Perawan Tua Istri Sang Duda

Perawan Tua Istri Sang Duda
58. Sakitnya Syarah


__ADS_3

Danar mengendarai sendiri mobilnya untuk bisa segera sampai di rumah. Mobil yang dikendarainya terkesan ugal-ugalan dengan kecepatan tinggi. Beberapa kali dia hampir menabrak atau ditabrak oleh pengendara lain. Dia tak memperdulikan itu, tujuannya hanya satu untuk bertemu dengan istrinya dan sesegera mungkin.


Naas, karena waktu masih siang hari kendaraan memadati jalanan kota membuat kemacetan panjang tak berujung. Berkali-kali dia membunyikan klakson mobil agar kendaraan di depannya bisa segera melaju namun karena macet membuat kendaraannya terjebak di antara kendaraan lain. Dia memukul stir mobil kencang-kencang melampiaskan emosinya. Matanya berlarian mencari celah dan jalan keluar, dahi kokohnya dibasahi oleh keringat dingin yang mengucur, padahal mobil mewah itu memilih pendingin.


Hanya satu jalan keluar yang bisa dia lakukan saat ini. Dia membawa mobilnya menepi, menghentikan mobilnya dan keluar dari mobil. Dia membiarkan mobilnya di pinggir jalan dan menghampiri ojek yang sedang mangkal di bawah pohon tak jauh dari mobilnya.


“Pak, saya pinjam motornya,” ucap Danar dan segera meraih helm untuk dipakainya namun langsung dicegah oleh pemiliknya.


“Waduh, pinjam bagaimana. Ayo bapak saja yang bawa motornya,” ucap bapak pemilik motor.


Danar mengeluarkan lima lembar uang berwarna merah dan diberikannya pada bapak ojek itu. “Saya pinjam dulu, nanti biar dikembalikan pegawai saya. Jangan khawatir.” Tapi bapak itu berusaha menolak Danar.


“Baiklah, Bapak ikut saya. tapi saya yang bawa motornya.”


Danar membawa motor dengan bapak ojek ada dalam boncengannya. Dia mengendarai motor mengambil jalan pintas agar segera sampai di rumah.


“Aduh Mas, jangan ngebut-ngebut bawa motornya. Saya takut, saya masih harus menghidupi istri dan anak saya,” ucap bapak ojek mengutarakan protesnya.


Peringatan bapak tadi bagai angina lalu untuk Danar. Dengan jas yang masih melekat di badan kekar dan setelan bos besar dia mengendarai motor terlihat sangat tidak cocok dengan penampilannya. Helm hijau yang dipakainya makin menambah penampilannya sangat tak cocok mengendari motor matic yang berukuran kecil berbanding terbalik dengan badan besarnya.


Citt. “Aduh Mas, hampir lepas jantung bapak.” Bapak itu mengeluh sambil mengelus dada. Dia akhirnya bisa bernapas lega dan bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk hidup setelah naik motor bagai dikejar hantu.


Ketika menapak di tanah barulah bapak tersebut berani membuka matanya yang sejak tadi hanya merapalkan doa agar diberi keselamatan. Bapak itu terperangah saat melihat bangunan rumah mewah dan begitu luas yang ada di hadapannya. Prakk.


“Ini uang untuk Bapak, kalau masih kurang minta saja pada satpam di sana,” ucap Danar dengan menyerahkan uang berwarna merah beberapa lembar pada bapak ojek tadi dan berlalu masuk ke rumahnya.


“Astaghfirullah mimpi apa aku semalam bisa dapat penumpang seperti dia. Tapi tidak masalah, yang penting aku masih hidup dan uang ini bisa aku pakai untuk pengobatan anakku,” ucap bapak ojek itu penuh syukur.


“Permisi Pak, bagaimana bisa tuan saya naik ojek Bapak?” tanya satpam rumah menghampiri bapak ojek yang masih berdiri di samping motornya.

