
Pernikahan Danar dan Syarah berjalan datar tanpa ada romansa dan kedekatan yang berarti diantara keduanya. Mereka masih terikat dalam pernikahan sebagai suami dan istri. Namun itu semua hanya sebatas status, tidak seperti kenyataan yang terjadi.
Danar masih disibukkan dengan perusahaan pak Pandhu yang semakin kokoh dan menjulang dibawah kepemimpinan Danar. Tak ayal kemampuan otak yang diwariskan oleh kakeknya begitu nyata diturunkan pada Danar yang malah semakin luar biasa. Perusahaan yang sudah menguasai negara tempat berdirinya, kini makin melebarkan sayapnya di satu benua.
Banyak pujian dan sanjungan ditujukan kepada Danar sebagai pemimpin baru perusahaan tersebut, tetapi sama sekali tidak membuat Danar mudah puas. Dia tetap fokus dalam menjalankan perusahaan yang dialihkan padanya, dia ingin membuktikan pada kakeknya bahwa dia mampu menjalankan perusahaan. Danar hanya ingin kakeknya fokus pada kesehatannya tanpa memikirkan perusahaan yang dibangunnya dari nol.
“Permisi, Pak, ini ada berkas kerjasama dengan perusahaan X dari Singapura yang perlu Anda tanda tangani,” ucap sekretaris Danar.
“Baik, letakkan saja di meja nanti saya tanda tangani,” jawab Danar.
Begitulah kegiatan Danar sehari-hari, berkutat dibalik meja yang dipenuhi berkas-berkas yang harus dia cek. Pergi pagi dan harus pulang tengah malam sudah biasa dia lakukan semenjak menikah dengan Syarah. Entah dia harus bersyukur atau malah menyesal dengan ini, kesibukkannya membuatnya tidak perlu bertatap muka dengan Syarah dalam waktu lama namun di dalam hatinya ada rasa rindu pada istrinya itu.
Tentang kesehatannya, tak pernah Danar abai untuk bertemu Akira untuk mempercepat penyembuhannya. Sekali pun dia mencuri-curi waktu untuk berkonsultasi di tengah kesibukannya tetap dia lakukan demi kesembuhannya. Dia tidak ingin hidup dengan bayang-bayang masa lalu disaat kebersamaannya dengan Syarah.
Setiap harinya, Danar tak tega hati bila selalu bertemu dengan Syarah dengan Syarah yang tertidur di sofa ruang tengah demi menunggu kepulangannya. Sering kali juga Danar membawa Syarah dalam gendongannya untuk memindahkan Syarah ke kamar mereka. Hati Danar sedih melihat derita yang harus istrinya hadapi demi hidup bersamanya.
Danar masih tak habis pikir dengan yang ada dalam diri Syarah. Istrinya itu begitu sabar menghadapi sikap dan sifat Danar tanpa mengeluh sedikit pun. Justru istrinya itu malah menampilkan senyum manisnya pada Danar setiap waktu bahkan ketika tidur pun istrinya tersenyum. Syarah yang selalu menyiapkan kebutuhan Danar, mengurus rumah dan juga mengurus kakeknya untuk berobat rutin.
Danar berharap, dia pulih dari lubang hitam kesakitannya, agar dia bisa menjadi suami yang seutuhnya untuk Syarah. Setiap dia mengingat bahwa dirinya belum memberikan nafkah batin pada istrinya, membuatnya merasa sangat menyesal tapi dia belum bisa melakukannya. Lagi-lagi Syarah tak pernah sekali pun menuntut itu padanya, Syarah menerima apa yang Danar berikan tanpa adanya tuntutan.
*****
__ADS_1
Syarah POV
Tak terasa ternyata, pernikahanku dengan kak Danar sudah berjalan 3 bulan. Selama menikah dengannya, aku belum pernah mendapatkan nafkah batin dari suamiku. Aku tak tahu apakah aku harus meminta terlebih dahulu atau aku harus menunggunya.
Mungkin ini terdengar memalukan, namun aku sudah sah secara hukum dan agama sebagai istrinya. Tetapi sampai saat ini, aku belum juga mendapatkan hakku. Rasanya tak pantas bila aku memintanya terlebih dahulu, aku sangat malu. Aku takut dia menganggapku wanita yang rendah hingga meminta-minta pada suamiku.
Satu yang aku bisa lakukan hanyalah menunggu, menunggu suamiku segera sadar akan kewajibannya padaku. Aku tidak ingin menuntut hakku pada dirinya, aku juga harus melakukan kewajibanku sebagai istri padanya. Jangan sampai karena terlalu mengharapkan hakku hingga aku lalai akan kewajibanku sendiri sebagai seorang istri yang harus melayani suami.
Selama menikah dengan kak Danar, sikapnya masih saja acuh dan dingin. Bicara seperlunya dan bertindak seperti yang dia inginkan. Sedikit demi sedikit aku mulai menurunkan ego agar tak terlalu dalam masuk dalam jiwanya, aku tak ingin membuatnya tak nyaman bersamaku. Biarlah aku yang menyesuaikan diri dengannya, selama dia tidak berlaku kasar dan menyakitiku tak masalah bagiku untuk tetap mendampinginnya.
