Perawan Tua Istri Sang Duda

Perawan Tua Istri Sang Duda
33. Pengalihan 2


__ADS_3

Setelah kejadian tadi, Syarah meninggalkan Danar ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan berganti pakaian. Saat keluar kamar mandi, ia melihat Danar masih berbaring di atas kasur sambil bermain hp. Karena masih belum ingin berdekatan dengan suaminya, Syarah memilih keluar kamar. Mungkin ada hal yang bisa dia lakukan dari pada harus di kamar bersama seseorang yang berstatus sebagai suaminya.


Dia hanya mengikuti kemana langkah kaki membawanya pergi. Entah mengapa dia berjalan menuju ke dapur, dia pikir sepertinya mengacak-acak dapur bukan pilihan buruk. Sekali lagi, kegiatan apa pun akan Syarah lakukan demi menghindari Danar. Termasuk harus menyibukkan diri di dapur untuk melakukan hal yang sangat jarang dia lakukan, apalagi kalau bukan membuat kue.


Selama ini dia sudah pernah membuat kue, tapi itu hanya terjadi jika dia benar-benar dalam kondisi sangat ingin melakukannya. Membuat kue itu perlu perasaan, bukan hanya sekedar membuat sesuai takaran saja. Dia sudah pernah melakukannya jadi dia bisa merasakan perbedaannya, dia tak tahu apakah orang lagi juga sepertinya atau hanya dia saja yang merasa seperti itu.


Melihat stok bahan-bahan yang ada di dapur, Syarah mengumpulkan semua bahan yang dibutuhkan untuk membuat brownies sesuai dengan resep yang ada di salah satu laman resep memasak. Sejak dulu, dia lebih suka belajar membuat masakan melalui laman, bukan melalui video yang diunggah melalui platform yang menyediakan unggahan video. Dia akan lebih mudah gagal jika mempraktikkan ajaran dari video berbanding terbalik jika dia mempraktikkan ajaran dari laman resep memasak.


“Malam-malam begini buat brownies kukus sepertinya akan menyenangkan. Mumpung tidak ada pegawai dapur jadi aku bisa melakukan apa pun di dapur sesuka hati. Pasti akan sangat memalukan jika aku gagal membuat kue sederhana seperti itu.”


Syarah terkikik geli menyadari tingkahnya di malam hari. Tapi akan lebih baik seperti ini, lagipula selama ini dia sangat jarang gagal dalam percobaan membuat kue.


“Telur, gula, emulsifier, tepung terigu, bubuk cokelat, baking powder, vanili, mentega dan susu kental manis. Sip. Sudah lengkap semuanya. Brownies kukus ala Syarah siap dieksekusi.”


Syarah dengan semangat memakai celemek berwarna merah jambu miliknya yang diberikan oleh bi Jum beberapa hari lalu. Bi Jum bilang, saat sedang berbelanja tak sengaja dia melihat celemek berwarna merah jambu yang diperkirakan cocok bila digunakan Syarah. Katanya, supaya Syarah selalu semangat memasak.


Syarah mulai mengolah semua bahan untuk membuat brownies, dia sangat bersemangat untuk mencoba hal-hal baru. Terutama jika mencoba membuat kue, dia harus belajar lebih sabar dan cekatan. Sedikit saja lengah maka masakannya tidak akan berhasil, selain itu dia harus jaga mood yang sangat berpengaruh pada hasil masakannya.


*****


Sementara di dalam kamar, Danar yang sedang bermain game online orang yang tembak-tembakan tak menyadari jika istrinya tidak ada di kamar. Memang jika dia sedang bermain game online, dia akan lupa akan segalanya dan akan sibuk dengan dunianya sendiri. Saat dia kalah dalam permainan itu, dia hendak merebahkan diri di kasur. Namun baru saja ingin terlelap, dia baru sadar istrinya tidak ada di kamar itu. Dilihatnya di kamar mandi juga tidak ada, kemana istrinya pergi.


