Perawan Tua Istri Sang Duda

Perawan Tua Istri Sang Duda
52. Insecure


__ADS_3

Hai


Terima kasih sudah membaca,


Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar dan like sebagai bentuk dukungan


Namun kegiatan mereka belum berhenti sampai disana, Danar mengajak Syarah untuk mencari ikan di sungai. Dia masuk ke dalam hutan untuk mencari peralatan sederhana yang bisa dia gunakan untuk mencari ikan. Hanya berbekal kayu, cacing dan serabut pohon, Danar menjalankan rencananya untuk mencari ikan di sungai. Syarah yang belum pernah memancing tertarik untuk ikut serta.


“Kak, memang di sungai ini ada ikannya?” tanya Syarah.


“Dimana ada air disitu ada kehidupan,” jawab Danar singkat.


“Kakak sering mencari ikan disini?”


“Setiap berkunjung kemari selalu menyempatkan waktu untuk memancing.”


“Pantas saja, dulu saat bersama ayah bisa betah.”


“Kamu tunggu disini saja, batunya licin. Biar aku yang mencari ikan, lagipula kamu tidak bisa berenang, sedangkan ikan-ikan biasanya akan bersembunyi di balik batu.”


“Baiklah, aku tunggu disini. Kalau Kakak membutuhkan aku segera panggil saja.”


“Iya.”


Danar kemudian mulai berenang dan mencari ikan dengan berbekal sebilah kayu yang dibuat runcing di bagian atasnya. Dia mencari ikan yang bersembunyi di balik batu-batu. Tidak sulit bagi Danar yang sudah handal berenang untuk mennagkap ikan-ikan yang berenang dengan gesit. Tongkat runcing itu melesat tepat mengenai target sasaran yang Danar incar. Ketika sudah mendapatkan, dia kaitkan pada serabut kayu yang sudah dia siapkan dan mulai mencari buruannya lagi.


Syarah mengamati Danar yang terlihat jago dalam berburu ikan di sungai seperti sudah terbiasa. Nyatanya selama menikah, Syarah tidak pernah menemukan Danar pergi ke tempat itu. Jika memang suaminya singgah pastinya tidak mungkin jika hanya sebentar mengingat banyak aktifitas yang sepertinya Danar suka lakukan. Dia yang tidak mau mengambil risiko dan bisa berakhir dimarahi suaminya memilih menunggu di pinggir sungai sambil berburu bunga-bunga yang tumbuh liar.


“Wah banyak sekali ikan tangkapan Kakak,” ucap Syarah kagum.


“Karena memang masih terjaga, ikan-ikan masih cukup banyak jumlahnya jadi tidak sulit untuk menangkap,” kata Danar.


“Bagaimana kalau ikan-ikan ini kita masak di rumah saja Kak?” tanya Syarah.


“Baiklah, lagipula ini sudah siang.”

__ADS_1


Mereka kemudian kembali ke kendang untuk mengembalikan Joni ke tempatnya semula. Tapi kali ini Danar memilih rute yang berbeda sehingga memutar lebih jauh untuk bisa menikmati puncak bukit sebelum kembali ke tujuan. Karena jarak yang ditempuh cukup jauh, Danar memacu kudanya lebih cepat dibandingkan saat berangkat. Syarah hanya mampu berdoa di dalam hati agar diberi keselamatan dan berpegangan dengan tali kuda erat-erat.


Setelah menyusuri wilayah hutan yang lebih rimbun, akhirnya mereka sampai di puncak bukit dimana rusa-rusa berkeliaran dengan bebas walaupun dipasang pembatas di setiap sisinya. Semilir angin yang berhembus kencang karena posisi mereka yang berada di ketinggian menyapa kulit mengantarkan ketenangan. Dari atas mereka bisa melihat pemandangan kota yang dipadati oleh bangunan yang semakin hari semakin rapat, mereka juga bisa melihat indahnya awan yang terasa semakin dekat.