Hari-hari aku lewati hanya disibukkan dengan kegiatan dapur, mengurus taman yang kini tercipta kebun kecil tempat aku menghabiskan waktu juga mengurus kakek Pandhu yang sedang dalam proses pemulihan. Aku memang diminta untuk menjadi ibu rumah tangga semenjak menikah dengan suami, awalnya aku ingin menolak namun dia tak pernah menyerah untuk membujuk dan aku pun hanya bisa mengalah. Menurut apa kata suami tidak salah bukan?
Setiap pagi, aku selalu memulai aktivitas dengan kesibukan di dapur. Memasak untuk suami yang sudah mau menikmati sarapan di rumah sebelum berangkat ke kantor. Walau hanya masakan sederhana yang bisa aku sajikan, syukur dia tidak pernah berkomentar tentang apa pun yang aku masak. Dia memang tidak pernah mempermasalahkan tentang makanan yang dihidangkan untuknya. Selama dia merasa tak masalah pada masakan itu, dia akan memakannya tanpa banyak bicara.
“Kak, lepas kak. Sakit ….”
“Lihatlah dirimu!”
Kak Danar mengarahkanku menghadap ke cermin yang ada di kamar. Aku tak mengerti dan hanya gelengan kepala sebagai jawaban.
“Kau di rumah ini sebagai istri, bukan sebagai pembantu! Aku menikahimu bukan untuk menjadikanmu sebagai pembantu!”
__ADS_1
Mendengar bentakan kak Danar, aku menangis tersedu, tak berani melihat ke arahnya yang berdiri di belakangku. Hatiku sangat sedih mendengar amukannya padaku, apa aku terlalu memalukan sebagai istri untuknya. Aku yang memang berusaha menjadi istri yang baik untuk melayani suami, tapi sepertinya suamiku tak beranggapan yang sama.
******
Setelah kejadian itu, kak Danar mendiamkanku hampir 3 hari. Dia mengacuhkan keberadaanku dan perkataanku yang mencoba meminta maaf akan kesalahanku. Jujur dalam lubuk hatiku terdalam, aku lelah jika seperti ini. Setiap kesalahan yang aku perbuat, kurasa terlalu dibesar-besarkan oleh suamiku.
Aku juga ingin mendapat perhatian darinya. Ingin mendapat kasih sayang dengan perlakuan manis suami pada istri seperti sewajarnya orang di luar sana. Terkadang bila aku keluar walau hanya sekedar berbelanja kebutuhan rumah, sering kali aku melihat pasangan yang terlihat manis membuatku juga ingin merasakannya.
Jangankan berlaku manis. Berbicara tentang kegiatan sehari-hari saja sangat jarang kami lakukan. Kudengar dia semakin sibuk dalam pekerjaannya, bisnis yang digelutinya makin meroket di kancah dunia. Hal ini mungkin yang menyebabkan waktunya semakin tersita.
Setiap malam, aku selalu memohon agar dia selalu diberi kebahagiaan. Sebagai seorang istri, aku sangat malu atas ketidaksempurnaanku dalam melayani suamiku. Aku tak mau bila suamiku memiliki banyak keluhan tentangku. Aku takut bila Tuhan melaknatku sebagai seorang istri yang tidak bisa memberi kebahagian pada suami.
Ingatan tentang perempuan yang pernah menemui suamiku terkadang membuatku khawatir. Apakah karena kehadiran wanita itu yang membuat suamiku tak mau menyentuhku selama ini? Sebenarnya hubungan apa yang terjalin diantara keduanya?
Sungguh aku tak mampu memikirkannya, membayangkan suamiku memiliki hubungan gelap dengan wanita lain membuat ketakutan tersendiri bagiku. Menyadari akan diriku yang tak memiliki wajah secantik dia, proporsi badan yang tak seindah dia atau mungkin dia yang lebih pintar dariku sangat membuatku khawatir. Khawatir jika suamiku meninggalkanku karena penampilanku dibanding dirinya.
Terlebih pernikahan kami berjalan didasari oleh permintaan kakek, bukan atas dasar cinta diantara kami. Tentang cinta, aku tak tahu apakah aku sudah mencintai suamiku atau belum. Bisa jadi aku sudah mencintai dirinya yang entah tak tahu kapan pastinya. Sedangkan dia, aku tak tahu.
Jika aku diberi kesempatan permohonan untuk dikabulkan. Ingin sekali aku meminta agar diberikan kesadaran pada suamiku, bahwa disini aku sebagai istri menanti hadirnya dia sebagai suamiku secara nyata dan utuh. Memberikan cinta yang dia miliki padaku sebagai istri. Mengasihiku dengan sepenuh hati tanpa ada paksaan dan tekanan sedikit pun. Semoga Tuhan mendengar permohonanku dan mengabulkan keinginanku.
Hai haiii
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca ceritaku. Adakah yang suka dengan ceritaku? Tolong komen di bawah ya. like dan komen kalian jadi semangat buat aku🥰🥰