
Rumah megah bernuansa putih dengan segala perabot mewah dan menampung pegawai rumah dalam jumlah banyak kini sedang dipadati oleh para tamu. Mereka datang bukan untuk menghadiri acara meriah dari sang tuan rumah, namun mereka datang dengan keikhlasan dan ada juga yang datang hanya sekedar absen wajah. Kabar duka atas meninggalnya pemilik perusahaan besar yang sudah berkiprah di bidang penyediaan pangan terbesar di negara yang ditempati dan bahkan sampai mancanegara.
“Selamat siang Tuan Wijaksana, kami turut berduka cita atas meninggalnya tuan Pandhu. Semoga amal beliau diterima dan ditempatkan di sisi Yang Maha Kuasa,” ucap salah satu tamu yang hadir sambil menyalami Danar.
“Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk hadir,” balas Danar sekedarnya.
Sore itu, rumah besar keluarga Wijaksana dipadati oleh para tamu yang hadir untuk ikut berbela sungkawa. Mereka turut berduka atas kepergian pak Pandhu yang menurut mereka secara tiba-tiba. Baru dua bulan mundur dari kekuasannya, dia sudah dipanggil pemiliknya. Duka menyelimuti rumah tersebut sore ini.
Walaupun sangat berduka dan bersedih atas kepergian kakek yang disayanginya untuk selama-lamanya, namun dia tetap berada di samping jasad kakeknya. Beberapa tamu yang hadir ada yang menemuinya dan mengucapkan kesedihannya atas kepergian almarhum kakeknya. Danar hanya menjawab sekadarnya saja tak berlebihan.
Sedangkan Syarah mengurus bagian belakang dan menyiapkan segala kebutuhan untuk proses yang akan dilakukan. Urusan pemakaman, Danar menyerahkan tanggungjawabnya pada tangan kanan kakeknya untuk mengurus. Pak Pandhu akan dimakamkan di tempat pemakaman keluarga Wijaksana yang terletak di bukit tak jauh dari tempat tinggal Danar. Tempat pemakaman itu khusus yang terisi oleh kedua orang tua Danar, istri dari kakeknya dan orang tua dari kakeknya.
Danar sudah sering datang ke tempat pemakaman itu, bahkan hampir setiap kamis sore dia selalu datang kesana untuk berziarah. Jika memang dalam keadaan sibuk barulah dia tak datang berziarah. Kebiasaan ini sudah diajarkan kakeknya semenjak masih kecil, jadi dia sudah terbiasa kesana walau hanya seorang diri.
Syarah yang sudah menyelesaikan urusan di bagian belakang menuju ke luar untuk ikut berdoa untuk kakeknya. Saat berjalan untuk mengambil posisi duduk berbaur dengan tamu lain yang sedang mengaji, Syarah melihat Danar yang duduk dengan tatapan kosong dengan penuh rasa kesedihan. Sejak siang tadi Syarah belum sempat berbicara pada suaminya karena mereka disibukkan dengan mengurus segala prosesinya.
Akhirnya Syarah berjalan berniat mendekati suaminya yang sedang berduka sama sepertinya, namun duka yang dirasakan suaminya tentu lebih dalam dibandingkan dengan dirinya.
“Kak ….”
Syarah duduk di samping suaminya, digenggamnya tangan suaminya yang terasa sangat dingin dalam genggamannya. Diusapnya pundak Danar berusaha menyalurkan ketenangan dan berusaha membuat suaminya tabah menghadapi takdir yang cukup berat. Danar masih tak bergeming dan tetap memandang ke arah kakeknya yang sudah terbalut.
Setelah tadi memandikan kakeknya, dia berusaha meraup dalam-dalam memori wajah Sang Kakek untuk yang terakhir kalinya sebelum masuk ke dalam tanah. Bayangan kenangan yang pernah dilalui Danar bersama kakeknya serasa berputar ke kepalanya. Saat kecil dulu, setiap akhir pekan kakeknya selalu mengajak Danar yang masih kecil untuk bertualang di bukit yang masih asli dan asri kala itu. Mereka menghabiskan waktu bersama dan bersenang-senang dengan memancing di sungai, berkuda dan melalukan banyak aktivitas di hutan hingga tidur di rumah hutan buatan kakeknya.
__ADS_1
Betapa bahagianya kehidupannya dulu bersama kakeknya. Seseorang yang paling berjasa seumur hidupnya, yang selalu ada kapan pun saat dirinya membutuhkan bantuan dan selalu menjadi pahlawan untuknya. Ketika sedang marah pun tak pernah berbuat kasar dan menyakiti Danar, sekali pun kakeknya bisa melakukannya tapi memilih untuk tak melakukannya.
Syarah merangkul lengan suaminya dan mengusap lengan kokoh milik suaminya. Menyandarkan kepalanya karena dia pun juga merasakan kesedihan. Danar tak merasa terganggu dengan perlakuan istrinya dan tak berusaha mengusir.
“Permisi Tuan, pemakaman sudah siap. Kendaraan yang akan digunakan juga sudah siap,” lapor laki-laki yang merupakan tangan kanan pak Pandhu.
“Baiklah,” jawab Danar.
Saat Danar akan berdiri untuk berjalan ke arah kakeknya untuk persiapan keberangkatan kakeknya, Syarah menahan tangannya. Syarah meraih suaminya ke dalam pelukannya, menyalurkan kehangatan dan memberi kekuatan pada suaminya. Danar hanya diam tanpa ingin membalas pelukan istrinya.