“Wah pemandangannya bagus sekali Kak,” ucap Syarah kagum.


“Tadi dijalan ketakutan, begitu sampai disini senyum,” sindir Danar.


“Kakak sih bawa kudanya kencang sekali, bagaimana tidak takut. Apalagi tadi aku melihat banyak hewan yang sebelumnya belum pernah aku temui, aku semakin ngeri. Hutan yang kita lewati juga masih asri membuat ketakutanku semakin menjadi,” lirih Syarah.


“Lalu apa gunanya aku disini jika kamu masih merasa ketakutan,” kata Danar.


Jawaban yang diberikan Danar membuat Syarah merona, secara tidak langsung Danar memintanya untuk memberi kepercayaan secara penuh untuk suaminya. Dia sampai tidak mampu berkata-kata, pemandangan yang ada dihadapannya begitu indah, hawa segar juga membawa mood menjadi begitu bahagia dan menenangkan. Mereka singgah sebentar untuk menikmati pemandangan yang ada di bawah dan menikmati rusa-rusa yang begitu nyaman hidup disana.


Untungnya dia membawa hp yang sejak pagi tadi sudah dia gunakan untuk mengambil gambar dan mengabadikan setiap momen yang sayang untuk dilewatkan. Termasuk foto-foto saat suaminya berenang dan segala aktivitas suaminya yang sayang untuk tidak dia simpan sebagai kenang-kenangan nanti. Walaupun matahari sudah menampakkan diri dengan sempurna, tapi suhu masih saja rendah membuat Syarah yang tidak terbiasa menjadi kedinginan dan memeluk dirinya sendiri. Danar yang mengerti istrinya kedinginan memeluknya dari belakang sambil mencuri kecupan di puncak kepala Syarah.


******


Setelah kembali ke rumah, Danar menyiapkan kayu bakar untuk membakar ikan hasil buruannya di sungai tadi. Sedangkan Syarah menyiapkan bumbu yang dibutuhkan dan membersihkan ikan selagi menunggu kedatangan suaminya dari halaman belakang rumah. Saat sampai di rumah tadi sudah ada satu tas berisi bumbu masakan dan juga beras yang sepertinya disiapkan oleh emak untuk mereka masak.


“Baiklah, biar aku yang membuat bumbunya, kamu masak nasinya saja di dalam,” kata Danar.


Syarah menuruti perkataan suaminya dan masuk ke dapur untuk memasak nasi meninggalkan suaminya yang berada di halaman luar. Beruntungnya masih ada kompor dan gas yang bisa dia gunakan untuk memasak nasi sehingga tidak sepenuhnya mengandalkan kayu bakar untuk memasak. Selesai dengan urusan memasak nasi, Syarah keluar untuk membantu suaminya selagi menunggu nasinya matang.


“Kak, ada yang bisa aku bantu?” tanya Syarah.


“Ambillah daun pisang yang ada disana untuk alas makan, biar aku yang membakar ikannya,” jawab Danar.


“Baik Kak,” kata Syarah kemudian berlalu ke pohon pisang tak jauh dari tempat semula.


“Kak, apa segini cukup?” tanya Syarah.


“Iya,” jawab Danar.


Naasnya, karena tanahnya setelah turun hujan menjadi licin membuat Syarah terpeleset jatuh ke tanah dan mengaduh tak sengaja merasa sakit. Suaminya yang melihat istrinya terjatuh langsung berlari meninggalkan ikan yang sedang dia bakar.

__ADS_1


“Kau ini! Melakukan hal sekecil ini saja kau tidak bisa!” kata Danar memarahi istrinya.


“Maaf Kak, aku tidak berhati-hati.”


Syarah mencoba bangkit berdiri, namun sepertinya kakinya kesleo membuatnya terjatuh kembali dan berdesis kesakitan pelan tak berani pada suaminya. Danar berdecak keras melihat istrinya yang menurutnya sangat ceroboh, bahkan dia sampai terjatuh hanya karena mengambil daun. Tanpa banyak kata dan dipenuhi rasa marah, Danar membawa Syarah dalam gendongannya kembali ke rumah.


