
Hai
Terima kasih sudah membaca,
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar dan like sebagai bentuk dukungan
Danar dan Syarah keluar dari rumah dengan mengendarai motor menuju tempat tinggal penjaga rumah Danar yang letaknya ada di perumahan warga desa. Sepanjang jalan menuju perumahan warga desa, mereka disuguhkan pemandangan yang memanjakan mata siapa pun yang melintasi. Kanan dan kiri hanya ada pohon-pohon milik pemerintah dan juga warga desa, ada kebun dan ladang sebagai mata pencaharian warga desa disana. Meskipun masih pagi, tapi keadaan di desa sudah ramai dengan aktivitas warga yang sudah mulai bekerja di kebun.
Setiap melintasi warga, pasti saling menyapa walaupun mungkin mereka jarang bertemu. Namun dapat Syarah perkirakan jika warga desa itu sudah banyak yang mengenal suaminya, mereka terlihat sangat menghormati Danar seakan Danar adalah orang yang berjasa bagi mereka. Jika tadi malam Syarah hanya mengenakan kaos milik suaminya, di pagi hari ini dia memakai pakaiannya semalam. Dress yang dipakainya semalam itu belum kotor jadi daripada menggunakan kaos milik Danar yang menurutnya kurang sopan jadi dia memilih memakai kembali dressnya semalam.
“Kak, kalau nanti kita tinggal di desa seperti ini pasti menyenangkan,” kata Syarah.
“Sekali waktu memang menyenangkan, tapi jika tinggal dalam waktu lama sepertinya kamu tidak akan sanggup,” kata Danar.
“Apa Kakak lupa kalau aku juga berasal dari desa? Kakak sendiri juga dulu sempat diajak ayah ke sawah dan sungai. Aku sudah terbiasa hidup sederhana di desa jadi menurutku tidak akan masalah jika nanti kita tinggal di desa,” ungkap Syarah.
“Kamu saja yang tinggal di desa, kalau aku tidak mau.”
“Iya eh iya. Kak, aku lihat-lihat warga desa disini sepertinya sudah mengenal kamu.”
“Warga desa memang masih erat persaudaraannya, jadi walaupun hanya bertemu sekali dua kali mereka akan menyapa, bukan seperti orang kota.”
“Itulah yang membuat aku ingin tinggal di desa. Orang-orangnya ramah dan saling bergotong royong. Disini juga sepertinya jauh dari polusi dan jauh dari ambisi orang-orang yang ingin memiliki kekayaan dan kekuasaan.”
“Tapi hidup di desa juga tidak akan bisa berkembang, hidupnya akan seperti itu saja. Makanya banyak yang pergi ke kota untuk mendapat penghidupan yang lebih sejahtera.”
“Padahal hidup di desa itu banyak kelebihannya loh.”
“Keinginan dan mimpi setiap orang berbeda-beda, mereka juga memiliki jalan yang berbeda-beda. Kita tidak bisa mengatur jalan hidup mereka.”
“Iya benar juga yang Kakak katakan. Oh iya Kak, sepertinya di daerah sini suhunya masih terjaga dan sejuk ya. Aku rasa membuat kebun bunga di desa ini akan cocok mengingat semua komponen memenuhi.”
“Kalau kamu mau membuat kebun disini memang siapa yang akan mengurusnya?”
“Tentu saja aku lah.”
“Lalu siapa yang mengurus rumah. Jangan hanya memikirkan keinginanmu sendiri di atas tanggung jawab dan kewajibanmu.”
“Kakak ini mudah sekali marah. Aku belum selesai mengatakannya, aku yang mengurus dan mengelola kebun tapi tidak mungkin kalau aku harus bolak-balik kesini hanya untuk mengurus kebun, jadi mengapa tidak jika aku menempatkan orang untuk mengurus kebunnya. Makanya, kalau istri lagi bicara itu didengarkan dulu, jadi ambil kesimpulan sendiri.”
“Cerewet sekali.”
