Perawan Tua Istri Sang Duda

Perawan Tua Istri Sang Duda
13. Lamaran


__ADS_3

2 minggu berlalu dan pendekatan antara Syarah dan Danar berjalan biasa saja. Syarah tetap bekerja sebagai asisten Danar di kantor. Namun Syarah sering berkunjung ke rumah Danar untuk ikut membantu merawat pak Pandhu.


Pak Pandhu semakin terbuka dan tidak sekaku sebelumnya. Pak Pandhu semakin yakin bahwa Syarah adalah yang paling cocok dengan Danar. Sebaliknya sikap Danar tetap kaku dan dingin pada Syarah, namun sedikit demi sedikit dia mulai menurut dengan perkataan Syarah. Danar juga semakin tidak sungkan mengatakan apa yang dia ingin katakan dan inginkan misalnya seperti siang ini.


“Kalau sudah tidak ada lagi saya pamit keluar Pak,” pamit Syarah yang akan meninggalkan ruangan Danar setelah selesai meminta tanda tangan.


“Tunggu! Bisa kamu tekan punggung saya rasanya sedikit kurang nyaman,” ucap Danar mencegah kepergian Syarah.


“Baiklah, tapi Bapak pindah dulu ke sofa biar bisa lebih leluasa,” jawab Syarah berjalan ke arah sofa di sudut ruangan.


“Bapak tengkurap biar punggungnya bisa saya pijat!” perintah Syarah pada Danar yang langsung dituruti.


Danar melepaskan jas dan sepatu yang masih melekat agar lebih enak.


“Tolong geser sedikit saya juga mau duduk, badan Bapak besar sekali,” ucap Syarah yang kurang nyaman karena duduk sedikit di tepi sofa.


Syarah menekan mulai dari pundak hingga punggung, dia dapat merasakan otot-otot yang tegang dan mulai memijatnya dengan ritme santai tapi memiliki tekanan. Danar yang keenakan mendesis saat Syarah menekan titik-titik yang dirasakannya tidak nyaman. Danar yang tidak pernah dipijit ketika dipijit Syarah menjadi ketagihan, pijatan Syarah yang pelan tapi bertenaga sangat pas menekan punggungnya yang pegal.


“Sya, orang tuamu akan datang malam ini. Kamu tidak perlu khawatir, aku sudah menyuruh pegawaiku untuk menemani perjalanan mereka jadi mereka akan aman,” jelas Danar memberitahukan.


“Aww sakit, Sya. Apa kau berniat menganiayaku?” tanya Danar saat merasakan tekanan penuh Syarah.


“Pak, kenapa kamu selalu bertindak semaumu sendiri dan tiba-tiba hah? Kau harus memberitahuku terlebih dahulu jika itu berhubungan denganku. Kenapa seenakmu sendiri. Oh Tuhan kenapa ada makhluk seperti ini,” ucap Syarah kesal.


“Sudahlah pijat saja. Nanti malam langsung ke rumah bersamaku, orang tuamu akan langsung tiba di rumah,” ucap Danar memberitahukan.


Syarah hanya diam tak menjawab tapi dia masih memijat Danar.


“Kau masih punya telinga untuk mendengar ucapanku kan?” sindir Danar pada Syarah yang tidak merespon perkataannya.


“Untuk apa aku berbicara, jika kau yang selalu bertindak semaumu sendiri tanpa mendengar keinginanku,” ucap Syarah lemah.


Mendengar itu, Danar tersadar bahwa selama ini dia berlaku semaunya sendiri pada Syarah. Dia tidak mau mendengarkan pertimbangan dari Syarah. Mungkin dia harus sedikit membuka diri untuk mendengar Syarah.


Sekitar setengah jam berkutat dengan punggung Danar, Syarah sudah merasa kebas tangannya untuk memijat Danar yang berbadan keras terlatih. Saat akan mengeluarkan suara terlihat Danar sudah terlelap. Dilihatnya wajah Danar yang terlihat menyamping, wajahnya memang tampan sesuai dengan apa yang sering karyawan wanita di kantor bicarakan.


Hidung Danar mancung seperti keturunan luar. Bibirnya tebal dengan rahang yang lebat bulu dan kumis menambah kesan jantan darinya. Mata yang selalu tajam dan menusuk berwarna hitam pekat.


‘Sangat tampan dan sempurna’ batin Syarah. Dibalik kesempurnaan wujud Danar tersimpan pribadi yang dingin, keras kepala dan sedikit angkuh. Syarah yang tersadar dari pemikiran ini memilih untuk keluar melanjutkan pekerjaannya daripada ketahuan memerhatikan Danar.


