
Hai
Terima kasih sudah membaca,
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar dan like sebagai bentuk dukungan
Setelah mengeluarkan isi hatinya, mereka berpelukan saling menyalurkan perasaan kasih dan sayang tanpa mengungkapkan. Syarah merasa lega telah mengungkapkan kegundahan hati yang selama ini selalu disimpannya rapat-rapat tanpa ingin membagi pada orang lain. Dia merasa akan lebih baik menyelesaikan masalah rumah tangganya dengan suaminya sendiri dan bukan dengan orang lain yang tidak pasti akan memberikan solusi terbaik untuk kehidupan rumah tangganya.
Mereka menghabiskan waktu malam itu dengan berpelukan dengan membahas segala hal yang menarik bagi mereka untuk dibahas. Danar merasa nyaman berada di dekat Syarah, rasa keterpurukan yang dia rasakan semenjak kepergian kakeknya mulai berkurang dengan keberadaan Syarah yang selalu bersamanya. Danar yang baru teringat jika memiliki gitar yang disimpannya di kamar dibawanya untuk menemani suasana malamnya dengan istrinya. Mereka bernyanyi bersama, kadang Danar menyanyikan lagu-lagu kesukaannya pada Syarah,
Saat mengambil gitar pun dia juga sekalian membawakan selimut untuk istrinya. Walaupun sudah ada kayu bakar yang dibakarnya namun dia tetap khawatir jika istrinya jatuh sakit karena kedinginan. Pukul 11 malam mereka kembali ke dalam rumah karena suasana sudah sangat dingin, apalagi letak rumah yang mereka tempati ada di atas bukit yang pastinya sangat dingin di malam hari.
“Kamu masuklah dulu, aku akan mengecek rumah sebentar,” pamit Danar.
“Iya Kak,” kata Syarah.
Syarah hendak menutup gorden yang menunjukkan pemandangan luar rumah. Dia merasa sangat nyaman di rumah itu, walaupun dengan keadaan sederhana dan serba terbatas bagi Syarah asal bersama suaminya dia akan tetap nyaman. Tak lama Danar kembali ke dalam kamar.
Danar melepas jaket dan kaosnya karena merasa tak nyaman. Syarah yang melihat suaminya melepas kaosnya merasa khawatir, di rumah yang bersuhu rendah suaminya itu malah memilih tidur tanpa kaos. Dia sebenarnya juga merasa tak nyaman dengan dress yang dipakainya untuk tidur.
“Kak, Kakak kenapa malah melepas kaosnya? Ini sedang dingin sekali, nanti Kakak bisa sakit,” kata Syarah memperingati suaminya.
“Tidak akan, kemarilah,” perintah Danar pada Syarah.
Syarah menurut pada suaminya, dia naik ke atas ranjang dan merebahkan diri di atas ranjang.
"Kak, emm ... sebenarnya aku merasa kurang nyaman memakai pakaian ini untuk tidur. Kalau ada pakaian ganti apakah boleh aku meminjamnya?" tanya Syarah.
"Ambillah di dalam lemari sepertinya masih ada beberapa pakaian yang sengaja kutinggal."
"Terima kasih Kak," kata Syarah sambil tersenyum senang.
Syarah membuka lemari dan mencari pakaian Danar, tapi yang dia temukan hanyalah kemeja dan sebuah kaos saja. Dia menjadi ragu untuk memakainya, sebab dia tidak membawa celana. Tapi rasa nyaman sudah tak mampu ditahannya, jika dia memaksa menggunakan dress untuk tidur kemungkinan besar dia tidak akan tidur dengan nyenyak.
Akhirnya dia mengambil kaos dan mengganti pakaiannya dengan kaos milik suaminya. Kaos milik Danar ini memang berukuran besar, saat dipakai Syarah sudah seperti daster. Syarah tak mempermasalahkannya karena seukuran dengan daster yang dia punya di rumah. Dengan perasaan senang dia kembali ke kasur bersama suaminya.
"Kamu ini memang kecil ya, kaos milikku sjaa sudah seperti daster jika kamu yang memakainya," kata Danar.
__ADS_1
"Iya Kak, aku jadi merasa seperti sedang memakai daster."
"Kemarilah."
Danar meminta Syarah untuk bersandar di dadanya. Dia bilang supaya dirinya tidak merasa kedinginan yang jelas-jelas itu hanyalah modus belaka dari Danar agar istrinya bisa selalu ada di dekatnya. Sebenarnya kebiasaan Danar saat akan tidur adalah tidak mengenakan baju karena kadang dia merasa kegerahan jika memakai baju. Tapi semenjak menikah dia tidak bisa melakukannya karena dia merasa gengsi.
Danar memainkan rambut panjang milik Syarah yang selama ini secara tak sadar memikatnya. Dia juga beberapa kali mencium puncak kepala Syarah dengan sayang. Sampai dia menyadari hembusan nafas halus, saat dilihat ternyata Syarah sudah tidur di dadanya. Danar memandang istrinya yang terlihat manis walaupun sedang tidur.
Selama ini dia terlalu menutup hatinya rapat-rapat agar tidak bisa ditembus atau dimasuki oleh perempuan mana pun. Dengan segala kekuasaan yang dia miliki, pastinya dia bisa menggunakannya untuk kesenangan pribadi dan memilih perempuan seenaknya, tapi kenangan pahit yang tersimpan di memorinya adalah luka yang harus dia sembuhkan. Luka yang menjadi rahasia yang hanya diketahui oleh kakeknya, dokter yang menangani dan juga sahabatnya, Dimas.
