Perawan Tua Istri Sang Duda

Perawan Tua Istri Sang Duda
12. Melamar


__ADS_3

“Hei, bangun!” ucap Danar.


Pagi ini, Danar bangun pukul setengah 4 pagi, pesawat yang akan membawa dia ke rumah orang tua Syarah berangkat pukul 6 pagi. Setelah bersiap dia turun ke kamar Syarah untuk membangunkan, semalam dia lupa memberi tahu Syarah. Danar membangunkan Syarah dengan menggoncangkan badan Syarah yang masih bergelung dibawah selimut. Syarah menggeliat dan mulai membuka mata dia belum sadar sepenuhny bahwa di kamarnya ada seseorang lawan jenis.


“Hei, Pemalas, cepat bangun!” ucap Danar.


Suara keras Danar menyadarkan Syarah sepenuhnya dari tidur lelap. Saat Syarah sadar sepenuhnya dia langsung menutup tubuhnya dengan selimut.


“Bapak kenapa ada di kamar saya?” tanya Syarah panik.


“Kau lupa ini rumahku jadi aku bebas keluar masuk kamar mana pun,” ucap Danar.


“Bapak belum menjawab pertanyaan saya. Bapak kenapa ada disini?” tanya Syarah lagi.


Syarah bertanya melihat Danar sudah siap dengan setelan rapi tapi terlihat santai tidak seperti biasanya.


“Kau akan tahu nanti. Sekarang segeralah bangun dan bersiap. Aku tunggu setengah jam, kau harus sudah siap,” jawab Danar.


“Iya, baiklah,” ucap Syarah beranjak dari kasur dengan malas menuju kamar mandi.


Belum sampai kakinya menginjak lantai kamar mandi, dia menengok ke belakang.


“Tapi Pak, saya tidak ada baju ganti. Apa iya saya pergi dengan pakai bathrobe seperti ini,” ucap Syarah sambil memandang pakaiannya kini.


“Bukannya tadi malam sudah sudah saya belikan pakaian. Pakai saja itu,” jawab Danar dengan enteng.


“Kau pikir aku perempuan macam apa mau pakai pakaian kurang bahan seperti itu.


Sudahlah kalau memang tidak ada baju ganti lebih baik saya tidak ikut saja,” ucap Syarah melangkah menuju kasur lagi sepertinya dia akan tidur kembali.


“Tidak masalah jika kau mau memakai itu. Aku jadi penasaran bagaimana penampilanmu dengan pakaian seperti itu,” ucap Danar santai.


Danar kini melangkah menuju sofa yang ada di sudut kamar menghadap Syarah.


“Dasar mesum! Keluarlah dari kamarku, Pak!” ucap Syarah sambil melempar bantal ke arah Danar.


“Melihatmu seperti ini aku jadi semakin penasaran, pakailah pakaian itu aku ingin melihatnya,” ucap Danar menggoda.


“Hei, pergi! pagi-pagi sudah mau mesum,” ucap Syarah marah.


Semua bantal sudah habis Syarah lempar kearah Danar. Danar tertawa melihat kemarahan Syarah. Sebenarnya semalam ia hanya bercanda dengan membelikan pakaian itu, saat dia meminta pegawainya untuk membelikan pakaian tidur, dia tidak menyangka akan dibelikan pakaian seterbuka itu.


Muncullah ide jahilnya, dia penasaran apakah wanita lurus seperti Syarah yang selalu berpenampilan sopan dan tertutup mau memakai pakaian seperti itu. Tapi kenyataan yang didapatinya pagi ini cukup menjelaskan semuanya. Syarah lebih memilih tidur dengan memakai bathrobe ketimbang memakai pakaian terbuka itu.


“Sudahlah segera bersiap, itu ada kantong pakaian di meja,” ucap Danar menujuk kantong pakaian dengan dagunya.


Setelah mengatakan itu Danar berlalu keluar kamar. Syarah segera menuju kamar mandi setelah meraih kantong pakaian itu dan bersiap sebelum bosnya akan berubah menjadi singa. Kini syarah sudah selesai bersiap, dipandangnya pantulan dirinya di cermin.


Meski hanya dengan polesan wajah tipis dengan dress floral berwarna coklat muda ini Syarah terlihat cantik. Walaupun hanya dalam waktu setengah jam kurang di sudah bisa menyelesaikan mandi dan bersiap. Tak ingin menerima amukan, dia segera keluar kamar.


“Pak, saya sudah siap. Ayo, kita bisa berangkat sekarang,” ajak Syarah.