“Kak, jangan nanti Kakak keberatan. Aku bisa jalan sendiri kok,” kata Syarah menolak.


“Diam!” bentak Danar membuat Syarah bungkam.


Sesampainya di kursi Panjang yang terletak di dekat pembakaran, Danar menurunkan Syarah hati-hati. Kaki Syarah diluruskan oleh Danar, dia hendak memijat kaki istrinya yang keseleo. Begitu akan menyentuh kaki istrinya, Syarah menghentikan gerakan Danar.


“Kak, jangan. Kakiku baik-baik saja,” sergah Syarah.


Tapi Danar tetap memaksa dan mengurut kaki istrinya pelan-pelan untuk menghilangkan rasa sakit pada kaki istrinya yang keseleo. Syarah menundukkan wajahnya dalam-dalam merasa tak enak hati karena suaminya harus memijat kakinya, selain itu dia juga merasa sangat malu pada suaminya. Kaki Syarah tidak semulus wanita lain yang sering mendapat perawatan, ini bukanlah sebuah film dimana kaki si perempuan terlihat mulus dan lembut. Syarah sangat malu dihadapan suaminya, apalagi suaminya menyentuh kakinya membuatnya hampir menangis.


Dia yang memang berasal dari desa tidak begitu mengerti tentang perawatan tubuh, didukung dengan sifat cuek dan acuhnya membuatnya tidak mementingkan penampilan. Walaupun dia menempuh kuliah di kota, tapi dia tidak mau menambah beban kedua orang tuanya dengan menggunakan jatah uang dia gunakan untuk membeli produk kecantikan. Uang jatah setiap bulannya yang terpenting bisa mencukupi kebutuhan makan sehari-hari dan bisa memenuhi keperluan kuliahnya yang tidak murah.


Syarah menitikkan mata antara terharu dengan perhatian yang dicurahkan oleh suaminya, sakit karena terjatuh yang sedang dipijat, dan malu karena memiliki fisik yang tidak seindah perempuan di luar sana. Danar yang sedang fokus mengurut kaki istrinya, sayup-sayup mendengar isakan istrinya yang sangat pelan seperti tak ingin didengar olehnya. Dia membiarkan istrinya menangis yang menurutnya untuk meluapkan sakit yang dirasakannya tanpa tahu alasan istrinya menangis yang sebenarnya.


“Minumlah dulu,” ucap Danar sambil memberikan segelas air yang tadi diambilnya.


Syarah menerima segelas air dan meminumnya pelan dan hanya sedikit. Dia masih belum mau memandang suaminya karena masih malu dengan keadaan kakinya.


“Apa kakimu masih terasa sakit?” tanya Danar.


“Tidak,” jawab Syarah sambil menggeleng pelan.


“Sepertinya ada sesuatu, ada apa?” tanya Danar yang bisa menangkap jika istrinya menangis bukan karena sakit namun ada sesuatu yang lain.


“Aku malu Kak, aku, aku tidak bisa menjadi istri yang bisa membanggakanmu. Aku tidak seperti perempuan lain yang memiliki fisik yang indah yang akan membuatku pantas bersanding denganmu,” jelas Syarah mengutarakan isi hatinya.


“Selama ini mungkin aku terkesan jahat padamu, tapi itu semua pasti karena kesalahan yang kamu perbuat. Selama kita menikah, apakah pernah aku membandingkanmu dengan orang lain? Apakah aku pernah mencela fisikmu? Berhenti berpikir jika dirimu buruk, semakin buruk pikiranmu tentang dirimu maka kau benar-benar akan menjadi seperti yang kau pikirkan,” kata Danar meluapkan emosinya.


“Sial, ikannya jadi gosong!”

__ADS_1


__ADS_2