
Suara kokokan ayam yang ada di halaman belakang rumah membangunkan Syarah dari tidurnya malam ini. Tapi dia merasa tubuhnya terasa berat seperti sedang ketindihan sesuatu. Saat matanya terbuka sempurna, benar saja dia mendapati sebuah tangan mendekapnya dengan erat juga tangannya berada dalam genggaman orang tersebut.
Syarah tersenyum bahagia, bagaimana tidak, ia terbangun melihat suaminya yang biasa terlihat kaku dan tergas kini tidur dengan wajah polos seperti itu. Melihat posisi mereka saat ini menambah kebahagiaan tersendiri bagi Syarah. Dia sangat ingin suaminya memeluknya seperti sekarang ini untuk sepanjang waktu.
Mungkin karena masih terlalu pagi jadi Syarah tak sadar tertidur melihat suaminya begitu pulas di sampingnya itu.
*****
Kini Syarah terbangun karena cahaya matahari menyilaukan mata membuat Syarah membuka matanya. Dia segera menyadari kebodohannya karena bangun kesiangan bahkan sampai matahari sudah terbit.
Menengok ke samping tak mendapati keberadaan suaminya menambah penyesalan dalam diri Syarah. Dia beranjak menuju kamar mandi untuk mencari keberadaan suaminya. Namun nihil, dia tak mendapati keberadaan Danar di kamar.
Melihat jam dinding, baru dia menepuk jidat karena jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Tentu saja Danar sudah berangkat ke kantor. Rasa bersalah semakin menjadi memikirkan Danar pergi ke kantor tanpa dia siapkan keperluan suaminya itu membuatnya menyesal.
Syarah akhirnya memutuskan untuk mandi, dia merasa badannya sangat lengket. Saat akan mencuci muka dia mendapati baskom dan handuk kecil. Mencoba mengingat apa yang terjadi barulah dia mengingat bahwa semalam dia merasa badannya tak enak.
Sekarang pun Syarah merasa badannya masih sedikit demam. Tapi dia tetap mandi dengan air hangat, karena sudah tak nyaman dengan badannya yang lengket.
Selesai dengan membersihkan diri, Syarah turun ke bawah. Melihat majikannya yang menuruni tangga membuat bibi Rumi menyapanya.
“Selamat pagi, Nona. Anda sudah bangun? Nona mau dibuatkan bubur untuk sarapan?” tanya bibi Rumi.
“Selamat pagi, Bibi. Bibi apakah kak Danar sudah pergi ke kantor?” tanya Syarah.
“Sudah sejak setengah jam lalu, Nona. Beliau tadi berpesan untuk mengingatkan anda meminum obat setelah sarapan,” jelas Bibi Rumi.
“Baiklah Bi, tolong katakan pada Bi Jum untuk membuatkan sarapan untuk saya. Saya sedang tidak enak badan,” ucap Syarah.
“Baik Non, silahkan ditunggu sebentar.”
Bibi Rumi pamit ke dapur untuk membantu menjalankan perintah Syarah tadi. Sedang Syarah berjalan ke ruang tengah untuk menonton televisi. Entah kenapa dia sangat ingin menonton kartun pagi ini.
Belum lama dia menonton, dia teringat pada Danar. Dia jadi mengkhawatirkan apakah suaminya sudah sarapan atau belum. Dua kali dia mencoba menghubungi Danar namun tidak ada jawaban. Danar pasti sedang sibuk, pikirnya.
Bibi Rumi datang menghampiri Syarah dengan membawa nampan berisi bubur untuk Syarah juga obat. Syarah menerimanya dengan senang hati sambil menonton acara kartun itu. Tapi dia tidak bisa menghabiskan bubur yang terasa hambar di lidahnya efek dari sakitnya. Tidak lupa dia meminum obat agar segera sembuh. Berlama-lama sakit itu sangat tidak nyaman untuknya.
Ternyata obat yang diminum Syarah itu ada kandungan obat tidurnya, hal ini membuat Syarah yang sudah setengah mati menahan tidur demi bisa membuat makan siang untuk suaminya gagal. Dia tertidur di sofa yang ada di ruang tengah. Syarah benar-benar merasa dikuasai oleh rasa kantuk yang teramat sangat. Seakan ada lem di mata yang membuat matanya sulit terbuka.
