Perawan Tua Istri Sang Duda

Perawan Tua Istri Sang Duda
34. Egois


__ADS_3

Azan subuh berkumandang dan juga iringan kokokan ayam peliharaan Syarah di belakang rumah menjadi alarm untuk membangunkan penghuni rumah pagi itu. Begitu pula dengan Syarah yang sudah terbangun seperti kebiasaannya setiap pagi, selain itu hari ini dia sudah memiliki rencana yang harus dilakukan yang membuatnya segera beranjak bangun dari tidurnya.


Berjalan ke kamar mandi melihat Danar yang masih terlelap nyaman dalam tidurnya. Syarah memutuskan untuk mandi sebelum mengambil wudhu dan menunaikan sholat subuh. Dia yang memang tidak biasa mandi di pagi hari seperti itu harus menggunakan air hangat, berhubung cuaca pagi ini sangat dingin juga hujan yang masih mengguyur dengan deras. Hanya setengah jam saja dia sudah selesai mandi dan mengambil wudhu bersiap menjalankan ibadah.


Berjalan keluar, Syarah melihat Danar masih bergelung di kasur tanpa selimut seperti biasa. Sepercik rasa enggan masih hinggap di hati Syarah, namun dia sadar betul bahwa menyimpan rasa marah itu sangat tak baik. Terlebih, jika rasa marah itu ditujukan pada sang suami. Dengan segenap rasa yang tersisa, Syarah berjalan menghampiri Danar.


“Kak, ini sudah waktunya subuh. Kakak bangunlah dulu untuk sholat, nanti bisa lanjut tidur lagi.”


Syarah membangunkan Danar dengan menepuk halus lengan kekar suaminya. Tapi suaminya itu hanya menggeliat dan bergumam tak jelas. Dia bingung harus membangunkan Danar dengan risiko akan kena amukan suaminya, atau membiarkan suaminya melalaikan ibadah yang akan meninggalkan kesalahan bagi Syarah.


“Kak, ayo bangun! Aku sudah siapkan pakaian untukmu, sebentar saja nanti bisa tidur lagi.”


“Iya ya cerewet sekali, 5 menit lagi aku bangun, jangan ganggu aku dulu!”


“Ya sudah.”


Dengan berat hati, Syarah segera sholat terlebih dahulu karena jika harus menunggu suaminya khawatir akan terlambat sementara dia masih banyak yang harus dikerjakan pagi ini.


“Assalamualaikum warrahmatullah”


Selesai salam, Syarah menengok ke kasur yang ada di sampingnya. Danar masih belum beranjak sama sekali. Menghembuskan nafas lelah, Syarah kembali bangkit menuju suaminya berada, dia tidak boleh menyerah.


Dielusnya pelan kening Danar yang terlihat berkerut walaupun sedang tidur seperti orang yang sedang berpikir. Syarah menyadari jika dia dan suami terpaut usia yang jauh, suaminya sudah terlihat matang dan dewasa namun masih terlihat seperti berusia 25 tahun di usianya yang sudah berkepala 3. Sadar dengan banyaknya perbedaan diantara dirinya dan suaminya berpikir mengapa mereka bisa disatukan.


“Kak, bangunlah! Ambillah wudhu untuk sholat,” ucap Syarah lembut di samping telinga Danar seperti sedang membisik.


Lalu Syarah mengecup kening Danar pelan, memberi semangat pada suaminya agar segera bangun beranjak. Benar saja, ketika dia mengecup Danar langsung membuka matanya. Diraihnya tangan Syarah yang masih berada di keningnya, sedangkan Syarah kaget dengan tindakan Danar yang tiba-tiba hanya bisa terdiam. Danar menatap Syarah dalam seakan merasuk ke dalam jiwa. Cepat-cepat Syarah tersadar dari tatapan mereka dan segera mengalihkan pandangan.


“Kak, bangun, matahari sudah hampir terbit.”


Syarah berusaha melepaskan tangannya yang masih dalam genggaman Danar beruntungnya Danar melepaskan genggaman itu memberi kesempatan pada Syarah agar tidak terlalu lama berdekatan. Syarah yang masih mengenakan mukena berjalan mengambil pakaian untuk suaminya sholat. Dia lalu melepas mukena dan merapikan peralatan sholatnya ke tempat semula, namun dia tak menyadari jika seseorang masih menatapnya tanpa ingin mengalihkan pandangan barang sebentar.


Teringat akan perintah Syarah yang menyuruhnya untuk sholat, akhirnya Danar berjalan dengan malas ke kamar mandi. Hanya cuci muka agar lebih segar, lalu dia mengambil wudhu dan berjalan keluar. Dia melihat pakaian yang sudah siap di atas kasur, menduga bahwa Syarah yang menyiapkan untuknya dan segera dipakai.


******


“Bi Jum, nanti jam 6 aku akan pergi untuk membeli bunga di desa kemungkinan aku akan pulang sore. Jadi sepertinya aku tidak bisa membantu memasak hari ini,” jelas Syarah.


