
“Kak Danar ….”
Bunga yang ada di genggaman Syarah terjatuh dari begitu saja ke lantai. Seluruh otot dalam tubuhnya terasa lemas dan layu. Tak kuasa membendung air mata yang terus memaksa keluar membasahi pipi Syarah. Syarah hanya mampu memandang Danar dengan tatapan penuh rasa kekecewaan, sedih dan putus asa.
“Syarah ….”
Danar juga merasa apa yang dirasakan Syarah saat ini. Badannya yang kekar seakan tak memberinya kekuatan untuk bangkit berdiri dan melangkah. Dia hanya bisa melihat istrinya yang berdiri di belakangnya dengan air mata yang terus mengalir.
Hingga suara dari seseorang memecah keterkejutan dari dua insan manusia tadi.
“Ada apa ini? Kenapa kau malah menangis?” tanya Akira pada Syarah.
Mendengar pertanyaan yang terlontar ke arahnya, kesadaran kembali ke dalam raga Syarah. Sekuat hati Syarah menghapus air mata yang dengan tak sopannya keluar dari matanya itu. Dia segera menunduk mengambil bunga yang dijatuhkannya tadi.
“M-maaf bunga pesananmu jadi terjatuh karena kecerobohanku. Aku akan bertanggung jawab menggantinya segera, nanti biar karyawanku yang akan mengirim bunga pesananmu yang aku rusak ini. Tapi maaf aku ada urusan mendadak dan aku harus segera pergi. Permisi,” ucap Syarah yang segera melangkahkan kaki lebar-lebar keluar cafe itu.
“Hei tunggu, tunggu sebentar.”
Akira hendak mencegah kepergian Syarah, namun dia tak bisa menjangkau Syarah yang sudah berjalan jauh dari tempatnya berada. Akira dibuat bingung dengan keadaan yang tiba-tiba ini. Saat melihat Danar, sebagai seorang psikolog tentu dia bisa menebak bahwa ada sesuatu diantara Danar juga Syarah.
“Danar,” panggil Akira sambil menepuk pundak Danar.
Danar yang merasakan tepukan di pundak tersadar dari lamunannya yang masih memandang ke arah pintu yang dilewati Syarah beberapa waktu tadi. Danar melemparkan pandangan ke Akira yang duduk di seberangnya. Hanya dengan melihat mata Danar, Akira dapat memastikan bahwa dugaannya tepat.
“Apa ada sesuatu diantara kalian?” tanya Akira langsung.
“Dia Syarah, istriku,” jawab Danar.
“Apa?” tanya Akira terkejut.
__ADS_1
Akira yang memang belum pernah bertemu atau bahkan mengetahui nama istri Danar terkejut dengan jawaban yang Danar lontarkan. Dengan cepat dia bisa menangkap kemungkinan bahwa telah terjadi kesalahpahaman diantara mereka. Sebagai perempuan Akira dapat menangkap gelagat kesalahpahaman dan kekecewaan dari Syarah tadi walaupun mereka bertemu belum lama.
“Danar, apa kau lupa bahwa aku belum pernah bertemu dengan istrimu? Kami belum saling mengenal. Istrimu tidak mengenal siapa diriku. Kepergian istrimu tadi tentu bukan tanpa sebab,” jelas Akira pada Danar yang masih merenung belum menyadari.
“Hei kenapa kau masih berdiam diri disini? Apa aku juga harus menyuruhmu pergi untuk mengejar istrimu? Tuhan … kenapa ada manusia yang tidak peka pada perasaan istrinya macam dia,” keluh Akira.
Mendengar perkataan Akira, Danar berpikir bahwa apa yang dikatakan Akira itu benar.
‘Mengapa otaknya yang selalu dipuji orang itu tiba-tiba bodoh jika itu menyangkut tentang Syarah?’ keluh Danar dalam hati.
“Tidak, tidak ada yang perlu dijelaskan,” jawab Danar lemah.
Akira yang melihat ini menghembuskan nafasnya kasar. Akira menyadari bahwa dirinya ikut terlibat dalam kesalahpaham yang tercipta saat ini walaupun dia tidak berniat sama sekali. Ingin rasanya Akira menggeplak kepala Danar agar laki-laki itu segera sadar bangkit memperjuangkan istrinya. Namun yang dilihatnya kini membuatnya marah sekaligus kesal pada laki-laki yang sudah dianggapnya saudara, Danar hanya berdiam diri tak ada usaha sama sekali.
“Pulanglah! Kita selesaikan masalahmu. Karena dia salah paham padaku, secara tidak langsung aku terlibat dalam masalah ini. Jadi kita pulang ke rumahmu, aku tidak ingin kesalahpahaman ini berlarut-larut,” ucap Akira final.
Akira segera bangkit berdiri dan mengambil tasnya. Melihat Akira yang beranjak membuat Danar jadi ikut beranjak mengikuti kepergian Akira. Dia merasa sangat bersalah pada istrinya, namun dia tak ingin menjelaskan apa pun. Toh kenyataannya Danar memang tidak melakukan kesalahan apa pun, jadi dia tidak perlu menjelaskan apa-apa pada Syarah.
*****
Setelah kejadian tadi, Syarah yang melihat kebersamaan suaminya dengan perempuan yang beberapa kali pernah ditemui sedang bersama dengan suaminya itu seolah mengklarifikasi kebenaran dari fakta yang selalu ditepisnya itu. Syarah merasa dirinya terlalu naif mengingat usianya yang masih muda tanpa pengalaman dalam urusan cinta. Dia yang terlalu berpikir positif pada suaminya tanpa ada rasa berpikir negatif barang sedikit pun.