__ADS_1
*****
Sekitar pukul 2 siang, barulah Syarah terbangun dari tidurnya yang nyenyak itu. Dia menyadari bahwa dirinya masiih berada di ruang tengah namun ada selimut yang menutupi tubuhnya yang berbaring di sofa. Setelah mengumpulkan nyawa, Syarah bangkit dari tidurnya menuju kamar.
Memasuki kamar, Syarah bingung hendak melakukan apa. Dia bosan bila harus tiduran, tapi badannya belum bisa digunakan untuk beraktivitas berat. Membuka telepon pun dia tidak tertarik, melihat layar telepon justru membuatnya pusing.
Matanya menangkap lemari yang berada di dalam kamar. Berpikir bahwa selama tinggal di rumah itu belum pernah dia membenahi pakaian yang ada di lemari. Selama ini dia disibukkan dengan mengurus Danar dan mengurus Pak Pandhu karena Danar sangat sibuk membuatnya tak bisa menemani kakeknya untuk periksa rutin.
“Haduh … tak pernah memperhatikan lemari baru kusadari ternyata seberantakan ini,” ucap Syarah pada dirinya sendiri.
Dia mulai mengeluarkan pakaian miliknya dan milik Danar, memilah pakaian dan menata kembali agar terlihat lebih rapi dan tertata. Memisahkan pakaian santai, pakaian rumah dan pakaian kantor milik Danar juga memisahkan pakaian yang menurutnya sudah tidak terpakai.
Sedang sibuk merapikan pakaian, Syarah dikejutkan dengan suara pintu kamar yang dibuka. Menoleh dan mendapati keberadaan suaminya yang hendak masuk ke kamar dan memandang ke arah Syarah.
*****
Danar POV
Hari ini, aku tak bisa tenang untuk tidak memikirkan seseorang dari pikiranku. Mengingat kondisinya yang masih sakit, aku jadi kepikiran dengan Syarah. Perempuan yang berstatus sebagai istriku ini sejak kemarin jatuh sakit, saat aku berangkat dia juga masih lelap tidur. Aku tak tega membangunkannya, kuharap dia bisa segera sembuh dan sehat seperti biasanya.
Namun pemandangan yang kulihat saat ini membuat amarahku memuncak. Perempuan yang sedang sakit itu terlihat sedang mengemas pakaiannya.
‘Apa-apaan ini? Apa dia berniat untuk meninggalkanku? Apa dia akan menyerah?’ batinku.
Kenapa Syarah mengemasi pakaiannya, apa dia sudah tak sanggup untuk tetap berada di sisiku menungguku untuk pulih? Apa dia tidak bisa menungguku sebentar lagi?
Aku tak sanggup dengan ini semua. Lebih baik aku pergi dari rumah. Memang benar, semua wanita tak ada yang benar-benar tulus, semua hanya menipu. Sia-sia aku berusaha mati-matian untuk menyembuhkan lukaku, jika seseorang yang menjadi tujuanku tak mampu bertahan lebih lama untuk menungguku untuk sembuh.
*****
“Kak, kamu sudah pulang?” tanya Syarah.
Syarah segera bangkit dari duduknya hendak menghampiri Danar. Namun baru dua langkah, Danar malah melangkah pergi. Syarah kaget melihat Danar yang justru pergi begitu saja sebelum menjawab pertanyaannya.
Syarah heran dengan suaminya yang bersikap berubah-ubah seperti itu. Ia berusaha menyusul suaminya, tapi karena kondisinya yang belum pulih sepenuhnya membuat Syarah tak bisa mengejar Danar.
“Kak … tunggu,” ucap Syarah.
__ADS_1
Danar sebenarnya mendengar panggilan Syarah, tapi dia tak berniat untuk menoleh barang sebentar. Hatinya terlanjur sakit memikirkan Syarah yang berniat pergi dari hidupnya. Menyalakan mobil, Danar segera pergi meninggalkan rumah dan meninggalkan istrinya yang memanggil.
“Nona … Nona mau kemana? Nona belum sembuh sepenuhnya,” ucap bibi Rumi.
