
Selamat membaca
Pagi ini Syarah sedang bersiap untuk mengunjungi salah satu pelanggan setia toko bunganya yang melahirkan seorang bayi. Jadi dia berencana pergi menjenguk dengan membawa hadiah untuk pelanggan yang sudah dia anggap sebagai teman. Malam tadi dia juga sudah meminta izin terlebih dahulu pada suaminya sebelum dia pergi dan diperbolehkan asalkan dia pergi dengan ditemani oleh Ratih.
“Ratih, kamu sudah siap kan?” tanya Syarah yang memasuki toko.
“Sudah Mbak, ini bucket bunga juga sudah siap. Oh iya tadi kurir juga sudah mengantarkan paket hadiah untuk bayinya,” jawab Ratih.
“Ya sudah ayo kita berangkat sekarang keburu kesiangan nanti rajanya marah,” ajak Syarah.
Mereka hanya terkikik geli mendengar ucapan Syarah, memang seperti itulah Syarah menjuluki suaminya. Tak ingin
membuang waktu mereka segera berangkat sedangkan Ranti diminta Syarah untuk tetap menjaga toko karena hari ini banyak order yang masuk.
Setelah menempuh perjalanan 20 menit mereka akhirnya sampai di rumah sakit ibu dan anak yang berada di kota mereka. Syarah segera turun bersama dengan Ratih dengan membawa hadiah untuk ibu yang baru melahirkan.
“Aduh terima kasih ya Sya sudah repot-repot datang ke sini untuk menengok,” ujar perempuan itu.
Syarah tersenyum dan mengusap pipi bayi dalam gendongan ibunya, “Ah tidak repot kok, kan mau ketemu dedek bayi cantik ini,” ujar Syarah tak henti menatap bayi yang masih menikmati sumber kehidupan dari ibunya.
“Terima kasih Aunty, ditunggu adek dari Aunty ya,” kata perempuan itu dengan suara seperti anak kecil.
Perkataan perempuan itu tanpa sadar membuat hati Syarah tercubit. Dia sudah menikah hampir setahun, tapi dia belum diberi kepercayaan untuk dititipi buah hati dalam rumah tangganya. Syarah hanya bisa tersenyum kecut kala mengingat bahwa sampai detik ini pun suaminya belum pernah memberi nafkah secara batin.
“Aku bersyukur sekali bisa memiliki dia, dia seperti pelengkap dalam membuat keluarga kecil kami menjadi sempurna. Huh … padahal mas Aji sudah menunggu kehadirannya sejak awal pernikahan kami,” ujar perempuan itu sambil memandang lekat putrinya.
“Kau tahu sendiri kalau aku menikah muda, bahkan karena permintaan konyol almarhum ayahku untuk menikahi rekan bisninya di saat aku sendiri belum genap 17 tahun. Aku tidak pernah menyangka jika aku menjadi istri dari mas Aji yang berusia jauh dariku malahan dia adalah duda.” Perempuan itu terkekeh ketika mengingat kenanga masa lalu yang dia lewati.
__ADS_1
“Aku sangat bandel dulu, namun entah dengan kekuatan apa mas Aji bisa membuat aku kembali ke jalan yang benar dan bisa membuat aku jatuh cinta padanya. hingga aku bisa dititipi bidadari cantik seperti ini,” kata perempuan itu tersirat rasa penuh syukur.
“Kamu menikah di usia 17? Itu artinya kamu sudah menikah 5 tahun?” tanya Syarah bingung.
Perempuan itu mengangguk dan tersenyum, “Bulan depan kami 5 tahun dan ini adalah kado anniversary pernikahan yang sangat berharga,” jawab perempuan itu.
“Sya, aku ingin memberitahu sebuah rahasia yang hanya aku dan mas Aji saja yang tahu,” ucap perempuan itu.
“Kalau rahasia kenapa kau ingin mengatakannya padaku?” tanya Syarah sambil terkekeh dengan tingkah temannya ini yang kadang tidak masuk akal.
“Entah mengapa aku ingin mengatakannya padamu, emm … sebenarnya aku baru lepas kepemilikanku setahun ini,” ungkap perempuan itu dengan wajah merona malu.
“Apa?” tanya Syarah syok dengan mata terbelalak mendengar pengakuan temannya itu.