*****


Perjalanan pulang ini, Danar dan Syarah menaiki mobil dengan Danar di kursi pengemudi. Sebelum pulang Syarah meminta untuk mampir di kedai es krim langganannya. Syarah membeli es krim matcha favoritnya.


Selama di jalan, Syarah terlihat begitu menikmati es krimnya dengan nyaman. Merasa diperhatikan Syarah menoleh ke samping dan mendapati Danar sedang menatap ke arahnya. Syarah yang polos lalu bertanya.


“Ada apa, Pak? Bapak mau es krim juga? Tadi ditawarin pakai nolak padahal enak banget ini. Bapak mau coba tidak? Ini coba sedikit saja enak banget rasanya. Aaa,” ucap Syarah dengan mengangsurkan sendok es krim ke arah Danar.


Danar menerima suapan dari Syarah itu dan merasakan kalau es krim itu memang enak. Awalnya dia pikir Syarah itu aneh memilih rasa matcha untuk es krimnya tapi nyatanya rasanya memang enak.


“Bagaimana Pak? Enak bukan?” tanya Syarah sambil mengelap ujung bibir Danar dengan jarinya.


Sadar dengan tindakan Syarah, Danar menegang. Sudah lama dia tidak merasakan sentuhan perempuan semenjak berpisah dengan istrinya. Tindakan kecil Syarah ini justru membangkitkan sesuatu yang sudah dikubur dalam-dalam oleh Danar.


Syarah terus menyuapi Danar bergantian dengan menyuapi dirinya sendiri hingga satu cup es krim itu tandas oleh mereka.


“Syarah,” panggil Danar.


Syarah yang dipanggil langsung menoleh ke arah Danar. Tak disangka, Danar memajukan wajahnya mengecup tepat di pinggir bibir Syarah. Kejadian ini terjadi sepersekian detik tanpa Syarah bisa cegah. Syarah masih mematung dengan mata terbelalak dengan kecupan singkat Danar itu.


“Kau benar, rasanya memang enak,” ucap Danar.


Syarah tersadar dan menundukkan wajahnya, dia benar-benar malu. Danar adalah pria pertama yang melakukannya karena dia tidak pernah memiliki hubungan dengan pria. Wajah Syarah sudah merah seperti kepiting rebus tapi sedikit tertutupi dengan rambut Syarah yang panjang.


Sibuk dengan rasa malunya membuat Syarah tak menyadari mereka sudah tiba di pelataran rumah keluarga Wijaksana.

__ADS_1


“Kau mengingkan hal itu lagi sampai tidak mau turun menemui orang tuamu hah?” tanya Danar tepat di samping telinga Syarah membuatnya segera mendongak menyadari mereka telah sampai di rumah.


Syarah buru-buru turun dari mobil, berdekatan dengan Danar akan membuatnya semakin malu mengingat kejadian beberapa waktu tadi. Sementara Danar mengeluarkan senyum tipis, tanpa bisa dicegah hatinya menghangat. Tapi dia seakan menolak itu.


“Bapak dan Ibuk sudah sampai,” ucap Syarah melihat orang tuanya yang berada di ruang tamu.


“Kenapa Bapak dan Ibuk tidak mengabari dulu kalau mau kesini? Kenapa mau saja menuruti idenya?” tanya Syarah dengan mata memicing ke arah Danar.


Kemudian Danar menyalami kedua orang tua Syarah.


“Bagaimana perjalanannya tadi? Lancar, kan?” tanya Danar ke ayah Syarah.


“Alhamdulillah lancar. Ini kami membawakan sedikit oleh-oleh, maaf tapi hanya makanan kampung,” ucap ayah Syarah sambil menyerahkan kantong.


“Terima kasih banyak Pak, sebenarnya Bapak dan Ibu tidak perlu repot-repot seperti ini. Dengan kehadiran Bapak dan Ibu kemari saja saya sudah sangat senang,” ucap pak Pandhu tulus.


“Terima kasih banyak Bapak, seperti kata kakek. Bapak dan Ibu tidak seharusnya repot-repot membawa oleh-oleh untuk kami,” ucap Danar.


“Permisi Tuan, makan malamnya sudah siap. Silahkan untuk menikmati makan malam,” ucap Bibi Rumi.


“Mari Bapak, Ibu, kita makan malam dulu,” ajak pak Pandhu sebagai tuan rumah.


Danar membantu mendorong kursi roda pak Pandhu ke arah meja makan. Semenjak sakit pak Pandhu sudah tidak kuat berjalan. Awalnya pak Pandhu masih bisa berjalan dengan dibantu tongkat tapi sekarang sudah tidak lagi mampu.


