan rasanya dia pergi bekerja dengan kondisinya yang sedang tidak sehat sepenuhnya.
Tapi kembali teringat jika dia tidak bekerja maka dia tidak bisa memenuhi kehidupan hidupnya sendiri. Tanpa memikirkan dandanan yang maksimal seperti biasanya, dia mengenakan pakaian kantor dengan bedak dan lipstik seadanya. Setelah siap, dia memesan ojol untuk mengantarkannya ke kantor beruntung letaknya dekat dari indekos jadi waktunya masih cukup.
Begitu sampai di depan kantor, dia berjalan cepat mengabaikan badannya yang sedang tidak sehat. Dia harus segera sampai sebelum ancaman bosnya benar-benar terwujud. Dia tidak boleh kehilangan pekerjaannya, dia tidak bisa jika harus memulai segalanya setelah perjuangan panjangnya.
“Selamat pagi, Pak,” sapa Risa lemah pada bosnya yang sudah berkacak pinggang.
Bosnya yang sudah berdiri dengan berkacak pinggang dengan ekspresi mengerikan siap menyemburkan emosi pada Risa. Wajah Risa semakin pucat melihat bosnya sudah siap membantai pegawainya yang tidak disiplin. Risa sekuat tenaga tersenyum dan berdiri tegak menahan badannya yang hampir roboh karena lemas.
“Kamu tahu kesalahanmu kan, Risa? Disini saya tidak menerima ada pegawai yang bekerja tidak tepat waktu. Kamu pikir ini adalah perusahaan kakekmu sehingga kau bisa seenaknya? Huh … sore nanti temui saya di ruangan,” ucap laki-laki berwajah tampan dengan kulit putih namun selalu menampilkan wajah gaharnya.
Setelah mengutarakan peringatannya, manager yang membawahi Risa kembali ke ruangannya. Sementara manager itu pergi, teman-teman Risa segera menemui Risa melihat temannya yang terlihat lemas.
“Ris, kamu baik-baik saja, kan? Wajahmu terlihat pucat, badanmu juga panas. Kalau kamu sakit lebih baik kamu tadi tidak masuk saja,” ucap teman Risa yang khawatir pada dirinya.
Risa belum menjawab dan berjalan pada tempatnya untuk duduk. Badannya benar-benar lemas dan sangat ingin berbaring layaknya orang yang sedang sakit. “Kamu tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja. Hanya sedang tidak enak badan saja.”
Teman Risa khawatir pada temannya itu karena Risa sangat jarang sakit, jika dia benar-benar sakit maka sakitnya sudah tidak bisa ditahan. Risa duduk teringat yang terjadi, walau hanya minim tapi dia berusaha menepis dan meyakinkan diri. Menepis kemungkinan keberhasilan atas perbuatannya dengan laki-laki semalam.
“Semoga tidak terjadi apa-apa denganku.”
Kira-kira siapa laki-laki yang berhubungan dengan Risa? Apakah mereka sudah saling mengenal?
Terima kasih sudah membaca, ikuti Instagram @dewi.nur.kh untuk tahu update cerita
__ADS_1
Jangan lupa komentar dan like sebagai bnetuk dukungan.