
Dengan menarik nafas dalam, Danar mengumpullkan kekuatan untuk bisa menjelaskan semuanya pada Syarah. Agar lebih leluasa, dia mengatur ranjang agar bisa dalam posisi bersandar. Sedangkan Syarah mengikuti suaminya saja, dia melihat ada keseriusan pada tatapan mata Danar padanya.
Syarah jadi gugup menunggu apa yang akan Danar katakana dengannya. “Sya, harusnya aku mengatakannya sejak jauh-jauh hari. Tapi kau harus tahu bahwa ini tidaklah mudah bagiku.” Belum selesai Danar mengutarakan maksud pembicaraannya, pintu kamar diketuk dari luar.
“Selamat malam,” ucap orang tersebut menyembul dari pintu kamar membawa seikat bunga cantik. Sedangkan Syarah merubah ekspresinya seketika, dia juga melihat Danar yang terlihat biasa saja.
Apa maksud yang akan dibicarakan Danar adalah tentang perempuan yang tiba-tiba datang dengan seikat bunga di tangannya. Tapi perempuan itu tersenyum manis dengan tulus tanpa menunjukkan niat jahat. Syarah mendadak beku tanpa ekspresi menanti apa yang akan dua orang di ruangan itu membuka suara.
Pikirannya sudah dipenuhi hal-hal negatif, apakah ini adalah saat dia akan lepas dari Danar karena hati suaminya dimiliki oleh wanita itu. Bahkan di saat dia sedang jatuh sakit, apakah mereka akan tega menambah luka di hatinya. Tanpa sadar dia meremas selimut itu kuat-kuat meluapkan kegugupan.
“Hai Syarah, apa kabar?” tanya wanita itu ramah.
“Akira, kenapa kau datang tiba-tiba tanpa menghubungi terlebih dahulu?” tanya Danar tanpa menunggu Syarah menjawab pertanyaan dari wanita tadi, Akira.
Syarah masih terpaku memandang perempuan yang baru dia tahu bernama Akira. Dari ucapan Danar, Syarah bisa memperkirakan jika hubungan mereka sudah berhubungan dekat. Kini yang bisa Syarah lakukan adalah berdoa, jika memang harus segera berakhir maka dia akan menerima.
“Aku sedang ada kunjungan ke rumah sakit dan tanpa sengaja bertemu dengan bibi Rumi. Dia bilang istrimu sedang jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit ini, jadi kenapa tidak aku mengunjungi Syarah. Selain itu, kupikir pertemuan pertama kita kurang baik jadi malam ini aku ingin berkenalan denganmu secara baik-baik.” Akira dengan aura hangat mencoba mengubah pemikiran Syarah tentangnya.
Syarah masih diam membisu belum ingin mengatakan apa pun. “Duduklah,” ucap Danar pada Akira menunjuk kursi yang ada di samping kursi.
“Aku membawakan bunga yang cantik, untuk perempuan yang istimewa,” ujar Akira sambil menyodorkan seikat bunga mawar putih. Tapi sepertinya niatan baik Akira belum bisa diterima Syarah dengan mudah. Dia bisa melihat bahwa Syarah terlihat was-was, dengan mudah Akira bisa membacanya tentu karena pekerjaannya.
Tapi Akira tidak mudah menyerah, dia meletakkan seikat bunga di nakas dengan senyum yang tetap melekat di wajahnya. “Syarah, aku benar-benar tidak menyangka jika kamu adalah pemilik toko bunga yang selama ini selalu aku kagumi. Jika mungkin kau lupa, seseorang yang pernah menghubungimu untuk menyiapkan hiasan bunga pertunangan itu merupakan adik iparku.” Syarah kembali teringat pada seseorang yang menghubunginya dulu dan terpaksa gagal karena tidak diizinkan Danar.
Melihat Syarah yang mulai terbawa dalam obrolannya, Akira menjadi senang karena dia berhasil membawa Syarah mau mendengarkan dan memberi perhatian padanya. Dia memang tidak salah menilai Syarah walau hanya dari ucapan Danar saja. Syarah memang seorang wanita baik dan istimewa untuk Danar.
“Iya tapi untunglah ada yang bersedia untuk membantu, jadi pertunangan mereka bisa dilaksanakan dengan lancar.” Akira menjelaskannya agar Syarah tidak mengkhawatirkan kejadian dulu.
“Emm … tolong katakan pada adikmu. Aku sungguh meminta maaf atas kejadian dulu,” ucap Syarah yang akhirnya membuka suara.
