
Hai terima kasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan komen dan like sebagai dukungan
Setelah sampai di rumah, Syarah segera mengecek segala keperluan untuk pengajian yang akan dilangsungkan sebentar lagi. Dia mulai mengecek stok makanan, tempat dan lain lain, walaupun sudah disiapkan oleh pegawai yang bertanggung jawab namun Syarah juga tetap memeriksanya kembali agar tidak ada yang kurang. Ruangan lantai satu yang luas itu diberi karpet sebagai alas duduk. Makanan yang disediakan juga tentu beragam khusus untuk para tamu yang hadir dalam jumlah besar. Karena memang tamu yang hadir setiap malamnya selalu dalam jumlah banyak jadi walaupun ruangannya luas jadi terisi penuh.
Syarah sangat bersyukur memiliki kakek yang luar biasa baik ketika beliau sudah tidak ada banyak orang yang datang untuk ikut mendoakan walau tanpa diundang terlebih dahulu. Banyak diantara mereka yang mengatakan pada Syarah jika jasa pak Pandhu sangat berharga untuk mereka. Bahkan ada warga dari satu desa yang rela datang dari jauh dengan menggunakan truk. Mereka bercerita bahwa atas jasa pak Pandhulah mereka bisa membangun desa, mendatangkan lapangan pekerjaan dan menyejahterakan keluarga mereka. Sampai mereka bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai jenjang perguruan tinggi atas bantuan pak Pandhu secara cuma-cuma.
Sedangkan Danar setelah sampai rumah kembali mengunci diri di dalam kamar yang ditempatinya setelah kepergian kakeknya. Dia merasa enggan untuk berinteraksi dengan banyak orang. Walaupun saat pengajian berlangsung dia juga mengikuti dari dalam kamarnya tanpa ingin bergabung dengan yang lainnya.
Setelah selesai, Syarah membagikan bingkisan untuk para tamu yang hadir dalam pengajian malam itu. Anak-anak dari panti asuhan juga turut hadir dalam pengajian setiap malamnya. Syarah yang tadi menenangkan seorang anak yang masih berusia 2 tahun yang ikut hadir menyerahkan kembali ke ibu pantinya. Danar hanya melihat semua aktivitas itu dari pintu kamarnya, melihat Syarah yang menangani semua urusan sendiri tanpa ingin mengganggu dirinya. Danar sadar jika dia memang terlarut dalam kesedihan sampai-sampai dia mengabaikan hal yang seharusnya dia lakukan.
*****
Pengajian rutin itu berlangsung hingga hari ketujuh setelah meninggalnya pak Pandhu. Danar juga sudah mau membuka diri untuk ikut dalam acara pengajian kakeknya. Orang-orang yang hadir disana sama sekali tidak menanyakan atau ingin tahu alasan absennya Danar dalam acara pengajian yang setiap malamnya dilaksanakan dirumahnya. Hal inilah yang membuat Danar menikmati pengajian yang dilangsungkan.
Selesai pengajian, Syarah menghampiri suaminya yang sedang duduk di pinggir kolam renang sendirian.
"Kak, Kakak sudah makan belum? Tadi sepertinya aku belum melihat Kakak makan malam," tanya Syarah.
"Belum," jawab Danar.
"Baiklah tunggu sebentar aku siapkan makan untuk Kakak. Kakak mau makan di ruang makan atau aku bawakan kesini?" tanya Syarah menawarkan.
"Terserahmu," ucap Danar.
"Baik tunggu sebentar aku akan bawakan makan malam untuk Kakak," kata Syarah kemudian berlalu.
Baru satu langkah, Danar meraih tangan Syarah.
"Tunggu, ikut denganku. Aku ingin mencari udara segar," kata Danar.
"Mau kemana Kak? Apa Kakak mau makan dulu?" tanya Syarah penasaran.