Dengan ojol, Syarah pulang ke rumah karena memang tadi dia meminta Pak Salam untuk pulang. Air mata sedari tadi terus-terusan keluar dari mata Syarah tanpa bisa dihentikan. Dia hanya menghapus air matanya dengan kasar dengan punggung tangan.
Sepanjang perjalanan, Syarah hanya memikirkan kekecewaannya pada suami yang dihormatinya itu. Kilasan kenangan berkelebatan memenuhi pikiran Syarah, kenangan manis yang pernah dilaluinya bersama dengan suaminya. Tapi Syarah semakin sedih menyadari harapannya pada suaminya terlalu besar, harapan untuk bisa mendapatkan balasan cinta dari suaminya.
Sesampainya di depan gerbang rumah, Syarah yang hendak turun dari motor ojol yang ditumpanginya merasa kesulitan mengingat dia sedang mengenakan dress selutut. Motor yang ditumpanginya memiliki jok penumpang yang lebih tinggi, hal ini membuat Syarah yang hendak turun mengalami kesulitan. Memaksa untuk turun malah membuat bagian bawah dressnya tersangkut. Tanpa bisa dihindari Syarah jatuh terjerembab ke aspal jalan dengan bagian bawah dressnya sobek.
“Aww ….”
__ADS_1
Pengemudi yang melihat pelanggannya tadi terjatuh segera turun dan membantu Syarah berdiri. Satpam rumah yang berjaga di pos yang melihat kejadian ini segera keluar untuk melihat keadaan. Pengemudi itu berusaha membantu Syarah untuk berdiri dan melihat luka di bagian lutut Syarah yang terkena kerasnya aspal jalan.
“Loh Nona, bagaimana Nona bisa terjatuh? Mari saya bantu berdiri pelan-pelan,” ucap satpam yang hendak membantu Syarah berdiri.
Syarah yang merasakan perih di kakinya semakin membuatnya menangis. Dia ingin protes apakah tidak cukup dengan hatinya yang sudah terluka tadi dan sekarang fisiknya juga terluka. Dia menangis tanpa mengeluarkan suara membuat dua orang tadi kebingungan.
“Nona, sudah jangan menangis, mari saya bantu masuk ke rumah nanti biar dipanggilkan dokter Panca untuk mengobati Nona,” ucap satpam berusaha menenangkan majikannya.
Mereka khawatir jika luka Syarah membuat Syarah menangis seperti itu. Dengan kesadarannya, Syarah melepas helm dan memberikannya pada pengemudi. Dia juga mengambil uang berwarna merah dari dompetnya untuk si pengemudi ojol.
“Sudah Pak, saya bisa berjalan sendiri, jangan khawatir,” ucap Syarah pada mereka.
“Syarah … " Danar melihat Syarah terduduk di jalanan dengan dua orang di sampingnya, “ada apa ini? Kenapa Syarah bisa seperti ini?” bentak Danar pada dua orang tersebut.
Saat tadi matanya menemukan luka di lutut Syarah, darahnya langsung mendidih sampai ke ubun-ubun. Melihat Syarah terluka apalagi ada dua orang laki-laki yang berada di sekitar Syarah yang membuat emosi Danar memuncak. Membiarkan laki-laki memandang sedikit saja pada Syarah sudah membuatnya marah apalagi berdekatan seperti sekarang.
Dua orang tadi yang terlalu fokus dengan kondisi Syarah membuat mereka tak menyadari kehadiran mobil yang berhenti tepat di belakang mereka. Mobil yang ditumpangi Danar dan Akira tadi yang hendak memasuki rumah terhalang oleh motor juga dua orang yang ada di depan gerbang. Karena penasaran dengan apa yang terjadi, Danar memutuskan untuk turun dari mobil dan melihat kondisi secara langsung.
“Kak, sudah. Mereka tidak bersalah. Aku jatuh dengan sendirinya, dan aku tidak apa-apa. Jadi tolong jangan berlebihan seperti itu,” ucap Syarah dengan memandang Danar.
Melihat mata Syarah, Danar seakan ditampar secara tidak langsung menyadari dalam sorot mata istrinya tersimpan kemarahan di dalamnya. Syarah yang tidak ingin memperpanjang masalah segera bangkit berdiri mengabaikan sakit di lututnya. Karena memang kenyataannya, perih di lutunya tak ada apa-apanya dibandingkan dengan perih di hatinya. Dengan langkah terseret, Syarah melangkah masuk ke dalam menuju tempat bunga di halaman depan rumah.
Danar bangkit dan mengejar Syarah yang belum jauh karena langkahnya yang kecil. Diraihnya tubuh Syarah dalam gendongan di lengannya. Danar dapat merasakan kekagetan Syarah dalam gendongannya, tapi dia tak peduli dan berjalan menuju rumah.
Sekejap Syarah menyadari jika Danar menggendongnya, ketika ingatan tentang tadi melintas di kepalanya, Syarah meronta ingin diturunkan.
“Lepaskan aku! Aku bisa jalan sendiri!” ucap Syarah dengan berusaha lepas dari Danar.
Danar mengacuhkan ucapan Syarah. Dia tetap berjalan tanpa merasa terganggu sedikit pun. Rontaan dari Syarah seakan tak berefek pada Danar yang memiliki tubuh besar. Dalam kepala Danar, dia hanya ingin segera mengobati Syarah. Dia tak rela istrinya itu tergores barang sedikit.
__ADS_1
“Kak! Kau bisa dengar aku, kan? Lepaskan aku!”
Cup. Danar membungkam Syarah dengan kecupan kilat, dan benar itu sangat ampuh membuat Syarah diam dan menurut.