“Iya Non, tidak masalah. Bibi disini tidak bekerja sendiri, masih ada pegawai lain yang akan siap membantu memasak makanan jadi Non Syarah tidak perlu khawatir, serahkan urusan memasak pada bibi,” kata bibi Jum.


“Terima kasih ya Bi, sudah mau bekerja untuk memasak di rumah dan juga selalu membantuku,” ucap Syarah sambil mengelus lengan bi Jum penuh syukur.


“Tidak perlu berterima kasih Non, bibi disini memang dipekerjakan untuk menghidangkan masakan untuk tuan rumah.”


“Oh iya Bi, maaf jika aku boleh bertanya, apa benar jika cucu Bi Jum sedang sakit?” tanya Syarah hati-hati.

__ADS_1


“Nona tahu informasi itu dari siapa?” tanya bi Jum penasaran.


“Tidak penting dari mana saya tahu, tapi apakah benar itu, Bi?”


“Iya Non. Cucu saya sedang jatuh sakit sejak 2 hari lalu. Tapi tak masalah, dia anak yang kuat pasti dia akan segera mengalahkan sakitnya,” ucap bi Jum sambil tersenyum meyakinkan.


“Aku turut bersedih untuk itu Bi. Tapi jika aku boleh tahu, cucu Bibi sedang sakit apa?” tanya Syarah sekali lagi.


“Sebenarnya itu sakit sudah lama ada pada cucu saya sedari masih kecil. Tapi dia sudah pernah pulih hingga dua hari lalu kondisinya drop dan harus dibawa ke rumah sakit. Dokter bilang sakit TBC yang dia derita kini semakin parah yang membuat kondisinya menurun,” jelas bi Jum sambil menunduk menyembunyikan kesedihannya di depan Syarah.


“Bi, Bibi yang sabar ya. Ini adalah ujian dari Yang Maha Kuasa, ini mungkin berat, tapi Tuhan tahu pundak mana yang mampu menerima beban. Bibi harus yakin pasti bisa melewati ujian ini dengan cucu Bibi. Aku hanya bisa berdoa, semoga cucu Bibi segera diberikan kesembuhan dan diangkat sakitnya. Agar segera kembali seperti sedia kala.”


Syarah memeluk bi Jum dengan sayang berusaha memberikan kekuatan pada wanita yang sudah mulai menua itu. Walaupun dia terlihat garang dihadapan orang lain, tapi entah mengapa tak ada rasa takut yang dirasakan Syarah bila berdekatan dengannya. Dia yakin bahwa perempuan yang dipeluknya ini adalah sosok yang kuat dan tegar.


Walaupun belum lama tinggal di rumah itu, Syarah sedikit banyak mencari infomasi tentang orang-orang yang tinggal di rumah. Bukan berniat ingin mengusik kehidupan pribadi orang lain, melainkan orang yang tinggal di rumah yang sama dengannya dianggapnya sebagai saudara. Tak peduli siapa mereka, karena Syarah menganggap orang yang bekerja di rumah adalah saudara. Dia hanya menantu di rumah itu, pak Pandhulah tuan rumah yang mempekerjakan mereka, jadi dia merasa tak punya hak untuk menganggap mereka sebagai pegawainya.


“Bi, ini adalah sedikit yang mudah-mudahan bisa membantu biaya pengobatan cucu Bibi. Ini memang tak seberapa, tapi Syarah ikhlas memberikannya untuk Bibi. Mohon diterima ya, Bi.”


Syarah menyodorkan amplop yang berisi uang yang sudah dia siapkan tadi sebelum mandi. Mengisi dengan beberapa lembar uang miliknya dari hasil bekerja di perusahaan. Karena dia memang orang yang sederhana dan tidak suka membuang-buang uang jadi gaji selama dia bekerja masih ada sampai sekarang walaupun setiap bulan selalu dia sisihkan juga untuk orang tuanya. Memang orang tua Syarah tidak pernah meminta uang gajinya, tapi Syarah selalu berusaha membagi pendapatannya pada orang tuanya.


“Nona tidak perlu repot-repot sampai memberikan sumbangan pada saya. Gaji yang diberikan tuan Pandhu sudah lebih dari cukup,” tolak bi Jum.


“Bi, ini bukan sumbangan. Anggaplah ini sebagai bonus dari saya karena Bibi selama ini sudah mau mengajari saya memasak, itu sangat berarti bagi saya,” jelas Syarah.


“Sudah Bi, saya mohon diterima ya. Saya masih ada hal yang harus segera saya kerjakan. Bibi terima ini ya. Saya titip salam dengan cucu Bibi, semoga saya bisa bertemu langsung dengannya,” ucap Syarah dengan tersenyum meyakinkan.


“Terima kasih banyak atas kebaikan hati Nona Syarah. Pasti nanti bibi sampaikan pada cucu bibi,” kata bi Jum sambil menggenggam tangan Syarah.


“Sama-sama Bi. Aku pamit kembali ke kamar ya, aku harus segera bersiap. Tolong nanti sampaikan pada bibi Rumi untuk mengawasi kakek meminum obatnya, terima kasih.”