Akhirnya Akira dapat menaklukkan Syarah hingga bisa diajak berkomunikasi dengannya tidak seperti di awal pertemuan. “Iya Syarah tidak masalah, mungkin di hari pernikahannya nanti akan merepotkanmu. Karena jujur keluarga kami sangat suka dengan rangkaian bunga buatanmu.” Syarah tidak menanggapi dan hanya menggangguk tanpa ingin membalas pujian Akira.
Akira pikir kini sudah saatnya untuk dia mengatakan hal yang jauh lebih penting agar kesalahpahaman bisa segera berakhir.
“Syarah, apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Akira mencoba memancing Syarah untuk berbicara.
“Apa mungkin pertemuan pertama kita tempo hari membuat dirimu memikirkan sesuatu tentangku?” tanya Akira kembali masih mencoba memancing Syarah.
__ADS_1
“Apakah kami terlihat serasi?” tanya Akira memancing emosi Syarah.
Benar saja, seketika Syarah mendongak memandang Akira dengan tatapan yang mudah ditebak Akira.
“Ki, apa yang kamu katakan?” tanya Danar yang seketika menghampiri dua perempuan itu.
“Apa aku terlalu terburu-buru mengatakannya?” tanya Akira memancing kedua pasangan itu dengan maksud tertentu.
“Ki, jangan memperkeruh keadaan. Jangan membual kebohongan di sini,” ujar Danar memperingati tanpa tahu maksud Akira.
“Dan, apakah waktu itu dia pergi karena dia tidak merasa percaya diri untuk bersaing denganku? Atau dia melepasmu untukku?” tanya Akira memainkan situasi.
Syarah sudah tidak tahan dengan drama dua orang di hadapannya. Dia mungkin tak akan sanggup untuk tetap ada di sana untuk mendengarkan kedua orang itu. Sekuat hati dia menahan air matanya, dia hanya menunduk dalam dan melihat sekilas pada Danar yang sedang menatap tajam Akira.
“Danar, kamu tidak perlu menutupi apa pun padanya. Sudah saatnya kamu jujur dan menjelaskan padanya,” ucap Akira mencoba memberi kode pada Danar.
Tapi sepertinya kode yang diberikan Akira tidak diterima Danar karena pikirannya yang sudah kacau beberapa hari ini. Dia tetap menatap tajam Akira memperingati perempuan itu. Sedangkan Syarah sudah larut dan tak kuasa air mata menetes dan buru-buru dia hapus agar tidak ada yang tahu.
“Danar, katakanlah segera. Jangan membuang-buang waktu, akan lebih menyakitkan untuk tetap menutupinya. Sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga.”
“Syarah jangan pergi, aku mohon jangan tinggalkan aku. Jangan mempercayai kata-katanya, dia berbohong,” ucap Danar dengan memeluk Syarah dari belakang untuk mencegah kepergian istrinya.
Syarah meronta dalam dekapan Danar, hatinya remuk redam. Inikah yang harus diterimanya setelah menerima pernikahan dan memperjuangkan untuk menjadi istri yang sebaik-baiknya.
“Lepaskan aku Kak. Jika memang dia yang membuatmu bahagia lepaskan aku. Apa gunanya keberadaanku jika selama kita menikah kamu belum menjadikanku istri seutuhnya? Ah sudahlah, aku memang tidak tahu diri.”
Syarah mencoba melepaskan dekapan Danar yang begitu menyesakkan untuknya.
“Syarah!” ucap Danar membalikkan badan Syarah agar menghadapnya. “Dengarkan aku Syarah, aku benar-benar tidak ingin kau pergi dari hidupku Syarah. Jika kau pergi aku harus dengan siapa?” tanya Danar dengan nada pelan dan lembut seolah ingin membuat istrinya luluh.
“Tengoklah ke belakang, dia kan yang kau inginkan untuk mendapingimu? Jadi ada dan tiadanya aku akan sama saja tak akan berarti apa pun untukmu,” ucap Syarah dengan nada yang menyayat hati.
“Apa yang kau katakana Syarah? Dia itu Akira, kami hanya teman biasa. Aku mengenalnya semenjak 10 tahun lalu jauh sebelum aku mengenalmu. Kami selama ini sebatas teman,” jelas Danar.
Sementara Akira berdiri di tempatnya semula menunggu pasangan itu saling menerima perasaan satu sama lain. Mungkin dengan cara gertakan seperti ini akan membuka jalan keduanya untuk lebih dekat.
