Perawan Tua Istri Sang Duda

Perawan Tua Istri Sang Duda
56. Jejak Masa Lalu


__ADS_3

Blarr. Pintu kamar tertutup dari luar oleh Danar, suami Syarah. Syarah menatap pintu dengan tatapan melas dan nanar. Sebesar itukah kemarahan suaminya pada dirinya.


Mungkin kesalahannya terlampau besar dan membuat suaminya merasa kecewa berat dengannya. Syarah tak mampu menahan air mata keluar dari matanya. Entah sudah berapa kali dia menangis selama menjadi istri, padahal seingatnya dulu sebelum menikah dia sangat jarang menangis.


Dia bingung cara menghabiskan waktu di dalam kamar, walaupun kamar itu berukuran luas yang mungkin seukuran dengan rumah mini. Syarah yang memang aktif dan mencintai beraktivitas merasa hampir mati gaya berdiam diri di kamar. Jika hanya duduk diam atau rebahan sambil bermain hp, dia sangat bosan dan enggan.


“Hmm apa yang harus aku lakukan?” tanya Syarah pada dirinya sendiri.


Syarah berjalan ke balkon untuk melihat pemandangan luar berniat membunuh bosan. Tapi tak berlangsung lama, dia kembali masuk dan memilih mengelilingi kamar yang begitu luas untuknya. Selama menempati kamar itu semenjak resmi menyandang status sebagai istri Danar, dia tidak pernah melihat-lihat kamar secara menyeluruh.


“Aku pikir-pikir kamar ini bisa jadi rumah mini yang kemarin aku tonton, jika satu kamar seukuran rumah sedangkan rumah ini ada banyak kamar belum termasuk kamar pegawai rumah lalu berapa luas rumah ini. Kenapa aku baru menyadarinya ya,” ucap Syarah masih pada dirinya sendiri.


“Apakah rak buku ini baru atau aku yang baru menyadari ada ruang baca di kamar ini?” tanya Syarah.


Dia melihat-lihat berbagai koleksi buku yang terpajang rapi di rak dalam kamar. Beberapa diantaranya sudah mulai berdebu, tapi ada yang masih terbungkus menandakan belum pernah dibaca. Tanpa ada perasaan apa-apa tangannya terarah pada sebuah buku yang terlihat sudah lama.


Dibacanya judul buku yang berbahasa Inggris tersebut, sepertinya buku panduan untuk bisnis. Syarah yang tak ingin berpikir berat pada teori hendak mengembalikan lagi pada tempatnya semula, tapi saat akan menutup buku itu terselip sebuah foto yang mulai usang itu. Syarah terkesiap pada sosok yang ada di foto itu, ada dua orang yang ada dalam kertas foto itu.


Tiba-tiba pintu terbuka dan muncul bibi Rumi dengan pelayan yang membawa makanan dan kotak obat.


*****


Begitu bibi Rumi keluar dari kamar, Syarah yang masih merasa sangat penasaran dengan yang dia temukan tadi langsung mengambil buku itu. Mengabaikan rasa sakit yang masih menjalari tubuh, dia tetap berjalan di rak buku yang ada di ujung kamar.

__ADS_1


Sebuah foto dimana ada dua manusia yang terlihat begitu dekat walau dengan pose sederhana tapi Syarah bisa melihat terjalin kedekatan di antara keduanya. Diamatinya lamat-lamat selembar foto yang dipegangnya. Si laki-laki terlihat begitu tampan namun terlihat masih muda, Syarah menebak jika itu adalah suaminya beberapa tahun yang lalu.


Syarah memang tidak tahu banyak tentang masa lalu suaminya, proses pendekatan sampai resmi menikah berlangsung sangat singkat. Sehingga wajar bila dia tidak banyak tahu tentang suaminya. Terlebih Danar terkesan misterius dan sangat tertutup, merespon saat diajak bicara saja sudah syukur.


Perempuan pada foto itu terlihat cantik dan khas orang barat. Dia dapat memperkirakan jika perempuan itu adalah orang luar. Tetapi Syarah merasa ada yang janggal dalam foto itu, perempuan itu terlihat seperti memiliki hal buruk. namun Syarah memilih menepis pemikirannya tak baik berpikir buruk pada orang lain.


Melihat foto itu, Syarah jadi berpikir apakah suaminya pernah hidup di luar negeri, atau suaminya pernah memilki mantan kekasih orang luar negeri atau mereka hanya teman bisa. Berbagai kemungkinan berterbangan di kepala Syarah, dia tidak tahu mana yang benar karena dia sendiri tidak tahu harus menanyakan kebenaran pada siapa. Sedang asyik memandang foto, Syarah dikejutkan saat foto yang ada di tangannya terasa dirampas dengan paksa.


“Apa kau tidak pernah diajarkan sopan santun selama ini? Kau tahu jika ini adalah barang pribadi milikku. Seharusnya orang yang sudah berpredikat sarjana sudah paham adanya larangan menyentuh barang orang lain tanpa izin dari pemiliknya. Apakah seperti ini cara orang tuamu mengajarkanmu?” tanya Danar memberondong.


