Perawan Tua Istri Sang Duda

Perawan Tua Istri Sang Duda
51. Berpetualang


__ADS_3

Hai


Terima kasih sudah membaca,


Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar dan like sebagai bentuk dukungan


Mereka berkuda menyusuri wilayah hutan yang ditumbuhi pepohonan rindang yang masih asri. Disana sudah sepi dari warga yang beraktifitas karena tempatnya yang berada di wilayah hutan yang jarang dikunjungi orang. Syarah merasa perlakuan Danar romantik untuknya, tindakan-tindakan kecil yang dilakukan Danar seakan membuat bunga-bunga bermekaran di hatinya yang sudah lama kering seperti gurun. Mereka menunggang kuda seperti bangsawan yang terhormat dan disegani. Terlihat sungai yang terdiri dari bebatuan tehampar di depan mereka, Danar menghentikan kudanya dan turun dari punggung kudanya.


“Kak, tolong bantu aku turun,” pinta Syarah.


“Tidak, kamu di atas saja, aku akan menuntun Joni untuk menyabrang sungai. Mumpung aliran sungainya sedang tidak deras jadi bisa sekalian memandikan Joni,” jelas Danar.


Seperti kata Danar sebelumnya, dia menuntun Joni melintasi aliran sungai yang tidak begitu deras dengan Syarah yang tetap berada di atas kuda itu. Syarah dibuat takjub dengan semua yang dialami sekarang, pemandangan indah lukisan Sang Kuasa, berkuda dengan kuda gagah seperti Joni yang entah berapa nominal saat dijual, terutama kebersamaan dengan suami yag sangat jarang atau bahkan tidak pernah mereka lakukan karena kesibukan suaminya. Rasa syukur tak henti terucap dari Syarah dengan apa yang dia lalui saat ini.


Begitu sampai di seberang sungai, Danar mengikat tali kuda ke pohon besar dan mengangkat Syarah dari atas kuda untuk turun.


“Kak, sungguh ini indah sekali,” ucap Syarah.


“Bagiku ini adalah surga kecil yang aku berusaha jaga dari tangan-tangan penggila kekuasaan,” jelas Danar.


“Apa maksud Kakak ini milik Kakak?” tanya Syarah penasaran.


“Berdasarkan batasnya, ini masih dalam wilayah kekuasaanku. Tidak banyak yang tahu, karena memang apa yang aku miliki harus aku jaga dari pengaruh luar,” kata Danar.


“Pantas saja, wilayah seluas ini tapi tidak ada orang yang beraktifitas,” ucap Syarah.


“Sebenarnya mereka aku perbolehkan untuk masuk ke wilayah ini, tapi hanya beberapa saja dan hanya yang berkepentingan karena wilayah ini cukup jauh dari perumahan dan pusat kegiatan warga desa,” jelas Danar.


“Tapi apa yang membuat Kakak membeli wilayah disini? Apakah itu berhubungan dengan bisnis?” tanya Syarah.


“Iya dan tidak. Aku membeli wilayah disini karena tidak termasuk milik pemerintah, mungkin suatu waktu nanti aku bisa mendirikan usaha disini. Tapi yang lebih utama adalah untuk memenuhi kepuasan batin yang tidak bisa dibeli dengan uang,” jelas Danar.

__ADS_1


“Iya, Kakak benar. Tapi kalau Kakak punya wilayah sebesar ini, memiliki rumah dan memiliki banyak kuda dan hewan lainnya kenapa tetap mengurus perusahaan dan tinggal di rumah?”


“Sudah aku katakan sebelumnya, tujuan utamaku disini adalah untuk memenuhi kepuasanku sendiri. Aku tidak akan meninggalkan kakek hanya demi kesenanganku sendiri,” kata Danar.