Perempuan itu hanya mengangguk, “Sya, cinta itu butuh proses. Menjadi sepasang suami istri itu tidak hanya terikat dalam status saja, tapi lahir dan batin. Mungkin ini terdengar mustahil ketika sudah sah menjadi suami istri namun aku masih perawan, tapi inilah yang sebenarnya terjadi. Huh … tidak ada rumah tangga yang sempurna, tidak ada yang cinta yang sempurna. Karena sempurna adalah milik yang di atas. Asal bersedia berjuang bersama pasti pernikahan bisa dijalani hingga akhir nanti dengan bahagia,” kata perempuan itu membuat Syarah terharu.
Dia memang tidak pernah menceritakan masalah rumah tangganya pada siapa pun termasuk kedua orang tuanya sendiri. Mendengar nasihat dari temannya membuat Syarah menyadari arti dari berumah tangga. Syarah pun mengobrol banyak dengan temannya itu hingga waktu menunjukkan pukul 11 siang yang artinya Syarah harus segera pulang jika dia tidak ingin diserang oleh suaminya lagi.
masuk mencegah langkah kepulangan mereka. Ratih mengangkat panggilan dan izin ke tempat yang lebih sepi sebentar karena ada panggilan dari ibunya di kampung. Sembari menunggu Ratih, Syarah duduk di kursi tunggu pasien yang akan memeriksakan kandungan.
Ceklek
Syarah yang tidak sedang melakukan apa-apa melihat ke arah pintu pemeriksaan yang terbuka menampilkan seorang perempuan memakai dress warna pastel dengan perut membuncit.
“Mbak Risa?” gumam Syarah melihat wanita itu.
Ternyata perempuan itu mendengar namanya dipanggil melihat Syarah karena memang kondisi ruangan yang sepi. Perempuan yang baru selesai memeriksakan diri itu adalah Risa. Dia yang melihat Syarah segera mengalihkan pandangan dan hendak berjalan cepat meninggalkan Syarah.
__ADS_1
“Mbak, tunggu Mbak,” cegah Syarah ingin menyusul Risa.
Karena sedang hamil dan tak ingin merisikokan kehamilannya, Risa tidak bisa berlari atau berjalan cepat sehingga
dengan mudah Syarah mengejarnya dan menahan lengannya.
“Mbak, Mbak Risa ini benar Mbak Risa kan?” tanya Syarah memastikan.
Risa tak ingin menatap Syarah, dia merasa malu dipergoki Syarah dan berusaha menutupi perutnya yang jelas sia-sia karena dia sedang memakai dress yang menonjolkan perutnya.
“Ya ampun, akhirnya bisa ketemu sama Mbak Risa. Aku kangen banget sama Mbak,” ujar Syarah yang langsung berhambur memeluk Risa meluapkan rasa rindunya.
Mendapat pelukan secara tiba-tiba Risa hendak menolak dan melepaskan, namun dia tak bisa memungkiri bahwa dia juga merindukan Syarah sebagai temannya.
“Mbak Risa kemana saja? Kenapa nomornya sudah tidak aktif? Aku cari di kantor kata mas Danar Mbak resign,” tanya Syarah yang sudah tidak bisa menahan kecemasannya.
Risa melepaskan pelukannya, “Maaf aku masih ada urusan,” ucap Risa dan segera berlalu meninggalkan Syarah namun lagi-lagi perempuan itu masih belum menyerah.
“Mbak, tolong jangan pergi. Aku masih ingin mengobrol sama kamu Mbak,” cegah Syarah yang tidak digubris oleh Risa yang terus berjalan keluar menuju parkiran.
“Mbak, kalau Mbak ada masalah Mbak bisa cerita sama aku. Atau Syarah membuat kesalahan sama Mbak?” tanya Syarah yang terus mengikuti Risa.
“Iya benar, kamu memang salah Sya. Jika dia tidak bertemu lebih dulu sama kamu dan dia tidak mencintaimu maka ini semua tidak akan terjadi menimpaku,’ batin Risa.
“Pak taksi!” panggil Risa memberhentikan taksi yang lewat.
Dia membuka pintu penumpang dengan sebelumnya dia membalikkan badan dan menghadap Syarah, “Syarah, anggaplah hari ini kita tidak bertemu. Lupakan aku dan jangan usik hidupku!” peringat Risa tajam.
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca
Jangan lupa dukung Dewi dengan like, komen dan vote untuk membuat karya ini terus maju