Danar yang sedang fokus membuka email mengalihkan pandangan kearah Syarah. Dilihatnya Syarah yang cantik dengan kesederhanaannya tanpa ada kesan terbuka. Bahkan matanya tak berkedip beberapa detik menikmati pemandangan indah di pagi hari.


“Pak, ayo katanya kita harus buru-buru,” ucap Syarah yang sudah berdiri dihadapan Danar dengan senyumnya.


“Oh iya iya,” jawab Danar tersadar dari lamunan.


Mereka keluar menuju mobil yang siap mengantarkan mereka ke tempat tujuan.


Mobil melaju dan berhenti ketika sampai di bandara. Syarah yang kebingungan menoleh kearah Danar.


“Pak, kenapa kita ke bandara? Memang kita mau pergi kemana?” tanya Syarah kebingungan.


“Sudah lah ikuti saja tidak perlu banyak bertanya,” jawab Danar ketus.


Mendengar ini Syarah hanya diam dan mengikuti Danar sesuai perintah. Sampailah mereka di pesawat yang akan ditumpangi dan mereka duduk bersebelahan.

__ADS_1


“Pak, kita mau pergi berapa lama? Saya kan tidak membawa pakaian ganti dan belum membawa berkas yang mungkin akan Bapak butuhkan,” tanya Syarah pada Danar.


“Kau ini jangan banyak bertanya. Kalau kau hanya memusingkan tentang pakaian kau tidak perlu khawatir. Akan kubelikan pakaian sepuasmu kalau perlu kita beli tokonya sekalian. Tapi sekarang diam jangan banyak bicara aku ingin istirahat,” jawab Danar ketus.


Mendengar ini Syarah terdiam tak berani mengeluarkan suara lagi. Dekat-dekat dengan bosnya membuat dia bisa-bisa terkena sakit kepala di usianya yang masih muda. Danar selalu melakukan hal seenaknya yang harus dituruti oleh Syarah. Hal ini membuat Syarah pusing sampai sakit kepala memikirkannya.


Saat pesawat akan mulai lepas landas, Syarah merasa sedikit takut. Wajar karena ini adalah kali kedua dia naik pesawat jadi masih merasa takut. Dia ingin memegang sesuatu untuk mengurangi ketakutannya.


Waktu pesawat mulai naik, dia menarik lengan pakaian Danar. Danar yang sebenarnya hanya memejamkan mata sedikit membuka matanya merasa lengan pakaiannya ditarik. Danar melihat Syarah menutup mata sambil komat-kamit seperti merapalkan doa.


Menyadari Syarah yang sedang ketakutan Danar hanya diam tidak ingin berusaha menenangkannya dia gengsi melakukannya jadi dibiarkan saja lengannya ditarik Syarah. Danar tersenyum tipis melihat tingkah Syarah yang lucu. Mereka membutuhkan waktu 3 jam untuk sampai bandara yang berada di kota yang paling dekat dengan tempat tinggal Syarah.


Sampai di bandara, Syarah belum menyadari keberadaannya yang hampir dekat dengan tempat tinggalnya. Setelah ini mereka harus menempuh perjalanan lagi dengan mobil karena hanya itu akses yang paling cepat.


Saat di depan bandara sudah tersedia mobil kantor cabang yang ada di kota tersebut.


Danar memutuskan untuk membawa mobil sendiri tanpa sopir. Syarah yang ada di sampingnya mengikuti tanpa banyak membantah.


“Pak, kita sebenarnya mau kemana?” tanya Syarah membuka suara.


“Kita akan ke rumah seseorang,” jawab Danar sekadarnya.


“Ke rumah seseorang? Apakah itu rekan kerja Anda?” tanya Syarah penasaran.


“Kau akan tahu nanti,” jawab Danar penuh misteri.


“Baiklah, tapi bisakah kita mampir untuk membeli sarapan? Ini sudah hampir waktu makan siang,” tanya Syarah yang sudah menahan lapar sejak di pesawat.


“Apakah otakmu hanya ada makanan?” tanya Danar menyindir.


“Manusia itu perlu makan. Jangan sampai muncul berita yang membicarakan bahwa Danar Wijaksana membiarkan karyawannya kelaparan. Tentu tidak baik dong Pak untuk reputasi Anda,” ucap Syarah.


Syarah sudah kembali mengoceh pada Danar. Kini baru Danar sadari bahwa sebenarnya Syarah akan bersikap apa adanya ketika mungkin dia sudah nyaman dengan orang tersebut.


