Perawan Tua Istri Sang Duda

Perawan Tua Istri Sang Duda
47. Malam yang Indah


__ADS_3

Hai terima kasih sudah membaca ceritaku


Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar dan like sebagai bentuk dukungan


"Mas, apa ada camilan untuk teman minumnya? Aku cari-cari sepertinya disini tidak ada makanan apa pun," tanya Syarah.


"Memang tidak ada makanan disini, karena aku sangat jarang disini jadi aku tidak pernah menyimpan makanan," kata Danar memberi tahu.


"Ya sudah kalau begitu, untung saja masih ada gula."


Danar menatap keluar melalui jendela. Melihat hujan masih turun dengan deras, dia perkirakan jika hujan malam ini akan awet melihat intensitas hujan yang stabil. Tanpa sengaja dia teringat jika di halaman belakang rumah ditanami ketela pohon dan beberapa jenis buah oleh seseorang yang dipercaya Danar untuk mengurus rumahnya. Dia jadi ingin mengambil beberapa untuk camilan malam ini yang dingin.


"Aku teringat kalau di halaman belakang ditanami singkong. Aku akan ambil untuk dibakar," kata Danar.


"Tapi Kak, di luar hujan masih deras walaupun sudah tidak ada petir. Sebaiknya tidak usah," kata Syarah melarang.


Tapi Danar tidak memperdulikan ucapan istrinya, dia berjalan ke arah pintu belakang yang langsung menuju halaman belakang rumah.


"Kak, tunggu aku juga ikut. Ini ada payung, biar aku payungi Kakak," kata Syarah.


"Hujan masih deras, halaman belakang juga langsung mengarah ke hutan. Lebih baik kamu disini saja."


"Tidak, aku berjanji tidak akan merepotkan kamu Kak."


"Ya sudah kamu boleh ikut. Tapi ingat, kamu tidak boleh mengeluh dan jangan berada jauh dariku. Kita ada di kawasan hutan, tak menutup kemungkinan masih banyak hewan hutan yang berkeliaran."


"Iya, aku janji."


Mereka lalu keluar menuju halaman belakang rumah untuk mengambil singkong dengan Danar berjalan di depan dan Syarah yang berjalan di belakangnya sambil memegangi lengan suaminya. Memang benar, pohon singkongnya sudah besar membuat Danar mendesah lega. Danar mengambil ancang- ancang untuk mencabut pohon singkong itu. Sedangkan Syarah berdiri di dekatnya sambil memayungi agar tak terguyur hujan deras.


"Wah Kak ternyata banyak sekali singkongnya," kata Syarah senang melihat singkong yang dicabut berjumlah banyak.


Danar segera membawa hasil singkong itu kembali ke rumah bersama Syarah yang setia mendampingi. Sesampainya di pelataran rumah yang masih tanah, Danar memisahkan singkong dari pohonnya. Syarah yang teringat sedang memasak air segera kembali untuk melanjutkan membuat minuman yang sempat ditinggalkannya karena menemani suaminya mengambil singkong di halaman belakang rumah.

__ADS_1


*****


"Kak ini wedang jahenya sudah jadi," kata Syarah sambil menyodorkan nampan berisi dua cangkir wedang jahe untuk mereka berdua.


"Iya letakkan saja dulu aku masih membakar singkong," kata Danar.


"Loh kapan Kakak membuat pembakaran ini?" tanya Syarah melihat pembakaran itu.


"Tadi," jawab Danar singkat.


"Disini seru ya Kak, seperti di luar negeri. Aku tidak pernah membayangkan bisa tinggal di rumah di tengah hutan dengan segala keterbatasan akses. Tapi bisa dekat dengan alam," kata Syarah sambil memandang sekitar.


Saat Syarah hendak mengambil duduk di samping suaminya, Danar mengeluarkan suara.


"Tutup dulu pintu kalau kamu mau disini," perintah Danar.


Syarah menurut dan berjalan menutup pintu. Mungkin untuk berjaga-jaga agar tidak ada hewan yang masuk lagi mengingat halaman belakang rumah langsung terhubung dengan hutan belantara. Setelah menutup pintu Syarah kembali ke tempat suaminya.


"Ini sudah matang, makanlah."


Singkong yang sudah matang setelah dibakar ditempatkan di atas daun pisang yang sudah disiapkan. Syarah yang sudah bersemangat bergegas ingin mengupas kulit singkong agar segera dimakan. Tapi baru saja menyentuh sebentar dia langsung mengaduh kesakitan.


"Ckk kau ini ceroboh sekali. Sudah tahu singkong baru diangkat, tentu saja masih panas," decak Danar kesal pada istrinya.


"Hmm maaf," kata Syarah sambil melihat jarinya yang memerah akibat ulahnya tadi.


Danar lalu membuka kulit singkong tadi untuk Syarah. Syarah yang tidak ingin mendapat omelan memilih diam dan memperhatikan suaminya saja daripada melakukan kesalahan lagi. Danar setelah mengupas dan mengambil secuil singkong meniupnya lalu menyuapkan ke istrinya.


Syarah menerima suapan suaminya dengan senang hati. Singkongnya matang sempurna walau hanya dengan peralatan sederhana dari kayu bakar yang entah kapan disiapkan suaminya.