Dia merasa belum lama bermain, tapi dia sampai tak menyadari istrinya yang tak ada di sisinya. Danar mengecek balkon berpikir istrinya sedang bersantai disana, namun pintu balkon terkunci yang berarti Syarah tidak berada disana. Kemudian dia menuruni tangga ke ruangan bawah, berpikir mungkin istrinya sedang melakukan sesuatu di bawah.


Kepalanya menoleh ke sekeliling ruangan di lantai bawah namun tak bisa menemukan keberadaan istrinya. Rasanya tak mungkin jika Syarah pergi malam-malam, bahkan istrinya itu tidak izin padanya. Perasaan khawatir mulai menghinggapi Danar, dia takut sesuatu terjadi.


Danar menoleh ke dapur, tapi tak mungkin jika istrinya berada di dapur malam-malam seperti ini. Apalagi saat ini sudah hampir tengah malam, tapi melihat ruangan dapur yang terang membuatnya curiga. Lalu dia melangkahkan kaki ke dapur untuk mengecek keadaan disana.

__ADS_1


Dia dapat melihat seseorang dengan rambut yang digulung asal menjadi satu tengah memunggunginya berkutat dengan adonan di depannya. Hanya dari belakang saja, Danar dapat memastikan jika itu adalah istrinya.


“Hufff syukurlah dia masih disini,” gumam Danar pelan agar tak didengar Syarah.


“Tapi untuk apa dia malam-malam malah memasak, kurang kerjaan sekali.”


Danar yang tadinya ingin menghampiri Syarah membatalkan niatnya. Dia ingat betul tentang kejadian hari ini. Akan lebih baik jika dia menghindari Syarah beberapa waktu sampai wanita itu sudah dalam keadaan membaik perasaannya. Akhirnya Danar memutuskan untuk kembali ke kamar untuk menunggu Syarah kembali. Dia tidak ingin mengganggu aktivitas Syarah malam itu.


Syarah sendiri sama sekali tidak menyadari kehadiran seseorang di belakangnya. Karena dia sedang fokus pada adonan sambil mendengarkan musik yang dia putar dengan earphone yang terpasang di telinga. Selama proses pengukusan yang membutuhkan waktu hampir 30 menit, sembari menunggu dia memanfaatkan waktu untuk mencari referensi bunga yang bisa dia gunakan untuk acara pertunangan lusa.


‘Sister, maafkan saya yang mengganggu kalian di malam hari seperti ini. jika kalian sedang tertidur di waktu aku mengirim pesan ini tak masalah, tapi jika masih belum tidur silahkan dibaca informasi dari saya. Jadi, mengenai acara pertunangan yang akan dilangsungkan lusa, jadi aku akan menyampaikan sedikit infomasi pada kalian. Besok langsung ke rumah saya jam 6 pagi, kita harus ke kebun di desa untuk mencari stok bunga yang dibutuhkan untuk acara besok. Jadi siapkan diri kalian, bawa barang seperlunya saja. Terima kasih, selamat istirahat.’


Syarah mengirimkan pesan pada karyawannya melalui grup whatsapp, dia baru kepikiran untuk menghubungi mereka, padahal ini sudah hampir tengah malam. Dia berencana untuk membawa karyawannya untuk membeli stok bunga dari desa penghasil bunga langgananya, selama ini Syarah hanya sendiri untuk membeli tapi kali ini dia membutuhkan karyawannya untuk pertimbangan.


Dia jadi kepikiran dengan Danar, dia belum sempat memberi tahu Danar tentang hal ini. Sebagai seorang istri akan berdosa jika dia pergi dari rumah tanpa izin dari suami. Demi pekerjaannya, dia sepertinya harus menurunkan ego untuk berbicara meminta izin pada Sang Suami. Karena masih ada waktu 20 menit sebelum mengangkat adonan, dia pergi ke kamar untuk menemui suaminya.


Syarah berjalan ke kamar dengan masih menggunakan celemek yang dipakainya sejak tadi. Membuka pintu kamar, dia melihat cahaya sangat minim seperti biasa saat mereka tidur. Dia berjalan hati-hati agar tidak menabrak sesuatu dengan penglihatannya yang terbatas di tengah gelapnya kamar.