__ADS_1
"Kita makan di luar saja, pergilah ambil jaket untukmu dan ambilkan jaketku juga di kamar. Aku tunggu di depan, ingat jangan lama-lama!" perintah Danar.
"Iya Kak, tunggu sebentar," kata Syarah.
Syarah lalu bergegas menuju kamar untuk mengambil jaket miliknya dan milik Danar. Setelahnya dia segera turun sesuai perintah Danar untuk tak berlama-lama. Sesampainya di depan dia tak melihat keberadaan suaminya dan mobil yang biasa suaminya kendarai. Dia mencari-cari keberadaan suaminya di halaman namun tidak ada. Sayup-sayup terdengar suara motor dari arah garasi yang ada di lantai dasar rumah.
Motor itu berjalan ke arah Syarah, Syarah yang melihat motor asing itu kebingungan siapa yang mengendarainya karena selama dia tinggal di rumah tidak pernah dia melihat ada orang yang menggunakan motor seperti itu. Karena helm yang digunakan menutupi wajah jadi Syarah tidak bisa mengenalinya. Sampai motor itu berhenti di depan Syarah.
"Ini pakailah!" perintah Danar sambil memberikan helm pada Syarah.
"Kak Danar? Kenapa pakai motor?" tanya Syarah.
"Sudah, ayo naiklah sekarang," perintah Danar.
"Tapi Kak, ini jok motornya kecil, bagaimana naiknya?" tanya Syarah kebingungan.
Motor yang dikendarai Danar itu adalah motor trail yang memiliki jok sempit juga tinggi. Syarah menjadi kebingungan untuk menaiki motor itu. Danar mengambil jaketnya yang sudah dibawakan Syarah.
"Segeralah naik!" perintah Danar tak sabar pada Syarah.
Karena ukuran jok yang sempit mau tak mau Syarah harus menempel erat pada Danar agar tak terjungkal kebelakang. Sekarang Syarah kembali dibingungkan karena dia bingung harus berpegangan dengan apa, karena tidak ada pembatas di bagian belakang jok. Tapi jika dia tidak berpegangan dia khawatir akan jatuh jika motor melaju.
Danar kemudian mulai melajukan motor keluar halaman rumah. Syarah segera saja berpegangan pada jaket Danar di sisi kanan dan kiri badan Danar. Syarah terlihat seperti anak kecil yang sedang diboncengkan. Dia yang berpostur kecil harus berbagi jok dengan Danae yang berbadan besar seolah memakan banyak tempat jadi dia harus mepet.
Saat berada di jalan raya, Danar melajukan motornya dengan kecepatan yang tinggi membuat Syarah reflek melingkari perut Danar dengan tangannya. Dia takut akan terjatuh bila diboncengkan dengan kecepatan tinggi seperti itu. Apalagi posisi duduk yang sempit membuatnya waspada untuk menjaga keseimbangan.
Lama berselang Syarah mulai menikmati saat dibonceng Danar. Motor yang memang didesain ramping dan tinggi itu bergerak lincah membelah jalanan kota yang cukup padat di malam hari. Maklum karena besok adalah hari libur jadi banyak orang yang menikmati suasana menghabiskan waktu bersama orang tersayang. Syarah merasa aman saat memeluk suaminya, dia yang awalnya ketakutan kini mulai relaks. Dia merasa seperti sedang kencan dengan pacar, karena dia memang tidak pernah berpacaran dengan siapa pun jadi berdekatan dengan lawan jenis sangat dia jaga.
Hatinya seperti dipenuhi bunga-bunga indah yang bermekaran. Begitu bahagia menikmati kebersamaannya dengan suaminya. Syarah kembali mendapati fakta tentang suaminya, dia kira suaminya adalah orang yang selalu menggunakan mobil dan tak mau menggunakan motor. Tapi nyatanya suaminua seperti orang yang sudah terbiasa mengendarai motor karena sedari tadi suaminya membawa kendaraan dengan gesit tanpa ada gerakan kaku.
