Perawan Tua Istri Sang Duda

Perawan Tua Istri Sang Duda
Dimabuk Cinta


__ADS_3

Hari-hari berjalan seakan tanpa ada masalah yang terjadi pada hubungan Danar dan Syarah yang baik-baik saja. Mereka melalui hari dengan damai dan dibalut rasa kasih sayang yang tidak terungkapkan. Cukup bersama dan memberi perlakuan manis layaknya pasangan pada umumnya.


Syarah yang seperti biasa akan bekerja di toko bunga miliknya dan juga mengurus kebun bunga dan sayuran di halaman rumah. Walau terkadang Danar sering marah padanya karena Syarah lebih memerhatikan bunga-bunga miliknya dan usahanya dibandingkan dengan suaminya. Padahal nyatanya Danar saja yang mencari perhatian dari istri tercintanya itu.


“Sya, parfumku dimana kok gak ada di meja?” tanya Danar setengah berteriak dari dalam walk in closet.


“Ada Kak, coba cari dulu,” jawab Syarah yang berada di dalam kamar merangkai bunga di vas.


“Gak ada Sya! Kamu kemari carikan parfumku dulu!” perintah Danar.


Syarah yang mendengar nada perintah tanpa bisa dibantah akhirnya menghampiri suaminya walau sedikit kesal. Dia membantu mencari parfum yang dimaksud suaminya itu, sedangkan Danar memilih mundur sambil berkutat dengan hpnya.


Hanya dengan sekali melihat saja Syarah sudah langsung bisa menemukan parfum yang dimaksud Danar dan membuatnya menghembuskan nafas kasar.


“Nih,” ucap Syarah sambil menyodorkan parfum ke suaminya.


“Pakein sekalian,” ujar Danar tanpa melihat Syarah dan masih sibuk dengan hpnya.


Tentunya Syarah berdecak kesal dengan tingkah suaminya itu, “Gak mau pake sendiri,” tolak Syarah meletakkan botol kaca parfum dengan kasar di atas etalase jam tangan Danar.


Dia hendak melangkah keluar ruangan dengan kesal namun segera ditahan oleh Danar, “Kok malah pergi sih, dasi aku belum kamu pasang juga,” ujar Danar meraih pergelangan tangan Syarah.


“Kamu kan udah gede, pasang aja dasi sendiri,” tolak Syarah dengan kesal.


Danar yang mengerti bahwa istrinya sedang dalam mode kesal segera menyimpan hp ke saku celananya dan memeluk Syarah dengan erat.


“Kenapa sih pagi-pagi udah marah-marah begini, hmm?” tanya Danar sambil mengecup leher jenjang istrinya yang menebarkan aroma vanilla.


“Ih ngapain sih kamu Kak, geli ih,” ujar Syarah mendorong Danar agar menjauh dari lehernya merasakan geli saat bersentuhan dengan jambang suaminya.


“Makanya jangan marah-marah, apalagi sama suami. Inget marah sama suami itu dosa lo,” ujar Danar yang malah membuat Syarah mencubit perut suaminya dengan cubitan kecil.

__ADS_1


Syarah hanya mendengarkan dan melenggang keluar begitu saja dari dalam ruang walk in closet itu meninggalkan suaminya yang panik melihat kekesalan Syarah. Danar memanggil-manggil istrinya namun diabaikan oleh Syarah yang tetap melangkah ke sofa untuk melanjutkan merangkai bunga di vas bunga.


“Sya, maaf kalau memang aku salah, tapi jangan marah-marah begini lagi dong,” bujuk Danar yang sudah duduk di samping istrinya.


Namun bukannya mendapat respon, Syarah tetap diam dan fokus pada pekerjaannya. Dia sama sekali tak menggubris suaminya yang sudah duduk menempel dengannya. Setelah beres dia membersihkan potongan tangkai yang tidak terpakai dan membawanya ke tempat sampah. Danar masih mengikuti istrinya pergi dan masih berusaha membujuk, namun Syarah malah melangkah keluar kamar dan menuruni tangga.


Kekesalan Syarah membuat Danar kelimpungan, dia pun segera membawa tas dan barang yang belum sempat dia pakai mengikuti istrinya yang sedang menata makanan di meja makan.


“Sya, udah dong jangan marah lagi sama aku,” bujuk Danar yang sudah memeluk Syarah dari belakang dan menelusupkan kepalanya dengan nyaman di leher istrinya.


Akhirnya Syarah pun membuang nafas halus dan melepas pelukan suaminya namun lagi-lagi ditahan oleh Danar.