Syarah tersentuh dengan penjelasan Danar, pria yang terlihat angkuh dan sombong ternyata jauh di lubuk hatinya sangat menyayangi keluarganya siapa lagi kalau bukan kakeknya. Syarah jadi berpikir jika Danar menyayangi seseorang, ia akan menjaganya dengan baik dan memberikan apa pun yang dia miliki untuk orang terkasihnya, berkoban pun dia pasti rela lakukan. Perbuatan baik apa yang dia lakukan di masa lalu, yang membuatnya memiliki seorang suami yang berhati penyayang seperti Danar.


“Kak, ayo kita ke sungai. Aku rasa airnya pasti menyegarkan,” kata Syarah.


Danar menyetujui ajakan Syarah dan mereka berjalan ke sungai berbatu dengan aliran yang tidak deras walau semalam turun hujan. Saat berjalan di atas bebatuan, Syarah yang akan terpeleset karena menginjak batu yang licin segera ditangkap Danar yang ada di belakangnya. Menyadari istrinya yang sering ceroboh, Danar menggenggam erat tangan istrinya dan membimbingnya menuju air terjun mini yang tak jauh dari tempat mereka.


Karena jalanan yang licin, Danar berjalan pelan agar istri kecilnya itu tidak terpeleset dan berakhir jatuh. Danar membawa Syarah ke bawah aliran air yang mengguyur dari atas dengan sangat deras mengantarkan hawa dingin dari air yang membasahi mereka. Karena derasnya air yang mengalir dari atas, Danar mendekap istrinya agar tidak menjauh karena kalah dengan kekuatan air yang mengguyur mereka. Tawa bahagia dari mereka berdua entah siapa yang memulainya.


“Kak, ini seru sekali,” kata Syarah berteriak karena derasnya suara air.


“Ini belum seberapa, ayo aku tunjukkan hal yang lebih menyenangkan,” ajak Danar.


Danar menggandeng istrinya berjalan ke atas batu besar dan cukup tinggi yang ada di pinggir sungai. Syarah mengerti jika Danar berniat loncat dari atas ketinggian.


“Kak, aku takut,” ucap Syarah.


“Satu, dua, loncat,” ucap Danar.


“Aaa!” teriak Syarah.


Byur


Syarah dan Danar tercebur ke sungai yang dingin. Walaupun awalnya Syarah menolak karena takut, tapi keyakinan yang diberikan suaminya membuatnya tidak takut lagi dan mempercayakan pada suaminya. Mereka justru ketagihan dan loncat berkali-kali dari atas batu. Syarah yang sudah berani dibiarkan loncat sendiri agar mendapat sensasi yang lebih menyenangkan. Danar yang sudah handal bisa loncat dengan berbagai gaya dan variasi, tentu tidaklah sulit baginya yang sudah sering bermain di sungai itu sendiri.


“Sya, ayo berenang,” ajak Danar.


“Tapi, Syarah tidak bisa berenang Kak,” tolak Syarah.

__ADS_1


“Baiklah, kamu tunggu saja sambil main air. Jangan pergi jauh-jauh aku akan berenang dulu,” kata Danar.


Syarah yang ditinggal Danar berenang memilih bermain air. Baginya ini semua seperti lukisan yang pernah dia lihat dan sekarang dia berada di lukisan tersebut. Tempat yang sangat indah dan terkesan intim karena hanya ditempati olehnya dan suaminya tanpa ada takut orang lain akan menegur dan mengganggu. Semua beban yang dia miliki seakan terangkat dengan kegiatan yang dia lakukan bersama suaminya.


Lama setelahnya, Danar kembali setelah puas berenang di sungai yang airnya masih jernih tanpa kontaminasi apa pun.


“Sya, aku akan memandikan Joni, kamu mau tetap disini atau ikut denganku?” tanya Danar.


“Aku ikut saja,” jawab Syarah.


Mereka berjalan kembali ke tempat Joni berada untuk memandikan kuda jantan itu. Danar membawa kudanya ke tengah sungai dan mulai mengguyur badan kuda kesayangannya itu sambil menggosoknya agar bersih. Sebenarnya bisa saja dia menempatkan kudanya di rumah atau di dekat rumahnya, tapi dia tidak bisa egois karena kudanya membutuhkan suhu dingin menyesuaikan kebutuhan sehingga Danar memilih menempatkan kudanya di desa itu yang menurutnya cocok dengan wilayah asli kuda itu. Syarah juga tidak mau kalah ikut memandikan kuda milik Danar, tapi Danar yang usil malah menyiram air ke badan Syarah yang mulai mengering terkena sinar matahari.


