Perawan Tua Istri Sang Duda

Perawan Tua Istri Sang Duda
36. Amarah Suami


__ADS_3

Hai semua,


Terima kasih sudah membaca ceritaku, jangan lupa like dan komen sdbagai bentuk dukungan yang berarti untuk aku🥰🥰


Syarah berjalan lesu ke arah kebun bunga miliknya yang dibangun di halaman depan rumahnya. Suasana hatinya sedang tak menentu hari ini. Kecewa, sedih dan marah bercampur menjadi satu dalam jiwanya. Tak ingin membuat suasana hatinya semakin kacau, dia memilih untuk menyendiri, mungkin dengan begitu bisa mengurangi kesedihannya.


Memasuki kebun yang berisi berbagai bunga itu, dia berjalan ke arah kursi yang ada di sudut ruangan. Diambilnya hp yang ada di saku pakaiannya itu, dia ingin menghubungi klien yang akan dikecawakannya itu. Apapun yang terjadi nanti, baik amukan atau hal-hal semacamnya harus bisa dia hadapi. Ini semua adalah risiko dari keputusan yang akan diambilnya. Dengan mengucap bismillah berharap mendapat kekuatan agar bisa menyampaikan alasannya dengan baik.


*****


Telepon Syarah pada klien itu tak berlangsung lama. Syarah yang berusaha menjelaskan semuanya tentu tak dapat mengelak dari kekecewaan yang ditujukan padanya. Namun klien tadi tidak memarahi atau kesal pada Syarah. Dia menerima keputusan Syarah yang membatalkan niatnya untuk membantu mendekorasi bunga di acaranya. Tentu Syarah bersyukur dengan itu dan mendoakan dengan tulus ikhlas untuk kebahagiaan kedua calon mempelai.


Kini tanggungannya masih tersisa satu. Abah pemilik kebun bunga yang hendak dikunjunginya tadi harus dia hubungi kembali. Dia khawatir jika disana mereka sudah menyiapkan atas rencana kedatangannya nanti. Mereka memang selalu menyediakan berbagai macam hidangan khas desa yang dimasak khusus oleh istri abah yang biasa dipanggil 'Ambu' oleh warga desa. Awalnya Syarah tak enak hati jika setiap kedatangannya akan membuat pemilik rumah merasa kerepotan, namun meeeka mengatakan jika itu tak masalah. Justru jika mereka menolak makanan yang sudah susah payah disiapkan akan membuat mereka merasa kecewa karena tidak dihargai makanannya.


Mereka menerima penjelasan Syarah tanpa ada kemarahan yang ditunjukkan sama sekali. Syarah merasa lega dengan respon yang mereka berikan pada Syarah, merasa dimengerti walau belum lama kenal sementara orang yang ada di dekatnya malah tak pengertian pada Syarah. Syarah tetap tak beranjak dari kursi malas yang ada di ujung kebun itu sambil mendengarkan musik untuk menenangkan awal harinya yang cukup buruk pagi ini. Tadi sesuai janjinya, dia sudah memesankan sarapan untuk karyawan yang sudah dikecewakannya.


Pikirannya melayang mengingat suaminya, Danar. Semalam dia sudah meminta izin pada Danar dan diizinkan. Saat pagi dia berniat untuk meminta izin lagi, tapi dia lupa belum memberitahu. Syarah menduga bahwa semalam saat memberitahu Danar sepertinya laki-laki itu tidak sepenuhnya sadar dan bisa jadi setengah tertidur. Karena semalam Danar dalam posisi rebahan dengan ditutupi bantal.


Syarah benar-benar belum ingin bertemu dengan Danar, mengingatnya saja sudah membuatnya kesal.


Sementara itu, Danar yang berada di meja makan untuk sarapan merasa tak tenang memikirkan Syarah. Dia sebenarnya tak tega namun dia tak bisa membiarkan Syarah pergi jauh untuk mengurus pekerjaan. Sebelum menikah, Danar sudah meminta Syarah untuk tidak bekerja dan tinggal di rumah saja. Selama dia sebagai suami masih mampu bekerja untuk apa mengizinkan istrinya untuk bekerja. Lagipula uang yang bisa dihasilkannya dirasa sangat cukup bahkan sampai cucu mereka kelak. Walau terkesan kaku dan tidak banyak bicara tapi dia memikirkan kehidupannya bersama Syarah dan mungkin lahirnya keturunan nanti.


Pastinya dia tidak akan membiarkan keluarganya nanti merasa kurang atau malah kesulitan. Memang awalnya dia menolak pernikahannya dengan Syarah, tapi menjelang pernikahan dia merasa Syarahlah yang pantas menjadi ibu dari anak-anaknya kelak. Tentang anak, bagaimana dia bisa memiliki anak jika dia dan Syarah saja tidak pernah melakukannya. Akan sangat mustahil baginya untuk bisa memiliki anak.

__ADS_1


Tersadar dari lamunannya, Danar ingin meneguk air dingin untuk bisa mendinginkan pikirannya yang dipenuhi oleh Syarah. Membuka pintu lemari pendingin, dia justru melihat ada brownies disana. Pikirnya dengan cepat bahwa itu adalah buatan Syarah semalam karena memang pelayan tak akan membuat kue semacam itu. Dia mengambil sepotong dan mencoba merasakan buatan Syarah itu.


Brownies itu terasa enak di lidah Danar. Danar pikir Syarah adalah perempuan yang tak banyak bisa melakukan banyak hal, ternyata dalam dua bulan menikah dia bisa melihat Syarah yang memiliki banyak bakat. Mungkin karena usianya yang masih muda membuat Syarah bisa melakukan berbagai hal dengan hanya melihat internet saja.