Setelah cukup lama, motor berhenti di pelataran yang cukup luas.
__ADS_1
"Kita sudah sampai, turunlah!" kata Danar.
"Iya Kak," ucap Syarah.
Motor yang tinggi membuatnya harus berpegangan pada pundak Danar agar tidak terjatuh. Danar lalu ikut turun setelah mematikan mesin motor. Syarah yang akan melepas helm mengalami kesulitan. Danar yang melihat Syarah kesulitan segera membantu melepas helm yang digunakan istrinya tanpa kata.
"Terima kasih Kak," ucap Syarah setelah helm bisa lepas dengan senyum manis miliknya.
Danar kemudian berjalan menuju ke arah pedagang.
"Permisi Pak, saya mau pesan sate 20 tusuk," ucap Danar pada pedagang sate.
"Waladalah Cah Bagus, sudah lama tidak kelihatan. Wah datang dengan siapa ini, tumben sekali. Biasanya datang sendiri saja, apa non cantik ini yang membuat Aden jadi jarang main ke tempat pak dhe?" tanya pedagang sate dengan logat Jawanya yang kental.
"Inggih Pak Dhe, bagaimana kabar Pak Dhe dan Bu Dhe?" tanya Danar ramah.
"Alhamdulillah, tapi bu dhe sudah beberapa hari ini kena asam urat jadi bapak larang untuk membantu jualan. Biar istirahat saja di rumah, biar pak dhe saja yang kerja. Pak dhe saja masih segar bugar begini, masih kuat untuk mencari rezeki. Semua ini tidak ada artinya tanpa keberadaan bu dhe. Waduh kenapa pak dhe malah banyak bicara. Ngomong-ngomong siapa ini yang datang bersama den bagus?" tanya pedagang sate ingin tahu.
"Dia Syarah, istri saya Pak Dhe," jawab Danar.
"Inggih Pak Dhe," ucap Syarah sambil menunduk memberi salam.
"Walah pantes ayu, terlihat cocok sekali kalian. Yasudah silahkan duduk dulu, pak dhe buatkan sate spesial untuk pasangan yang spesial," kata pedagang sate bersemangat.
Danar dan Syarah kemudian mencari tempat duduk pelanggan setelah cukup lama berbincang dengan pedagang sate yang sepertinya adalah langganan Danar. Danar memilih tempat di bagian ujung yang sepi dari pengunjung lainnya. Syarah awalnya tak menyangka jika Danar membawanya ke warung sate yang ada di pinggir jalan, tempat duduknya saja lesehan dengan karpet sederhana. Namun Syarah merasa tempat ini istimewa karena letaknya di atas bukit menyuguhkan pemandangan yang indah di malam hari.
Saat akan duduk Danar menghentikan Syarah, dia kemudian meraih tisu untuk membersihkan karpet yang sedikit basah karena embun. Syarah terpaku pada perlakuan Danar yang sangat perhatian padanya. Senyumnya semakin lebar mendapatkan perhatian dari suaminya itu.
"Terima kasih Kakak sudah repot-repot membersihkannya," ucap Syarah kemudian duduk.
Danar tak menjawab Syarah dan mengambil duduk dihadapan Syarah. Malam itu Syarah mengenakan dress floral yang panjangnya di bawah lutut membuat kaki jenjangnya terlihat. Danar yang melihat itu sedikit geram dan langsung melepas jaketnya dan menutupi kaki istrinya dengan jaketnya.
__ADS_1
"Sekarang kau adalah seorang istri, kau harus tahu jika kau sudah tidak bisa memamerkan tubuhmu pada orang lain. Besok lagi, pakailah pakaian yang sopan dan tertutup!" kata Danar.
Syarah yang mendapati perlakuan suaminya tak dapat mencegah sembrurat merah di pipinya, dia sangat terpesona dengan perhatian dan keposesifan suaminya atas dirinya.