Mereka makan malam dengan ditemani perbincangan antara pak Pandhu, ayah Syarah dan Danar yang membicarakan tentang kegiatan ayah Syarah di desa dan obrolan laki-laki lainnya. Sementara Syarah dan ibunya hanya diam dan berbicara seperlunya. Mereka terlihat menikmati makan malam ini bersama.


Setelah makan malam, orang tua Syarah diarahkan menuju kamar tamu yang akan mereka tempati selama menginap disana. Kini di kamar tersebut tersisalah ayah dan ibu serta Syarah.


“Nduk bagaimana jadinya? Apakah kamu sudah menemukan jawaban?” tanya ibu Syarah sambil menyusun pakaiannya di lemari.


“Sudah, Bu. Tapi aku menyerahkan ke Bapak dan Ibuk sebagai orang tuaku,” ucap Syarah.


“Kalau bapak dan Ibuk menerimanya, Nduk. Karena bapak lihat walaupun mereka sepertinya bukan orang sembarangan, tapi mereka menerima bapak dan ibuk dengan sopan tanpa melihat kami sebagai orang biasa,” jelas ayah Syarah.


“Jadi maksudnya Bapak dan Ibuk setuju kalau kami menikah?” tanya Syarah memastikan.


“Jika memang Bapak dan Ibuk setuju, begitu pula dengan Syarah,” ucap Syarah penuh keyakinan.


Setelah mengobrol banyak hal Syarah memutuskan untuk keluar agar kedua orang tuanya bisa beristirahat. Saat melewati ruang tengah dia melihat Danar sedang menikmati siaran bola malam ini.


“Bapak belum tidur?” tanya Syarah.


“Belum bisa tidur,” jawab Danar singkat.


“Yasudah kalau begitu, jangan tidur larut. Saya ke kamar dulu,” pamit Syarah.


“Syarah, di kamarmu sudah ada pakaian untuk kedua orang tuamu dan untukmu,” ucap Danar.


“Pakaian untuk apa Pak?” tanya Syarah.


“Pakaian untuk pernikahan,” jawab Danar enteng seakaan itu hal biasa saja.


Syarah yang terkejut membuka mulut.


“Kau ini. Itu pakaian untuk besok, kita tunangan besok. Aku sudah membicarakannya dengan orang tuamu sebelumnya. Besok saya hanya mengundang rekan dan kerabat terdekat saja. Undanglah temanmu jika ada,” jelas Danar.


“Kenapa mendadak sekali? Apakah orang tuaku menyetujui rencanamu ini?” tanya Syarah.


“Tentu saja kalau tidak untuk apa aku repot-repot mengundang orang dan menyiapkan keperluan,” jawab Danar.


Rasanya kaki Syarah lemas mendengarnya, kepalanya benar-benar berdenyut saat ini. Berada di dekat Danar sepertinya menguji kesehatan jantung dan kepalanya. Semuanya serba tiba-tiba dan harus dilakukan.


Dalam kamar, Syarah menemukan kotak yang berisi pakaian kebaya berwarna tosca. Dia melihat kebaya yang begitu cantik, dia jadi membayangkan hari esok. Hari dimana ia akan diikat untuk menjadi seorang istri nantinya. Tak terasa air mata menetes. Secepat inikah perjalanannya menjadi istri orang.


*****

__ADS_1


Pagi ini, Syarah sudah mulai di make up oleh suruhan Danar. Ibu Syarah pun juga sudah mulai di make up. Syarah meminta untuk di make up natural saja dan tidak berlebihan. Saat dilihat di pantulan cermin memang benar sesuai keinginannya, perias ini memahami keinginannya.


Setelah hampir 2 jam akhirnya make up sudah selesai, rambut Syarah yang sering diikat kuda sekarang sudah dibentuk sedemikian indah juga. Kini dia tinggal mengganti pakaian dengan kebaya yang sudah disiapkan. Kebayanya sederhana tapi nampak cantik dan anggun saat dikenakannya.


Sepertinya Danar membuang angka besar untuk acaranya ini. Sedari tadi Syarah sangat tegang, dia membayangkan apa pun yang akan terjadi nantinya jika dia menyetujui lamaran ini. Tapi ibu Syarah yang selalu ada di sampingnya berusaha menenangkan putrinya itu.


“Permisi acara akan segera dimulai apakah sudah siap Nona?” tanya pegawai yang bekerja hari ini.


“Sudah,” jawab Syarah.


“Baiklah Nyonya, silahkan ikut saya kedepan dulu untuk menerima mempelai pria bersama suami Anda,” ucap pegawai itu mengarahkan ibu Syarah.