“Ih Kakak usil banget,” rajuk Syarah.


“Salah siapa berdiri di dekat Joni, jadi tidak sengaja kesiram,” elak Danar.


“Mana ada, Joni disana malah menyiram aku,” kata Syarah.


Danar tidak menanggapi dan kembali menggosok tubuh kuda berwarna hitam dengan rambut tebal. Syarah ingin mengerjai suaminya itu dengan menyiram tubuh Danar dengan air. Melihat keisengan istrinya, membuat Danar tak mau kalah dan akhirnya mereka berdua basah karena bermain air. Hingga Syarah yang sudah kelelahan memilih kembali ke pinggir sungai untuk beristirahat. Sedangkan Danar melanjutkan aktivitasnya yang tertunda karena keisengan mereka, dia yang sudah tak mengenakan pakaian menggosok tubuh besar kudanya membuatnya berkeringat.


Syarah memandang suaminya dengan senyum bahagia tidak terlepas dari bibirnya. Mungkin dia sudah seperti pramugari yang tidak lelah tersenyum memandang suaminya yang terlihat begitu maskulin dengan keringat yang mengalir di tubuhnya karena aktivitasnya. Rambut Danar yang basah karena air hanya diarahkan ke belakang dengan jari besarnya secara asal. Tubuh berotot pria itu terlihat begitu memikat siapa pun yang melihat, apalagi untuk Syarah sebagai istrinya.


Suaminya terlihat sangat-sangat tampan bagi Syarah, dan menurutnya Danar terlihat jauh lebih muda daripada umurnya. Menyadari suaminya yang memiliki tubuh yang terpahat sempurna, segala apa pun yang dimiliki suaminya yang dia pun tak tahu apa saja dan seberapa banyak dan sifat yang ada pada suaminya membuat Syarah merasa takut dan khawatir jika suaminya tergoda pada wanita lain yang lebih sempurna dari dirinya yang biasa saja. Saat menemukan suaminya dan perempuan lain di cafe saat itu tidak bisa dia lupakan dengan mudah terlebih suaminya tidak memberi penjelasan apa pun dan mengganggap seolah tidak pernah terjadi apa-apa.


“Sya!” panggil Danar yang sudah berdiri di hadapan Syarah.


“Eh Kakak, iya ada apa?” tanya Syarah yang tergugu.


“Aku sudah memanggilmu berkali-kali, tapi kamu tidak menjawab. Jangan suka melamun, apalagi di tengah hutan seperti ini! Kalau terjadi apa-apa pastilah aku yang repot,” kata Danar.


“M-maaf Kak,” ucap Syarah.

__ADS_1


Karena terlalu terlarut dalam pikirannya, dia tak sadar jika suaminya sudah memanggilnya dan malah menghampirinya yang ada di pinggir sungai. Danar mengajak Syarah ke batu besar yang ada di tengah aliran sungai, ia kemudian naik di atasnya dan membantu istrinya naik. Mereka merebahkan diri di atas batu untuk berjemur untuk mengeringkan tubuh setelah basah-basahan. Pakaian Danar juga dijemur di atas batu, sedang Syarah ikut merebahkan di batu besar untuk berjemur juga.


Suara kicauan burung, suara-suara alam saling bersahutan meramaikan suasana pagi yang cerah dengan matahari yang menyinari terang. Walau cerah tapi tidak begitu panas dan masih terasa sejuk karena berada di dataran tinggi. Terkadang diam dan sedikit melupakan hal-hal yang menyakitkan akan membuat hati lebih damai. Berdamai pada hati, dan berusaha mempercayai pasangan atas arti sebuah komitmen.


__ADS_2