__ADS_1


“Tadi mas penumpang tiba-tiba mau membawa motor saya sendiri, tapi saya memaksa untuk ikut. Namun dia memaksa untuk mengendarai motornya sendiri, malahan saya diberi uang yang berlebihan,” jelas bapak ojek pada satpam.


“Jadi begitu, Bapak sedang beruntung ketemu dengan majikan saya. Beliau orang baik.”


********


“Syarah! Syarah! Dimana kamu?” tanya Danar begitu masuk kamar.


Semua ruangan kamar sudah dimasuki Danar tapi dia tak bisa menemukan istri kecilnya itu. pelayan yang mendengar keributan di lantai atas segera datang menghampiri.


“Maaf Tuan, apakah Tuan sedang mencari nona? Tadi bibi Rumi membawa nona ke rumah sakit dengan sopir,” jelas seorang pelayan yang berdiri di luar pintu.


“Apa yang kau katakan? Dimana istriku?” tanya Danar dengan nada tingginya.


Matanya seperti keluar, urat kepalanya menonjol dan keringat dingin membanjirinya.


“Maaf Tuan, tadi bibi Rumi sudah mencoba menghubungi Tuan. Tapi hp Tuan mati, jadi beliau membawa nona yang jatuh tak sadarkan diri ke rumah sakit dokter Panca,” ucap pelayan dengan menunduk hormat, tangannya menggenggam ujung seragamnya ketakutan.


Dengan langkah lebar dan cepat, Danar keluar dari rumah. “Dimana kunci motornya bodoh!” maki Danar pada pelayan yang mengurus kendaraan rumah. “Maaf Tuan, mohon tunggu sebentar.” Pelayan itu langsung lari terbirit-birit tak ingin mendapat amukan majikannya.


“Tuan, silahkan ini kuncinya,” ucap pelayan itu gugup. Tanpa kata Danar langsung merebut kunci itu dan langsung tancap gas pergi menuju ke tempat istrinya berada.


Dia memacu motornya dengan kecepatan tinggi dan menerobos lampu merah ingin segera sampai tujuan. Dengan menggunakan setelan kantor tanpa jas, tak peduli terik matahari juga keringat deras karena cemas dia membelah jalan. Hatinya berdegup kencang, pikirannya buruk tentang istrinya.


Tanpa butuh waktu lama, motornya memasuki halaman luas rumah sakit terbesar di kota. Danar memarkirkan motornya sembarangan di depan pintu rumah sakit, tanpa mengkhawatirkan apa pun dia membuang helmnya begitu saja. Menuju tempat resepsionis, dia menanyakan ruangan perawatan Syarah.


“Ibu Syarah berada di ruang president suite Pak,” ucap resepsionis itu memberi tahu.


Dengan langkah lebar, Danar berlari agar segera menemui istrinya. Tangannya terkepal kuat menyalurkan emosi yang membakar jiwanya. Nafasnya terengah ketika sudah sampai di depan pintu kamar perawatan Syarah, di bagian depan ruangan sudah ada pengawal yang berjaga.

__ADS_1


Danar meredakan kegugupannya terlebih dahulu sebelum menemui istrinya. Dia mengode melarang pengawal yang berjaga saat akan membukakan pintu untuknya. Kuku tangannya sampai memutih karena kepalan yang begitu kuat.


Akhirnya dia memberanikan diri untuk masuk ke ruangan Syarah. Ketika dia masuk, bibi Rumi segera bangun dari duduknya melihat tuannya masuk. Bibi Rumi berjalan ke arah Danar untuk memberi ruang agar pasangan suami istri itu bisa berdua.


“Tuan, saya mohon maaf atas kelancangan saya memasuki kamar lagi tanpa izin dulu pada Tuan. Perasaan saya tidak enak pada nona, jadi saya memberanikan diri masuk kamar. Saat saya mengecek ternyata nona sudah tidak sadarkan diri di kamar mandi. Maaf karena terlalu khawatir saya langsung meminta sopir dan pengawal untuk membawa nona ke rumah sakit sebelum mendapat izin dari Tuan. Saya sudah mencoba menghubungi tapi hp Tuan sedang tidak aktif.”