“Iya iya, kita makan dulu dasar cerewet,” ucap Danar menurut.


*****


“Pak, ini jalan searah sama rumah saya. Apakah rekan Bapak itu melewati tempat tinggal orang tua saya yang ada di daerah X?” tanya Syarah melihat jalan yang dilewati.


“Benar, kita akan kerumah orang tuamu,” jawab Danar.


“Ha? Apakah Bapak serius? Tapi untuk apa Bapak repot-repot mengantarkan saya pulang? Jangan katakan Bapak akan bilang ke orang tua saya tentang rencana Bapak itu?” tanya Syarah memberondong.


“Benar,” jawab Danar singkat.


“Ya Tuhan, aku belum siap bila harus mengatakannya pada mereka. Mereka pasti sangat terkejut. Haduh aku bingung tidak tahu bagaimana menjelaskannya pada mereka. Aku juga belum menerima Anda,” ucap Syarah.


“Aku tidak peduli denganmu. Aku kesini untuk bertemu dengan orang tuamu. Akan kubuat mereka menerimaku,” ucap Danar penuh percaya diri.


“Coba saja, aku yakin orang tuaku akan menolak juga,” ucap Syarah.


Danar diam tak menanggapi, dia sudah memikirkan ini semalaman. Dia bahkan sudah meminta karyawan yang ditunjuknya untuk mengirim beberapa buah tangan untuk orang tua Syarah. Tak lama mobil memasuki kawasan yang masih khas desa.


“Anda serius mau bertemu dengan orang tua saya untuk menyampaikan tentang permintaan kakek? Ah maksud saya, pak Pandhu,” tanya Syarah.


“Aku tidak main-main pada ucapanku,” ucap Danar.


Kini Syarah dirundung kebingungan, bagaimana cara dia menjelaskan pada orang tuanya tentang rencana pernikahan yang bahkan ditolaknya ini. Mobil berhenti di sebuah rumah yang terbilang sederhana. Syarah segera turun menuju rumah yang dirindukannya ini terutama dengan orang tuanya.


“Ibuk, Bapak, Syarah pulang,” ucap Syarah girang mencari orang rumah.


“Syarah kenapa tiba-tiba sampai rumah? Kenapa tidak mengabari bapak ibuk dulu sebelum kan bisa dijemput,” ucap ibu Syarah sambil memeluknya.


“Aku juga tidak ada rencana. Ini semua terjadi tiba-tiba,” jawab Syarah.


Kemudian bapak datang dari belakang kaget dengan kehadiran Syarah tiba-tiba.

__ADS_1


“Loh kamu pulang kenapa tidak bilang-bilang dulu?” tanya ayah Syarah menghampiri.


“Aku juga tiba-tiba pulangnya, gak ada rencana buat pulang, Pak,” jawab Syarah pada ayahnya.


“Ehm, Assalamualaikum,” sapa Danar yang masih di depan rumah.


“Waalaikumsalam. Siapa ya?” tanya ayah Syarah menghampiri.


“Perkenalkan, saya Danar. Saya datang bersama putri Bapak,” ucap Danar sambil mengulurkan tangan.


“Oalah kenapa kamu tidak bilang Sya, ayo silahkan masuk. Maaf hanya begini rumah kami,” ucap ayah Syarah.


"Sya, tadi pagi ada barang yang diantar ke rumah, katanya dari kamu. Makanya bapak sama ibuk terkejut tiba-tiba kamu pulang karena baru saja ada kiriman. Bapak pikir karena kamu tidak bisa pulang," ucap ayah Syarah menjelaskan.


"Kiriman barang? Syarah tidak ada kirim barang ke rumah," ucap Syarah.


"Maaf membuat kebingungan, sebenarnya itu dari saya tapi atas nama Syarah," terang Danar.


"Kenapa harus repot-repot, Nak. Kalian datang ke rumah saja kami sudah sangat bahagia," ucap ibu Syarah.


"Tidak apa-apa Bu, itu tidak seberapa," ucap Danar.


"Terima kasih ya, Nak, untuk oleh-olehnya, itu sangat banyak. Bolehkan kalau ibu membagikannya untuk saudara dan tetangga sekitar?" tanya ibu Syarah mengingat barang cukup banyak.


"Silahkan, itu milik Ibu jadi terserah Ibu mau diapakan barangnya," jawab Danar.


Memang barang yang diberikan berupa makanan ringan dan barang-barang lainnya.


“Sebentar, ibuk buatkan minuman dulu pasti kalian lelah setelah perjalanan,” ucap ibu Syarah.