“Aku meminta maaf kalau aku melakukan kesalahan dengan menyentuh barang pribadimu tanpa meminta izin terlebih dahulu dari kamu. Aku hanya tidak sengaja melihat barangmu Kak. Juga apa yang aku lakukan jika di matamu aku salah, aku meminta maaf. Tapi bisakah kau tidak membawa orang tuaku pada hal ini? kalau memang aku salah, salahkan saja aku. Jangan membawa orang tuaku, Kak,” jelas Syarah terbata-bata.


“Aku mengurungmu di kamar bukan untuk mengacak-acak ruang privasiku. Sekarang aku baru menemukanmu, tapi jangan-jangan kamu juga sudah mengacak-acak sebelumnya!” tuduh Danar pada Syarah.


“Demi apa pun aku tidak pernah menyentuh barang-barang pribadimu Kak-“


“Sepertinya hukuman yang aku berikan tidak membuatmu jera, justru semakin membuatmu berbuat sesuka hati.”


Suara deringan hp yang nyaring memecah pertengkaran pasangan baru itu membuat Danar menerima panggilan di hpnya dengan mata yang menyorot tajam pada Syarah.


Asisten Danar menghubungi Danar untuk memintanya segera kembali karena meeting akan segera dilangsungkan. Karena masih banyak tanggung jawab, Danar akhirnya terpaksa meninggalkan Syarah dengan tatapan masih menghunus tajam.


“Keluar dari ruangan ini! jangan sentuh apa pun tanpa izin dariku. Jika kau ketahuan menyentuh atau mencari-cari barang milikku, kau akan tanggung akibatnya!” ucap Danar memperingati Syarah.

__ADS_1


“Tunggu apa lagi! Kau mau aku seret lagi, cepat keluar!” ucap Danar mengusir Syaeah dari ruang bacanya.


Syarah melangkahkan kaki keluar ruangan baca yang terletak di sebelah kiri kamar. Sedangkan Danar dengan tatapan tajamnya keluar dari kamar dan menutup pintu dengan keras melampiaskan kekesalannya.


Niat Danar kembali ke rumah tadi karena ada data penting yang tertinggal di kamarnya. Dia tidak ingin meminta orang untuk mengambilkannya walaupun itu bisa saja dilakukan. Saat sudah mendapatkan tujuannya, dia melihat istrinya tidak ada di dalam kamar membuatnya curiga jika istrinya meminta untuk keluar dari kamar.


Ketika mencari-cari keberadaan istrinya malah dia menemukan Syarah sedang berada di ruangan baca. Tapi mata elangnya menangkap jika Syarah sedang memegang foto lama yang masih teringat jelas di otak langkanya. Segera saja dia merampas foto itu dari tangan Syarah.


Danar kini menyesal ketika mengingat perlakuan buruknya pada Syarah beberapa waktu tadi. Ucapan pedasnya begitu tak terkontrol di depan Syarah. Sebenarnya ketika dia memergoki Syarah memegang foto itu, dia begitu ketakutan. Seolah-olah ada sesuatu yang merasukinya dan membuatnya hilang kendali atas dirinya sendiri.


“Sial!” maki Danar. Dia mendorong pot bunga besar yang ada di halaman rumah sampai hancur berkeping-keping. “Kenapa aku selalu hilang kendali jika menyangkut wanita itu! Aku sudah lelah Tuhan!” ucap Danar mengeluarkan isi hatinya.


“Tuan, Tuan tidak apa-apa?” tanya bibi Rumi yang datang tergopoh-gopoh menghampiri.


Danar tidak menjawab dan masih menetralkan nafasnya yang terengah-engah. Terlintas akan pekerjaannya, dia melangkah ke mobil yang sudah terparkir di depan rumah untuk menuju kantor.


“Tuan, tadi saya sudah ke kamar Nona. Tapi dia menolak untuk menerima makanan yang saya bawakan. Dia bilang katanya menunggu izin dari Tuan terlebih dahulu,” kata bibi Rumi melapor.


“Biarkan saja, mau dia makan mau dia tidak makan itu urusan dia sendiri. Aku tidak peduli. Juga Bibi tidak perlu ikut campur pada hubungan kami.”


Danar yang akan memasuki mobil dihentikan dengan suara interupsi bibi Rumi.


“Tuan, jika luka terus dibiarkan maka akan menginfeksi diri. Berilah sedikit celah untuk bisa diobati. Karena sejatinya obat yang paling mujarab adalah dukungan dan rasa cinta,” ucap bibi Rumi pada Danar.

__ADS_1


“Tuan, manusia hanya diberi satu kesempatan, gunakan kesempatan itu sebaik mungkin karena kesempatan kedua itu hanya hasil dari perjuangan kesempatan pertama.”


Sedikit demi sedikit mulai terkuak kakak, jangan lupa komentar dan like sebagai bentuk dukungan.


__ADS_2