Bibi Rumi yang tadinya berada di dapur melihat Syarah berjalan keluar dengan langkah gontai segera menghampiri. Dia khawatir terjadi sesuatu pada majikannya mengingat kondisinya yang belum sembuh. Bibi Rumi segera membawa Syarah kembali ke dalam rumah.
*****
Menjelang malam, Danar belum juga kembali pulang ke rumah. Meski dalam keadaan yang belum sepenuhnya membaik, Syarah yang khawatir dengan kepergian suaminya tadi sore tanpa bisa dicegah membuat Syarah tak bisa memikirkan suaminya. Syarah memutuskan untuk menunggu di ruang tengah agar saat suaminya pulang, dia bisa segera bertemu.
Sambil mengeratkan sweter rajut yang membalut tubuhnya, dia berjalan menuruni tangga. Suhu badannya masih tinggi, namun tak menghalangi niatnya untuk menunggu kedatangan suaminya.
Sampai pukul 1 pagi, suaminya tak kunjung pulang juga, Syarah yang sedang menunggu akhirnya jatuh tidur karena tak kuat menahan kantuk yang sedari tadi menyerangnya. Mungkin pengaruh obat demam yang sedang menyerangnya membuat rasa kantuk menyerang begitu kuat.
Saat Danar sudah pulang pun, Syarah yang tertidur tak menyadari kepulangan suaminya. Kondisi rumah yang gelap membuat Danar tak melihat keberadaan Syarah yang tertidur di sofa ruang tengah. Danar berjalan begitu saja menuju kamar dengan pikiran yang kacau.
Membuka pintu kamar, dia tidak menjumpai keberadaan istrinya di kamar. Hal ini membuat dugaannya semakin kuat jika memang benar Syarah berniat meninggalkannya. Dengan langkah lesu, Danar membuka lemari ingin mengambil pakaian ganti. Namun dia tersadar jika tatanan pakaian di lemari berubah. Dilihatnya juga pakaian Syarah masih utuh dan tertata rapi dengan pengaturan berbeda dari sebelumnya.
Menyadari ini, Danar terburu-buru mencari keberadaan Syarah. Dia menyesal merasa bodoh dengan pikiran buruk tentang Syarah. Mungkin dia terlalu sensitif jika berhubungan dengan Syarah. Dengan langkah panik dia mencari istrinya, dan saat ingin menuruni tangga dilihatnya Syarah meringkuk di sofa.
Dengan perasaan penuh syukur bahagia, Danar segera menghampiri Syarah. Sampai dia di dekat Syarah, Danar bertumpu dengan kakinya untuk bisa melihat wajah Syarah yang terlelap. Senyum terukir jelas di wajah Danar, melihat rambut yang berantakan menutupi wajah ayu istrinya membuat tangan Danar gatal ingin merapikan agar tak menghalangi wajah Syarah.
Tapi saat menyentuh permukaan wajah Syarah, dapat Danar rasakan bila Syarah masih demam.
Walaupun tidak separah sebelumnya tapi dia masih merasakan panas dari tubuh Syarah. Sesal memenuhi pikiran dan hatinya, dia menyesal bersikap acuh tanpa ingin mengetahui yang sebenarnya. Danar mengangkat Syarah di lengannya dengan hati-hati tanpa ingin membangunkan.
Baru saja diangkat, Syarah menggeliat dan membuka matanya.
“Kak … Kakak sudah pulang. Aku menunggumu dari tadi Kak, maaf aku malah tertidur. Aku mohon jangan pergi seperti itu, aku takut … " ucap Syarah.
Syarah menatap Danar dengan mata memerah ingin menangis.
“Sstt tidurlah, aku tak akan pergi kemana-mana,” ucap Danar menenangkan.
Syarah yang masih lemah kembali tak lama setelahnya. Danar membawa Syarah ke kamar, dia merasakan bahwa Syarah lebih ringan dibanding dulu. Diamatinya wajah Syarah yang terlihat lebih kurus. Sebegitu tak bahagianyakah Syarah hidup di sisinya. Hati Danar begitu miris memikirkannya.
Hai haii, apakah ada yang menanti kehadiran Syarah. Komen di bawah yaa...
__ADS_1