“Kak udah dong gak enak sama pelayan,” ujar Syarah ingin melepaskan lilitan tangan suaminya.


“Biarin, mereka juga udah pergi. Makanya kamu maafin aku dulu baru aku lepasin,” bantah Danar dengan sesekali mencuri kecupan di leher istrinya.


“Iya, udah dong sana duduk. Ntar telat,” ucap Syarah yang langsung membuat Danar melepaskan pelukannya.


“Iya, tapi ada syaratnya,” jawab Syarah sambil melipat tangan di perut.


“Ya Tuhan ini bukan kerja sama yang harus ada syaratnya Sya,” keluh Danar dengan berkacak pinggang.


“Terserah,” ujar Syarah sambil duduk dan menyiapkan roti panggang.


“Oke oke, everything for u,” ujar Danar membalikkan Syarah agar menghadapnya.


“Aku mau ada kuda di rumah ini, emm kalau gak ada kuda minimal rusa jadi biar gak sepi rumahnya Kak. Masa rumah segede gini gak ada peliharaannya sih,” ujar Syarah.


“Tapi Syarah, aku gak suka dan gak terbiasa ada hewan di rumah. Aku gak suka kalo ada bau kotoran hewan di rumah, kamu tahu itu kan?” tanya Danar ingin menolak.


“Kan bisa nyuruh orang buat ngurus hewannya, jadi kotorannya gak bikin bau soalnya udah rajin dibersihin sama orangnya yang ngurus,” bantah Syarah tak ingin ditolak.

__ADS_1


“Kalo kamu mau kita bisa ke stable kuda setiap weekend tapi aku gak mau kalo ada hewan yang cuma bikin jadi bau aja,” tolak Danar mentah-mentah.


“Makanya itu gunanya kamu pekerjakan orang buat ngurus hewan di rumah, mereka bakal sering ngebersihin kotorannya jadi gak kebauan,” ujar Syarah masih berusaha membujuk.


Danar enggan merespon bujukan istrinya, dia memilih duduk dan melahap roti yang sudah disiapkan di atas meja. Melihat suaminya yang menolak keinginannya, Syarah masih belum menyerah. Dia mengusap dada bidang suaminya dan menatap suaminya dalam.


“Kak, satu ekor aja, ya? Kan Kakak masih punya banyak di sana,” ujar Syarah dengan mengerjapkan mata berharap suaminya bisa luluh.


Danar menatap istrinya yang sangat jarang sekali meminta sesuatu sampai rela merayu seperti ini, sangat jarang sekali bahkan belum pernah. Dia pun menghembuskan napas kasar dan meraih wajah istrinya dan menyatukan bibirnya dengan milik istrinya. Sedangkan Syarah yang kaget hanya mengikuti saja permainan suaminya.


Baru setelah merasa kehabisan napas, Syarah memukul suaminya agar bisa menjauh dari dia. Danar yang mengerti kode istrinya pun segera melepaskan tautan. Setelahnya merasa saling menenangkan diri sedangkan Danar menghapus sisa perbuatannya di wajah istrinya. Sementara Syarah menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.


“Baiklah, aku akan kirimkan satu kuda ke rumah. Tapi ingat, hanya satu kuda. Tidak akan pernah bertambah,” ujar Danar akhirnya mengabulkan keinginana istrinya.


“Ahh terima kasih Kak,” ujar Syarah langsung memeluk erat Danar saking senangnya.


Danar yang melirik jam tangan yang melingkar di tangannya kaget, “Sya, aku berangkat dulu udah telat,” ujar Danar segera melepas pelukan dan meraih tas yang dia letakkan di kursi sampingnya.


“Tunggu, sini aku pasangin dulu dasinya,” cegah Syarah langsung dengan sigap memasangkan dasi pada suaminya.


Kemudian dia mengantarkan Danar ke depan, “Aku berangkat dulu, kamu baik-baik di rumah,” pamit Danar mengulurkan tangan yang langsung disambut oleh istrinya.


“Hati-hati Kak,” jawab Syarah yang tersenyum manis.


Dia melambaikan tangan sampai mobil suaminya menghilang dari pandangannya. Senyum masih belum luntur dari wajahnya, senang rasanya jika keinginan dituruti oleh suami tercinta.


Dukung dengan like, komen dan vote.


Un**tuk **cast akan Dewi upload di ig, jadi langsung follow @dewi.nur.kh


Terima kasih yang selalu setia menanti

__ADS_1


__ADS_2