Sampai di kasur, dia duduk di samping Danar yang sudah rebahan dengan posisi menutup wajah dengan bantal.


“Kak, kakak sudah tidurkah?” tanya Syarah pelan tak ingin mengagetkan.


“Hmm ada apa?” tanya Danar merespon.


“Kak, mmm jadi, tadi aku mendapat tawaran mendekor bunga di acara pertunangan lusa. tapi stok bunga di kebun rumah sangat terbatas. Jadi aku berencana membeli bunga untuk lusa nanti ke kebun desa tempat langgananku membeli bunga bersama karyawan toko. Apakah kakak mengizinkan?” tanya Syarah pada Danar.


Syarah tak mendapat jawaban dari Danar, dia berpikir jika Danar tengah menimbang-nimbang apakah akan mengizinkan Syarah atau tidak. Tapi Syarah yang sudah terlanjur penasaran menepuk pelan lengan Danar meminta jawaban.

__ADS_1


“Kak, kakak mengizinkan aku kan?”


“Hmm iya iya.”


“Alhamdulillah, terima kasih. Besok rencananya aku akan berangkat jam 6 agar sampai disana bisa tepat waktu memetik bunga. Kakak tidak perlu khawatir aku akan siapkan segala kebutuhanmu sebelum pergi.”


Syarah yang mendapat izin dari Danar untuk pergi sangat senang. Teringat akan masakannya, dia segera bergegas kembali ke dapur. Tapi rupanya dia tidak menyadari sesuatu.


Dia tidak ingin brownies buatannya gagal kali ini. dengan langkah buru-buru, Syarah kembali ke dapur. Karena sudah waktunya untuk mengangkat adonan kue nya, dia segera mengeluarkan agar tidak berubah tekstur.


“Wah wangi sekali. Sepertinya lezat.”


Syarah memuji hasil masakannya sendiri melihat brownies buatannya terlihat berhasil seperti instruksi yang diberikan. Dia mengeluarkan dari cetakan ke piring yang sebelumnya sudah dia siapkan. Saat mengiris menjadi irisan-irisan yang mudah untuk dimakan, dia mengambil satu bagian penasaran dengan rasanya.


“Mmmh enak sekali, manisnya tidak berlebihan dan rasa coklatnya juga tidak buat eneg, sangat pas,” puji Syarah pada brownies buatannya sendiri.


Dia menata beberapa bagian potongan itu di atas piring, dia juga menaburi dengan keju dan daun mint sebagai penghias agar lebih menarik dilihat. Tak lupa dia mengambil beberapa gambar dari brownies hasil buatannya untuk dia unggah di sosial media miliknya.


Sebelum menikah, Syarah jarang sekali bermain sosial media. Bisa dibilang Syarah ini tergolong introvert, tapi setelah menikah dia jadi aktif di sosial media tentu karena dia bosan dan takt ahu harus melakukan apa, jadi dia mulai aktif bermain sosial media miliknya.


“Haduh sudah malam, aku harus segera tidur, besok aku harus pergi pagi.”


Menyadari kelalaiannya, dia segera membereskan peralatan masak yang tadi digunakannya agar tak merepotkan pegawai dapur besok pagi. Selesai dengan urusannya membereskan peralatan cucinya. Syarah segera kembali ke kamar.


Tapi melihat Danar yang sudah terlelap tidur bahkan sampai mendengkur, Syarah merasa Danar sedang kelelahan. Mungkin urusan pekerjaannya sedang banyak jadi imbasnya ke fisiknya yang jadi kelelahan. Syarah mengambil bantal di kasur dan juga selimut dari lemari, dia memilih tidur di sofa saja karena suaminya terlihat menguasai kasur dengan berbaring di tengah kasur yang hanya menyisakan sedikit ruang. Malam ini, mereka tidur terpisah.


Jangan lupa like dan komen yaa🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2