*****
Proses pemakaman berjalan lancar. Jenazah pak Pandhu dimakamkan persis di samping istrinya yang sudah lebih dulu pergi menghadap Tuhan setelah melahirkan anaknya. Pak pandhu sudah mempersiapkan lahan di samping sitrinya untuk tempat peristirahatannya kelak. Kini dia benar-benar berada di dalam lahan sesuai keinginannya sejak dulu agar bisa terus bersama sang istri tercinta.
Biar pun tak bersuara, namun air mata mengalir melalui kedua matanya. Para peziarah yang ikut menghadiri pemakaman juga ikut berduka mengantar kepergian seseorang yang dikenal hebat dan kuat. Tamu yang hadir sangatlah banyak hingga memenuhi area pemakaman privat yang tidak seluas pemakaman umum. Mereka datang dari berbagai kalangan, mulai dari rekan bisnis, pengusaha, kerabat dan orang biasa yang pernah dibantu oleh pak Pandhu. Anak-anak dari beberapa panti asuhan juga ikut hadir, mereka semua bersedih atas kepergian seseorang yang mereka anggap sebagai orang yang sangat baik.
Satu per satu tamu mulai meninggalkan area pemakaman setelah semua proses pemakaman telah selesai dilaksanakan. Hingga hanya tersisa Danar, Syarah dan beberapa pengawal dan pekerja yang masih menemani. Danar duduk dengan bertopang kaki, dia memegang pusaran sang kakek yang baru saja dimakamkan.
Air mata tak henti keluar dari matanya, dia sangat terpukul dan belum sepenuhnya menerima kepergiaan kakeknya.
Suasana sore itu diselimuti mendung tebal, angin yang bertiup kencang membawa hawa dingin memberi tanda hujan akan segera turun. Syarah masih setia mendampingi suaminya. Saat pemakaman tadi Syarah hampir pingsan karena tak kuat menahan diri, namun bibi Rumi segera menangkap majikannya dan segera menyadarkan Syarah. Akhirnya Syarah duduk di bangku yang disiapkan.
Tak lama hujan deras mengguyur mereka di area pemakaman yang tak terlindungi oleh atap. Pengawal dengan sigap segera berlari mengambil payung untuk melindungi tuannya dari hujan. Danar tak memperdulikan hujan yang turun membasahi dirinya, dia masih belum ingin beranjak dari kakeknya.
__ADS_1
“Kak, sudah ya. Kita pulang ke rumah. Jangan terlalu lama bersedih, kakek juga akan ikut sedih kalau kakak merasa sedih juga. Kita pulang ya,” bujuk Syarah.
“Pergilah, aku masih ingin disini,” usir Danar.
Syarah merasa jika sang suami sedang membutuhkan waktu untuk menyendiri.
Suaminya sedang sangat berduka dan terpukul atas kepergian kakeknya. Dia bimbang, apakah dia harus pergi atau tetap tinggal menemani suaminya. Tapi setelah diperhatikan, Syarah dapat menyimpulkan bahwa suaminya sedang butuh waktu menyendiri tanpa ingin ada gangguan.
“Kak, aku akan pulang. Aku mohon jangan terlalu lama berdiam dengan kesedihan yang sulit terhenti. Percayalah, kakek akan lebih sedih jika Kakak merasa sedih terus-menerus,” pamit Syarah sambil bangkir berdiri.
Berat hati dia meninggalkan suaminya di pemakaman seorang diri. Namun sebelumnya dia meminta pengawal dan sopir Danar untuk menemani Danar. sebagai seorang istri, dia memang harus mendampingi suami tapi saat ini sang suami sedang ingin sendiri. Dia harus membantu Danar dengan mengurus keperluan di rumah yang akan diadakan pengajian.
*****
Malam hari setelah selesai pengajian, Danar baru memasuki rumah dengan keadaan baju yang basah dan menggigil. Syarah yang melihat kedatangan suaminya dalam keadaan lusuh segera menghampiri.
“Bi! Tolong ambilkan handuk di kamar, cepat,” ucap Syarah pada bibi Rumi.
Setelah memerintah dia segera membantu Danar untuk masuk rumah. Wajahnya sangat pucat dan bibir yang memutih kedinginan. Bibi Rumi datang membawa handuk sesuai perintah Syarah. Setelah melilitkan haduk untuk membalut Danar, Syarah menyuruh bibi Rumi untuk membuat minuman hangat untuk suaminya. Dia membawa Danar menuju kamar.
Syarah menjalankan tugasnya sebagai seorang istri untuk mengurus suaminya. Dia menyiapkan pakaian dan berusaha tetap kuat dihadapan suaminya walaupun dia merasa lelah di tubuhnya tapi tak dirasakannya. Syarah melalukan sebaik mungkin untuk menguatkan suaminya yang sedang terluka.
“Kakek, kakek jangan tinggalkan aku!”
__ADS_1
Danar mengigau di tengah tidurnya, dia malam ini demam setelah kehujanan dalam waktu lama. Kesedihannya juga turut membuat fisiknya menjadi lemah dan sakit seperti itu. Syarah malam itu tak bisa tidur karena Danar sepanjang malam selalu bergumam ketakutan tidak jelas membuatnya khawatir dan tak bisa tidur.