Perjalanan yang tidak begitu lama untuk sampai di tempat tujuan hanya diselimuti oleh perdebatan pasangan suami istri itu. Akhirnya mereka sampai di kediaman penjaga rumah Danar yang masih terlihat seperti halnya rumah desa pada umumnya yang terbuat dari kayu sederhana. Setelah memarkirkan motor di halaman rumah, seorang laki-laki setengah baya yang sedang mengelap motor bebeknya segera saja bangkit berdiri dan menghampiri tamu yang datang ke rumahnya pagi ini.
“Aden, tumben mampir ke rumah saya, tidak sendiri pula,” kata laki-laki itu.
“Loh, Aden pagi-pagi kemari. Aduh maaf emak belum ada siapkan bahan makanan di rumah, emak tidak tahu kalau Aden akan menginap,” kata perempuan yang hampir seusia dengan laki-laki tersebut datang menghampiri.
__ADS_1
“Iya Emak, tidak masalah, lagipula saya datang kemari tanpa memberi kabar terlebih dahulu,” jelas Danar.
“Baiklah, mari silahkan masuk dulu. Ada tamu kok malah dibiarkan berdiri di luar rumah,” kata laki-laki tersebut.
“Kita duduk di luar saja,” kata Danar.
“Kalau begitu, emak ke belakang dulu buatkan minuman untuk Aden dan nona,” kata perempuan itu.
Mereka bertiga lalu duduk di kursi bamboo yang ada di halaman rumah.
“Sebelumnya maaf kalau Mamang tidak sopan, Nona geulis yang bersama Aden ini siapa?” tanya laki-laki itu yang sudah penasaran sejak tadi.
“Dia Syarah, istri saya, Mang,” jawab Danar.
Syarah yang diperkenalkan hanya menunduk dan tersenyum ramah.
“Waladalah ternyata istrinya Aden, mamang tidak tahu. Sebelumnya selamat atas pernikahan Aden dan nona, semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah, waromah. Amin,” kata laki-laki itu.
“Amin, terima kasih, Mang,” kata Syarah.
“Untung saja, baru saja kemarin saya dan emak membersihkan rumah disana, seperti sudah firasat kalau akan ada yang datang. Tapi kami tidak mengisi makanan karena khawatir akan mendatangkan hewan-hewan pengganggu,” jelas mamang penjaga rumah.
“Iya Mang, tidak masalah. Lagipula kami tidak akan lama jadi tidak perlu menyiapkan apa-apa,” kata Danar.
“Apabila nanti ingin menginap lagi, langsung hubungi saya Den, nanti biar mamang sama emak siapkan rumahnya dulu agar bisa nyaman untuk ditinggali,” jelas mamang.
“Alhamdulillah baik Den, anak bungsu saya yang menjaga disana. Seperti yang mamang pernah bilang ke Aden kalau dibangun pondok sederhana untuk tempat istirahat saya atau anak saya kalau sedang jaga kendang.”
“Anak Mamang yang mana, Mang?” tanya Danar.
“Anak bungsu Den. Dia baru lulus bulan kemarin, karena emak tidak tega kalau dia pergi ke kota jadi dia yang menjaga kandang menggantikan saya sejak kaki saya sakit beberapa waktu lalu.”
“Baguslah kalau begitu. Mereka sehat, kan Mang?”
“Alhamdulillah sehat-sehat Den. Bahkan tahun ini saja sudah ada 5 anak rusa yang lahir, kudanya ada 3 yang lahiran Den. Semakin ramai kandangnya sekarang.”
“Berarti total sekarang ada berapa rusa dan kuda?”
“Rusa kira-kira ada 40 ekor dan kuda ada 15 ekor itu sudah termasuk dengan anakannya.”
“Banyak juga. Nanti saya akan kesana untuk melihat kondisi, kalau memang diperlukan nanti kita tambah kandangnya.”
“Mamang ikut saja apa kata Aden. Nanti pasti John akan sangat senang bertemu dengan Aden.”
“John?” tanya Syarah.
“Kuda yang aku pelihara sejak masih bayi,” jawab Danar.
__ADS_1
“Wah, pasti disana sangat menyenangkan,” kata Syarah.