“Baik Non, nanti akan saya sampaikan pada Rumi.”


Lalu syarah berjalan cepat ke kamar, dia harus segera menyiapkan kebutuhan Danar ke kantor. Sesampainya di kamar, Danar terlihat sedang duduk di balkon sambil membuka ipad miliknya. Syarah tak berniat menghampiri karena memang tak ada yang perlu untuk berdekatan dengan suaminya. Membuka lemari dan mengambil setelan kemeja milik Danar, dia menyetrika dan menggantungnya di tempat biasa. Hpnya berdering nyaring menandakan ada panggilan masuk.


“Pagi Neng Syarah, punten mengganggu pagi-pagi. Abah menghubungi Neng teh mau menanyakan, Si Neng teh jadi ke tempat abah tidak nanti?”


“Pagi, Bah. Aduh Syarah lupa menghubungi Abah untuk mengonfirmasi, iya nanti Syarah kesana sama temen-temen. Sekali lagi maaf ya Bah, semalam Syarah lupa,” ucap Syarah pada pemilik kebun bunga yang dipanggilnya ‘Abah’.


“Iya Neng tidak masalah. Tadi ambu nanya sama abah, katanya kalau Neng jadi ke rumah mau beres-beres dulu.”


“Bah, tidak perlu repot-repot seperti itu. Syarah disana tidak lama, berhubung bunga-bunga itu akan digunakan untuk acara pertunangan besok. Jadi Syarah harus segera kembali untuk menyiapkan dekorasinya.”


“Jadi begitu Neng, ya sudah nanti akan abah sampaikan sama ambu. Neng teh hati-hati nyak, tadi malam abis hujan takutnya jalannya licin. Jangan mengebut bawa kendaraannya.”


“Iya Bah, lagipula nanti ada sopir jadi insyaallah akan aman.”

__ADS_1


“Ya sudah, Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Baru akan menurunkan hp dari telinga, Syarah dikejutkan suara yang berada tepat di belakangnya.


“Telepon dari siapa itu?”


“Astaghfirullah, Kak Danar mengagetkan saja,” ucap Syarah sambil mengelus dadanya kaget.


Bahkan hpnya sampai jatuh karena kaget dengan Danar yang muncul tiba-tiba.


“Ini hpmu. Memang kau mau pergi?” tanya Danar penasaran.


“Iya, aku ada pesanan untuk membuatkan dekor bunga di acara pertunangan besok. Berhubung stok bunga di kebun sedang minim sedangkan untuk membuat dekorasi bunga di acara seperti itu pasti membutuhkan beragam jenis dan jumlah yang memadai. Jadi aku berencana pergi ke kebun desa tempat langgananku untuk membeli bunga bersama dengan Ratih dan Rahma, karyawan di toko,” terang Syarah pada Danar yang menatapnya dalam.


“Kenapa tidak berkata padaku dan malah tiba-tiba seperti ini? Kapan kamu pergi?” tanya Danar mengintrogasi.


“Aku juga baru mendapat order itu tadi malam, Kak. Aku dan mereka akan berangkat jam 6 pagi ini. Tadi aku mau mengatakannya pada Kakak tapi kelupaan,” ucap Syarah sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan memandang ke arah lain.


“Kamu pikir aku tidak tahu jika tempat yang akan kamu datangi itu sangat jauh dari sini? Lalu kamu pikir kamu bisa pergi tanpa izin terlebih dahulu dariku? Apa perlu aku ingatkan jika kau adalah istriku, kemana pun kamu akan pergi kamu harus izin dulu padaku, kau dengar?” bentak Danar di depan istrinya.


“Hiks aku minta maaf, aku benar-benar lupa memberitahu Kakak. Aku minta maaf, aku mohon maafkan aku,” ucap Syarah.


Syarah ketakutan mendengar suara tinggi Danar yang berada tepat dihadapannya. Dia hanya bisa menunduk dalam dan menautkan jemarinya takut. Dia sungguh lupa dan tak ada maksud menyepelekan suaminya.


“Kamu tidak boleh pergi.”


Satu kalimat singkat yang membuat Syarah terkejut dan refleks mendongakkan kepala untuk menatap Danar.


“Kak -“


“Tidak ada bantahan! Sebagai istri kau harus mengikuti perkataan suami!” peringat Danar.


“Tapi Kak-“


“Kau dengar ucapanku tadi, bukan? Kalau kamu memaksa untuk pergi, maka kamu akan mendapatkan konsekuensi dari apa yang kamu lakukan! Semua ada di tanganmu, jadi pikirkan baik-baik!” ucap Danar kemudian berlalu meninggalkan Syarah sendiri di kamar.


“Kak ….”


“Egois! Kenapa dia egois sekali Tuhan? Aku harus bagaimana ini? tolong bantu aku Tuhan. Aku tak mungkin melawan suamiku, tapi bagaimana dengan janjiku untuk membantu pertunangan mereka? Aku harus apa?”


Hai temen-temen


Terima kasih sudah membaca ceritanya, jangan lupa like dan komen sebagai bentuk dukungan buat aku🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2