Entah apa yang sedang dilangsungkan sekarang karena setelah setengah jam baru ibunya masuk kembali menjemput Syarah. Ibunya menggandeng Syarah menuju taman yang berada di samping rumah yang ternyata kini didekorasi dengan indah. Terlihat tamu disana yang tidak banyak yang sebagian besar adalah kenalan Danar. Sedangkan dia hanya mengundang Risa dan Rizal sepertinya hanya Risa saja yang hadir. Kini Syarah duduk diapit ibu dan ayahnya dan tepat didepannya adalah Danar beserta pak Pandhu.


“Selamat siang, sebelumnya terima kasih sudah berkenan hadir di acara pertungan cucu saya Danar Putra Wijaksana ....” Pak Pandhu memberi sambutan untuk membuka acara hari ini. Setelahnya dilanjut oleh Danar.


“Saya, Danar Putra Wijaksana bermaksud untuk meminta putri kedua bapak, Syarah Haura, untuk menjadi calon istri saya. Apakah Syarah bersedia?” tanya Danar dengan penuh ketegasan mengarah ke Syarah yang tertunduk.


“Sya, ayo dijawab pertanyaan Danar,” ucap ayah Syarah sambil menggenggam memberi kekuatan dan keyakinan.


Setelah memantapkan hati, akhirnya Syarah membuka suara menjawab Danar.


“Saya Syarah Haura bersedia menjadi pendamping hidup Danar,” jawab Syarah yakin.


“Alhamdulillah,” ucap Danar dan semua orang disana merasa senang.


Kemudian dipasangkannya cincin di jari kedua tunangan ini, saat memasangkan cincin di jari Syarah. Danar memandang Syarah lekat-lekat. Danar mengagumi penampilan Syarah pagi ini yang terkesan sederhana tapi nampak anggun. Kini giliran Syarah yang memasangkan cincin di jari Danar. Dia tidak berani mendongak ke arah Danar karena sangat malu.


“Kau tidak buruk rupa bukan hingga harus menunduk sepanjang waktu?” bisik Danar yang hanya mampu didengar keduanya.


Refleks Syarah mendongak menatap Danar. Salahkah Syarah yang memuji Danar terlihat tampan hari ini. Danar yang terbalut batik senada dengan rok yang digunakan.


“Silahkan pasangan berdekatan untuk diambil foto,” ucap fotografer mengarahkan.


Danar merangkul pinggang Syarah menempel dengannya. Syarah cukup terkejut tapi dia segera berpose menghadap kamera.


“Kau cantik,” ucap Danar.


Syarah merona mendengar pujian Danar. Selama ini dia tidak pernah mendapat pujian dari siapapun. Jangan salahkan bila jantungnya berdegup kencang.


Tak lama rintik gerimis membasahi area pertunangan hari ini. Karena temanya di luar ruangan jadi tidak ada peneduh. Jadilah semua tamu diarahkan ke rumah yang sangat cukup untuk menampung para tamu.


Sepertinya fotografer masih belum puas mengambil momen pertunangan keduanya. Walaupun dibawah rintik gerimis mereka diarahkan berpose dengan berbagai gaya dan tempat. Syarah dan Danar hanya mengikuti instruksi fotografer itu.


Si fotografer terlihat sangat puas dengan foto yang diperolehnya. Pasangan yang difoto terlihat sangat serasi. Yang perempuan terlihat sederhana namun berkelas dan yang pria terlihat tampan dan berwibawa.


Setelah tamu sudah mulai pamit pulang, perut Syarah berbunyi berontak belum ada makanan mengingat hari sudah siang. Dia sangat malu karena Danar ada di sampingnya.


“Dasar tukang makan. Sana ambil makan juga untukku!” perintah Danar yang langsung disetujui Syarah.


Lebih baik dia segera menghindar dari pada malu didepan Danar. Setelah mengambil makanan dengan jenis berbeda Syarah mencari keberadaan Danar yang ternyata berada di ruang tengah.


“Pak, ini makan dulu,” ucap Syarah sambil menyodorkan makanan ke arah Danar.


“Suapi!” perintah Danar.


Syarah kaget dan berusaha ingin menolak tapi Danar kembali bersuara.


“Yasudah kalau tidak mau,” ucap Danar dan segera beranjak.


“Jangan merajuk, aku hanya terkejut saja. Duduklah aku suapi,” ucap Syarah.


Syarah menyuapi Danar dengan telaten hingga dua piring makanan tandas oleh mereka. Entah mengapa makan bersama Syarah membuat nafsu makan Danar tidak seperti biasa.


“Terima kasih,” ucap Danar setelah mengecup pipi Syarah.

__ADS_1


Wajah Syarah memerah hingga ke telinga.


Selamat malam jumat, spesial episode lamaran isinya panjang, semoga gak bosen dan ditunggu episode selanjutnya. Terima kasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak di komen dan berikan like sebagai bentuk dukungan pada karya pertama saya


__ADS_2