"Emm enak Kak," kata Syarah sambil mengacungkan dua jempol.


"Dimana-mana semua singkong rasanya sama saja. Ini singkong juga hanya dibakar, dimana letak enaknya," kata Danar.

__ADS_1


"Ish Kakak. Ini memang enak, ada beberapa jenis singkong yang memang memiliki rasa berbeda-beda. Kakak saja yang tidak tahu," kata Syarah membela diri.


Sebenarnya bukan Danar tidak tahu, tapi dia hanya menguji apakah Syarah juga mengonsumsi makanan kampung seperti singkong itu. Memang benar yang dikatakan Syarah jika singkong yang mereka makan adalah singkong berkualitas. Dulu Kakeknya pernah memiliki ladang singkong yang hasilnya dijual sampai ke luar negeri karena terkenal akan kualitas dan segi rasanya yang bisa diolah menjadi berbagai makanan.


Danar terus menyuapi Syarah dan berganti dengan dirinya sendiri. Tadi dia melihat jika tangan Syarah seperti melempuh akibat kebodohan istrinya itu. Daripada banyak berkata dia memilih untuk bertindak dengan menyuapi istrinya khawatir istrinya akan bertindak bodoh lagi yang berakhir menyakiti dirinya sendiri.


Malam itu, dibawah guyuran hujan yang deras dengan dikelilingi pohon-pohon yang tinggi menjulang, dua insan manusia sedang menikmati waktu berdua tanpa ada gangguan dari luar. Meninggalkan segala kepenatan kehidupan yang tak henti-hentinya menyerang umat manusia. Kebahagiaan yang mereka rasakan satu sama lain tanpa saling mengungkapkan dan membiarkan waktu membunuh kebersamaan.


Tanpa mereka sadari, terdapat tembok hitam tebal yang memisahkan dua insan yang terikat dalam pernikahan itu. Pernikahan yang dijalani oleh dua orang manusia yang tak pernah mengakui perasaan cintanya pada pasangannya. Mereka menjalani semuanya dengan jalannya masing-masing.


Satu pihak berusaha berjuang untuk berdua. Satu pihak berusaha menyembuhkan lara yang tertoreh dalam dihatinya. Tak ada yang menyadari perjuangan masing-masing. Manusia yang berkutat pada diri dan masalahnya tanpa ingin membagi pada pasangannya.


Sakit yang dialami, bukan hanya sakit yang terlihat oleh mata. Derita yang dialami bukan derita yang harus diumbar kesana kemari. Berusaha dan tetap menjalani tanpa ada niat untuk pergi dan meninggalkan sepi. Menikah bukan hanya sebatas status yang tertulis dalam identitas belaka. Berjuang dan berkorban terkadang perlu dilakukan.


Meninggalkan ego pribadi demi pasangan memang terasa berat. Tapi hati kembali teringat, pasangan adalah bagian dari diri sendiri. Lebih baik mengorbankan diri daripada harus melihat pasangan terluka. Terkadang diam dan memendam perlu dilakukan. Melupakan pedih yang tertancap kala hati berkorbar api kemarahan.


Diciptakannya pasangan untuk melengkapi, menemani dan membersamai. Saling menggenggam erat memberi kekuatan meyakinkan. Manusia tidak ada yang sempurna. Sesempurna apa pun manusia, tetap ada kekurangannya. Seburuk apa pum manusia, tetap ada kelebihannya.


"Kak, apa kamu tahu apa hal yang membuatku bahagia?" tanya Syarah memandang ke arah suaminya.


"Apa?" tanya Danar menanggapi.


"Mungkin ini terdengar menggelikan, tapi aku ingin mengatakannya. Setiap waktu kebersamaanku denganmu, itu adalah waktu terindahku. Kadang aku juga merasa takut, takut setakut takutnya apabila aku tidak bisa menjadi istri sesuai yang kamu inginkan."


Syarah tak kuat manahan air matanya, sampai dia tak mampu melanjutkan perkatannya.


"Tapi aku jauh lebih takut lagi, jika kamu memilih pergi meninggalan aku. Aku takut jika Allah menghukumku karena aku sebagai istri tak bisa membuatmu sebagai suami merasa bahagia memiliku," kata Syarah sambil menundukkan kepalanya tak mampu melanjutkan kata.


Danar tersentuh dengan ungkapan hati Syarah. Dia bingung bagaimana cara menanggapinya. Danar memilih untuk merengkuh tubuh rapuh itu dalam dekapannya. Dia tak menyangka jika perasaan Syarah sedalam itu padanya.


Dia merasa bahagia begitu dicintai, tapi di sisi lain dia juga takut jika rahasia yang ditutupinya rapat-rapat akan terbongkar. Rahasia yang nisa menjadi boomerang bagi kehidupan rumah tangganya kelak. Danar bertekad jika dia harus segera sembuh, dia ingin menjadi suami yang seutuhnya. Bisa memberi hak batin pada istri yang sangat mencintainya tanpa syarat.


Dia juga ingin memiliki keluarga seutuhnya bersama Syarah. Memiliki banyak anak yang akan menemani hari-harinya nanti. Memiliki Syarah yang berhati lembut seperti sutra.

__ADS_1


__ADS_2