Bibi Rumi menjelaskan dengan tenang berusaha tidak terbawa emosi. Hatinya sudah lega melihat Danar merasa bersalah atas perbuatannya sendiri. Dia hanya bisa berharap agar majikannya itu bisa menyadari dan bisa lebih baik.


“Dokter Panca bilang, nona sedang kedatangan tamu bulanan. Seperti kita tahu, kalau hampir setiap datang bulan nona sering mengalami sakit dan kondisinya lemah. Dokter juga mengatakan kalau tekanan darah nona sangat rendah, ditambah keadaan kekurangan darah membuatnya lemah sampai tidak sadarkan diri.”


Bibi Rumi mencoba tetap tenang dan tegar, dia tidak punya hak untuk ikut terbawa perasaan pada permasalahan majikannya. Dia juga tidak mau menambah suasana menjadi lebih panas. Tapi tanpa disangka, Danar memeluknya dengan erat.


Tanpa suara, bibi Rumi merasakan bahunya mulai basah. Dia tak ingin mengacaukan perasaan Danar yang sedang rapuh hanya mampu membalas pelukannya dan mengelus punggunggnya seperti seorang ibu. Dengan penuh kelembutan bibi Rumi mengelus kepala Danar sama seperti saat laki-laki itu masih kecil.


Merasa Danar lebih tenang, bibi Rumi melepaskan Danar. “Temuilah istrimu.” Bibi Rumi beralih keluar ruangan.


Danar berjalan pelan menghampiri istrinya yang terbaring lemas di ranjang rumah sakit dengan infus yang terpasang. Dia bisa melihat wajah istrinya yang terlihat lemah. Wajah yang selalu menampilkan senyum manis tulus padanya kini memutih. Danar tak berani mendekat dan hanya mematung di samping istrinya.


Tak lama pintu ruangan terbuka. “Permisi, aku kemari untuk mengecek kondisi istrimu.” Dokter Panca bersama perawat datang untuk mengontrol kondisi Syarah.


“Danar, istrimu sedang kekurangan darah, tekanan darahnya pun rendah. Dia juga kekurangan asupan energi membuat fisiknya lemah yang menyebabkannya tak sadarkan diri. Sepertinya dia juga sedang banyak pikiran yang membuatnya terbebani sampai membuatnya stress yang secara tidak langsung membuat riwayat maagnya kambuh.”


Danar hanya mendengarkan penjelasan dokter Panca tanpa menanyakan lebih lanjut. Tak dia sangka, tindakan cerobohnya kemarin begitu berdampak pada kondisi kesehatan istrinya. Hanya bayangan kekecewaan pada diri sendiri yang memenuhi isi kepalanya.


Hampir satu hari Syarah tidak memasukkan apa pun ke dalam tubuhnya. Wajar jika membuat kondisinya lemah dan tak sadarkan diri. Setelah dokter dan perawat meninggalkan ruangan, Danar duduk di kursi samping ranjang dengan tatapan terpaku pada wajah istrinya seorang.


Danar menggenggam tangan halus milik Syarah yang tidak terpasang infus untuk dia genggam. Tangan yang selalu digunakan untuk melakukan hal untuk melayani suaminya kini terasa dingin dalam genggaman. Cincin berlian sebagai maskawin melingkar indah di jari manis Syarah tak henti mendapat kecupan dari Danar.


Wajah ayu memikat dengan mata sipit berwarna coklat dengan paduan hidung mancung juga bibir tipis itu terlihat sayu dan lemah. Badan yang terlihat semakin kurus membuat hati Danar semakin tercabik. Sekali lagi, dia menyakiti istrinya tanpa ada niat khusus untuk menyakiti istrinya.

__ADS_1


Double up spesial malam minggu


__ADS_2