“Silahkan diminum dulu, ini ada jagung rebus juga. Maaf hanya seadanya saja, namanya di desa hanya ada hasil bumi saja,” kata emak yang datang sambil membawa nampan berisi teh hangat dan jagung rebus yang sepertinya baru matang.
“Terima kasih Emak, maaf merepotkan pagi-pagi,” kata Syarah.
“Kalau boleh tahu, eneng geulis ini siapanya Aden?” tanya emak penasaran.
“Saya Syarah Emak, istrinya Kak Danar,” jawab Syarah.
“Pantas saja, geulis pisan,” kata emak berlogat sunda.
“Masyaallah, terima kasih Emak,” ucap Syarah yang dipuji.
“Kalau begitu emak ke kebun belakang dulu ya, mau ambil sawi putih dan wortel untuk dibuat sarapan, ada tamu yang datang kok tidak disediakan makanan. Emak pamit sebentar,” pamit emak.
“Emak, kalau boleh saya ingin ikut juga,” kata Syarah.
“Aduh Non, nanti Nona kepanasan kalau ke kebun. Disini saja ya, emak tidak akan lama,” tolak emak.
“Tidak apa-apa Emak, Syarah sudah biasa kok,” kata Syarah.
“Baik, ayo kita ke kebun,” ajak emak.
Sementara Danar dan mamang masih berbincang mengenai berbagai hal seputar bisnis dan kepemilikan Danar di desa itu yang hanya diketahui oleh mereka berdua. Syarah dan emak pergi ke kebun dengan menggunakan caping dan dunak sebagai wadah sayuran yang akan mereka petik. Syarah yang memang hobi dengan kegiatan pertanian sangat berantusias.
**
“Beginilah keadaan kalau di desa Non,” kata emak.
“Iya Emak, Syarah sudah terbiasa karena Syarah juga berasal dari desa.”
“Benarkah?”
“Iya Emak.”
“Aden pasti beruntung mendapatkan istri yang cantik, anggun dan mau hidup sederhana seperti ini.”
“Justru saya yang beruntung Emak, diberikan suami seperti beliau.”
“Sama-sama saling beruntung pastinya Non.”
“Alhamdulillah.”
“Aden Danar itu orang baik Non, bagi kami warga desa sini sangat menghormati aden yang banyak membantu kami warga desa. Aden membantu kami dalam mencukupi kebutuhan dan menyekolahkan anak-anak desa sampai perguruan tinggi. Kami yang sehari-hari bekerja sebagai petani sayur, tentu tidak banyak bisa mendapatkan penghasilan. Jika ingin makan, kami tinggal ambil di kebun atau pun mencari di hutan untuk kami makan. Dulu sebelum aden datang ke desa ini, kami jarang sekali makan daging sebab hidup kami sangat pas-pasan.”
Emak yang mengingat kehidupan desa beberapa tahun lalu merasa miris dan sedih, mengingat desa yang dia tinggali sangat terpuruk dan jauh dari kesejahteraan.
__ADS_1
“Lalu Aden datang kemari tidak hanya memberi bantuan secara cuma-cuma pada kami yang berlatar belakang pendidikan yang rendah. Aden mengajarkan kami cara mengelola kebun yang baik hingga membantu menjualkan hasil kebun kami dengan harga yang lebih tinggi dengan kualitas yang sesuai standar. Beliau mendatangkan ayam, domba dan sapi untuk warga ternak dan hasilnya bisa dibagi untuk seluruh warga desa. Beliau tidak mengambil keuntungan dari kami sekali pun pastinya beliau mampu melakukannya. Tapi dia membimbing kami sampai bisa meningkatkan taraf kehidupan kami. Anak-anak desa juga dia sekolahkan di perguruan tinggi dan dibantu pendanaannya. Sehingga banyak anak desa yang kini sudah menjadi sarjana dan meneruskan pendidikan yang tinggi. Awalnya kami pikir itu mustahil, tapi dia membuktikan secara nyata pada kami. Saya dan warga desa benar-benar bersyukur telah dihadirkan seorang manusia berhati malaikat seperti aden Danar.”