Syarah dan ibunya berlalu ke dapur untuk menyiapkan minuman dan makanan camilan. Ayah Syarah dan Danar berbincang di ruang tamu rumah mereka.


“Sya, kok kamu bawa laki-laki tidak bilang dulu sama ibuk? Selama ini kamu juga tidak cerita apa-apa tentang kedekatanmu dengannya. Tunggu tunggu, kamu tidak sedang isi kan?” tanya ibu Syarah memandang menyelidik pada putrinya.


“Hush, Ibuk ini kalau bicara sembarangan saja. Masak anak sendiri dituduh hamil duluan. Itu tidak mungkin lah. Kalau Ibuk penasaran langsung bertanya saja dengannya,” ucap Syarah.


Jujur Syarah bingung bagaimana cara menjelaskannya, ia tidak mau ibunya kaget mendengar kenyataan tentang perjodohan ini.


*****


Malam ini, di meja makan hanya ada empat orang dengan bapak disamping Danar dan Syarah bersama ibunya. Setelah makan malam Danar meminta kedua orang tua Syarah untuk memberi waktu berbicara serius. Kini mereka sudah ada di ruang tengah rumah dan saling diam menunggu Danar mengatakan.


“Saya datang kemari bermaksud untuk melamar putri Bapak, Syarah Haura, untuk menjadi pendamping hidup saya,” ucap Danar tegas dan serius tanpa ragu.


“Mengapa mendadak sekali? Apakah kalian sudah lama menjalin hubungan hingga tiba-tiba mau berencana menikah?” tanya ayah Syarah.


Syarah melirik Danar seakan meminta Danar untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Danar yang mengerti pun menjelaskan kepada kedua orang tua Syarah tentang semuanya tanpa ada yang ditutupi. Sedang Syarah menunggu respon kedua orang tuanya.


“Bapak mengerti dan paham dengan kondisi yang kamu ceritakan. Tapi kembali lagi, keputusan final ada di tangan Syarah. Dia sudah dewasa, kedepannya dia yang akan menjalani kehidupan pernikahan. Apalagi kalian berdua dijodohkan, mungkin masih belum ada perasaan diantara kalian. Menurut bapak, berilah waktu untuk kalian saling mengenal lebih dulu. Pernikahan adalah ibadah terlama, bahkan hingga maut memisahkan. Jadi pikirkanlah matang-matang jangan ambil keputusan dengan tergesa,” terang ayah Syarah dengan bijak.


Syarah juga setuju dengan ucapan ayah Syarah kemudian dia berkata.


“Bagaimana kalau 2 minggu? Apakah itu cukup? Saya tidak bisa terlalu lama, kakek saya dalam keadaan lemah. Saya hanya ingin mengabulkan keinginan terakhirnya,” jelas Danar.


“Baiklah, aku setuju,” jawab Syarah.


Waktu sudah menujukkan malam hari sudah waktunya untuk terlelap. Danar diminta untuk tidur di kamar yang dulunya digunakan untuk kakak Syarah tapi sekarang kosong karena tidak ada yang menempati. Sedang Syarah tidur bersama ibunya. Berada di dalam kamar, Danar menggeliat tak nyaman dengan kasur yang keras menurutnya yang selalu tidur di kasur empuk dan nyaman namun ia berusaha tetap tidur.


*****


Mereka memutuskan untuk tinggal di rumah orang tua Syarah selama 2 hari. Danar tidak bisa meninggalkan kakeknya terlalu lama dalam keadaan lemah seperti ini. Di tempat tinggal orang tua Syarah, Danar diajak ayah Syarah untuk ke sawah dan melakukan banyak hal di desa secara tradisional. Mereka menghabiskan waktu beternak, mengurus sawah dan memancing.


“Ibuk, Bapak, Syarah pamit pulang dulu ya. Bapak dan Ibuk jaga kesehatan, kalau membutuhkan sesuatu jangan sungkan mengabari Syarah,” ucap Syarah dengan memeluk ibunya.


“Iya sudah-sudah segeralah berangkat jangan sampai kalian terlambat,” jawab ibu Syarah.


Setelah pamitan, Syarah dan Danar melaju menuju bandara. Selain karena khawatir dengan kondisi pak Pandhu, pekerjaan di kantor sudah menumpuk apalagi Danar juga harus menyelesaikan pekerjaan kakeknya selagi kakeknya masih sakit.

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak di komen dan berikan like sebagai bentuk dukungan pada karya pertama saya


__ADS_2