“Huh aku hanya perempuan naif yang hanya berniat membantu pak Pandhu tanpa ingin balasan. Sekarang aku tahu bahwa tidak ada orang yang benar-benar baik,” ucap Syarah dan menghentakkan dekapan Danar dengan kuat dan mencoba berlari.
__ADS_1
Tapi dengan sigap Danar meraih tangan Syarah dan dia berlutut sambil menggenggam tangan istrinya. “Syarah, aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku bisa mati tanpamu, karena aku, aku … “ ucap Danar begitu sulit untuk mengungkapkan.
Syarah mendengar Danar yang tidak melanjutkan perkataannya menyentak tangannya dengan kuat dan meraih gagang pintu.
“Aku mencintaimu, Syarah, Istriku.”
“Aku mohon jangan pernah tinggalkan aku, hanya memikirkannya aku bahkan tak sanggup,” ucap Danar lemah dengan terduduk di lantai kamar yang dingin.
“Danar benar Syarah, kau harus mempercayainya.” Akira berjalan mendekati Syarah dan mengambil tangan lembut Syarah.
“Selama ini, dia memendam perasaannya padamu. Dia tidak percaya diri untuk mengungkapkannya padamu, Syarah. Cintanya begitu besar, sama seperti cintanya padamu.” Akira memandang lembut perempuan yang begitu cantik istri sahabatnya.
“Dalam pernikahan, terkadang ada batu kerikil yang harus dilewati oleh pasangan suami istri. Batu besar pun juga bisa saja menghampiri, tapi pasangan suami istri harus bisa menghadapinya bersama-sama. Sejatinya suami itu itu diciptakan untuk bisa saling melengkapi. Jika yang satunya menyakiti maka yang lain mau tak mau harus bersabar menerima dan mencoba mengarahkan ke jalan yang baik. Tidak ada yang sempurna sebagai manusia, karena dengan bersatu menerima dan saling terbuka akan menjadi sempurna,” ujar Akira sambil menyatukan kedua tangan suami istri itu.
Danar segera memeluk istri tercintanya meluapkan perasaan cintanya yang begitu besar.
“Aku mencintaimu, Syarah. Aku mencintaimu, sangat. Jangan pergi dariku,” ucap Danar di ceruk leher sang istri.
Syarah begitu terharu dengan suaminya, bahkan dia belum sempat bertanya yang sebenarnya pada Akira tentang siapa wanita itu. Mereka menangis bersama setelah saling mengungkapkan perasaannya masing-masing. Hingga mereka melupakan jika di sana masih ada Akira yang juga ikut menangis terharu.
“Ehem ehem.” Akira berdehem pelan memecah keheningan dan menyadarkan dua insan yang sedang dimabuk kasih untuk menyadari keberadaanya. “Perlu kalian ingat, jika masih ada orang lain di sini,” ucap Akira memperingati.
Danar melepas pelukannya pada Syarah dan menghapus sisa air mata Syarah. Tapi dia masih merangkul mesra pinggang ramping istrinya.
“Terima kasih Akira, karena kamu aku bisa mengatakan kejujuran atas perasaanku pada Syarah.”
“Itu semua tidak gratis, Dan. Kau harus memberikan sesuatu juga untukku,” ucap Akira bergurau mencairkan suasana yang tadi memanas.
“Syarah, kau tidak perlu khawatir jika aku akan merebut suamimu karena itu tidak akan mungkin pernah terjadi. Aku sudah memiliki suami yang jauh lebih tampan dari laki-laki ini, yang pastinya lebih romantis. Terlebih kami sudah memiliki dua anak lucu, mana mungkin aku meninggalkannya demi pria macam suamimu ini.”
“Sya, dia adalah Akira. Dia adalah anak dari teman kakek, dia juga memegang rumah sakit yang juga berprofesi sebagai dokter jadi dia sangat sibuk. Makanya dia jarang main ke rumah.”
“Maafkan aku Akira, aku sudah berpikir buruk padamu sebelum mengetahui yang sebenarnya,” ucap Syarah malu-malu.
“Tidak masalah, justru itu menandakan jika kalian memang saling mencintai. Tapi yang perlu kalian ingat adalah saling terbuka satu sama lain agar tidak terjadi masalah ke depannya.”
Masih kurang atau mau lanjut lagi nih untuk malam ini?
__ADS_1