Merasa ketagihan, Danar bahkan menghabiskan satu loyang brownies buatan istrinya. Dia tak merasa menyesal atau takut dimarahi karena sudah menghabiskan makanan, justru dia berpikir bahwa Syarah pasti akan lebih sennag jika masakannya dinikmati oleh suaminya. Setelah kenyang, Danar berjalan ke kamar untuk mandi dan bersih-bersih.


*****


"Aww shhh."


Danar yang akan mencukur jambangnya tak sengaja malah tergores pisau cukur. Darah mulai menetes dari jarinya yang tergores.


"Kak, ada apa?" tanya Syarah yang tiba-tiba memasuki kamar mandi.


Tanpa banyak kata, Syarah meraih jari Danar dan membasuhnya dengan air mengalir. Memastikan tak ada darah yang keluar, Syarah melepaskan pegangannya pada jari Danar yang terluka dan mencari kotak obat di kamar. Dia masuk lagi dengan plester untuk membungkus jari Danar yang terluka. Beres dengan mengobati luka Danar, dia mengambil pisau cukur yang tadi hendak digunakan Danar.


Walaupun dia tidak pernah menggunakannya, tapi beberapa kali dia melihat Danar sedang bercukur jadi dia sedikit banyak tahu cara bercukur. Syarah mengambil cream yang dia oleskan pada bulu di wajah Danar yang akan dicukurnya supaya tidak terluka. Mencukur sedikit demi sedikit dengan rasa yakin walau tak pernah melakukannya.


Berada sangat dekat dengan Danar, Syarah bisa melihat bulu putih mulai tumbuh di area jambang. Berpikir mungkin usia yang sudah berkepala tiga membuat warna rambut suaminya mulai berubah memutih. Dia juga bisa merasakan hawa kedewasaan begitu lekat pada suaminya, sesuai dengan usianya. Meski dia tak pernah mempermasalahkan perbedaan usia diantara dirinya dan suami, dia tetap berusaha menerima suaminya apa adanya.


"Sudah beres," ucap Syarah sambil mengelap wajah suaminya dengan handuk dari cream yang tadi dioleskannya.


"Mau kemana kamu?" tanya Danar menahan tangan Syarah yang tadi akan melangkah pergi.

__ADS_1


"Tolong lepaskan," ucap Syarah dengan tangan berusaha melepaskan.


"Kamu masih marah pada suamimu karena tidak diizinkan pergi?" tanya Danar dengan menekankan kata 'Suami'.


Syarah yang sudah menahan kekesalannya akhirnya mengeluarkan kekesalannya walau dengan nada rendah.


"Aku memang tak memiliki hak untuk marah pada suamiku. Tapi apakah aku sebagai manusia juga tidak memiliki hak untuk memiliki rasa kecewa? Aku hanya manusia biasa yang masih bisa merasakan kecewa, Kak. Seseorang yang menjadi suamiku tak mau mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu dan membenarkan apa pun perkataannya. Tapi sebagai seorang istri, apalah dayaku melawan perkataan suamiku."


Syarah mencurahkan isi hatinya dengan nada datar dan rendah namun tersimpan emosi yang begitu kuat di dalamnya. Danar yang memandang istrinya lekat-lekat saat menjelaskan tadi bisa menangkap kekecewaan yang dirasakan istrinya.


"Kau pikir apakah aku juga tidak merasakan kecewa padamu? Aku sudah mengatakannya dari awal kalau kamu sebagai istri tidak perlu bekerja. Selama ini aku sudah memberikanmu uang setiap bulannya, bahkan jumlah yang aku kirim tak sedikit. Lalu kau apakan uang yang aku kirim kepadamu selama ini jika kamu masih memaksa untuk bekerja?" tanya Danar dengan amarahnya sampai tak sadar meremas pergelangan tangan Syarah dengan keras.


Syarah yang tak kuat akhirnya air mata jebol dari pertahanannya. Dia mengulum bibirnya menahan isakan keluar yang bisa berakibat Danar semakin marah padanya. Sekuat tenaga dia tak mau mengatakan hal-hal yang hanya akan memancing emosi suaminya yang mungkin akan berdampak buruk kedepannya.


"Apa kamu tidak bisa menghargaiku yang sudah bekerja dari pagi hingga malam untuk kehidupan kita nanti? Apa semua yang aku berikan padamu masih kurang sampai kau harus bekerja lagi? Aku hanya meminta satu hal padamu sebelum menikah saat itu, tak perlu bekerja dan tinggal di rumah untuk melayaniku sebagai suami dan mengurus kakek. Hanya itu, dan kau tak bisa melakukannya? Ha? Jawab aku, kau sudah dewasa jangan seperti anak kecil. Jawab bila kutanya!" bentak Danar.


Syarah dengan sekuat tenaga menghentakkan cekalan tangan besar Danar. Danar yang lengah membuat Syarah bisa lepas dan berlari meninggalkannya sendiri.


"Sial! Apa yang mulut kotor ini katakan tadi!" ucap Danar.


Prangg


Danar membanting semua barang yang ada di sana meluapkan emosinya. Selama ini dia selalu berhasil mengontrol emosi dan keadaan jika dengan lawan bisnisnya. Kini dia marah pada dirinya yang sangat sulit mengontrol emosinya bila berhadapan dengan istri yang mulai dia cintai, Syarah.

__ADS_1


__ADS_2