Hingga keputusan kakeknya untuk menjodohkannya dengan seorang perempuan yang belum lama hadir dalam hidupnya memaksanya yang masih memiliki luka untuk menerima perempuan itu menjadi istrinya. Awalnya dia menolak mentah-mentah keinginan kakeknya, tapi dia langsung lemah saat melihat kakeknya yang kritis dan menginginkan sesuatu hal yang tak akan pernah bisa dia tolak. Danar akhirnya menerima pernikahan dengan Syarah yang menurutnya tidak cocok dengannya.
Bahkan setelah hampir 3 bulan menikah, dia belum pernah sekali pun memiliki Syarah seutuhnya. Mereka sudah menjadi sepasang suami istri yang sah dimata hukum dan agama, tapi Syarah dan Danar belum menjalankan kewajiban mereka sebagai suami istri secara utuh. Danar kadang merasa takut jika istrinya akan meninggalkannya karena belum dimilikinya secara utuh, tapi Danar belum bisa melakukannya dengan istrinya. Mereka sudah pernah melakukannya tapi selalu gagal karena memori kelam itu tiba-tiba muncul dan menarik Danar ke lembah hitam yang menyakitkan.
Hanya karena seorang wanita yang menipu daya Danar, hingga dia harus mengalami luka yang sulit disembuhkan walau sudah berjalan hampir 10 tahun ini. Dia yang hampir kehilangan nyawa karena berusaha melenyapkan diri karena tak sanggup selalu terbayang-bayang oleh seorang perempuan yang mampu membuatnya jatuh hati untuk pertama kali dan malah membuatnya tersakiti hingga kini.
Dikecupnya kening Syarah lama dalam hati dia berdoa agar dia segera diberi kesembuhan dan segera bisa memiliki Syarah selamanya, dia tak akan sanggup kehilangan Syarah dalam hidupnya.
******
Syarah memandang suaminya lekat-lekat dan lama. Betah rasanya jika harus memandang suami tercintanya yang terlihat tampan walau sedang tidur. Danar terlihat manis ketika sedang tidur, Syarah tak melihat suaminya yang biasanya terlihat menyeramkan dan mengerikan. Teringat saat suaminya yang memarahinya karena kesalahannya, dia benar-benar ketakutan. Wajah Danar tampak begitu mengerikan bagi Syarah dan dia tak ingin melihat wajah Danar saat sedang marah.
Suasana pagi itu begitu sejuk membuat Syarah hampir terbuai untuk kembali tidur tapi dia kembali teringat akan kewajibannya
"Kak."
Syarah mulai membangunkan Danar dari tidurnya sambil mengelus wajahnya lembut.
"Hmm."
"Bangun yuk. Kita sholat dulu," ajak Syarah.
Danar tak menanggapi dan hanya merespon dengan menunjuk bibirnya. Syarah sebenarnya paham akan maksud suaminya tapi dia sangat canggung untuk melakukannya. Tapi dia akhirnya mengecup singkat karena merasa malu. Bukan Danar namanya jika dia belum merasa puas mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia mengecup istrinya sampai merasa puas tak peduli istrinya yang tertawa kegelian karena bulu di sekitar wajahnya sudah tumbuh lebat.
"Kak sudah nanti kita kesiangan," kata Syarah memperingati.
*****
__ADS_1
Pagi ini, Danar dan Syarah memilih berjalan di sekitar rumah untuk melihat pemandangan di sekitar rumah. Mereka berjalan bergandengan tangan menyusuri halaman rumah. Embun membawa hawa sejuk di pagi hari yang sejuk tanpa ada polusi yang ditimbulkan dari aktivitas manusia. Mereka merasa kegiatan ini untuk charge energi yang selama ini yang sudah sangat tipis terutama setelah meninggalnya pak Pandhu.
"Wah Kak ternyata disini banyak bunga, siapa yang menanam bunga-bunga ini?" tanya Syarah.
"Ada orang desa yang aku minta untuk menjaga dan merawat rumah ini," jawab Danar.
"Apakah Kakak memang sering datang ke rumah ini?" tanya Syarah.
"Tidak juga, hanya kalau sedang ingin menyendiri saja," kata Danar.
"Apakah Kakak kalau datang kesini hanya sendirian?"
"Mau dengan siapa lagi."
"Dengan Kakek mungkin."
"Tidak, bahkan Kakek tidak pernah tahu kalau aku memiliki rumah disini."
"Wah Kak, disini ada kelinci juga. Cantik-cantik sekali kelincinya."
"Memang aku meminta untuk memelihara beberapa hewan di rumah."
"Tapi bukannya Kakak tidak suka dengan hewan?"
"Memang, tapi entah kenapa aku ingin di rumah ini ada hewan peliharaannya juga."
"Hewan apa saja yang dipelihara Kak?"
"Kelinci, ikan, rusa dan kuda."
"Wah banyak sekali, aku ingin melihatnya."
"Boleh, tapi kandang rusa dan kudanya tidak satu kompleks dengan rumah ini. Letaknya ada di dekat sungai tidak terlalu jauh dari sini dan dekat dengan perumahan warga."
"Ayo kita kesana Kak. Aku ingin melihat rusa dan kudanya."
"Baiklah, sekalian kita mencari sarapan dan mengunjungi penjaga rumah ini."
__ADS_1